Saturday, May 14, 2016

Kompas Edisi Sabtu 14 Mei 2016

Kompas Edisi Sabtu 14 Mei 2016
Kompas Edisi Sabtu 14 Mei 2016

Banyak Modus Kunjungan Kerja Fiktif

Sistem Pelaporan di DPR Lemah


JAKARTA, KOMPAS — Dugaan adanya kunjungan kerja fiktif di lingkungan Dewan Perwakilan Rakyat sudah lama muncul. Cerita tentang modus membuat laporan kunjungan kerja fiktif juga telah banyak beredar. Lemahnya pengawasan dan itikad baik sebagian anggota DPR menjadi penyebab masalah ini.

 Padahal, jumlah uang yang diterima anggota DPR dari kunjungan kerja terus bertambah tiap tahun. Catatan Kompas, setiap masa reses tahun 2016, anggota DPR mendapatkan Rp 225 juta untuk melakukan kunjungan kerja. Oleh karena setahun ada lima kali reses, besar uang yang diterima Rp 1,125 miliar tiap tahun. Uang itu masih ditambah anggaran kunjungan kerja di luar masa reses sebesar Rp 420 juta tiap tahun.

Anggota DPR juga menerima uang saat melakukan kunjungan kerja alat kelengkapan DPR yang tiap tahun dilakukan lima kali dan ketika melakukan kunjungan kerja ke luar negeri.


PENYANDERAAN

Jangan Terulang di Masa Depan


JAKARTA, KOMPAS — Peristiwa pembajakan kapal asal Indonesia dan penyanderaan anak buah kapal oleh kelompok Abu Sayyaf ataupun sempalannya di perairan Filipina selatan jangan sampai terulang lagi pada masa depan. Pemerintah Indonesia mengapresiasi semua pihak, termasuk Pemerintah Filipina yang membantu pembebasan empat anak buah kapal tunda Henry yang disandera salah satu faksi kelompok Abu Sayyaf.

Empat anak buah kapal tunda Henry yang disandera sejak 15 April lalu, M Ariyanto Misnan (22), Loren Marinus Petrus Rumawi (27), Dede Irfan Hilmy (25), dan Samsir (35), tiba di Pangkalan TNI Angkatan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (13/5), pukul 10.19. Mereka diterbangkan dari Tarakan, Kalimantan Utara, menggunakan pesawat Boeing 737 milik TNI AU. Keempatnya langsung diperiksa kesehatannya di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta.

Direktur PT Global Trans Energy International, perusahaan pemilik kapal tunda Henry, Riswandi, berharap tidak akan ada lagi peristiwa serupa sebagaimana dialami keempat awak kapalnya tersebut. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama kepada Pemerintah Indonesia.


KEDAULATAN PANGAN

Butir-butir Kemenangan di Tanah Kering Berbatu


Di sebuah dusun, lebih dari 2.000 kilometer dari Jakarta, hamparan tanaman sorgum tumbuh anggun. Padi dan jagung kering menyerah pada lingkungan ekstrem. Adapun butiran-butiran sorgum siap dipanen menjadi pemenang.

Dusun itu Likotuden di Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Dari Larantuka, ibu kota Flores Timur, dibutuhkan waktu sekitar 1,5 jam melalui jalan halus berkelok-kelok sejauh 20 kilometer (km) dan jalan kecil penuh lubang dan batu sepanjang 7 km.

Awal pekan Mei lalu, perjalanan menuju Likotuden diwarnai ladang padi dan jagung mengering. Sejumlah batang padi berbulir, tetapi kosong. Bertolak belakang dengan pemandangan itu, tanaman sorgum (Sorghum spp) tumbuh menjulang. Di lahan berbatu, sorgum muncul di sela bebatuan, menjulang hingga 2 meter. Berlatar pegunungan, hamparan sorgum memanjakan mata pelintas.