Monday, May 2, 2016

Kompas Edisi Senin 2 Mei 2016

Kompas Edisi Senin 2 Mei 2016

Diplomasi Total Berhasil

Pendekatan Kemanusiaan Dilakukan sejak Awal


MANILA, KOMPAS — Sepuluh warga negara Indonesia korban penyanderaan kelompok Abu Sayyaf yang dibebaskan akhirnya tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (1/5) pukul 23.15. Mereka langsung dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat untuk cek kesehatan.

Presiden Joko Widodo mengapresiasi Pemerintah Filipina dan semua pihak yang terlibat dalam proses pembebasan 10 warga negara Indonesia (WNI) dari penyanderaan kelompok Abu Sayyaf faksi Al Habsyi, baik secara formal maupun informal.

Pemerintah Indonesia akan terus melanjutkan diplomasi total dalam mendekati kelompok penyandera agar membebaskan empat warga Indonesia lainnya yang menjadi anak buah kapal (ABK) berbeda dan masih disandera sejak 23 Maret lalu.


PENDIDIKAN KARAKTER

Sekolah Terjebak Pragmatisme


JAKARTA, KOMPAS — Menyambut Hari Pendidikan Nasional, gugatan terhadap penyelenggaraan pendidikan pada berbagai aspek dan tingkatan mengemuka. Salah satu topik yang relevan adalah pendidikan karakter, terutama jika dikaitkan dengan fenomena sosial.

Fakta yang dihimpun Kompas sepekan terakhir menunjukkan, sebagian satuan pendidikan di sejumlah wilayah belum optimal mengajarkan pendidikan karakter. Budaya instan justru bersemai di sekolah. Lembaga pendidikan dibayangi pragmatisme. Pembelajaran larut dalam orientasi hasil dan menafikan proses. Mentalitas menerabas pun marak.

"Budaya malu jika berbuat salah makin luntur. Coba amati, pejabat pemerintah dan legislatif yang tersangkut kasus korupsi kini rata-rata berusia makin muda ketimbang era 5-10 tahun lalu. Pendidikan mereka makin bagus, berijazah magister-doktoral. Tetapi, di depan kamera, mereka senyum-senyum tanpa merasa malu," ujar Said Hamid Hasan, guru besar emeritus dari Universitas Pendidikan Indonesia Bandung, Minggu (1/5).


HARI PENDIDIKAN NASIONAL

Inspirasi dari Ruang Kelas


Merayakan 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, tanggal kelahiran Ki Hadjar Dewantara (1889-1959), tokoh pendidikan dan Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama, berarti menapaki jejak langkah revolusionernya.

Lembaga pendidikan yang dia dirikan, Perguruan Tamansiswa, pada 22 Juli 1922, dia jadikan kendaraan merebut kemerdekaan, sifatnya revolusioner-anti penjajahan. Dari antara banyak lembaga pendidikan sebelum Indonesia merdeka, paling menonjol adalah Perguruan Tamansiswa di Yogyakarta.

Repotnya, nama Ki Hadjar Dewantara makin sayup-sayup. Sebuah penelitian kecil-kecilan belum lama ini, yang dilakukan oleh Ki Tato Darmanto-Ketua Pengurus Pusat Keluarga Besar Tamansiswa-dari 100 responden anak-anak SMA dan SMK, hanya 40 persen yang mengetahui tentang Ki Hadjar Dewantara. Dari 40 persen yang mengaku tahu itu, hanya 10 persen yang tahu pemikirannya.