Saturday, May 7, 2016

Kompas Edisi Sabtu 7 Mei 2016

Kompas Edisi Sabtu 7 Mei 2016

Atasi Problem secara Utuh

Hadirkan Relasi Jender yang Adil


JAKARTA, KOMPAS — Berbagai kalangan mendesak agar Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual secepat mungkin disahkan. Lewat regulasi itu, Indonesia memiliki payung hukum untuk mengatasi problem kekerasan seksual di masyarakat secara komprehensif.

”RUU Penghapusan Kekerasan Seksual sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. DPR harus segera menuntaskannya,” kata Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah GKR Hemas, Jumat (6/5), di Jakarta.

Sekretaris Nasional Perempuan Mahardika Mutiara Ika Pratiwi, kemarin, menjelaskan, dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Penghapusan Kekerasan Seksual terdapat aturan yang menegaskan pentingnya upaya pencegahan di masyarakat. Upaya pencegahan itu ditempuh melalui pendidikan kesehatan reproduksi yang mengajarkan tata cara memahami relasi jender secara adil dan bermartabat.


ISRA MIRAJ

Presiden Ingin Santri Siap Hadapi MEA


MAGELANG, KOMPAS — Mulai berlakunya era perdagangan bebas di negara-negara di kawasan Asia Tenggara atau yang disebut Masyarakat Ekonomi ASEAN, sejak 1 Januari 2016, menjadi penanda semakin ketatnya persaingan antarnegara, khususnya dalam lingkup Asia Tenggara. Untuk itu, siapa pun, termasuk para santri di pondok pesantren, harus siap menghadapinya.

Saat ‎peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren (Ponpes) Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo di Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Rabu (4/5) malam, Presiden Joko Widodo mengatakan, santri merupakan salah satu aset bangsa yang harus siap menghadapi kompetisi bebas tersebut.

”Santri bersama kita semua harus bersama-sama berupaya memenangi kompetisi dalam kompetisi MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN),” ujar Presiden, yang hadir di sela-sela kunjungan kerjanya selama dua hari, Rabu dan Kamis (5/5).


PELAJAR INSPIRATIF

Dari Tanah Papua Mereka Terbang Menggayuh Mimpi


Pemuda Papua menggayuh mimpi menjadi penerbang lewat Program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat. Sebagian dari mereka adalah anak-anak dari keluarga biasa dan sederhana, tetapi sarat prestasi.

Mereka dipilih, ditempa, dan dididik dengan harapan bisa turut serta membangun Papua lebih baik lagi. Anita Ema Bwefar dan Lukman La 'Ali memeluk erat putri mereka, Restiana Zakinah (20), di depan hanggar sekolah Penerbangan Banyuwangi, Jawa Timur. Air mata mereka tumpah tak kuasa menahan haru setelah menyaksikan sang putri diwisuda menjadi pilot.

Sebanyak 11 putra-putri Papua dilantik menjadi pilot pada Kamis (28/4) seusai menjalani pendidikan di Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbangan Banyuwangi selama 22 bulan. Kesebelas anak muda itu dipilih khusus dalam Program Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat yang dimulai tiga tahu lalu (2013).