Tuesday, May 10, 2016

Kompas Edisi Selasa 10 Mei 2016

Kompas Edisi Selasa 10 Mei 2016
Kompas Edisi Selasa 10 Mei 2016

Distribusi Dokter Bermasalah

Pembukaan Fakultas Kedokteran Baru Bukan Strategi Tepat


JAKARTA, KOMPAS — Dibandingkan dengan negara ASEAN lain, rasio dokter terhadap penduduk di Indonesia memang lebih rendah. Namun, jumlah dokter di Indonesia saat ini cukup untuk melayani seluruh rakyat. Masalahnya, dokter-dokter itu terkumpul di sejumlah kota dan provinsi tertentu.

 Salah satu pertimbangan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristek dan Dikti) memberikan izin pembukaan delapan fakultas kedokteran baru pada Maret 2016 adalah untuk meningkatkan rasio dokter terhadap penduduk. Alasan lain ialah menyebarkan dokter dan fakultas kedokteran ke seluruh Indonesia.

”Persebaran dokter tidak baik karena bertumpuk di Pulau Jawa ataupun kota-kota besar,” kata Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir di Jakarta, pekan lalu.



KONFERENSI INTERNASIONAL

Islam dan Kebangsaan Tidak Terpisahkan


JAKARTA, KOMPAS — Islam dan kebangsaan merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya menjadi kunci bagi eksistensi peradaban suatu bangsa dan solusi atas problem pertikaian yang kini terjadi di sejumlah negara Islam.

Sikap semacam ini, menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj, sudah dipahami oleh kiai di pesantren di Indonesia. Mereka juga telah berhasil membangun penghubung antara prinsip agama dan negara. Kondisi ini yang membedakan antara keislaman di Indonesia dan di negara-negara di Timur Tengah.

"Kesatuan antara Islam dan kebangsaan itu tidak ada di negara-negara Islam lainnya di Timur Tengah. Negara-negara itu terus berkonflik. Jutaan orang mati karena perang. Untuk apa? Untuk siapa?" kata Said Aqil dalam pembukaan International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang digelar Nahdlatul Ulama di Jakarta Convention Center, Senin (9/5).


TENAGA KESEHATAN

Merawat Bangsa di Ujung Nusantara


enyebaran dokter belum merata hingga ke pelosok Nusantara. Di tengah kondisi itu, masih ada dokter yang terpanggil untuk melayani kesehatan warga di daerah terpencil.

Vivi Wijayanti, satu-satunya dokter Puskesmas Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Sabtu (30/4), pukul 14.00, menerima pesan singkat ada pasien di instalasi gawat darurat (IGD).

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung tahun 2005 itu harus meninggalkan ruangan untuk memeriksa pasien di IGD yang salah satu jari kakinya putus akibat kecelakaan sepeda motor.