Wednesday, May 11, 2016

Kompas Edisi Rabu 11 Mei 2016

Kompas Edisi Rabu 11 Mei 2016

Kekerasan Seksual Masuk Kejahatan Luar Biasa

Presiden Perintahkan Hukuman Pelaku Diperberat


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo memandang kekerasan seksual terhadap anak yang terus terjadi sebagai kejahatan luar biasa. Fenomena tersebut harus segera diakhiri dengan cara luar biasa pula tanpa semata mengacu pada undang-undang. Pelaku akan diberi hukuman secara akumulatif.

Pernyataan itu dikemukakan Presiden Joko Widodo, Selasa (10/5), dalam keterangan pers seusai memimpin sidang kabinet paripurna di tangga Istana Negara, Jakarta.

”Karena kejahatan ini semakin marak, dalam sidang kabinet kita nyatakan kejahatan itu sebagai kejahatan luar biasa sehingga penanganannya pun harus luar biasa. Bahkan, sikap dan tindakan kita juga harus luar biasa,” kata Presiden menegaskan.


PENDIDIKAN KEDOKTERAN

Benahi Hulu-Hilir


JAKARTA, KOMPASPemerintah dituntut berperan lebih serius dalam membenahi masalah pendidikan kedokteran serta distribusi tenaga dokter agar lebih merata. Hal itu akan lebih mudah dilakukan jika pemerintah menetapkan dokter sebagai tenaga strategis negara.

Konsekuensinya, pemerintah harus membina dan mengawasi kualitas institusi pendidikan, menyediakan anggaran cukup untuk biaya pendidikan kedokteran, dan memberi insentif memadai saat menempatkan dokter di daerah tertentu. Tanpa kehadiran negara, dalam jangka panjang, keberadaan 83 fakultas kedokteran (FK) yang mutunya beragam dengan sedikitnya 10.000 lulusan per tahun bisa menurunkan mutu layanan kesehatan.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia M Adib Khumaidi, Selasa (10/5), di Jakarta, mengatakan, negara tak bisa hanya hadir di hilir saat seseorang telah lulus jadi dokter dengan menempatkan di daerah tertentu. Pemerintah dituntut hadir mulai dari hulu, pada proses pendidikan kedokteran.


TOLERANSI

Pesan Keberagaman dari Jalur Rempah


Beberapa laki-laki paruh baya menarikan legu-legu atau tari payung di depan sasadu, rumah adat suku Sahu, di Halmahera Barat, Maluku Utara. Gerakan mereka berputar-putar diiringi kendang dan gong. Beberapa perempuan masuk dalam lingkaran lalu turut menari bersama.

 Tari payung yang pada zaman dulu merupakan tarian penyambutan untuk Sultan Jailolo dan Sultan Ternate itu ditampilkan sebelum acara orom sasadu atau makan bersama di rumah adat sasadu, Kamis (5/5), di Kecamatan Sahu Timur, Halmahera Barat. Semua orang bergembira. Orang kaya dan miskin melebur jadi satu. Umat Islam dan Kristen berbaur. Etnis mana pun berpadu. Mereka makan bersama sebagai simbol persaudaraan di sasadu.

Para pendatang dan tamu silakan bergabung, asal mematuhi syarat. Laki-laki wajib memakai ‎peci dan perempuan mengenakan kain serta selendang. ‎Soal dress code ini, kata Ketua Adat Suku Sahu Titus Djaga, ada maknanya. Peci, yang jadi simbol kaum Muslim, dikenakan semua orang guna menghormati sultan. ”Jadi, meski kami suku Sahu mayoritas beragama Kristen, 60 persen, kami mengenakan peci saat orom sasadu atau upacara adat lain,” katanya.