Tuesday, May 3, 2016

Kompas Edisi Selasa 3 Mei 2016

Kompas Edisi Selasa 3 Mei 2016

Fokus pada 4 Sandera

Pemerintah Kembali Memakai Diplomasi Total


JAKARTA, KOMPAS — Setelah 10 warga negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf dapat dibebaskan, kini Pemerintah Indonesia memusatkan perhatian pada upaya pembebasan empat WNI lainnya yang masih disandera kelompok bersenjata di Filipina selatan itu.

Diplomasi total yang membuahkan hasil dalam pembebasan 10 sandera akan kembali digunakan dalam upaya pembebasan empat sandera yang masih ditahan. Dalam strategi diplomasi total ini, dua acuan dipakai pemerintah, yakni keselamatan sandera dan membuka simpul komunikasi dengan sebanyak mungkin pihak.

"Kita paham, satu simpul tidak memadai untuk suatu operasi yang sangat besar dan penuh risiko. Satu batu bata tidaklah cukup untuk membangun sebuah rumah," kata Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi di sela-sela penyerahan 10 WNI anak buah kapal tunda Brahma 12 kepada keluarga mereka, Senin (2/5), di Kementerian Luar Negeri, Jakarta.


LIGA CHAMPIONS

”Peluru” Terakhir Pep Guardiola


MUENCHEN, SENIN — Media-media Jerman telah menyiapkan obituari akhir era Pep Guardiola di Bayern Muenchen menjelang laga kedua semifinal Liga Champions kontra Atletico Madrid di Muenchen, Rabu (4/5), pukul 01.45 WIB. Namun, Pep Guardiola belum rela ”mati”. Ia melawan ”pemakaman” dini itu.

”Saya belum mati. Setelah laga ini berakhir, boleh kalian ramai-ramai ’memakamkan’ saya. Namun, saat ini saya masih memiliki satu peluru tersisa,” ujar Guardiola, yang menganggap laga itu sebagai ”hidup-mati” karier kepelatihannya, khususnya di Jerman.

Guardiola menyadari, trofi Liga Champions adalah satu-satunya ”mata uang” yang berlaku di klub raksasa Eropa, seperti Muenchen. Deretan trofi Liga, Piala Liga, dan Piala Super UEFA yang diraihnya bersama Muenchen akan kurang berarti tanpa ”si kuping lebar”—julukan trofi Liga Champions.


PENDIDIKAN ANAK PESISIR

Ketika Laut Menjauh dari Imajinasi


Anak-anak itu lahir dan tumbuh kembang di tepi laut. Gulungan ombak ibarat teman bermain. Di laut mereka menyaksikan orangtua mencari nafkah. Sayangnya, hamparan samudra itu menjauh dari imajinasi mereka. Bagi mereka, laut tak menjanjikan masa depan.

Inilah kisah buram kampung nelayan di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kedekatan fisik dengan laut ternyata tidak menumbuhkan semangat bahari pada anak-anak setempat.

Angga (13) tanpa ragu menggelengkan kepala saat ditanya apakah dia nanti mau jadi nelayan seperti ayahnya. Siswa kelas I Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Ishlah, Tembokrejo, Muncar, itu berujar, "Tidak enak jadi nelayan. Saya mau jadi guru."