Sunday, May 29, 2016

Kompas Edisi Minggu 29 Mei 2016

Kompas Edisi Minggu 29 Mei 2016
Kompas Edisi Minggu 29 Mei 2016

Selisik Batik Madura

Lipatan "Ombak Rindu" Batik


Batik madura identik dengan batik tanjungbumi di Bangkalan. Berbeda dengan batik dari kabupaten lain di Pulau Madura, batik tanjungbumi bisa dikenali dari keunikan motif. Warnanya pun khas batik pesisir: merah, hijau, dan biru mencolok dengan mempertahankan teknik kuno yang dikerjakan tidak terburu-buru, tetapi sangat kosmopolitan.

Menunggu suaminya, Hasip (55), melaut, Raudah (50) mengisi waktu dengan membatik. Biasanya, Hasip melaut selama beberapa pekan mengangkut sapi dari Pelabuhan Tanjung Biru ke beberapa pulau, seperti Kalimantan. Ketika perdagangan antarpulau mencapai puncak kejayaannya, Hasip bisa berbulan-bulan berlayar membawa kayu. "Sambil menunggu suami melaut, enakan membatik, dapat uang. Juga jadi pengobat rindu," kata Raudah.

Selama menanti suami melaut itu, perempuan Tanjungbumi berkreasi dengan canting di tangan. Semua pembatik di Tanjungbumi adalah perempuan yang umumnya memang istri pelaut. Dari kerinduan mereka kepada suami, tertoreh motif-motif klasik batik. Salah satu motif paling populer adalah tase' malajhe. Tase' berarti laut sehingga tase' malajhe bisa diterjemahkan melaut. Pada motif tase' malajhe, pembatik Tanjungbumi melukis kelok-kelok seumpama ombak kecil di laut tenang.


CUACA BURUK

SAR Ingatkan Gelombang Tinggi


YOGYAKARTA, KOMPAS — Cuaca buruk yang mengakibatkan ombak tinggi melanda perairan sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta. Wisatawan yang berkunjung ke pantai diminta mewaspadai adanya ombak yang menguat karena tingginya gelombang di tengah laut.

Gelombang tinggi air laut itu antara lain tampak di sekitar pantai di Kabupaten Gunung Kidul, DIY. ”Dua hari terakhir ini, tinggi gelombang bisa mencapai 12 feet (3,6 meter),” kata Koordinator Search and Rescue (SAR) Satuan Perlindungan Masyarakat Wilayah II Pantai Baron, Gunung Kidul, Marjono, Sabtu (28/5), saat dihubungi dari Yogyakarta.

Seperti diberitakan, cuaca buruk di perairan DIY terjadi sejak awal pekan ini. Selain menyebabkan nelayan di DIY tak bisa melaut, ombak tinggi juga mengakibatkan rusaknya sejumlah kapal nelayan yang tengah sandar di pantai. Pada Selasa (24/5), sedikitnya 16 perahu nelayan rusak dan 60 jaring hilang akibat empasan gelombang pasang air laut (Kompas, 26/5/2016).


PELUNCURAN BUKU

Indonesia Butuh Teladan Widjojo


JAKARTA, KOMPAS — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan teladan dan inspirasi dari sosok ekonom berpengaruh sekelas Widjojo Nitisastro. Indonesia adalah negara dengan potensi besar, tetapi bermasalah dalam hal kebijakan-kebijakan, khususnya di sektor ekonomi.

Demikian dikatakan Jusuf Kalla saat memberikan sambutan dalam peluncuran buku berjudul Widjojo Nitisastro: Panditaning Para Raja, Sabtu (28/5), di Jakarta. Peluncuran buku yang ditulis putri almarhum Widjojo, yakni Widjajalaksmi Kusumaningsih, tersebut dihadiri sejumlah pejabat dan ekonom, seperti mantan Wakil Presiden Boediono, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan A Djalil, dan sejumlah sahabat Widjojo, yakni Emil Salim (Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup 1983-1993) dan Subroto (Menteri Pertambangan dan Energi 1978-1988).

Kalla mengenang kembali tatkala hendak menyusun kabinet untuk bidang ekonomi di era pemerintah sekarang. Saat berbicara dengan Joko Widodo, presiden terpilih saat itu, ia diminta pendapatnya untuk mencarikan ekonom berpengaruh sekelas Widjojo Nitisastro.