Tuesday, May 24, 2016

Kompas Edisi Selasa 24 Mei 2016

Kompas Edisi Selasa 24 Mei 2016
Kompas Edisi Selasa 24 Mei 2016

Riset Komoditas Tak Berjalan

Industri Harus Impor Bahan Antara meski Bahan Baku dari Indonesia


JAKARTA, KOMPAS — Riset mengenai manfaat beberapa komoditas yang mulai hilang tidak berkembang di dalam negeri. Akibatnya, komoditas itu tidak diketahui nilai ekonominya. Bisnis komoditas itu malah dijalankan oleh perusahaan di luar negeri. Komoditas itu diekspor dan baru diimpor lagi ketika menjadi bahan antara.

 Presiden Direktur PT Mustika Ratu Tbk Putri K Wardani mengatakan, banyak bahan baku kosmetika berasal dari tanaman di Indonesia, tetapi pengolahannya menjadi bahan penolong terjadi di luar negeri. Setelah itu, pengusaha baru mengimpor dari beberapa negara.

Sejumlah petani di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan beberapa daerah lainnya, ketika ditemui pekan lalu dan Senin (23/5), mengatakan, mereka tidak pernah mengetahui penggunaan komoditas pinang, kemenyan, gambir, pala, cendana, dan komoditas lainnya. Mereka hanya mengetahui komoditas itu dijual ke pengepul dan kemudian baru diekspor ke Singapura dan negara lainnya.


MITIGASI SINABUNG

Jatuhnya Korban Jiwa Bukti Manajemen Lemah


BANDUNG, KOMPAS — Jatuhnya kembali korban jiwa akibat terjangan awan panas di Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menjadi tantangan besar dalam manajemen bencana. Masyarakat yang mengabaikan zona bahaya yang telah ditetapkan pemerintah menunjukkan adanya kesenjangan informasi dan perbedaan persepsi terhadap risiko bencana.

 ”Selama ini, titik lemah adalah penyampaian informasi risiko bencana kepada masyarakat. Kita sudah cukup kuat dalam mengidentifikasi risiko, tetapi itu tidak cukup karena masyarakat ternyata punya jalan berpikir sendiri,” kata Direktur Pengurangan Risiko Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan Ke-3 di Bandung, Senin (23/5).

Pengurangan risiko bencana selama ini lebih didasarkan pada sistem mitigasi modern. Namun, masyarakat di lokasi bencana masih mendasarkan pada budaya lokal dan mempunyai persepsi sendiri. Selain persoalan komunikasi risiko, menurut Lilik, persoalan di Sinabung juga jadi pelajaran penting untuk memperbaiki manajemen pengungsian.


KEMENYAN DAN KAPUR

Diburu Asing, Merana di Negeri Sendiri


 Bau wangi kemenyan (Syntrak benzoin) menyeruak begitu pintu gudang kemenyan milik Robin Simanjuntak (54) di Desa Pancurbatu, Kecamatan Adian Koting, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, dibuka, Sabtu (21/5) siang. Getah kering berwarna putih dan kehitaman terhampar memenuhi lantai gudang seluas sekitar 5 x 5 meter.

Ada satu kotak kemenyan kering-putih kualitas satu yang sudah masuk kotak kardus ukuran sekitar 40 x 40 x 40 sentimeter. Isinya 50 kilogram. ”Harganya Rp 20 juta ini,” kata Robin, membuat pendengarnya terbelalak.

Kemenyan, getah wangi yang dicari di pasar internasional sejak berabad-abad lalu, memang bernilai tinggi. Di masa lalu, kata Robin, nilai kemenyan setara emas. Hingga kini, kemenyan masih tumbuh subur di dataran tinggi pantai barat Sumut, antara lain di Kabupaten Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Toba Samosir, Humbang Hasundutan, dan Pakpak Bharat.