Monday, May 16, 2016

Kompas Edisi Senin 16 Mei 2016

Kompas Edisi Senin 16 Mei 2016
Kompas Edisi Senin 16 Mei 2016

Kerelawanan Beri Harapan

Elite Politik dan Partai Politik Perlu Berbenah Diri


JAKARTA, KOMPAS — Gerakan kerelawanan menjanjikan wajah baru bagi demokrasi Indonesia yang lebih sehat dan inklusif. Jika terus bergulir dan membesar, gerakan ini akan membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat untuk lebih berdaya sekaligus memaksa elite politik berbenah diri.

Catatan Kompas, Minggu (15/5), gerakan kerelawanan di bidang politik dalam beberapa tahun terakhir mengambil bentuk elektoral dan nonelektoral.

Bentuk nonelektoral antara lain terlihat dalam gerakan melawan upaya pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi pada tahun 2009, 2012, dan 2015.


MINUMAN ILEGAL

Minum Oplosan, 10 Orang Tewas


YOGYAKARTA, KOMPAS — Minuman oplosan kembali memakan korban di Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedikitnya 10 orang tewas dan beberapa orang lainnya dirawat di rumah sakit akibat mengonsumsi minuman oplosan dalam tiga hari terakhir sejak Jumat hingga Minggu (13-15/5).

Dari 10 orang korban tewas itu, delapan di antaranya merupakan warga Kabupaten Bantul, sedangkan dua lainnya warga Kota Yogyakarta.

”Korban-korban tersebut mengonsumsi minuman oplosan di beberapa lokasi berbeda, baik secara sendirian maupun berkelompok,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor Bantul Ajun Komisaris Anggaito Hadi Prabowo, Minggu siang.


KERELAWANAN POLITIK

Cepat, tapi Kadang Longgar…


Di bawah naungan lampu temaram di ruang tengah Sekretariat Jogja Independent, Rizki (21) dan Jasmine (23) mengamati layar monitor laptop. Mereka bergantian membaca dan mengetik data yang muncul. ”Kami dapat pinjaman dua laptop, tapi satu rusak. Jadi harus kerja gantian,” tutur Yustina Neni, Koordinator Kesekretariatan Jogja Independent atau Joint, Selasa (10/5) petang. Sekretariat Joint berada di Tirtodipuran, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta.

 Jika dua laptop hasil pinjaman dari sukarelawan Joint itu tak ada yang rusak, mereka seharusnya bisa bekerja lebih cepat. Laptop pertama untuk mengunduh hasil pindai kartu tanda penduduk (KTP) yang dikirimkan masyarakat ataupun relawan Joint melalui aplikasi WhatsApp, sedangkan satu laptop lagi untuk merekam data itu dalam program Excel guna memudahkan pendataan dukungan.

Meski tak punya KTP Yogyakarta, Rizki yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta tergerak bergabung dengan Joint. Langkah Joint yang menggelar konvensi untuk mencari pasangan calon wali kota dan wakil wali kota Yogyakarta yang akan diusung lewat jalur perseorangan, diyakini Rizki, bisa mendorong perilaku politik yang lebih berpihak pada kepentingan rakyat.