Tuesday, May 31, 2016

Kompas Edisi Selasa 31 Mei 2016

Kompas Edisi Selasa 31 Mei 2016
Kompas Edisi Selasa 31 Mei 2016

Pancasila merupakan Solusi Bangsa

Anak Muda Butuh Perwujudan Nilai dalam Bentuk Kekinian


JAKARTA, KOMPAS — Kaum muda meyakini Pancasila merupakan solusi terbaik untuk mengatasi berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Kini, yang dibutuhkan adalah semakin membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia yang beragam.

 Pembumian kembali nilai-nilai Pancasila ini menjadi penting karena, berdasarkan jajak pendapat Litbang Kompas, ada kecenderungan perbedaan cara pandang terhadap Pancasila dan kondisi bangsa antara generasi tua dan muda (Kompas, 30/5).

Generasi tua didefinisikan berusia 35 tahun ke atas, sedangkan kelompok muda berusia mulai 17 tahun hingga 35 tahun. Dasar pengelompokan ini bertolak saat gerakan reformasi pada tahun 1998-1999, di mana mereka yang kini masuk usia tua saat itu sudah berumur 17 tahun.


RUU PILKADA

Presiden: Jaga Kualitas Demokrasi


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo meminta pelaksanaan revisi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pilkada memikirkan tujuan jangka panjang, yaitu menjaga kualitas proses demokrasi di Indonesia. Presiden juga berharap undang-undang yang akan disepakati jangan berubah lagi karena dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.

"Kita tidak bisa lagi terjebak pada kepentingan politik jangka pendek, tetapi harus betul-betul memikirkan tujuan yang lebih besar, berorientasi jangka panjang," kata Presiden saat rapat terbatas di Kantor Presiden, Senin (30/5), di Jakarta.

Terkait hal itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menegaskan, ada dua hal yang menjadi sikap pemerintah dalam revisi UU Pilkada.


Tim Dayung Indonesia

Asa di Pundak Dua Atlet Muda


Dua belas tahun lalu, pedayung asal Papua, Pere Karoba, mengukir sejarah sebagai atlet dayung Indonesia pertama yang tampil di nomor rowing Olimpiade Athena 2004. Setelah itu, tim dayung Tanah Air seolah mati suri. Sekian lama tiada lagi pedayung yang lolos kualifikasi untuk berlomba di ajang akbar, Olimpiade.

Kini, peluang tim dayung mengharumkan "Merah-Putih" di Olimpiade terlahir lagi setelah atlet DKI Jakarta, Dewi Yuliawati (19), dan atlet Maluku, La Memo (20), sukses menembus kualifikasi Olimpiade, melalui Kejuaraan Dayung Asia di Chungju, Korea Selatan, akhir April. Dengan hasil itu, Dewi dan La Memo berhak tampil di Olimpiade Rio de Janeiro, 5-21 Agustus. Asa dayung pun terpatri di pundak keduanya.

Matahari pagi bersinar pada Kamis (26/5) pagi itu di Situ Cileunca, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, yang rindang dan asri, menghadirkan cuaca cerah dan hawa sejuk.

Monday, May 30, 2016

Kompas Edisi Senin 30 Mei 2016

Kompas Edisi Senin 30 Mei 2016
Kompas Edisi Senin 30 Mei 2016

Pelatnas Olimpiade 2016 Terkendala

Atlet Rogoh Uang Pribadi untuk Latihan


JAKARTA, KOMPAS — Dengan Olimpiade Rio de Janeiro 2016 tinggal 67 hari lagi, persiapan kontingen Indonesia jauh dari ideal. Di beberapa pelatnas, atlet harus bersabar menunggu pencairan dana pelatnas. Tak heran, atlet kerap merogoh kocek sendiri untuk mencukupi kebutuhan latihan.

 Berdasarkan data yang dihimpun Kompas hingga Minggu (29/5) di pelatnas panahan, renang, bulu tangkis, angkat besi, dan sepeda BMX, kekurangan itu membuat persiapan atlet tidak maksimal. Hal ini bisa membuat Indonesia gagal melanjutkan tradisi medali emas yang terhenti di Olimpiade London 2012.

Di pelatnas panahan di Yogyakarta, dua atlet, yakni Ika Yuliana Rochmawati dan Riau Ega Agatha, kadang harus membeli peralatan dengan uang pribadi, baik busur, anak panah, maupun perlengkapan lain. ”Sampai sekarang peralatan masih harus beli sendiri. Mungkin di cabang lain juga sama,” kata Ika.


PEMBERANTASAN KORUPSI

KPK Sasar Aparat Penegak Hukum


JAKARTA, KOMPAS — Operasi tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi pada semester pertama tahun 2016 menyasar banyak penegak hukum. Jika langkah KPK ini diikuti pembenahan di kalangan internal penegak hukum, hal itu akan meningkatkan rasa keadilan di masyarakat, sekaligus mengakselerasi upaya Indonesia memperbaiki Indeks Persepsi Korupsi.

Selama Januari hingga akhir Mei 2016, KPK berhasil melakukan tujuh operasi tangkap tangan. Dari tujuh operasi tangkap tangan itu, lima operasi terkait dengan aparat di lembaga penegakan hukum, baik jaksa, hakim, maupun pejabat di lingkungan peradilan, seperti panitera. Terakhir, pekan lalu, KPK menangkap dua hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bengkulu karena diduga menerima suap untuk memengaruhi putusan sidang kasus korupsi RSUD M Yunus, Bengkulu.

"Salah satu fokus KPK memang menangani tindak pidana korupsi oleh aparat penegak hukum. Pertama, karena Undang- Undang KPK mengatur itu. Kedua, ini menyangkut kepentingan masyarakat yang sangat besar, dalam hal ini untuk memperoleh keadilan," kata Pelaksana Harian Kepala Biro Hubungan Masyarakat KPK Yuyuk Andriati, Minggu (29/5).


MITIGASI BENCANA

Peta Direvisi, Sumber Baru Gempa Ditemukan


JAKARTA, KOMPAS — Riset terbaru menemukan data dan sumber gempa baru di sejumlah wilayah Indonesia dengan potensi kekuatan lebih besar daripada perhitungan sebelumnya. Sebagian sumber gempa itu berpotensi menimbulkan dampak pada kota-kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta dan Surabaya.

 Temuan ini mengubah peta gempa Indonesia, sekaligus menuntut perubahan standar bangunan dan tata ruang, serta manajemen mitigasi bencana.

”Banyak gempa besar di Indonesia di luar ekspektasi para ahli. Misalnya gempa Aceh 2004, Yogyakarta 2006, Padang 2009, dan gempa Samudra Hindia 2012. Dari riset terbaru, kami menemukan sejumlah sumber gempa baru belum masuk peta gempa,” kata Irwan Meilano, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung, di Jakarta, Minggu (29/5).

Sunday, May 29, 2016

Kompas Edisi Minggu 29 Mei 2016

Kompas Edisi Minggu 29 Mei 2016
Kompas Edisi Minggu 29 Mei 2016

Selisik Batik Madura

Lipatan "Ombak Rindu" Batik


Batik madura identik dengan batik tanjungbumi di Bangkalan. Berbeda dengan batik dari kabupaten lain di Pulau Madura, batik tanjungbumi bisa dikenali dari keunikan motif. Warnanya pun khas batik pesisir: merah, hijau, dan biru mencolok dengan mempertahankan teknik kuno yang dikerjakan tidak terburu-buru, tetapi sangat kosmopolitan.

Menunggu suaminya, Hasip (55), melaut, Raudah (50) mengisi waktu dengan membatik. Biasanya, Hasip melaut selama beberapa pekan mengangkut sapi dari Pelabuhan Tanjung Biru ke beberapa pulau, seperti Kalimantan. Ketika perdagangan antarpulau mencapai puncak kejayaannya, Hasip bisa berbulan-bulan berlayar membawa kayu. "Sambil menunggu suami melaut, enakan membatik, dapat uang. Juga jadi pengobat rindu," kata Raudah.

Selama menanti suami melaut itu, perempuan Tanjungbumi berkreasi dengan canting di tangan. Semua pembatik di Tanjungbumi adalah perempuan yang umumnya memang istri pelaut. Dari kerinduan mereka kepada suami, tertoreh motif-motif klasik batik. Salah satu motif paling populer adalah tase' malajhe. Tase' berarti laut sehingga tase' malajhe bisa diterjemahkan melaut. Pada motif tase' malajhe, pembatik Tanjungbumi melukis kelok-kelok seumpama ombak kecil di laut tenang.


CUACA BURUK

SAR Ingatkan Gelombang Tinggi


YOGYAKARTA, KOMPAS — Cuaca buruk yang mengakibatkan ombak tinggi melanda perairan sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta. Wisatawan yang berkunjung ke pantai diminta mewaspadai adanya ombak yang menguat karena tingginya gelombang di tengah laut.

Gelombang tinggi air laut itu antara lain tampak di sekitar pantai di Kabupaten Gunung Kidul, DIY. ”Dua hari terakhir ini, tinggi gelombang bisa mencapai 12 feet (3,6 meter),” kata Koordinator Search and Rescue (SAR) Satuan Perlindungan Masyarakat Wilayah II Pantai Baron, Gunung Kidul, Marjono, Sabtu (28/5), saat dihubungi dari Yogyakarta.

Seperti diberitakan, cuaca buruk di perairan DIY terjadi sejak awal pekan ini. Selain menyebabkan nelayan di DIY tak bisa melaut, ombak tinggi juga mengakibatkan rusaknya sejumlah kapal nelayan yang tengah sandar di pantai. Pada Selasa (24/5), sedikitnya 16 perahu nelayan rusak dan 60 jaring hilang akibat empasan gelombang pasang air laut (Kompas, 26/5/2016).


PELUNCURAN BUKU

Indonesia Butuh Teladan Widjojo


JAKARTA, KOMPAS — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan teladan dan inspirasi dari sosok ekonom berpengaruh sekelas Widjojo Nitisastro. Indonesia adalah negara dengan potensi besar, tetapi bermasalah dalam hal kebijakan-kebijakan, khususnya di sektor ekonomi.

Demikian dikatakan Jusuf Kalla saat memberikan sambutan dalam peluncuran buku berjudul Widjojo Nitisastro: Panditaning Para Raja, Sabtu (28/5), di Jakarta. Peluncuran buku yang ditulis putri almarhum Widjojo, yakni Widjajalaksmi Kusumaningsih, tersebut dihadiri sejumlah pejabat dan ekonom, seperti mantan Wakil Presiden Boediono, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan A Djalil, dan sejumlah sahabat Widjojo, yakni Emil Salim (Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup 1983-1993) dan Subroto (Menteri Pertambangan dan Energi 1978-1988).

Kalla mengenang kembali tatkala hendak menyusun kabinet untuk bidang ekonomi di era pemerintah sekarang. Saat berbicara dengan Joko Widodo, presiden terpilih saat itu, ia diminta pendapatnya untuk mencarikan ekonom berpengaruh sekelas Widjojo Nitisastro.

Saturday, May 28, 2016

Kompas Edisi Sabtu 28 Mei 2016

Kompas Edisi Sabtu 28 Mei 2016
Kompas Edisi Sabtu 28 Mei 2016

RI Siap Jadi Pelopor di Asia

Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi Prioritas Mendesak Kelompok G-7


ISE-SHIMA, JUMATPresiden Joko Widodo mengatakan, tatanan dunia kini sudah berubah dengan munculnya negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Keberadaan Indonesia dilihat oleh negara-negara maju sebagai motor penggerak untuk stabilitas dan kesejahteraan ekonomi kawasan Asia.

 Saat menjawab pertanyaan pers, seusai diundang untuk berbicara dalam Konferensi Tingkat Tinggi G-7 di Ise-Shima, Jepang, Jumat (27/5), Presiden Jokowi mengatakan, sebagai penggerak stabilitas dan kesejahteraan ekonomi, Indonesia memiliki kesempatan membangun kepercayaan untuk mendorong masuknya investasi ke Tanah Air sebanyak-banyaknya dalam bidang infrastruktur dan perdagangan.

”Oleh karena itu, kedatangan kita di G-7 adalah untuk membangun sebuah kepercayaan. Kita dilihat serta diuji oleh negara-negara yang lain, terutama untuk pembangunan infrastruktur yang berkualitas, selain harus dapat mengarahkan pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Presiden.


FINAL LIGA CHAMPIONS

Hantu "El Pupas" di Derbi Madrid


MILAN, JUMAT — Final Liga Champions antara Real Madrid dan Atletico Madrid, Minggu (29/5), pukul 01.45 WIB, akan menjadi panggung kesenjangan status kedua tim sekota itu. Jika Real dijuluki "Raja Eropa" dengan koleksi 10 trofi Liga Champions, Atletico justru identik dengan status tim "terkutuk" di Benua Biru. Atletico bertekad mematahkan kutukan "El Pupas" itu di Stadion San Siro, Milan, Italia.

Sebelum memasuki dekade ini, Atletico kerap menjadi sasaran olok-olok suporter El Real. Pendukung fanatik "Los Blancos", bahkan pernah memasang poster sarkastik "Kami mendamba rival seimbang untuk derbi yang lebih laik" di derbi Madrid 2012.

Sebelum itu, Atletico memang tim yang inferior ketimbang Real. Los Blancos selalu menang dalam sembilan derbi Madrid sebelum kehadiran Diego Simeone di Vicente Calderon pada paruh musim 2011/2012.


SELISIK BATIK HARIAN "KOMPAS"

Kisah Jaya Lembaran Batik


Lembaran batik menyimpan kisah tentang manusia, lingkungan, tradisi, juga sejarah sebuah komoditas yang pernah berjaya ratusan tahun lalu. Ibarat proses lorod yang meluruhkan malam perintang warna dan mengungkap motif di baliknya, Selisik Batik Kompas ingin pula menyingkap cerita di balik batik.

i Pasar Pamekasan, Madura, Jawa Timur, kain batik beragam warna bertumpuk tinggi. Sebagian dibiarkan bergantungan menghias pasar yang sesak. Ratusan perajin menghuni 52 kios dan lebih dari 270 los lesehan. Sesekali terdengar suara, "Mencari batik seperti apa?" dari penjual.

Ya, ingin mencari batik seperti apa? Di pasar itu saja batik menggunung dengan beragam warna dan ragam hias, apalagi berbicara batik di Indonesia. Variasi batik (teknik membuat ragam hias dengan menera malam untuk merintang warna) tak lepas dari perjalanan panjang batik.

Friday, May 27, 2016

Kompas Edisi Jumat 27 Mei 2016

Kompas Edisi Jumat 27 Mei 2016
Kompas Edisi Jumat 27 Mei 2016

Pemerintah Menambah Stok

Harga Bahan Kebutuhan Pokok Diharapkan Turun Saat Puasa dan Lebaran


JAKARTA, KOMPASMenjelang puasa dan Lebaran, Presiden meminta harga-harga komoditas yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat diturunkan. Langkah ini untuk mengatasi persoalan kenaikan harga yang biasa terjadi menjelang hari raya. Karena itu, pemerintah menambah stok.

Sebelum melakukan kunjungan ke Jepang, Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla telah memanggil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Perdagangan, Menteri Pertanian, dan Menteri Badan Usaha Milik Negara untuk membahas hal tersebut.

"Intinya adalah Presiden meminta harga-harga komoditas, kalau dulu selalu sebelum Lebaran terutama di bulan puasa mengalami kenaikan, kali ini pada saat Lebaran hal yang sudah menjadi kebiasaan itu akan diturunkan," ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung Wibowo di Bandar Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis (26/5), seusai melepas keberangkatan Presiden ke Jepang menghadiri pertemuan G-7.


PERLINDUNGAN ANAK

Pemberatan Hukuman Perlu, tetapi Tak Cukup


JAKARTA, KOMPAS — Pro dan kontra menyambut langkah Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang atau Perppu Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak.

Perppu itu dinilai reaktif dan tidak menyentuh akar masalah. Namun, di sisi lain, mengingat situasi sudah darurat, pemberatan hukuman terhadap pelaku kejahatan seksual sangat dibutuhkan, termasuk penerapan hukuman mati atau kebiri.

Sejumlah kalangan lalu memberi catatan dengan menekankan pendekatan komprehensif. Tak cukup dengan pemberatan hukuman, tetapi juga perlu penanganan secara masif dan menyeluruh, termasuk pendidikan seksualitas sejak di lingkungan keluarga, sekolah, dan komunitas.


KORBAN PEMERKOSAAN

”Hancur Semuanya dan Sakitnya Seumur Hidup”


Kelurga Yy, yang hidup di desa terpencil di Kabupaten Rejang Rebong, Bengkulu, tak banyak mengetahui tentang aturan hukum. Mereka hanya ingin para pelaku yang merenggut kehormatan dan nyawa putrinya mendapat hukuman yang setimpal.

Hingga kini, kepergian Yy dengan cara yang sadis masih membuat hati Yana (30), ibunda Yy, hancur berkeping-keping. YY ditemukan tewas pada 4 April lalu akibat kekerasan seksual dan dianiaya 14 pemuda di kampungnya. Jasad Yy ditemukan di jurang sedalam 15 meter dengan kondisi tangan dan kaki diikat, dua hari sejak dia hilang.

”Jangankan bekerja di ladang, makan saja masih tak enak,” ujar Yana, melalui sambungan telepon. Meski tak tahu banyak tentang aturan hukum, keluarga Yy terus memantau proses persidangan bagi pelaku pemerkosaan dan pembunuh anaknya. Ia juga berterima kasih kepada pemerintah karena mengeluarkan aturan yang berisi pemberatan hukuman bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak. Yana berharap hukuman itu bisa diterapkan.

Thursday, May 26, 2016

Kompas Edisi Kamis 26 Mei 2016

Kompas Edisi Kamis 26 Mei 2016
Kompas Edisi Kamis 26 Mei 2016

Pemerkosa Dipidana Mati

Presiden Tanda Tangani Perppu Perlindungan Anak


JAKARTA, KOMPAS — Untuk mencegah terulangnya kekerasan seksual terhadap anak, pemerintah menerapkan hukuman terberat terhadap para pelaku. Hukuman itu berupa pidana mati ditambah pengumuman identitas pelaku, kebiri kimia, dan pemasangan alat pendeteksi elektronik.

 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang baru ditandatangani Presiden Joko Widodo, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (25/5), merupakan upaya untuk mengatasi kegentingan akibat maraknya kekerasan seksual terhadap anak.

”Kejahatan ini mengancam dan membahayakan jiwa anak. Kejahatan ini juga merusak kehidupan pribadi dan pertumbuhan anak. Kejahatan seksual sudah mengganggu rasa kenyamanan, keamanan, dan ketertiban masyarakat,” kata Presiden Jokowi, di Istana Negara, Jakarta, Rabu sore.


ERUPSI GUNUNG SINABUNG

Warga Nekat Bertahan di Zona Merah


KABANJAHE, KOMPAS — Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, hingga Rabu (25/5), tetap tinggi. Meskipun hampir setiap hari terjadi erupsi, yang diikuti ancaman awan panas guguran, lava pijar, jatuhan material vulkanik berupa batuan kecil, dan abu pekat, masyarakat tetap nekat bertani di zona merah.

"Masyarakat harus ingat, status Gunung Sinabung masih Awas. Erupsi bisa terjadi kapan pun. Selain itu, ada juga ancaman sekunder dari lahar dingin yang bisa meluncur sewaktu-waktu saat hujan mengguyur. Masih ada sekitar 50 juta meter kubik material hasil erupsi di lereng gunung," kata Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung Armen Putra, Rabu, di Karo.

Pantauan dari pos pengamatan, pada Rabu hingga pukul 18.30, Gunung Sinabung lima kali erupsi, dua di antaranya disertai awan panas guguran yang terjadi pada pukul 10.09 dan 14.25 dengan jarak luncur masing-masing sejauh 700 meter dan 2.000 meter dari puncak gunung.


KEHIDUPAN NELAYAN

Memperbaiki Lingkungan, Memperbaiki Hidup


Setelah ikan semakin sulit dicari, nelayan di Pantai Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur, akhirnya menyadari kesalahan mereka selama ini. Dari semula abai lingkungan, kini mereka aktif menjaga kehidupan laut.

Ini semacam penebusan dosa. Kami dulu merusak laut dengan potas atau racun agar mudah menangkap ikan. Sekarang, kami bergiat di konservasi dan datang ke sekolah- sekolah untuk menjalankan pendidikan kebaharian," tutur Sukirno (41), seorang nelayan di Bangsring, Banyuwangi.

Menurut Sukirno, berpuluh-puluh tahun silam, saat dirinya masih kecil, nelayan sangat mudah menangkap ikan. Namun, lama-kelamaan, akibat penggunaan potas atau racun, terumbu karang rusak dan ikan menjadi sulit didapat.

Wednesday, May 25, 2016

Kompas Edisi Rabu 25 Mei 2016

Reformasi Gagal di Peradilan

Dua Hakim Tipikor Bengkulu Jadi Tersangka


JAKARTA, KOMPAS — Lembaga peradilan dinilai gagal mereformasi dirinya sendiri. Akibatnya, sulit mencari sosok hakim yang bersih dan sederhana di lembaga tersebut. Sebaliknya, sosok yang koruptif hingga harus berurusan dengan hukum beberapa kali ditemukan.

Sosok terakhir dari lembaga peradilan yang diproses hukum adalah dua hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Bengkulu, yakni Janner Purba dan Toton. Komisi Pemberantasan Korupsi, Selasa (24/5), menetapkan mereka sebagai tersangka karena diduga menerima suap berjumlah Rp 650 juta.

Penetapan tersangka ini terjadi setelah mereka ditangkap KPK, Senin lalu, di Bengkulu.


KOMODITAS MASA DEPAN

Penguasaan oleh Asing Tinggal Tunggu Waktu


JAKARTA, KOMPAS — Penguasaan riset dan bisnis sejumlah komoditas oleh perusahaan-perusahaan asing hanya tinggal menunggu waktu. Mereka telah melakukan riset lebih maju dan menyiapkan rencana bisnis komoditas itu ke depan. Di dalam negeri, komoditas ini masih sedikit mendapat perhatian.

Perusahaan-perusahaan asing menyiapkan komoditas yang sebagian besar rempah-rempah sebagai pangan masa depan karena ditemukan sejumlah fungsi medis komoditas itu. Dalam beberapa studi rempah-rempah diperkirakan segera masuk dalam piramida makanan dunia.

Peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Aek Nauli Aswandi, di Simalungun, Sumatera Utara, Selasa (24/5), mengatakan beberapa kali didatangi pengusaha dari luar negeri untuk mengembangkan komoditas yang tengah diteliti.


Guru Perkosa Siswi SD

Pelaku Iming-imingi Korban dengan Uang


JAKARTA, KOMPAS — Kekerasan seksual terhadap anak terus terjadi. Seorang siswi sekolah dasar di Jakarta Utara menjadi korban pemerkosaan oleh guru les yang sebelumnya adalah guru di sekolah korban. Kejahatan ini terjadi berulang kali, sekitar setahun terakhir.

Su (60), pensiunan guru sekolah dasar di Cilincing, Jakarta Utara, dilaporkan ke polisi karena memerkosa RNA (12). Su pensiun pada Januari lalu dan kemudian menjadi guru privat korban.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Utara Ajun Komisaris Besar Yuldi Usman mengatakan, pelaku telah melakukan perbuatan bejat itu sekitar satu tahun, terhitung sejak korban masih kelas IV, yaitu Juli 2015, hingga korban duduk di kelas V, tepatnya April 2016.

Tuesday, May 24, 2016

Kompas Edisi Selasa 24 Mei 2016

Kompas Edisi Selasa 24 Mei 2016
Kompas Edisi Selasa 24 Mei 2016

Riset Komoditas Tak Berjalan

Industri Harus Impor Bahan Antara meski Bahan Baku dari Indonesia


JAKARTA, KOMPAS — Riset mengenai manfaat beberapa komoditas yang mulai hilang tidak berkembang di dalam negeri. Akibatnya, komoditas itu tidak diketahui nilai ekonominya. Bisnis komoditas itu malah dijalankan oleh perusahaan di luar negeri. Komoditas itu diekspor dan baru diimpor lagi ketika menjadi bahan antara.

 Presiden Direktur PT Mustika Ratu Tbk Putri K Wardani mengatakan, banyak bahan baku kosmetika berasal dari tanaman di Indonesia, tetapi pengolahannya menjadi bahan penolong terjadi di luar negeri. Setelah itu, pengusaha baru mengimpor dari beberapa negara.

Sejumlah petani di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan beberapa daerah lainnya, ketika ditemui pekan lalu dan Senin (23/5), mengatakan, mereka tidak pernah mengetahui penggunaan komoditas pinang, kemenyan, gambir, pala, cendana, dan komoditas lainnya. Mereka hanya mengetahui komoditas itu dijual ke pengepul dan kemudian baru diekspor ke Singapura dan negara lainnya.


MITIGASI SINABUNG

Jatuhnya Korban Jiwa Bukti Manajemen Lemah


BANDUNG, KOMPAS — Jatuhnya kembali korban jiwa akibat terjangan awan panas di Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menjadi tantangan besar dalam manajemen bencana. Masyarakat yang mengabaikan zona bahaya yang telah ditetapkan pemerintah menunjukkan adanya kesenjangan informasi dan perbedaan persepsi terhadap risiko bencana.

 ”Selama ini, titik lemah adalah penyampaian informasi risiko bencana kepada masyarakat. Kita sudah cukup kuat dalam mengidentifikasi risiko, tetapi itu tidak cukup karena masyarakat ternyata punya jalan berpikir sendiri,” kata Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan Ke-3 di Bandung, Senin (23/5).

Pengurangan risiko bencana selama ini lebih didasarkan pada sistem mitigasi modern. Namun, masyarakat di lokasi bencana masih mendasarkan pada budaya lokal dan mempunyai persepsi sendiri. Selain persoalan komunikasi risiko, menurut Lilik, persoalan di Sinabung juga jadi pelajaran penting untuk memperbaiki manajemen pengungsian.


KEMENYAN DAN KAPUR

Diburu Asing, Merana di Negeri Sendiri


 Bau wangi kemenyan (Syntrak benzoin) menyeruak begitu pintu gudang kemenyan milik Robin Simanjuntak (54) di Desa Pancurbatu, Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dibuka, Sabtu (21/5) siang. Getah kering berwarna putih dan kehitaman terhampar memenuhi lantai gudang seluas sekitar 5 x 5 meter.

Ada satu kotak kemenyan kering-putih kualitas satu yang sudah masuk kotak kardus ukuran sekitar 40 x 40 x 40 sentimeter. Isinya 50 kilogram. ”Harganya Rp 20 juta ini,” kata Robin, membuat pendengarnya terbelalak.

Kemenyan, getah wangi yang dicari di pasar internasional sejak berabad-abad lalu, memang bernilai tinggi. Di masa lalu, kata Robin, nilai kemenyan setara emas. Hingga kini, kemenyan masih tumbuh subur di dataran tinggi pantai barat Sumut, antara lain di Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, dan Pakpak Bharat.

Monday, May 23, 2016

Kompas Edisi Senin 23 Mei 2016

Kompas Edisi Senin 23 Mei 2016
Kompas Edisi Senin 23 Mei 2016

Komoditas Penting Kian Hilang

Tak Bernilai Ekonomi, Tak Diurus


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah komoditas penting, sebagian besar rempah-rempah, yang pernah berjaya pada masa lalu, mulai hilang di sejumlah daerah. Penyebabnya, komoditas itu dinilai tidak memiliki nilai ekonomi dan tidak pernah diurus. Padahal, komoditas ini menjadi penting saat arus gaya hidup sehat global mulai kencang.

Bontor Manalu (60), petani kemenyan (Styrax sumatrana) di Desa Pancur Batu, Kecamatan Adian Koting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, setiap Senin pagi pergi ke hutan keluarganya di Parsulungan dan Hobo, tiga jam berjalan kaki dari rumahnya.

Di hutan, Bontor merawat dan memanen kemenyan dan baru keluar dari hutan hari Jumat. Selama lima hari di hutan, ia tinggal di pondok kecil yang dibangun dan berbekal segala keperluan hidup selama lima hari. Dia mengakui, komoditas yang digunakan untuk kosmetik dan obat-obatan itu semakin sulit didapatkan dan ia harus memasuki hutan lebih jauh untuk mendapatkannya.


WAISAK 2560

Cinta Kasih Diperlukan untuk Wujudkan Persatuan


MAGELANG, KOMPAS — Bangsa Indonesia menjadi besar, salah satunya karena memiliki agama-agama yang saling menghormati. Hal ini membuat cinta kasih dan persaudaraan harus terus dijaga agar kedamaian terpelihara. Cinta kasih yang datang dari lubuk hati terdalam akan melahirkan sikap saling mendukung, menghormati, dan bekerja sama yang baik demi mewujudkan kedamaian bangsa.

"Pada dasarnya terwujudnya cinta kasih, persaudaraan, persatuan, kebahagiaan, dan kerja sama adalah tujuan hidup kita bersama sebagai umat beragama," kata Wakil Presiden M Jusuf Kalla saat memberikan sambutan mewakili Presiden Joko Widodo dalam acara Dharmasanti Waisak 2560 BE/2016 di Taman Lumbini, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (21/5) malam.

Acara Dharmasanti Waisak dihadiri ribuan biksu dan umat Buddha dari beberapa negara, seperti Thailand, Malaysia, dan sejumlah negara di Eropa. Wapres Kalla didampingi Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan sejumlah duta besar dari negara sahabat.


KONSER

Musik adalah Sebenar-benarnya Joey


Dua tahun jadi "anak rantau" di New York, Amerika Serikat, dengan prestasi jempolan, pianis Joey Alexander (12) pulang kampung. Dia disambut meriah. Sekitar 2.000 penonton berdiri, termasuk Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, ketika melangkah naik ke panggung di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, Minggu (22/5) malam.

 Pertunjukan bertajuk "Joey Alexander Live in Concert" itu dimulai pukul 20.30 dengan dipandu presenter televisi Najwa Shihab. Kepada Najwa, Joey berujar, mudik ini seperti berlibur. "Jadi musisi sih enggak pernah seperti kerja," kata Joey, yang memakai jas, celana agak ketat, dan rambut tebal yang nyaris menutupi telinganya.

Joey membuka konser dengan nomor nominasi Grammy, "Giant Step", dicuplik dari album perdananya, My Favorite Things. Dia memberi aba-aba kepada Jeff "Tain" Watts, pemain drum di seberangnya untuk mulai duluan. Perlahan, jemari Joey menari di atas tuts piano gran Steinwey & Sons.

Saturday, May 21, 2016

Kompas Edisi Sabtu 21 Mei 2016

Kompas Edisi Sabtu 21 Mei 2016
Kompas Edisi Sabtu 21 Mei 2016

Bandara Kairo Dijaga Ketat

Serpihan MS804 Ditemukan


KAIRO, KOMPAS — Setelah jatuhnya Airbus A320 EgyptAir dengan nomor penerbangan MS804, pengamanan Terminal 3 Bandara Internasional Kairo, Jumat (20/5), diperketat. Berbeda dari dua terminal lain, sejumlah penjaga dibantu anjing pelacak menyisir seluruh area terminal.

Anjing-anjing penjaga itu juga dikerahkan untuk memeriksa setiap tas dan barang bagasi milik para penumpang. Terminal 3 merupakan terminal yang dikhususkan untuk mengakomodasi EgyptAir, Turkish Airlines, dan Swissair. Wartawan Kompas, Musthafa Abd Rahman, mengabarkan, mobil patroli juga terlihat lalu lalang di area parkir di depan Terminal 3. Jika mendapati kendaraan yang dinilai mencurigakan, polisi itu segera memeriksanya.

Secara umum suasana di bandara itu tampak normal seperti biasa. Namun, sejumlah kerabat korban MS804, sejak Kamis siang, telah berdatangan ke bandara untuk mencari informasi.


PIALA THOMAS-UBER

Pasukan Muda Membawa Harapan


KUNSHAN, KOMPAS — - Indonesia mengandalkan sebagian pemain muda untuk tampil dalam kejuaraan bulu tangkis beregu putra-putri, Piala Thomas dan Uber 2016. Sebagian di antaranya bahkan tak berpengalaman tampil dalam putaran final yang tahun ini digelar di Kunshan, Tiongkok. Namun, Indonesia patut bangga kepada pasukan muda yang tinggal selangkah lagi membawa pulang Piala Thomas.

 Putra-putra Indonesia akan berebut Piala Thomas dengan Denmark dalam final yang akan berlangsung di Stadion Kunshan Sports Center, Minggu (22/5). Di semifinal, Jumat (20/5), Hendra Setiawan dan kawan-kawan menaklukkan Korea Selatan, 3-1. Adapun Denmark menang, 3-2, atas Malaysia. Terakhir Indonesia bertemu Denmark di final Piala Thomas pada 1996 dan saat itu dimenangi Indonesia.

Setiap pertandingan Piala Thomas dan Uber, kejuaraan dua tahunan, berlangsung dalam lima partai yang terdiri dari tiga tunggal dan dua ganda. Tim pemenang adalah tim yang memenangi tiga laga.


KOMIK DIGITAL

"Baladeva", Komik Sastra Indonesia yang Mendunia


"Namun, ingatlah Kebo Parang, kendalikan tubuh dan pikiranmu, kelima elemen dalam dirimu. Karena, dengan itu, kau bisa mempergunakan pranamu dengan benar dan menghindarkanmu dari kehancuran".

Demikian petikan pesan Nyai Kalini kepada Kebo Parang dalam komik digital Chronicle of Calonarang: Baladeva produksi Tantraz Comics Bali, halaman 50.

Baladeva merupakan komik karya sastra digital pertama Indonesia yang menembus dunia dalam versi dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris. "Kebanggaan kami adalah berupaya melahirkan komik sastra karya asli anak Indonesia ke pentas mancanegara dengan teknologi. Kami ingin menghasilkan karya luar biasa," kata Ketua Tim Tantraz Comics Bali Putu Gde Ary Wicahyana, di Denpasar, Bali.

Friday, May 20, 2016

Kompas Edisi Jumat 20 Mei 2016

Kompas Edisi Jumat 20 Mei 2016
Kompas Edisi Jumat 20 Mei 2016

Kaum Muda Optimistis Bersaing di Skala Global

Kebangkitan Nasional Dimaknai dalam Konteks Kekinian


JAKARTA, KOMPAS — Kaum muda Indonesia dari beragam profesi memaknai peringatan Hari Kebangkitan Nasional dalam konteks kekinian. Ditopang penguasaan teknologi, nilai-nilai gotong royong, serta toleransi, mereka optimistis bangsa ini dapat bersaing dan maju setara dengan bangsa lain di tingkat global.

Ainun Najib (31), programer Indonesia, di Singapura, yang menggagas Kawal Pemilu 2014, memaknai kebangkitan nasional sebagai kebangkitan setiap saat, setiap hari. Dengan kata lain, ini bukan momen yang hanya diingat sekali setahun, yakni tiap 20 Mei. Kebangkitan nasional setiap hari dimaknai menjadi lebih baik dengan terus berusaha. ”Siapa yang tidak bangkit setiap hari—menyikapi keadaan—akan merugi dan tergilas waktu,” ujar Ainun yang dihubungi melalui telepon seluler di Singapura dari Jakarta, Kamis (19/5).

Dia berusaha menjalani kebangkitan setiap hari dengan mengajak teman-temannya berkontribusi sesuai bidang masing-masing. ”Bayangkan jika semua elemen bangsa Indonesia, terutama pemuda, bersemangat membangkitkan negeri ini dari berbagai masalah yang melanda, tentu kita maju pesat,” ujarnya.

KECELAKAAN PESAWAT

MS804 Sempat Berbelok Mendadak


KAIRO, KOMPAS — Dunia penerbangan kembali berduka. Dari Kairo, Mesir, dikabarkan, Airbus A320 milik EgyptAir, Kamis (19/5) pagi, jatuh ke Laut Tengah saat terbang dari Paris menuju Kairo. Menurut BBC, pesawat dengan nomor penerbangan MS804 itu mengangkut 66 orang, terdiri dari 56 penumpang, 7 awak, dan 3 personel keamanan.

Presiden Perancis Francois Hollande yang 15 warganya turut dalam penerbangan tersebut memastikan terjadinya kecelakaan itu, dan Kantor Kejaksaan Paris pun segera menggelar penyelidikan. Wartawan Kompas, Musthafa Abd Rahman, melaporkan dari Kairo, Menteri Urusan Penerbangan Sipil Mesir Sherif el-Fathi mengatakan, selain faktor teknis, faktor terorisme tidak dapat dikesampingkan.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Keamanan Rusia (FSB) Alexander Bortnikov. Bahkan, ia menduga, kecelakaan itu kemungkinan besar disebabkan oleh aksi teroris. Di Washington, Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah menerima taklimat dari penasihat keamanan dalam negeri dan kontra terorisme terkait jatuhnya pesawat itu. Menurut Aviation Week, pesawat dengan nomor registrasi SU-GCC itu dioperasikan EgyptAir sejak November 2003.


PAKET A

Penyapu Jalan Memburu Masa Depan


Bagi sejumlah penyapu jalan Jakarta yang berusia di atas 45 tahun, memperoleh ijazah setara SD merupakan perjuangan. Ijazah itu menjadi penentu kelanjutan penghidupan mereka. Demi itulah mereka mengikuti ujian, satu ruangan bersama anak belasan tahun.

Diawali keengganan, mereka menghadapi rasa malu dan tidak percaya diri. Bermodal kemeja putih pinjaman hingga mencicil uang sekolah, mereka berupaya menggapai ijazah itu.

Rahim (48), petugas kontrak Dinas Kebersihan DKI Jakarta, berharap-harap cemas menanti hasil ujiannya, Kamis (19/5). Sehari sebelumnya, ia menyelesaikan ujian terakhir, yaitu mata pelajaran IPA.

Thursday, May 19, 2016

Kompas Edisi Kamis 19 Mei 2016

Kompas Edisi Kamis 19 Mei 2016
Kompas Edisi Kamis 19 Mei 2016

Potensi Korupsi di Sekolah dan Dinas

Baru 32 Persen SMA/SMK Laporkan DAK


JAKARTA, KOMPAS — Sekolah dan dinas pendidikan menjadi lahan subur praktik korupsi di sektor pendidikan. Besarnya alokasi anggaran di sektor pendidikan dan lemahnya pengawasan merupakan faktor krusial penyebab kedua institusi itu mempunyai potensi besar sebagai tempat terjadinya korupsi.

 Sekretaris Dinas Pendidikan Jawa Barat Karyono mengungkapkan, di sekolah rawan terjadi korupsi karena kini sekolah mengelola langsung dana alokasi khusus (DAK). DAK bidang pendidikan ditransfer dari pemerintah pusat ke rekening sekolah.

”Kerawanan lebih tinggi pada DAK untuk perbaikan atau pembangunan kelas baru di sekolah,” kata Karyono di Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (18/5). Menurut dia, pemerintah pusat seharusnya menugaskan dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota untuk mengawasi penyaluran dan pengelolaan DAK di sekolah-sekolah.


GERAKAN KERELAWANAN

Penggabungan ke Akar Rumput Jadi Tantangan


JAKARTA, KOMPAS — Berkembangnya gerakan kerelawanan politik menjadi salah satu indikator semakin matangnya demokratisasi di Indonesia. Namun, ruang lingkup gerakan yang cenderung elitis sehingga belum banyak menyentuh masyarakat akar rumput menjadi tantangan terbesar kerelawanan jika ingin mendorong perubahan tatanan politik agar jadi lebih inklusif.

”Saat ini gerakan kerelawanan umumnya masih ada di kalangan terdidik perkotaan dan kelas menengah. Gerakannya cenderung masih elitis, belum masif, karena belum menyentuh kelompok sosial lainnya, seperti buruh atau petani,” ujar pengajar Sosiologi Komunikasi dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro, Semarang, Triyono Lukmantoro, Rabu (18/5), di Semarang.

Padahal, menurut Triyono, gerakan kerelawanan akan bergulir kian menjadi besar dan konsisten jika mampu menggabungkan dua kelas sosial, yakni kelas menengah yang mampu mengartikulasikan ide dan masyarakat akar rumput yang merupakan basis massa terbesar di Indonesia.


POLISI TELADAN

Seladi Memilih Memulung untuk Menghidupi Keluarga


”Pak, ini sebagai ucapan terima kasih saya atas bimbingannya,” ujar seorang pemohon SIM A dengan halus sambil menyodorkan amplop kepada Brigadir Kepala Seladi, penguji praktik SIM A di Kepolisian Resor Malang Kota.

 Dengan halus, petugas paruh baya itu menolak pemberian dengan kalimat ”sudah tugasnya dan tidak bisa menerimanya”.

”Kalau begitu, biarkan saya membelikan secangkir kopi saja untuk Bapak,” ujar si pemohon SIM dengan niat membalas kebaikan dan keramahan Seladi.

Wednesday, May 18, 2016

Kompas Edisi Rabu 18 Mei 2016

Kompas Edisi Rabu 18 Mei 2016
Kompas Edisi Rabu 18 Mei 2016

Anggaran Pendidikan Jadi Sasaran Korupsi

Pengawasan Keuangan Lemah


JAKARTA, KOMPAS — Anggaran pendidikan menjadi sasaran empuk untuk dikorupsi. Selama 10 tahun terakhir, korupsi di sektor pendidikan menyebabkan kerugian negara senilai Rp 1,3 triliun. Para pelaku mulai dari kepala dinas pendidikan, staf dinas pendidikan, hingga kepala sekolah.

Pada periode 2006-2015, berdasarkan penelusuran yang dilakukan Indonesia Corruption Watch (ICW), tercatat 425 kasus korupsi terjadi di sektor pendidikan. Jumlah tersangkanya mencapai 618 orang.

Dalam jumpa pers ”Satu Dasawarsa Kasus Korupsi pada Sektor Pendidikan”, Staf Divisi Investigasi ICW Wana Alamsyah, Selasa (17/5), mengatakan, pada 2013 terjadi kenaikan nilai kerugian negara yang signifikan mencapai Rp 538 miliar. Salah satu kasus yang terjadi pada tahun tersebut adalah dugaan korupsi dana bantuan operasional sekolah (BOS) tahun ajaran 2011/2012 yang terkait pembelian buku. Nilai kerugian negara dalam kasus ini Rp 9 miliar.


PARTAI GOLKAR

Pemerintah Hormati Hasil Munaslub


 SEOUL, KOMPAS — Presiden Joko Widodo menghormati keputusan mayoritas peserta Musyawarah Nasional Luar Biasa Partai Golkar yang memilih Setya Novanto sebagai Ketua Umum Partai Golkar 2016-2019.

Penghormatan juga disampaikan terhadap sejumlah hasil munaslub, seperti keputusan untuk keluar dari Koalisi Merah Putih (KMP) dan mendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

”Ini wilayahnya Partai Golkar. Siapa pun yang terpilih itu sudah pilihan mereka dan kita hormati pilihan-pilihan yang mereka lakukan,” kata Presiden Jokowi, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Suhartono, dari Seoul, Korea Selatan, Selasa (17/5).


KORBAN BANJIR BANDANG

Mordang Menggantung 10 Jam di Ketinggian 20 Meter


”Huuuhfff...!” Funilah (44) menghela napas panjang saat menceritakan anak pertamanya, Priarmando Gurusinga (18). Wajahnya kuyu. Bajunya sudah tiga hari tidak ganti. Tatapan matanya sering kosong. ”Nelangsa sekali rasanya,” tutur ibu empat anak itu lesu....

 Sejak mendapat kabar anak pertamanya menjadi korban banjir bandang di Sibolangit, Minggu (15/5) petang, Funilah tidak tidur. Warga Desa Pilpil, Sibolangit, itu langsung menuju lokasi terjadinya bencana, tempat anaknya bekerja mencari uang saku sebagai pemandu wisatawan.

Hal itu dilakukan karena Armando, begitu ia biasa disebut, ingin mandiri setelah ayahnya meninggal beberapa tahun lalu.

Tuesday, May 17, 2016

Kompas Edisi Selasa 17 Mei 2016

Kompas Edisi Selasa 17 Mei 2016
Kompas Edisi Selasa 17 Mei 2016

Kepercayaan Terus Meningkat

Korsel Perkuat Kerja Sama Ekonomi dengan RI


SEOUL, KOMPAS — Indonesia dan Korea Selatan bersepakat untuk terus memperkuat kerja sama ekonomi setelah 10 tahun bermitra strategis. Komitmen kedua negara ini juga menunjukkan kepercayaan investor yang meningkat, sejalan dengan perbaikan iklim investasi di Indonesia.

 Presiden Korea Selatan Park Geun-hye berbicara di hadapan pers bersama Presiden Joko Widodo setelah melakukan pertemuan empat mata di Istana Kepresidenan Cheong Wa Dae. Ia mengatakan, kedua pemimpin pemerintahan menyusuri jejak perkembangan hubungan kedua negara dan membicarakan berbagai langkah untuk memajukan kerja sama bilateral pada tahun-tahun mendatang.

”Indonesia merupakan negara perdagangan utama, negara tujuan investasi, dan mitra utama Korsel di ASEAN. Tahun ini merupakan tahun ke-10 semenjak Indonesia dan Korsel menjalin kemitraan strategis. Kedua negara sedang menghadapi babak baru menuju masa depan yang lebih baik,”€ ujar Presiden Park Geun-hye seperti dilaporkan wartawan Kompas, Suhartono, dari Seoul, Korsel, Senin (16/5).


BANJIR BANDANG

16 Orang Tewas dan 5 Masih Hilang


SIBOLANGIT, KOMPAS — Tim Search and Rescue gabungan berhasil menemukan 16 jenazah korban banjir bandang yang menghantam pengunjung Air Terjun Telaga Dua Warna di Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, sekitar 53 kilometer dari Kota Medan. Satu orang ditemukan selamat, sedangkan lima orang masih dalam pencarian.

Ke-16 jenazah dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara, Medan, untuk proses identifikasi. Hingga Senin (16/5), pukul 23.00, baru satu jenazah yang teridentifikasi, atas nama Muhammad Riantiyo Fandy (26), warga Jalan Pelajar Timur, Medan.

Korban selamat Mordang Harahap (18) ditemukan Tim SAR bergantung di tebing air terjun setinggi 20 meter pada Senin dini hari. Ia menginjak batu dan berpegangan pada rumput selama lebih dari 10 jam.


INSIDEN JALAN TOL

Ambruknya Jembatan Kampung Kami...


Ambruknya jembatan penyeberangan di ruas Tol Ulujami-Serpong tak hanya membuat kemacetan di sebagian kawasan Jakarta dan Tangerang Selatan, Senin (16/5). Warga sekitar, yang rata-rata bukan pengguna jalan tol, pun ikut dibuat repot. Dari listrik padam hingga hilangnya akses jalan.

Minggu (15/5) menjelang tengah malam, ketenangan warga Kampung Sawah Baru dan Poncol, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, dipecah suara menggelegar yang begitu kuat hingga menggetarkan dinding rumah warga.

Sesaat setelah suara itu, Arif Imron (40), yang akrab disapa Jimmy, kembali ke rumah dengan tergopoh-gopoh. Dengan wajah pucat ia langsung terduduk lemas di lantai rumahnya di Kampung Sawah Baru, di sebelah selatan jembatan penyeberangan itu.

Monday, May 16, 2016

Kompas Edisi Senin 16 Mei 2016

Kompas Edisi Senin 16 Mei 2016
Kompas Edisi Senin 16 Mei 2016

Kerelawanan Beri Harapan

Elite Politik dan Partai Politik Perlu Berbenah Diri


JAKARTA, KOMPAS — Gerakan kerelawanan menjanjikan wajah baru bagi demokrasi Indonesia yang lebih sehat dan inklusif. Jika terus bergulir dan membesar, gerakan ini akan membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat untuk lebih berdaya sekaligus memaksa elite politik berbenah diri.

Catatan Kompas, Minggu (15/5), gerakan kerelawanan di bidang politik dalam beberapa tahun terakhir mengambil bentuk elektoral dan nonelektoral.

Bentuk nonelektoral antara lain terlihat dalam gerakan melawan upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi pada tahun 2009, 2012, dan 2015.


MINUMAN ILEGAL

Minum Oplosan, 10 Orang Tewas


YOGYAKARTA, KOMPAS — Minuman oplosan kembali memakan korban di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedikitnya 10 orang tewas dan beberapa orang lainnya dirawat di rumah sakit akibat mengonsumsi minuman oplosan dalam tiga hari terakhir sejak Jumat hingga Minggu (13-15/5).

Dari 10 orang korban tewas itu, delapan di antaranya merupakan warga Kabupaten Bantul, sedangkan dua lainnya warga Kota Yogyakarta.

”Korban-korban tersebut mengonsumsi minuman oplosan di beberapa lokasi berbeda, baik secara sendirian maupun berkelompok,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor Bantul Ajun Komisaris Anggaito Hadi Prabowo, Minggu siang.


KERELAWANAN POLITIK

Cepat, tapi Kadang Longgar…


Di bawah naungan lampu temaram di ruang tengah Sekretariat Jogja Independent, Rizki (21) dan Jasmine (23) mengamati layar monitor laptop. Mereka bergantian membaca dan mengetik data yang muncul. ”Kami dapat pinjaman dua laptop, tapi satu rusak. Jadi harus kerja gantian,” tutur Yustina Neni, Koordinator Kesekretariatan Jogja Independent atau Joint, Selasa (10/5) petang. Sekretariat Joint berada di Tirtodipuran, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

 Jika dua laptop hasil pinjaman dari sukarelawan Joint itu tak ada yang rusak, mereka seharusnya bisa bekerja lebih cepat. Laptop pertama untuk mengunduh hasil pindai kartu tanda penduduk (KTP) yang dikirimkan masyarakat ataupun relawan Joint melalui aplikasi WhatsApp, sedangkan satu laptop lagi untuk merekam data itu dalam program Excel guna memudahkan pendataan dukungan.

Meski tak punya KTP Yogyakarta, Rizki yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta tergerak bergabung dengan Joint. Langkah Joint yang menggelar konvensi untuk mencari pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Yogyakarta yang akan diusung lewat jalur perseorangan, diyakini Rizki, bisa mendorong perilaku politik yang lebih berpihak pada kepentingan rakyat.

Sunday, May 15, 2016

Kompas Edisi Minggu 15 Mei 2016

Kompas Edisi Minggu 15 Mei 2016
Kompas Edisi Minggu 15 Mei 2016

Barca Penguasa Milenium Ketiga

Suarez Patahkan Duopoli Messi dan Ronaldo


GRANADA, SABTU — Kesetiaan terhadap gaya sepak bola atraktif ala tiki-taka mengantarkan Barcelona meraih trofi juara Liga Spanyol untuk 24 kali seusai membekap Granada, 3-0, Sabtu (14/5). Tambahan gelar di musim yang sengit ini menegaskan status Barca sebagai ”raja” Spanyol di milenium ketiga.

Barca sempat ramai-ramai divonis terpuruk dan bakal mengalami musim terburuk dalam 13 tahun terakhir menyusul empat kekalahan dari lima laga di April lalu. Meninggalnya Johan Cruyff, perintis aliran sepak bola tiki-taka ala Barca, akhir Maret, seolah menjadi pertanda akan berakhirnya era rezim ”Blaugrana”.

Namun, alih-alih gagal, Barca justru mengunci trofi Liga Spanyol untuk kali kedua beruntun. Tetap mengedepankan paham sepak bola atraktif yang sempat diruntuhkan Atletico Madrid di semifinal Liga Champions, April lalu, Barca bangkit dari ”kubur”.

KASUS NARKOBA

Bupati Dirwan Diperiksa di Jakarta


BENGKULU, KOMPAS — Bupati Bengkulu Selatan, Bengkulu, Dirwan Mahmud, Sabtu (14/5), dibawa ke Jakarta untuk menjalani pemeriksaan lanjutan terkait penemuan 0,9 gram sabu dan empat butir ekstasi di ruang kerjanya. Ia akan menjalani tes urine untuk kedua kali di Balai Laboratorium Badan Narkotika Nasional. Dirwan juga akan menjalani pemeriksaan darah dan rambut.

Dari pantauan Kompas, tim penyidik dari Badan Narkotika Nasional (BNN) dan BNN Provinsi Bengkulu menjemput Dirwan, yang baru pulang dinas dari Jawa Tengah, di Bandara Fatmawati Soekarno, Bengkulu. Setelah diperiksa selama tujuh jam di kantor BNNP Bengkulu, Dirwan dibawa ke Jakarta dengan dikawal tim penyidik BNN.

Kepala BNNP Bengkulu Komisaris Besar Budiharso seusai pemeriksaan menjelaskan, penjemputan di bandara dilakukan atas permintaan Dirwan. "Pak Dirwan yang meminta kami datang ke bandara," kata Budi.

HEWAN PELIHARAAN

Cinta bagi Pemberi Makanan Jiwa


Di tengah kesibukan kota yang metropolis, warga kota mencurahkan kasih sayang kepada hewan-hewan peliharaan mereka tanpa syarat. Bagi mereka, hewan-hewan ini adalah pemberi makanan jiwa yang harus selalu dibela.

 Dengan tubuh terbaring lemas, Hachiko, anjing jenis golden retriever berusia lima tahun, tampak sedikit gelisah kala dokter mulai menusukkan satu per satu jarum akupunktur ke beberapa titik di bagian paha dan kaki kanannya, Minggu (8/5) pagi. Sesekali Hachiko mencoba bangkit, tetapi tidak berhasil. Tubuhnya masih lemah dan limbung.

Kegelisahannya bertambah saat arus listrik lemah mulai mengaliri kabel anoda dan katoda ke jarum-jarum akupunktur tadi. ”Ssshh, Hachiko…. Ayo, dong, kamu tenang, ya. Enggak apa-apa, kok. Kan, sudah biasa. Sudah biasa ya kan, Hachiko,” ujar Nyoman Iswarayoga (40), lembut.

Saturday, May 14, 2016

Kompas Edisi Sabtu 14 Mei 2016

Kompas Edisi Sabtu 14 Mei 2016
Kompas Edisi Sabtu 14 Mei 2016

Banyak Modus Kunjungan Kerja Fiktif

Sistem Pelaporan di DPR Lemah


JAKARTA, KOMPAS — Dugaan adanya kunjungan kerja fiktif di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat sudah lama muncul. Cerita tentang modus membuat laporan kunjungan kerja fiktif juga telah banyak beredar. Lemahnya pengawasan dan itikad baik sebagian anggota DPR menjadi penyebab masalah ini.

 Padahal, jumlah uang yang diterima anggota DPR dari kunjungan kerja terus bertambah tiap tahun. Catatan Kompas, setiap masa reses tahun 2016, anggota DPR mendapatkan Rp 225 juta untuk melakukan kunjungan kerja. Oleh karena setahun ada lima kali reses, besar uang yang diterima Rp 1,125 miliar tiap tahun. Uang itu masih ditambah anggaran kunjungan kerja di luar masa reses sebesar Rp 420 juta tiap tahun.

Anggota DPR juga menerima uang saat melakukan kunjungan kerja alat kelengkapan DPR yang tiap tahun dilakukan lima kali dan ketika melakukan kunjungan kerja ke luar negeri.


PENYANDERAAN

Jangan Terulang di Masa Depan


JAKARTA, KOMPAS — Peristiwa pembajakan kapal asal Indonesia dan penyanderaan anak buah kapal oleh kelompok Abu Sayyaf ataupun sempalannya di perairan Filipina selatan jangan sampai terulang lagi pada masa depan. Pemerintah Indonesia mengapresiasi semua pihak, termasuk Pemerintah Filipina yang membantu pembebasan empat anak buah kapal tunda Henry yang disandera salah satu faksi kelompok Abu Sayyaf.

Empat anak buah kapal tunda Henry yang disandera sejak 15 April lalu, M Ariyanto Misnan (22), Loren Marinus Petrus Rumawi (27), Dede Irfan Hilmy (25), dan Samsir (35), tiba di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (13/5), pukul 10.19. Mereka diterbangkan dari Tarakan, Kalimantan Utara, menggunakan pesawat Boeing 737 milik TNI AU. Keempatnya langsung diperiksa kesehatannya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta.

Direktur PT Global Trans Energy International, perusahaan pemilik kapal tunda Henry, Riswandi, berharap tidak akan ada lagi peristiwa serupa sebagaimana dialami keempat awak kapalnya tersebut. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama kepada Pemerintah Indonesia.


KEDAULATAN PANGAN

Butir-butir Kemenangan di Tanah Kering Berbatu


Di sebuah dusun, lebih dari 2.000 kilometer dari Jakarta, hamparan tanaman sorgum tumbuh anggun. Padi dan jagung kering menyerah pada lingkungan ekstrem. Adapun butiran-butiran sorgum siap dipanen menjadi pemenang.

Dusun itu Likotuden di Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari Larantuka, ibu kota Flores Timur, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam melalui jalan halus berkelok-kelok sejauh 20 kilometer (km) dan jalan kecil penuh lubang dan batu sepanjang 7 km.

Awal pekan Mei lalu, perjalanan menuju Likotuden diwarnai ladang padi dan jagung mengering. Sejumlah batang padi berbulir, tetapi kosong. Bertolak belakang dengan pemandangan itu, tanaman sorgum (Sorghum spp) tumbuh menjulang. Di lahan berbatu, sorgum muncul di sela bebatuan, menjulang hingga 2 meter. Berlatar pegunungan, hamparan sorgum memanjakan mata pelintas.

Friday, May 13, 2016

Kompas Edisi Jumat 13 Mei 2016

Kompas Edisi Jumat 13 Mei 2016
Kompas Edisi Jumat 13 Mei 2016

Muncul Dugaan Kunker Fiktif

Negara Berpotensi Dirugikan Rp 945,46 Miliar


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah kunjungan kerja perorangan anggota DPR tahun 2015 diragukan telah dilakukan meski anggaran telah dikeluarkan. Kondisi ini semakin menambah pertanyaan terhadap kunker di DPR yang selama ini cenderung tak efektif dan sering dinilai hanya kegiatan hura-hura.

Keraguan terhadap kunjungan kerja (kunker) DPR ini muncul dalam surat dari Fraksi PDI-P DPR kepada para pemimpin dan anggotanya.

Dalam surat tertanggal 10 Mei yang ditandatangani Sekretaris F-PDIP Bambang Wuryanto tersebut, semua anggota F-PDIP diminta membuat laporan kunker perorangan masa reses yang dilaksanakan sepanjang 2015 serta kunker di luar masa reses. Kunker di luar masa reses ini berupa kunker daerah pemilihan sebanyak enam kali dalam satu tahun dan kunjungan kerja satu kali dalam setahun.


LEGISLASI

Penghapusan Kekerasan Seksual Harus Prioritas


JAKARTA, KOMPAS — Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Kamis (12/5), di Jakarta, mendesak Dewan Perwakilan Rakyat segera memasukkan Rancangan Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Seksual sebagai prioritas dalam Program Legislasi Nasional 2016.

RUU itu dinilai dapat menjadi payung hukum yang lebih luas daripada peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perppu) yang juga akan diterbitkan.

Megawati bersama Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly, beberapa anggota DPR, Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan lembaga swadaya masyarakat menandatangani komitmen dukungan pengesahan UU Penghapusan Kekerasan Seksual pada acara bertajuk ”Indonesia Melawan Kekerasan Seksual”, Kamis.


PEMBEBASAN SANDERA

Menunggu Empat Pelaut Pulang


Empat warga negara Indonesia awak kapal tunda Henry yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina sejak 15 April lalu tiba di Jakarta, Jumat (13/5) ini. Presiden Joko Widodo direncanakan menyambut kedatangan mereka.

Mereka adalah M Ariyanto Misnan (22/nakhoda), Loren Marinus Petrus Rumawi (27), Dede Irfan Hilmy (25), dan Samsir (35). Tentara Filipina menyerahkan mereka kepada Tentara Nasional Indonesia, Kamis (12/5) pagi.

Prosesi ini berlangsung di atas perairan dari RV Kapal Angkatan Laut Filipina ke KRI Surabaya milik TNI Angkatan Laut.

Thursday, May 12, 2016

Kompas Edisi Kamis 12 Mei 2016

Kompas Edisi Kamis 12 Mei 2016
Kompas Edisi Kamis 12 Mei 2016

Pembebasan WNI Hasil Kerja Bersama

Keempat ABK Segera Pulang


JAKARTA, KOMPAS — Pembebasan empat warga negara Indonesia awak kapal tunda Henry yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina sejak 15 April lalu merupakan hasil kerja bersama. Pembebasan itu bagian dari komitmen kesepakatan kerja sama trilateral di Yogyakarta, Kamis (5/5).

 Presiden Joko Widodo mengapresiasi kerja sama yang terjalin dengan Pemerintah Filipina dan Malaysia hingga akhirnya empat WNI dapat diselamatkan. Mereka menyusul 10 WNI anak buah kapal (ABK) kapal tunda Brahma 12 yang sudah dibebaskan pada Minggu (1/5).

”Keempat WNI tersebut dalam keadaan baik. Pembebasan sandera ini dapat dilakukan melalui kerja sama yang baik antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Filipina,” kata Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka, Kompleks Istana, Jakarta, Rabu (11/5).


REKLAMASI TELUK JAKARTA

Pengembang Diberi Waktu 120 Hari


JAKARTA, KOMPAS — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rabu (11/5), resmi menyegel atau menghentikan sementara kegiatan reklamasi di Pulau C, D, dan G, Teluk Jakarta, hingga 120 hari mendatang. Perusahaan pengembang bisa beraktivitas kembali jika telah melengkapi dan memperbaiki dokumen lingkungan serta konstruksi yang tak ramah lingkungan.

 Penyegelan itu dipimpin San Afri Awang, Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan sekaligus Ketua Tim Evaluasi Reklamasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Awang didampingi Rasio Ridho Sani, Dirjen Penegakan Hukum Lingkungan KLHK; dan Ilyas Asaad, Staf Ahli Menteri LHK Bidang Kelembagaan Pusat dan Daerah.

Pemerintah melarang seluruh kegiatan konstruksi dan perluasan reklamasi di ketiga pulau tersebut. Kegiatan yang diperbolehkan hanya yang terkait paksaan pemerintah untuk perbaikan manajemen lingkungan dan pengawasan/pengendalian dampak lingkungan.


KRL JABODETABEK

Putaran Roda Besi Itu Membuka Peluang


Putaran roda kereta api telah berpuluh tahun menemani Sopiah (47) mencari rezeki ke Ibu Kota. Kereta api tidak hanya memangkas waktu tempuh, tetapi juga menekan ongkos transportasi. Tersedianya layanan kereta api telah membuka berbagai peluang bagi warga di Kabupaten Lebak, Banten.

 Sopiah adalah satu dari sekian banyak pedagang yang ulang-alik Maja-Jakarta untuk mencari rezeki. Pada masa mudanya, dia menempuh jalur itu saban hari. ”Sekarang, saya jualan hanya Senin, Rabu, Kamis, dan Sabtu,” ujarnya di sela-sela perjalanan, Rabu (11/5).

Sopiah tidak ingat kapan mulai berjualan. Dia hanya ingat awal melakoni usaha ini, yakni saat anak satu-satunya berumur lima tahun. Kini, anaknya itu telah memberi satu cucu.

Wednesday, May 11, 2016

Kompas Edisi Rabu 11 Mei 2016

Kompas Edisi Rabu 11 Mei 2016

Kekerasan Seksual Masuk Kejahatan Luar Biasa

Presiden Perintahkan Hukuman Pelaku Diperberat


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo memandang kekerasan seksual terhadap anak yang terus terjadi sebagai kejahatan luar biasa. Fenomena tersebut harus segera diakhiri dengan cara luar biasa pula tanpa semata mengacu pada undang-undang. Pelaku akan diberi hukuman secara akumulatif.

Pernyataan itu dikemukakan Presiden Joko Widodo, Selasa (10/5), dalam keterangan pers seusai memimpin sidang kabinet paripurna di tangga Istana Negara, Jakarta.

”Karena kejahatan ini semakin marak, dalam sidang kabinet kita nyatakan kejahatan itu sebagai kejahatan luar biasa sehingga penanganannya pun harus luar biasa. Bahkan, sikap dan tindakan kita juga harus luar biasa,” kata Presiden menegaskan.


PENDIDIKAN KEDOKTERAN

Benahi Hulu-Hilir


JAKARTA, KOMPASPemerintah dituntut berperan lebih serius dalam membenahi masalah pendidikan kedokteran serta distribusi tenaga dokter agar lebih merata. Hal itu akan lebih mudah dilakukan jika pemerintah menetapkan dokter sebagai tenaga strategis negara.

Konsekuensinya, pemerintah harus membina dan mengawasi kualitas institusi pendidikan, menyediakan anggaran cukup untuk biaya pendidikan kedokteran, dan memberi insentif memadai saat menempatkan dokter di daerah tertentu. Tanpa kehadiran negara, dalam jangka panjang, keberadaan 83 fakultas kedokteran (FK) yang mutunya beragam dengan sedikitnya 10.000 lulusan per tahun bisa menurunkan mutu layanan kesehatan.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia M Adib Khumaidi, Selasa (10/5), di Jakarta, mengatakan, negara tak bisa hanya hadir di hilir saat seseorang telah lulus jadi dokter dengan menempatkan di daerah tertentu. Pemerintah dituntut hadir mulai dari hulu, pada proses pendidikan kedokteran.


TOLERANSI

Pesan Keberagaman dari Jalur Rempah


Beberapa laki-laki paruh baya menarikan legu-legu atau tari payung di depan sasadu, rumah adat suku Sahu, di Halmahera Barat, Maluku Utara. Gerakan mereka berputar-putar diiringi kendang dan gong. Beberapa perempuan masuk dalam lingkaran lalu turut menari bersama.

 Tari payung yang pada zaman dulu merupakan tarian penyambutan untuk Sultan Jailolo dan Sultan Ternate itu ditampilkan sebelum acara orom sasadu atau makan bersama di rumah adat sasadu, Kamis (5/5), di Kecamatan Sahu Timur, Halmahera Barat. Semua orang bergembira. Orang kaya dan miskin melebur jadi satu. Umat Islam dan Kristen berbaur. Etnis mana pun berpadu. Mereka makan bersama sebagai simbol persaudaraan di sasadu.

Para pendatang dan tamu silakan bergabung, asal mematuhi syarat. Laki-laki wajib memakai ‎peci dan perempuan mengenakan kain serta selendang. ‎Soal dress code ini, kata Ketua Adat Suku Sahu Titus Djaga, ada maknanya. Peci, yang jadi simbol kaum Muslim, dikenakan semua orang guna menghormati sultan. ”Jadi, meski kami suku Sahu mayoritas beragama Kristen, 60 persen, kami mengenakan peci saat orom sasadu atau upacara adat lain,” katanya.

Tuesday, May 10, 2016

Kompas Edisi Selasa 10 Mei 2016

Kompas Edisi Selasa 10 Mei 2016
Kompas Edisi Selasa 10 Mei 2016

Distribusi Dokter Bermasalah

Pembukaan Fakultas Kedokteran Baru Bukan Strategi Tepat


JAKARTA, KOMPAS — Dibandingkan dengan negara ASEAN lain, rasio dokter terhadap penduduk di Indonesia memang lebih rendah. Namun, jumlah dokter di Indonesia saat ini cukup untuk melayani seluruh rakyat. Masalahnya, dokter-dokter itu terkumpul di sejumlah kota dan provinsi tertentu.

 Salah satu pertimbangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) memberikan izin pembukaan delapan fakultas kedokteran baru pada Maret 2016 adalah untuk meningkatkan rasio dokter terhadap penduduk. Alasan lain ialah menyebarkan dokter dan fakultas kedokteran ke seluruh Indonesia.

”Persebaran dokter tidak baik karena bertumpuk di Pulau Jawa ataupun kota-kota besar,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir di Jakarta, pekan lalu.



KONFERENSI INTERNASIONAL

Islam dan Kebangsaan Tidak Terpisahkan


JAKARTA, KOMPAS — Islam dan kebangsaan merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya menjadi kunci bagi eksistensi peradaban suatu bangsa dan solusi atas problem pertikaian yang kini terjadi di sejumlah negara Islam.

Sikap semacam ini, menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj, sudah dipahami oleh kiai di pesantren di Indonesia. Mereka juga telah berhasil membangun penghubung antara prinsip agama dan negara. Kondisi ini yang membedakan antara keislaman di Indonesia dan di negara-negara di Timur Tengah.

"Kesatuan antara Islam dan kebangsaan itu tidak ada di negara-negara Islam lainnya di Timur Tengah. Negara-negara itu terus berkonflik. Jutaan orang mati karena perang. Untuk apa? Untuk siapa?" kata Said Aqil dalam pembukaan International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang digelar Nahdlatul Ulama di Jakarta Convention Center, Senin (9/5).


TENAGA KESEHATAN

Merawat Bangsa di Ujung Nusantara


enyebaran dokter belum merata hingga ke pelosok Nusantara. Di tengah kondisi itu, masih ada dokter yang terpanggil untuk melayani kesehatan warga di daerah terpencil.

Vivi Wijayanti, satu-satunya dokter Puskesmas Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (30/4), pukul 14.00, menerima pesan singkat ada pasien di instalasi gawat darurat (IGD).

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung tahun 2005 itu harus meninggalkan ruangan untuk memeriksa pasien di IGD yang salah satu jari kakinya putus akibat kecelakaan sepeda motor.

Monday, May 9, 2016

Kompas Edisi Senin 9 Mei 2016

Kompas Edisi Senin 9 Mei 2016

Fakultas Kedokteran Diumbar

45 Persen Berakreditasi C


JAKARTA, KOMPAS — Menjelang tahun ajaran baru, pemerintah membuka delapan fakultas kedokteran baru. Dengan demikian, kini ada 83 fakultas kedokteran, dan 45 persennya berakreditasi C. Kondisi itu mengancam mutu lulusan. Padahal, mereka bertanggung jawab atas nyawa dan kesehatan warga.

Penelusuran Kompas selama sepekan hingga Sabtu (7/5) menunjukkan banyak masalah yang dihadapi fakultas kedokteran (FK) negeri dan swasta akreditasi C di sejumlah daerah. Kendala terbesar ialah keterbatasan jumlah dosen dan sulitnya memiliki rumah sakit pendidikan tempat sarjana kedokteran menjalani pendidikan profesi dokter.

Sebagai contoh, FK Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Papua, hanya mempunyai 17 dosen tetap, sedangkan 20 dosen lainnya menempuh pendidikan lanjutan. Padahal, fakultas itu mempunyai 1.557 mahasiswa.


UANG PENGGANTI

Samadikun Harus Bayar Sesuai Kurs


JAKARTA, KOMPAS — Kejaksaan Agung masih bernegosiasi dengan keluarga terpidana korupsi dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, Samadikun Hartono, terkait pembayaran uang pengganti kerugian negara. Selaku eksekutor putusan pengadilan dan pengacara negara, Kejaksaan Agung berhak menggugat pengembalian bunga dari uang yang dikorupsi Samadikun.

Selain mengganti uang negara Rp 169 miliar sesuai putusan Mahkamah Agung, Samadikun seharusnya membayar kerugian negara sesuai dengan kurs mata uang terakhir sejak ia membawa lari uang negara 13 tahun silam.

"Dalam pembicaraan terakhir ada permintaan dari Samadikun dan keluarganya untuk membayar uang pengganti itu dengan cara dicicil atau diangsur. Namun, semua masih dibicarakan dengan Samadikun dan keluarganya," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Arminsyah di Jakarta, Minggu (8/5).


PENDIDIKAN TINGGI

Pencetak Dokter yang Sarat Masalah


Sebanyak 260 mahasiswa memadati satu ruang kelas di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, Selasa (3/5). Suasana itu lebih mirip seminar daripada perkuliahan. Ini dampak berlebihnya jumlah mahasiswa baru yang diterima Fakultas Kedokteran Uncen beberapa tahun belakangan.

Mahasiswa tak bisa menyembunyikan rasa gerah selama kuliah. Penyejuk ruangan yang terpasang tidak mampu membuat udara dalam kelas jadi nyaman untuk belajar. Sebagian mahasiswa mengibas-ngibaskan kertas, buku, ataupun barang lain untuk mengusir panas. Namun, mereka tetap tenang dan memperhatikan penjelasan dokter Astrina, sang dosen.

Beruntung, ruang kuliah dilengkapi pelantang suara nirkabel sehingga Astrina tidak perlu berteriak agar suaranya terdengar hingga mahasiswa di pojok belakang, 15 meter jauhnya. Selain itu, ada tiga proyektor agar materi kuliah Histologi 2 yang ditampilkan bisa dilihat mahasiswa dengan jelas. Hari itu, Astrina memberi kuliah Histologi 2 bagi 400-an mahasiswa.

Sunday, May 8, 2016

Kompas Edisi Minggu 8 Mei 2016

Kompas Edisi Minggu 8 Mei 2016

Kehidupan

Ritus Bali dalam Gedoran Industri


Bali selalu memiliki jalan pulang menuju kesejatiannya. Industri pariwisata yang mengomodifikasi seni ritual tidak asal ditolak. Tradisi secara lentur mencari bentuk baru tanpa kehilangan asal-usul. Oleh sebab itu, seni ritus bisa berdampingan dengan seni komersial.

Sejak buku Gregor Krause, Bali 1912, diterbitkan pertama kali di Eropa pada 1920, Bali mendunia. Babak berikutnya, tradisi dan ritual disesap industri pariwisata dan kian terkomodifikasi. Namun, Bali tak pernah menyerah, ritus-ritus di pura tanpa pernah kehilangan makna, tetap menjadi energi pulau ini. Para penari selalu menjalani laku ngayah, mempersembahkan tarian terbaik ke hadapan para dewata.

Lautan manusia berbaju putih memusar di Pura Samuan Tiga, Minggu (24/4). Pura bersejarah di Desa Pakraman Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, itu melanjutkan prosesi panjang upacara Panca Wali Krama Kahyangan Jagad Pura Samuan Tiga.


KEKERASAN SEKSUAL

Bentuk Satuan Tugas Perlindungan Anak


REJANG LEBONG, KOMPAS — Komisi Nasional Perlindungan Anak mendesak pemerintah daerah untuk segera membentuk satuan tugas perlindungan anak. Keberadaan satuan tugas ini dinilai dapat mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak.

Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi, Sabtu (7/5), mengatakan, masih banyak orang yang tidak peduli terhadap kekerasan seksual yang terjadi di sekitarnya. ”Banyak orang yang cuek dan tidak tahu. Mereka menganggap hal itu adalah wilayah domestik dan menjadi urusan pribadi,” ujarnya seusai mengunjungi keluarga YY di Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Pada awal bulan lalu, YY (14), siswi sekolah menengah pertama di Padang Ulak Tanding, diperkosa dan dibunuh 14 laki-laki, yang semuanya berumur di bawah 20 tahun. Kasus ini mengejutkan publik di Indonesia. Berbagai kalangan pun mengecam peristiwa tersebut.


LIGA INGGRIS

”Setan Merah” Berebut Tiket Liga Champions


NORWICH, SABTU — Gol di menit ke-72 oleh Juan Mata memastikan kemenangan tandang Manchester United 1-0 atas Norwich City, Sabtu (7/5), di Stadion Carrow Road, Norwich, Inggris. Ini kemenangan krusial karena menjaga peluang skuad ”Setan Merah” mengakhiri Liga Inggris musim ini di zona Liga Champions.

Manchester United (MU) kini berada di peringkat kelima dengan nilai 63, satu poin di bawah Manchester City, dan terpaut empat poin dari peringkat tiga Arsenal. Posisi tiga besar lolos otomatis ke fase grup Liga Champions musim depan, dan peringkat empat melalui kualifikasi.

”Ya, ini sangat penting karena kami masih berada dalam persaingan dan kami tetap bersaing dengan terus menekan para pesaing kami. Ini sangat penting. Saya sangat senang. Ini bukan kemenangan mudah karena Norwich berjuang lepas dari degradasi dan kami harus menang karena kami telah kehilangan dua poin melawan Leicester (imbang 1-1 di pekan ke-35). Sekarang kami masih dalam persaingan (ke Liga Champions),” ujar Manajer MU Louis Van Gaal.

Saturday, May 7, 2016

Kompas Edisi Sabtu 7 Mei 2016

Kompas Edisi Sabtu 7 Mei 2016

Atasi Problem secara Utuh

Hadirkan Relasi Jender yang Adil


JAKARTA, KOMPAS — Berbagai kalangan mendesak agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual secepat mungkin disahkan. Lewat regulasi itu, Indonesia memiliki payung hukum untuk mengatasi problem kekerasan seksual di masyarakat secara komprehensif.

”RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. DPR harus segera menuntaskannya,” kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah GKR Hemas, Jumat (6/5), di Jakarta.

Sekretaris Nasional Perempuan Mahardika Mutiara Ika Pratiwi, kemarin, menjelaskan, dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual terdapat aturan yang menegaskan pentingnya upaya pencegahan di masyarakat. Upaya pencegahan itu ditempuh melalui pendidikan kesehatan reproduksi yang mengajarkan tata cara memahami relasi jender secara adil dan bermartabat.


ISRA MIRAJ

Presiden Ingin Santri Siap Hadapi MEA


MAGELANG, KOMPAS — Mulai berlakunya era perdagangan bebas di negara-negara di kawasan Asia Tenggara atau yang disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN, sejak 1 Januari 2016, menjadi penanda semakin ketatnya persaingan antarnegara, khususnya dalam lingkup Asia Tenggara. Untuk itu, siapa pun, termasuk para santri di pondok pesantren, harus siap menghadapinya.

Saat ‎peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren (Ponpes) Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (4/5) malam, Presiden Joko Widodo mengatakan, santri merupakan salah satu aset bangsa yang harus siap menghadapi kompetisi bebas tersebut.

”Santri bersama kita semua harus bersama-sama berupaya memenangi kompetisi dalam kompetisi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN),” ujar Presiden, yang hadir di sela-sela kunjungan kerjanya selama dua hari, Rabu dan Kamis (5/5).


PELAJAR INSPIRATIF

Dari Tanah Papua Mereka Terbang Menggayuh Mimpi


Pemuda Papua menggayuh mimpi menjadi penerbang lewat Program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat. Sebagian dari mereka adalah anak-anak dari keluarga biasa dan sederhana, tetapi sarat prestasi.

Mereka dipilih, ditempa, dan dididik dengan harapan bisa turut serta membangun Papua lebih baik lagi. Anita Ema Bwefar dan Lukman La 'Ali memeluk erat putri mereka, Restiana Zakinah (20), di depan hanggar sekolah Penerbangan Banyuwangi, Jawa Timur. Air mata mereka tumpah tak kuasa menahan haru setelah menyaksikan sang putri diwisuda menjadi pilot.

Sebanyak 11 putra-putri Papua dilantik menjadi pilot pada Kamis (28/4) seusai menjalani pendidikan di Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi selama 22 bulan. Kesebelas anak muda itu dipilih khusus dalam Program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat yang dimulai tiga tahu lalu (2013).

Wednesday, May 4, 2016

Kompas Edisi Rabu 4 Mei 2016

Kompas Edisi Rabu 4 Mei 2016

Kasus YY Puncak Gunung Es

Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan Terus Meningkat


JAKARTA, KOMPAS — Pemerkosaan dan pembunuhan terhadap YY (14), remaja asal Bengkulu, oleh 14 pria merupakan puncak gunung es persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Jika masalah ini tak segera diatasi, korban akan terus bertambah dan Indonesia semakin jauh dari keadaban.

YY, siswi sekolah menengah pertama di Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, diperkosa lalu dibunuh oleh 14 pria yang semuanya berumur di bawah 20 tahun, dan 5 di antaranya pelajar, pada 2 April lalu.

Jenazah YY ditemukan dalam kondisi membusuk di jurang dengan tangan dan kaki terikat pada 4 April 2016.


PEMBUNUHAN DOSEN

Interaksi Kurang Harmonis Jadi Pemicu


MEDAN, KOMPAS — Interaksi kurang harmonis antara pengajar dan mahasiswa di ruang kelas diduga menjadi pemicu pembunuhan dosen di kampus Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan, Senin lalu.

RS (21), mahasiswa semester VI Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), diduga membunuh dosennya karena sakit hati yang terpendam sebulan terakhir. Korban sering menegur pelaku di kelas saat pelaku tidak memperhatikan korban yang tengah mengajar. ”Yang bersangkutan selalu dimarahi dosen,” kata Kepala Polresta Medan Komisaris Besar Mardiaz Kusin Dwihananto, Selasa (3/5).

Korban pernah mengusir pelaku keluar kelas karena tidak membawa buku dan tidak memakai kemeja.


LIGA INGGRIS

Para Pemain Buangan Membuka Mata Dunia


Bintang klub Leicester City, Riyad Mahrez (25), pernah mengecap getirnya kehidupan dan disepelekan orang. Telah berkali-kali ia ditolak klub-klub besar karena postur tubuhnya yang kurus kering dan rapuh. Namun, bersama barisan pemain terbuang lainnya, ia membuka mata dunia.

Mahrez adalah salah satu aktor lapangan di balik kesuksesan Leicester City menjungkirbalikkan logika, yaitu menjuarai Liga Primer Inggris. Leicester menjadi klub gurem berbiaya rendah pertama di era modern Liga Primer Inggris sejak 1992 yang meraih gelar prestisius itu.

Diboyong dari klub divisi kedua Liga Perancis, Le Havre, pada 2014, Mahrez menjelma sebagai megabintang baru, tidak hanya di Leicester, tetapi juga di Liga Inggris.

Tuesday, May 3, 2016

Kompas Edisi Selasa 3 Mei 2016

Kompas Edisi Selasa 3 Mei 2016

Fokus pada 4 Sandera

Pemerintah Kembali Memakai Diplomasi Total


JAKARTA, KOMPAS — Setelah 10 warga negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf dapat dibebaskan, kini Pemerintah Indonesia memusatkan perhatian pada upaya pembebasan empat WNI lainnya yang masih disandera kelompok bersenjata di Filipina selatan itu.

Diplomasi total yang membuahkan hasil dalam pembebasan 10 sandera akan kembali digunakan dalam upaya pembebasan empat sandera yang masih ditahan. Dalam strategi diplomasi total ini, dua acuan dipakai pemerintah, yakni keselamatan sandera dan membuka simpul komunikasi dengan sebanyak mungkin pihak.

"Kita paham, satu simpul tidak memadai untuk suatu operasi yang sangat besar dan penuh risiko. Satu batu bata tidaklah cukup untuk membangun sebuah rumah," kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di sela-sela penyerahan 10 WNI anak buah kapal tunda Brahma 12 kepada keluarga mereka, Senin (2/5), di Kementerian Luar Negeri, Jakarta.


LIGA CHAMPIONS

”Peluru” Terakhir Pep Guardiola


MUENCHEN, SENIN — Media-media Jerman telah menyiapkan obituari akhir era Pep Guardiola di Bayern Muenchen menjelang laga kedua semifinal Liga Champions kontra Atletico Madrid di Muenchen, Rabu (4/5), pukul 01.45 WIB. Namun, Pep Guardiola belum rela ”mati”. Ia melawan ”pemakaman” dini itu.

”Saya belum mati. Setelah laga ini berakhir, boleh kalian ramai-ramai ’memakamkan’ saya. Namun, saat ini saya masih memiliki satu peluru tersisa,” ujar Guardiola, yang menganggap laga itu sebagai ”hidup-mati” karier kepelatihannya, khususnya di Jerman.

Guardiola menyadari, trofi Liga Champions adalah satu-satunya ”mata uang” yang berlaku di klub raksasa Eropa, seperti Muenchen. Deretan trofi Liga, Piala Liga, dan Piala Super UEFA yang diraihnya bersama Muenchen akan kurang berarti tanpa ”si kuping lebar”—julukan trofi Liga Champions.


PENDIDIKAN ANAK PESISIR

Ketika Laut Menjauh dari Imajinasi


Anak-anak itu lahir dan tumbuh kembang di tepi laut. Gulungan ombak ibarat teman bermain. Di laut mereka menyaksikan orangtua mencari nafkah. Sayangnya, hamparan samudra itu menjauh dari imajinasi mereka. Bagi mereka, laut tak menjanjikan masa depan.

Inilah kisah buram kampung nelayan di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kedekatan fisik dengan laut ternyata tidak menumbuhkan semangat bahari pada anak-anak setempat.

Angga (13) tanpa ragu menggelengkan kepala saat ditanya apakah dia nanti mau jadi nelayan seperti ayahnya. Siswa kelas I Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Ishlah, Tembokrejo, Muncar, itu berujar, "Tidak enak jadi nelayan. Saya mau jadi guru."

Monday, May 2, 2016

Kompas Edisi Senin 2 Mei 2016

Kompas Edisi Senin 2 Mei 2016

Diplomasi Total Berhasil

Pendekatan Kemanusiaan Dilakukan sejak Awal


MANILA, KOMPAS — Sepuluh warga negara Indonesia korban penyanderaan kelompok Abu Sayyaf yang dibebaskan akhirnya tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (1/5) pukul 23.15. Mereka langsung dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat untuk cek kesehatan.

Presiden Joko Widodo mengapresiasi Pemerintah Filipina dan semua pihak yang terlibat dalam proses pembebasan 10 warga negara Indonesia (WNI) dari penyanderaan kelompok Abu Sayyaf faksi Al Habsyi, baik secara formal maupun informal.

Pemerintah Indonesia akan terus melanjutkan diplomasi total dalam mendekati kelompok penyandera agar membebaskan empat warga Indonesia lainnya yang menjadi anak buah kapal (ABK) berbeda dan masih disandera sejak 23 Maret lalu.


PENDIDIKAN KARAKTER

Sekolah Terjebak Pragmatisme


JAKARTA, KOMPAS — Menyambut Hari Pendidikan Nasional, gugatan terhadap penyelenggaraan pendidikan pada berbagai aspek dan tingkatan mengemuka. Salah satu topik yang relevan adalah pendidikan karakter, terutama jika dikaitkan dengan fenomena sosial.

Fakta yang dihimpun Kompas sepekan terakhir menunjukkan, sebagian satuan pendidikan di sejumlah wilayah belum optimal mengajarkan pendidikan karakter. Budaya instan justru bersemai di sekolah. Lembaga pendidikan dibayangi pragmatisme. Pembelajaran larut dalam orientasi hasil dan menafikan proses. Mentalitas menerabas pun marak.

"Budaya malu jika berbuat salah makin luntur. Coba amati, pejabat pemerintah dan legislatif yang tersangkut kasus korupsi kini rata-rata berusia makin muda ketimbang era 5-10 tahun lalu. Pendidikan mereka makin bagus, berijazah magister-doktoral. Tetapi, di depan kamera, mereka senyum-senyum tanpa merasa malu," ujar Said Hamid Hasan, guru besar emeritus dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Minggu (1/5).


HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Inspirasi dari Ruang Kelas


Merayakan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara (1889-1959), tokoh pendidikan dan Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama, berarti menapaki jejak langkah revolusionernya.

Lembaga pendidikan yang dia dirikan, Perguruan Tamansiswa, pada 22 Juli 1922, dia jadikan kendaraan merebut kemerdekaan, sifatnya revolusioner-anti penjajahan. Dari antara banyak lembaga pendidikan sebelum Indonesia merdeka, paling menonjol adalah Perguruan Tamansiswa di Yogyakarta.

Repotnya, nama Ki Hadjar Dewantara makin sayup-sayup. Sebuah penelitian kecil-kecilan belum lama ini, yang dilakukan oleh Ki Tato Darmanto-Ketua Pengurus Pusat Keluarga Besar Tamansiswa-dari 100 responden anak-anak SMA dan SMK, hanya 40 persen yang mengetahui tentang Ki Hadjar Dewantara. Dari 40 persen yang mengaku tahu itu, hanya 10 persen yang tahu pemikirannya.