Showing posts with label opini kompas. Show all posts
Showing posts with label opini kompas. Show all posts

Friday, July 29, 2016

Kompas Edisi Jumat 29 Juli 2016

Kompas Edisi Jumat 29 Juli 2016
Kompas Edisi Jumat 29 Juli 2016

Kucuran APBN Belum Efektif

Pengampunan Pajak Momentum Menambah Penerimaan Negara


JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah menganalisis sejumlah program yang ditujukan kepada rakyat miskin. Selama ini, anggaran telah dikucurkan, tetapi masalah kemiskinan dan ketimpangan tidak bergerak. Ke depan, program-program itu harus bisa dirasakan rakyat banyak.

 ”Bappenas akan melakukan analisis secara mendalam tentang dampak sejumlah program dan kebijakan kemiskinan, ketimpangan, dan pengangguran,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang PS Brodjonegoro seusai serah terima jabatan dari Sofyan Djalil di Jakarta, Kamis (28/7).

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah kementerian agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menjadi instrumen efektif untuk menunjang pembangunan.


RAPIMNAS GOLKAR

Presiden Meminta Konsistensi Dukungan


JAKARTA, KOMPAS — Penutupan Rapat Pimpinan Nasional I Partai Golkar menjadi ajang deklarasi partai itu untuk mendukung pemerintah dan mengusung Presiden Joko Widodo di Pemilihan Presiden 2019. Menanggapi langkah Golkar ini, Presiden mengapresiasi dan meminta partai itu konsisten menyokong penuh program dan kebijakan pemerintah meski tidak populis.

 ”Saya meminta Golkar betul- betul konsisten mendukung pemerintah ketika ada kebijakan yang memerlukan percepatan meskipun mungkin kadang pahit dan tidak populis. Tetapi, untuk kepentingan rakyat banyak, kadang kita harus memutuskan sebuah keputusan yang sulit,” kata Presiden dalam pidato penutupan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (28/7) malam.

Penutupan Rapimnas I Golkar juga dihadiri sejumlah elite politik. Mereka antara lain presiden kelima RI yang juga Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, presiden ketiga RI BJ Habibie yang juga Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, Ketua MPR yang juga Ketua Umum Partai Amanat Nasional Zulkifli Hasan, serta Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Turut hadir juga sejumlah pemimpin partai politik pendukung pemerintah dan sejumlah menteri anggota Kabinet Kerja.


Pengasuhan

Para Pemberi Harapan Anak-anak Telantar


Sejumlah lembaga berusaha untuk menggantikan posisi orangtua dalam memberi kasih sayang kepada anak-anak telantar. Mereka berupaya sekeras mungkin memastikan kesejahteraan dan kebahagiaan anak-anak.

Matahari bersinar cerah pada Kamis pekan lalu. Meskipun demikian, udara di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, tidak terasa panas. Udara malah terasa sejuk karena angin berembus sepoi-sepoi.

Suara tawa anak-anak terdengar dari teras Yayasan Sayap Ibu (YSI) cabang Banten. Di bawah teduhnya atap, berjejer meja dan kursi berwarna-warni. Delapan anak duduk menghadap piring berisi nasi dan lauk-pauk.

Tuesday, July 19, 2016

Kompas Edisi Selasa 19 Juli 2016

Kompas Edisi Selasa 19 Juli 2016
Kompas Edisi Selasa 19 Juli 2016

Imunisasi Ulang Dijamin

Presiden Joko Widodo: Benahi Tata Kelola Produk Farmasi


JAKARTA, KOMPAS — Imunisasi ulang secara bertahap mulai dilaksanakan hari Senin (18/7) bagi anak-anak yang mendapat vaksin palsu. Selain terus mendata korban kasus pemalsuan vaksin di sejumlah tempat, pemerintah juga menjamin vaksin yang digunakan asli dan stok mencukupi.

 ”Kami ulang agar para ibu tenang, anaknya mendapat vaksin yang benar,” ucap Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Senin (18/7), seusai mendampingi Presiden Joko Widodo meninjau imunisasi ulang di Puskesmas Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur. Semua vaksin untuk imunisasi ulang diproduksi Bio Farma, yang mengekspor vaksin ke sekitar 130 negara.

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes M Subuh menegaskan, pemerintah menjamin stok vaksin mencukupi untuk imunisasi ulang bagi semua korban yang membutuhkan. Vaksin diambil dari stok untuk imunisasi rutin dan biaya operasional memakai alokasi yang ada. Anggaran vaksin nasional Rp 1,2 triliun.


TERORISME

Santoso Diduga Tertembak Mati


JAKARTA, KOMPAS — Pemimpin kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur, Santoso, diduga tewas dalam baku tembak di Desa Tambarana, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Senin (18/7) petang. Dugaan itu muncul lantaran salah satu orang yang tewas tertembak memiliki ciri fisik seperti yang dimiliki Santoso.

"Informasi (yang tewas) ada tahi lalat di dahinya. Itu jadi ciri khas Santoso. Lalu ada jenggotnya juga," kata Kepala Kepolisian Negara RI Jenderal Tito Karnavian seusai mengikuti jamuan makan malam Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Selandia Baru John Key di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin malam.

Meski begitu, Kapolri belum bersedia memastikan bahwa Santoso telah tewas tertembak. Polri akan melakukan identifikasi terlebih dahulu untuk memastikan benar-tidaknya salah seorang yang tertembak itu Santoso. "Saya pikir jangan berspekulasi dulu. Biarkan teman-teman melakukan evakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Palu, dibersihkan, kemudian orang yang kenal Santoso dibawa untuk ditanya, apakah betul itu Santoso atau bukan," ujar Tito.


PIALA GOTHIA 2016

Perjuangan Melelahkan di Turki


Anak-anak tim Liga Kompas Gramedia-SKF Indonesia, salah satu tim Indonesia di Piala Gothia 2016 di Swedia, melewati perjalanan dan tantangan penuh liku. Mereka telantar di bandara akibat upaya kudeta di Turki. Namun, itu tak merampas mimpi anak bangsa ini.

Mahmud Cahyono dan rekan setimnya di Liga Kompas Gramedia (LKG)-SKF merebahkan diri di lantai selasar Bandara Ataturk di Istanbul, Turki, Minggu (17/7). Tiada selimut atau bantal yang memisahkan mereka dari dinginnya lantai bandara, yang diguncang bom bunuh diri serta serangan teror pada 28 Juni lalu.

Minggu itu, anak-anak dari kelompok usia 14-15 tahun itu semestinya telah tiba di Gothenburg, lokasi Piala Gothia-turnamen sepak bola usia dini terakbar yang diikuti sekitar 1.600 tim dari 80 negara di dunia.

Monday, July 18, 2016

Kompas Edisi Senin 18 Juli 2016

Kompas Edisi Senin 18 Juli 2016
Kompas Edisi Senin 18 Juli 2016

Sekitar 6.000 Orang Ditahan

Turki Tangkap 34 Perwira Tinggi


ANKARA, MINGGU — Sekitar 6.000 orang ditahan karena diduga terlibat kudeta yang gagal, Minggu (17/7). Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan akan terus memburu mereka yang disebutnya "virus" itu di lembaga pemerintah. Sejumlah jaksa dan pejabat militer juga ditahan karena diduga menjadi pengikut musuh bebuyutan Erdogan, Fethullah Gulen.

Bagi Erdogan, tidak ada dalang lain di balik kudeta yang gagal itu selain Gulen. Semua anggota "kelompok teroris" pimpinan Gulen di dalam tubuh militer, kata Erdogan, akan ditangkapi satu per satu karena mereka sudah menggerogoti bahkan menghancurkan angkatan bersenjata Turki.

Para pemimpin negara di dunia mengingatkan Turki untuk mematuhi aturan hukum dalam menangani para tersangka. Imbauan ini berdatangan termasuk dari Presiden Amerika Serikat Barack Obama setelah foto dan video proses penangkapan ribuan tersangka yang kasar beredar ke publik.


Fenomena Pembangunan

Kaum Profesional Minati Kota Kecil


JAKARTA, KOMPAS — Meski masih banyak orang berbondong-bondong mencari pekerjaan di kota besar, beberapa orang malah memilih kembali ke kampung halaman. Internet yang makin lancar, transportasi yang makin mudah, dan adanya komunitas yang bisa meningkatkan kapasitas intelektual menjadikan mereka memilih kembali tinggal di kota kecil.

Edwin Pranata, seusai studi soal pengelolaan investasi di Amerika Serikat, misalnya, semula ingin bekerja sesuai ilmunya di luar negeri. Namun, ia kemudian memilih kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Ia mendirikan perusahaan berbasis wirausaha sosial dengan nama Realfood. "Saya terpanggil untuk kembali. Saya merasa bisa berbuat sesuatu dan bermanfaat di kampung halaman. Saya kembali tahun 2012 dan saat itu saya yakin keputusan saya benar," kata Edwin.

Fenomena seperti Edwin itu juga tergambar dari beberapa orang dengan berbagai profesi, seperti fotografer, arsitek, pengelola restoran, akuntan, dan mantan buruh migran di sejumlah daerah yang ditemui dan dihubungi Kompas sejak pekan lalu hingga Minggu (17/7).


Inovasi

Ibnu Ciptakan Alat Hemat BBM dari Bahan Seng


Meningkatnya konsumsi bahan bakar dan polusi udara terkait tingginya mobilitas warga berkendara roda dua menginspirasi Ibnu Hafizh Haqiqi (16) untuk berkreasi. Siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Bulakamba, di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tersebut berhasil membuat alat penghemat bahan bakar sepeda motor secara sederhana, berbahan baku seng.

Karya Ibnu berhasil meraih Juara Nasional Lomba Karya Inovasi SMK Teknik Sepeda Motor Honda yang diselenggarakan di Jakarta, awal Juni lalu. Alat penghemat bahan bakar minyak (BBM) tersebut dikhususkan untuk sepeda motor yang menggunakan sistem injeksi.

Ibnu, pemuda sederhana, warga Desa Lemah Abang, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Brebes, saat ditemui di sekolahnya, Rabu (15/6), mengatakan, idenya muncul secara kebetulan dari keseharian hidupnya.

Sunday, July 10, 2016

Kompas Edisi Minggu 10 Juli 2016

Kompas Edisi Minggu 10 Juli 2016
Kompas Edisi Minggu 10 Juli 2016

Arus Tersendat di Tempat Istirahat

Pemerintah Meminta Maaf Terkait Mudik Lebaran 2016


JAKARTA, KOMPAS — Arus kendaraan menuju Jakarta tersendat di sekitar tempat istirahat Kilometer 62 dan 52 Tol Jakarta-Cikampek dan memicu kepadatan beberapa kilometer, Sabtu (9/7). Selain di tol itu, polisi pun memberlakukan lawan arus di Tol Cikopo-Palimanan untuk memecah kepadatan.

Selain keluar masuk kendaraan di tempat istirahat (TI), Kilometer (Km) 66 Tol Jakarta-Cikampek menjadi titik pertemuan arus kendaraan dari Tol Purwakarta-Bandung-Cileunyi (Purbaleunyi) dan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali). Akibat tersendat, polisi memberlakukan kebijakan lawan arus (contra flow) dengan menggunakan satu lajur di Jalur A (arah menuju Cikampek) mulai Sabtu pukul 18.10. Hingga pukul 21.00, upaya itu masih ditempuh untuk mengurangi kepadatan kendaraan.

Pantauan Kompas, arus lalu lintas tersendat sejak Km 72 Tol Jakarta-Cikampek di Cikopo, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Kecepatan kendaraan tidak bisa dipacu lebih dari 20 km per jam. Kendaraan bahkan harus berhenti menjelang TI Km 62 karena banyak kendaraan yang lajunya melambat. Demikian pula menjelang TI Km 52.


ALUTSISTA

Tim Audit Independen untuk Cegah Kecelakaan Berulang


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo diminta membentuk tim independen untuk mengaudit semua alat utama sistem persenjataan milik Tentara Nasional Indonesia. Tim itu diperlukan untuk mengidentifikasi berbagai masalah terkait alutsista, sekaligus mendorong penataannya.

Tanpa langkah nyata, putra bangsa yang menjadi anggota TNI dikhawatirkan akan kerap tewas sia-sia karena menjadi korban kecelakaan alutsista.

Usulan pembentukan tim audit independen itu disampaikan Direktur Eksekutif Imparsial Al Araf, Sabtu (9/7), di Jakarta, menyusul jatuhnya helikopter jenis Bell 205 nomor HA 5073 milik TNI Angkatan Darat di Dusun Kowang, Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat. Dua kru dan seorang warga sipil yang menumpang helikopter itu meninggal. Tiga kru lainnya luka berat. Ini merupakan kecelakaan helikopter yang dioperasikan Pusat Penerbangan TNI AD kedua pada tahun ini. Pada 20 Maret lalu, helikopter TNI AD juga jatuh di Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Kompas, 9/7).


FENOMENA

Orang-orang Kalah di Jalur Pantura


Gegap gempita pemudik menyongsong tol baru menggembosi "kuasa" jalur pantai utara Jawa. Rumah makan, toko kelontong, sampai tambal ban beringsut, lalu tutup. Jalan baru menyisakan cerita tentang orang-orang yang kalah...

Sudah lima jam Darsem (60) membuka warungnya di tepi jalur pantura Desa Mandalawangi, Kecamatan Sukasari, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Minggu (19/6). Kendaraan lalu lalang. Arus lebih ramai dibandingkan biasanya. Namun, baru dua botol minuman seharga Rp 10.000 yang laku terjual.

Darsem bolak-balik mengelap debu yang menempel di kaca etalase warungnya yang doyong. Berulang dia tata posisi barang dagangan di atas meja, seperti teh botol, mi instan seduh, rokok, dan jajanan, berharap bisa menarik pembeli. Namun, justru sepi yang didapati. "Sejak Lebaran tahun lalu seperti ini," ujarnya.

Saturday, July 9, 2016

Kompas Edisi Sabtu 9 Juli 2016

Kompas Edisi Sabtu 9 Juli 2016
Kompas Edisi Sabtu 9 Juli 2016

Menghargai Perbedaan untuk Asah Kepekaan

Arus Balik ke Jakarta Mulai Naik


JAKARTA, KOMPAS — Umat Islam seyogianya mengembangkan toleransi dengan menghargai perbedaan. Toleransi merupakan watak Islam yang perlu dikedepankan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Idul Fitri juga menjadi momentum untuk menumbuhkan kepekaan sosial.

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Din Syamsuddin dalam khotbah shalat Idul Fitri 1437 Hijriah di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Rabu (6/7), mengatakan, hawa nafsu membuat sebagian anak bangsa terjebak dalam fanatisme buta dalam membela agama atau apa pun yang mereka yakini sebagai kebenaran. Hal ini mengindikasikan kerusakan moral yang berpotensi meruntuhkan kehidupan berbangsa.

"Kita ditakdirkan berada dalam latar dan suasana kemajemukan, baik atas dasar agama suku, bahasa, dan budaya, maupun paham keagamaan dan organisasi kemasyarakatan," ujarnya.


ALUTSISTA

TNI AD Kehilangan Helikopter Kembali


SLEMAN, KOMPAS — Sebuah helikopter jenis Bell 205 nomor HA 5073 milik TNI Angkatan Darat jatuh di Dusun Kowang, Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (8/7), pukul 15.15. Sebanyak tiga orang dari enam penumpang yang ada di helikopter itu meninggal dalam kejadian tersebut.

Kecelakaan ini merupakan peristiwa kedua jatuhnya helikopter yang dioperasikan Pusat Penerbangan TNI Angkatan Darat (Puspenerbad) pada tahun ini.

Pada 20 Maret lalu, sekitar pukul 17.50 Wita, helikopter jenis Bell 412 EP nomor HA-5171 yang dioperasikan Puspenerbad jatuh di Kelurahan Kasiguncu, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Sebanyak 13 tentara, dengan tujuh orang di antaranya dari Satuan Tugas Tinombala yang sedang memburu kelompok teroris pimpinan Santoso di Poso, gugur dalam musibah yang ditengarai karena faktor cuaca ini.


DIASPORA BANYUWANGI

Melepas Rindu, Membangun Kampung


Setelah sekian lama meninggalkan tanah kelahiran, perantau dari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, saling melepas rindu di kampung halaman, Jumat (8/7). Pada acara Diaspora Banyuwangi di Pendopo Kabupaten Banyuwangi itu mereka bersua untuk saling bertukar cerita, berbagi rasa, dan bergerak membangun tanah kelahirannya.

Sepenggal lagu "Kangen Banyuwangi" mengiringi kedatangan perantau di Pendopo Sabha Swagata, Jumat pagi. Sehari setelah berlebaran, perantau dari berbagai penjuru kota di Nusantara dan negara itu datang memenuhi undangan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas untuk berkumpul bersama.

Ada kegembiraan dan keharuan yang melebur dalam pertemuan itu. Perantau saling berpelukan saat bertemu kawan yang lama tidak mereka jumpai. Mereka saling bercerita.

Tuesday, July 5, 2016

Kompas Edisi Selasa 5 Juli 2016

Kompas Edisi Selasa 5 Juli 2016
Kompas Edisi Selasa 5 Juli 2016

Kemacetan Belum Teratasi

Keberadaan Jaringan Tol Trans-Jawa Kian Mendesak


JAKARTA, KOMPAS — Sekalipun puncak arus mudik telah terlewati, kemacetan masih terjadi di Gerbang Tol Pejagan, Brebes Barat, dan Brebes Timur hingga ruas jalan pantai utara di Tegal, Jawa Tengah. Kondisi kemacetan selama arus mudik kali ini semakin menguatkan mendesaknya penyelesaian jaringan tol Trans-Jawa.

Pengamatan Kompas, Senin (4/7), kemacetan sudah terjadi setelah lepas Gerbang Tol (GT) Palimanan di Cirebon, Jawa Barat. Untuk sampai GT Pejagan, Brebes, dibutuhkan waktu hingga 14 jam.

Padahal, jika arus lalu lintas lancar, jarak Palimanan-Pejagan sejauh 62,9 kilometer (km) cukup ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam.


RENUNGAN IDUL FITRI 1437H

Bom dan Masa Depan Peradaban Islam


Bahasa Arab adalah satu di antara bahasa dunia yang kaya makna dan kosakata. Istilah id (hari perayaan) dari bentuk kedua kata kerja bahasa Arab: ’ayyada, artinya merayakan, mengamati sebuah perayaan. Perkataan fitr dari kata kerja fatara, bermakna memisahkan, membatalkan puasa dengan makan dan minum pada 1 Syawal setelah berpuasa selama satu bulan (29 atau 30 hari), disebut juga iftar, dan juga bermakna menciptakan. Dari akar kata yang sama kita menemukan al-Fatir, yang berarti Maha Pencipta dari tiada kepada ada.

Jadi ’id al-fitri berarti ”merayakan hari 1 Syawal dengan berbuka atau menghentikan puasa”. Puasa diharamkan pada hari itu.

Ada juga orang mengartikan ’id dengan kembali. ’Id al-fitri diterjemahkan ”kembali pada asal penciptaan manusia yang bersih, suci, tanpa noda, tanpa dosa”, seperti bayi yang baru lahir setelah dibasuh selama Ramadhan. Namun, ada kerancuan. Dalam bahasa Arab, perkataan kembali adalah ’aud atau ’audah, berasal dari bentuk pertama kata kerja ’ada, bukan ’id. Saya lebih mengartikan ’id al-fitri atau ’idul fitri sebagai perayaan berbuka puasa, bagian sikap bersyukur manusia beriman, bukan ”kembali suci.”


PIALA EROPA 2016

Tanpa Hummels, Pukulan Berat Jerman


Bagi saya, laga perempat final melawan Eslandia ibarat pembebasan signifikan bagi Perancis. Pada laga itu, Perancis terlepas dari tekanan sebagai tuan rumah, saat mereka unggul telak 5-2 atas Eslandia. Sekaligus, menyisihkan Eslandia yang belakangan ini menjadi buah bibir di jagat sepak bola Eropa.

Tanpa bermaksud mendiskreditkan kualitas Eslandia, tetapi jika berbicara tentang prospek dua tim kuda hitam yakni Eslandia dan Wales yang bertemu Portugal di semifinal; saya pikir jika keduanya lolos semifinal pun, rasanya itu terlalu tinggi. Cukup sudah kemewahan bagi Eslandia dengan keberhasilan mereka menyingkirkan Inggris.

Semifinal kedua yang mempertemukan Jerman dan Perancis bagi saya layak ditunggu. Kedua tim layak tampil di final. Saya melihat Jerman sebagai favorit pada duel ini. Ini saya katakan meski dalam adu penalti Jerman versus Italia di perempat final harus ada 16 pemain yang mengeksekusi penalti sebelum berakhir 6-5 untuk Jerman. Juga, meski di antara algojo Jerman, sejumlah bintang yang selama ini sukses mengeksekusi penalti, seperti Thomas Mueller, Mesut Oezil, dan Bastian Schweinsteiger, gagal menunaikan tugasnya.

Monday, July 4, 2016

Kompas Edisi Senin 4 Juli 2016

Kompas Edisi Senin 4 Juli 2016
Kompas Edisi Senin 4 Juli 2016

Arus Terkunci di Brebes-Tegal

Enam Jam Kendaraan Tak Bergerak


BREBES, KOMPAS — Selama tiga hari, Jumat hingga Minggu (1-3/7), wilayah Brebes dan Tegal, Jawa Tengah, menjadi titik paling melelahkan sekaligus mengesalkan bagi pemudik. Arus kendaraan terkunci selama berjam-jam karena membeludaknya jumlah kendaraan dan penyempitan ruas jalan.

Minggu pagi, kendaraan di jalur pantai utara Tegal bahkan sama sekali tidak bisa bergerak selama hampir enam jam, pukul 04.00 hingga 10.00. Sementara di dalam tol, kendaraan mengantre sangat panjang untuk keluar melalui Gerbang Tol Brebes Timur, Brebes Barat, dan Pejagan.

Hingga Minggu pukul 20.30, antrean kendaraan menjelang Gerbang Tol Brebes Timur masih sekitar 13 kilometer, yakni dari Kilometer 269 hingga Kilometer 256. Berkurang dibandingkan dengan kondisi pada pukul 12.00, yakni sekitar 33 kilometer.


SERANGAN NIIS 

Baghdad Jadi Ladang Kematian


BAGHDAD, MINGGU — Ledakan bom mobil mengguncang sebuah kawasan pertokoan di Baghdad, Irak, Minggu (3/7) dini hari, mengakibatkan sedikitnya 91 orang tewas dan 130 lainnya luka-luka. Milisi Negara Islam di Irak dan Suriah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tunggal paling mematikan di ibu kota Irak tahun ini itu.

Wartawan The New York Times (NYT) di Baghdad melaporkan, peristiwa tersebut merupakan ilustrasi brutal berikutnya dari paradoks yang dihadapi Irak ketika pasukan keamanan negeri itu, didukung serangan udara Amerika Serikat, merebut banyak wilayah dari NIIS.

"Ketika semakin luas teritorial yang mereka rebut, NIIS kembali ke akarnya sebagai kelompok gerilyawan, mengubah Baghdad kembali menjadi ladang kematian bagi warganya," tulis NYT.


SEPAK BOLA 

Xavi dan Meredupnya Ketajaman "Matador"


Laga 16 besar Piala Eropa 2016 antara Italia dan Spanyol di Saint-Denis, Perancis, 27 Juni lalu, menjadi bukti belum sempurnanya transisi tim "Matador". Spanyol yang juara Piala Eropa 2008 dan 2012, serta juara dunia 2010, harus takluk 0-2 dari tim "Azzurri", Italia, sekaligus melupakan kans ke perempat final. Artinya, tim asuhan Vicente del Bosque, yang mundur setelah laga itu, gagal mempertahankan gelar juara Eropa.

Spanyol unggul dalam penguasaan bola dengan 59 persen dan akurasi umpan (86 persen). Jumlah sepak pojok juga lebih banyak, dengan sembilan kali, sedangkan Italia hanya lima kali. Yang berbeda, Spanyol gagal mencetak gol. Sebaliknya, gawang David De Gea dibobol Giorgio Chiellini dan Graziano Pelle.

Xavi Hernandez menjadi faktor krusial dalam transisi Spanyol. Periode 2008 hingga 2012, bisa dikatakan tahun keemasan Xavi, pemain kelahiran Terrassa, Spanyol, pada 25 Januari 1980. Pada tahun-tahun itu, Spanyol bisa memaksimalkan peran Xavi, yang sering disebut sebagai "salah satu gelandang terbaik di dunia sepanjang masa".

Sunday, July 3, 2016

Kompas Edisi Minggu 3 Juli 2016

Kompas Edisi Minggu 3 Juli 2016
Kompas Edisi Minggu 3 Juli 2016

Puncak Arus Mudik Terlewati

Penanganan Jalan Tol Dinilai Lebih Baik, Ruas Jalur Utara dan Selatan Relatif Lancar


BREBES, KOMPAS — Sejumlah pihak memperkirakan volume kendaraan pemudik Lebaran 2016 akan berkurang pada Minggu (3/7) siang. Puncak arus mudik sudah terlewati. Sepanjang Sabtu pagi hingga malam, selain di ruas tol, peningkatan volume juga terjadi di ruas arteri.

Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Inspektur Jenderal Condro Kirono, saat memantau kondisi arus di Brebes, menyebutkan, Sabtu pagi hingga malam hari merupakan puncak arus mudik. Pada Minggu, arus lalu lintas diperkirakan sudah tidak sepadat hari Sabtu.

Menurut Condro, mayoritas pemudik tahun ini memilih mencoba jalur tol ketimbang jalur pantai utara (pantura) Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun, selain di ruas tol, arus mudik menggunakan sepeda motor juga memperlihatkan peningkatan signifikan sepanjang Sabtu.


PERANCIS VS ESLANDIA

Pertarungan Mimpi Duo ”Biru” di Saint-Denis


SAINT-DENIS, SABTU — Sepekan lalu, Stade de France di Saint-Denis menghadirkan mimpi besar bagi negeri mungil, Eslandia, untuk melangkah jauh di Piala Eropa 2016 seusai mengalahkan Austria, 2-1. Stadion yang sama pernah mewujudkan mimpi Perancis menjadi penguasa dunia 18 tahun lalu. Kedua tim ”biru” itu kini dipaksa oleh takdir untuk saling berhadapan di perempat final untuk mewujudkan mimpi jutaan pendukung mereka, Senin (4/7), pukul 02.00 WIB.

Mata Siggi Pirgisson (19), mahasiswa Universitas Eslandia di Reykjavik, berkaca-kaca ketika menerima secarik kertas putih-biru di depan loket Stade de France, Sabtu (2/7). Kertas itu tidak lain adalah tiket laga perempat final antara Perancis dan Eslandia. Setelah empat kali hanya menyaksikan skuad Eslandia berjuang di Piala Eropa 2016 lewat layar kaca, Pirgisson akhirnya mewujudkan mimpinya, menjadi saksi langsung di stadion.

Serupa jalan berliku yang ditempuh skuad Eslandia, upaya Pirgisson untuk hadir di Saint-Denis tidaklah mudah. Ia harus bekerja paruh waktu di sela-sela kuliahnya yang padat guna mendapatkan uang untuk membeli tiket laga dan pesawat yang harganya meroket tajam. Untuk penerbangan dari Reykjavik ke Paris, ia harus mengeluarkan 800 euro atau Rp 11 juta. Harga ini melonjak tajam dari normalnya sekitar 200 euro atau Rp 3 juta.


URBAN

Mal, Tempat Merenda Dua ”Surga”


Masjid dan mushala di mal mencoba tampil menyeimbangkan roh mal yang konsumtif. Mereka menggelar acara di luar jadwal shalat rutin, seperti pengajian atau diskusi. Tempat ibadah ini seolah menjadi penyejuk bagi jiwa. Di mal, mereka menemukan dua surga sekaligus: surga belanja dan ibadah.

Siang itu, Jumat (24/6), seratusan jemaah Masjid Al- Ikhlas duduk menyimak Syeh dr Muhammad As Syinqity yang memberi ceramah dalam bahasa Arab. Ulama dari Maroko itu memberikan ulasan makna puasa dalam kehidupan sosial. Beberapa jemaah antusias mengajukan pertanyaan seputar amalan baik di sepertiga akhir bulan puasa, terutama soal iktikaf (berdiam diri di masjid). ”Sebaiknya tidak meninggalkan masjid sama sekali selama iktikaf,” jawab sang ulama.

Pemandangan itu menjadi lumrah jika digelar di masjid umum. Tetapi, ini menjadi terkesan istimewa karena berada di mal. Masjid Al-Ikhlas berada di lokasi paling strategis, yakni lantai LG di Mal Kota Kasablanka. ”Kalau disewakan, harganya bisa miliaran rupiah per tahun,” kata pengurus masjid yang juga Kepala Divisi Parking Mal Kota Kasablanka, Annas Said.

Saturday, July 2, 2016

Kompas Edisi Sabtu 2 Juli 2016

Kompas Edisi Sabtu 2 Juli 2016
Kompas Edisi Sabtu 2 Juli 2016

Kemacetan Bisa Lebih Parah

Pengguna "E-Toll" Dapat Diskon


BREBES, KOMPAS — Kemacetan parah telah terjadi di jalur mudik, Jumat (1/7), meskipun arus mudik belum mencapai puncaknya. Karena itu, kemacetan lalu lintas diprediksi bisa lebih parah saat puncak arus mudik pada Sabtu dan Minggu ini.

 Sepanjang Jumat, kemacetan parah terjadi di beberapa titik, antara lain menjelang Gerbang Tol (GT) Cikarang Utama, GT Palimanan, dan GT Brebes Timur.

Di GT Cikarang Utama, kemacetan pada Jumat malam mencapai 5 kilometer. Di GT Palimanan, pada Jumat pagi kemacetan hingga 13 km dan berangsur-angsur lancar pada Jumat siang. Adapun di GT Brebes Timur, kemacetan paling parah karena antrean kendaraan memanjang sekitar 19 km menjelang malam.


PEMALSUAN VAKSIN

Fasilitas Kesehatan Terduga Bertambah


JAKARTA, KOMPAS — Kasus vaksin palsu terus bergulir. Badan Pengawas Obat dan Makanan mengumumkan, jumlah fasilitas kesehatan yang pengadaan vaksinnya dari pemasok tidak resmi bertambah dari 28 menjadi 37 fasilitas, tersebar di sembilan daerah. Mayoritas adalah rumah sakit dan klinik.

"Pengawasan Badan POM di 32 provinsi masih berlangsung," kata Pelaksana Tugas Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Tengku Bahdar Johan Hamid di Jakarta, Jumat (1/7). Distribusi vaksin palsu sampai ke pengguna melalui jalur pemasok tidak resmi.

Sementara itu, di tingkat provinsi, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencurigai 35 dari 605 fasilitas kesehatan yang mereka periksa memiliki vaksin palsu karena pengadaan vaksinnya tanpa prosedur dan faktur pembelian yang jelas.


KEBERAGAMAN

Berbuka Puasa, Bukan Hanya Makan Bersama


Ramadhan di sejumlah daerah menjadi momentum mempererat relasi antar-umat beragama. Beragam caranya, membuat Ramadhan menjadi kian bermakna.

Waktu berbuka puasa hampir tiba. Ratusan orang terlihat berdatangan ke Wihara Bodhimanda-Sanggar Suci, Kabupaten Malang, Jawa Timur, pekan lalu. Petang itu, sama seperti hari lain saat Ramadhan, umat Buddha di wihara akan membagikan makanan gratis untuk berbuka puasa.

Menu utama sore itu adalah nasi plus ayam goreng dan sambal goreng kentang. Selain itu, panitia menyiapkan makanan ringan yang diberikan setelah menu utama disajikan.

Friday, July 1, 2016

Kompas Edisi Jumat 1 Juli 2016

Kompas Edisi Jumat 1 Juli 2016
Kompas Edisi Jumat 1 Juli 2016

Dana Optimalisasi Menjadi Bancakan

Anggota DPR Bermain Proyek


JAKARTA, KOMPAS — Komisi Pemberantasan Korupsi mengusulkan, dana optimalisasi dihapuskan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara karena ditengarai jadi lahan bancakan anggota DPR. Sejumlah legislator diduga jadi makelar dengan dalih memperjuangkan dana itu untuk proyek tertentu.

Dana optimalisasi yang dalam APBN Perubahan 2016 besarnya Rp 58,36 triliun merupakan dana yang berasal dari perubahan asumsi makro, kenaikan target pendapatan negara, atau efisiensi belanja negara. Dana itu biasanya dipakai untuk tambahan belanja kementerian dan lembaga negara serta belanja transfer daerah.

Proyek yang "diatur" anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Demokrat, I Putu Sudiartana, yang ditangkap KPK pada Selasa lalu ditengarai dibiayai dari dana optimalisasi. Proyek itu adalah 12 ruas jalan di Sumatera Barat senilai Rp 300 miliar.


PEMALSUAN VAKSIN

Benahi Sistem Pengawasan


JAKARTA, KOMPAS — Peredaran vaksin palsu yang terkuak baru-baru ini menjadi pelajaran penting untuk membenahi sistem pengawasan vaksin. Verifikasi pemasok vaksin harus jadi prosedur mutlak yang tak boleh dilanggar, terutama pada tender pengadaan vaksin di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain.

Selama ini, selain melalui katalog elektronik, rumah sakit dan klinik swasta bisa mengadakan sendiri obat dan vaksin untuk kebutuhannya. Motif mendapat barang murah menjadi peluang masuk pemasok vaksin palsu. ”Bisa jadi produsen vaksinnya disebutkan di luar negeri, tetapi distributornya di dalam negeri. Verifikasi pemasok vaksin inilah yang seharusnya bisa diperketat lagi,” kata dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono, di Jakarta, Kamis (30/6).

Direktur Pengawasan Distribusi Produk Terapeutik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Arustyono memaparkan, ketentuan pengadaan obat dan vaksin sudah ada. Namun, motif ekonomi pemasok yang mengejar target penjualan dan fasilitas kesehatan yang ingin mendapat barang murah memungkinkan vaksin palsu masuk ke fasilitas kesehatan.


MUDIK LEBARAN

Asa Baru Pemudik Sumatera


Waktu menunjukkan pukul 07.30 saat Zainal Abidin (51) dan sepeda motornya memasuki lambung Kapal Motor Mutiara Sentosa III, Selasa (28/6). Untuk pertama kali, Zainal mencoba mudik ke Lampung menggunakan feri dari Tanjung Priok, Jakarta. Inilah rute baru sekaligus asa baru bagi pemudik Sumatera, khususnya Lampung, dari Ibu Kota.

Rute ini baru dioperasikan pekan lalu. Rute dilayani oleh kapal milik PT Atosim Lampung. Mendengar kapal berlayar langsung dari Dermaga Eks Presiden Tanjung Priok, Jakarta, ke kampung halamannya di Bandar Lampung, Zainal pun tertarik untuk menjajalnya.

Pergi-pulang Jakarta-Bandar Lampung sebenarnya sudah biasa dilakoni pria yang sehari-hari mengaku bekerja sebagai kontraktor itu. Namun, sebelum rute itu ada, dia terbiasa menggunakan sepeda motornya dari Jakarta ke Merak, kemudian naik feri melintasi Selat Sunda. Selanjutnya, dari Bakauheni, Lampung, dia melanjutkan perjalanan darat ke Bandar Lampung.

Thursday, June 30, 2016

Kompas Edisi Kamis 30 Juni 2016

Kompas Edisi Kamis 30 Juni 2016
Kompas Edisi Kamis 30 Juni 2016

Anggota DPR Jadi Makelar

KPK Tangkap Anggota Komisi III DPR, I Putu Sudiartana


JAKARTA, KOMPAS — Penangkapan anggota Komisi III DPR, I Putu Sudiartana, oleh Komisi Pemberantasan Korupsi, Selasa (28/6), menandakan masih ada legislator yang menyalahgunakan kewenangannya dengan menjadi makelar proyek pemerintah yang sedang dibahas di DPR.

Putu yang bertugas di Komisi III, yang membidangi persoalan hukum, ditengarai bisa "mengatur" proyek infrastruktur senilai Rp 300 miliar yang jadi ranah Komisi V DPR. Proyek itu juga ada di Sumatera Barat, sementara Putu adalah anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat dari daerah pemilihan Bali.

Operasi tangkap tangan terhadap Putu menambah daftar panjang anggota DPR yang tertangkap karena menjadi "makelar" proyek.


MUDIK LEBARAN

BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem


JAKARTA, KOMPAS — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi hujan dengan intensitas tinggi dan gelombang laut tinggi berpotensi terjadi selama puncak arus mudik. Kondisi ini berpotensi menghambat pergerakan pemudik dan moda transportasi umum, terutama pesawat dan kapal laut, selain rentan menyebabkan kecelakaan.

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yunus Subagyo, di Jakarta, Rabu (29/6), mengatakan, BMKG memprediksi hujan dengan intensitas tinggi terjadi hingga 4 Juli di Jawa Timur, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Maluku Utara, dan Papua Barat.

"Hujan lebat ini biasanya disertai angin kencang dan petir. Itu yang harus diwaspadai saat mudik," katanya.


Piala Eropa 2016

Taktik Kejut Italia Terbukti Berbahaya


Ada yang ingin saya katakan sebelum membahas Piala Eropa Perancis 2016: saya menyesalkan kabar soal Lionel Messi yang tak akan lagi bermain untuk tim Argentina. Penjelasan saya tentang hal ini adalah tidak bisa begitu saja berhenti bermain untuk tim nasional pada usia 29 tahun.

 Ini tentu memalukan. Penggemar juga tak akan lagi menyaksikan Messi membela Argentina meski kehadirannya selama ini belum banyak berkontribusi untuk meraih gelar juara.

Berbicara tentang Piala Eropa, sesuatu berjalan tidak sesuai harapan saya. Kami, tim Jerman yang banyak dipuji, harus bertemu Italia di perempat final, Sabtu (2/7) lusa. Kami tak pernah beruntung melawan ”Azzurri” di kejuaraan besar. Empat tahun lalu, di semifinal Piala Eropa Polandia-Ukraina 2012, kami kalah 1-2. Kiper Oliver Kahn mengatakan waktu itu, ”Anda bisa kalah dari Italia tanpa merasakan itu (telah dikalahkan).”

Sunday, June 5, 2016

Kompas Edisi Minggu 5 Juni 2016

Kompas Edisi Minggu 5 Juni 2016
Kompas Edisi Minggu 5 Juni 2016

Helikopter Jatuh di Paniai, 1 Tewas

Faktor Cuaca Jadi Penyebab


JAYAPURA, KOMPAS — Jatuhnya helikopter jenis Bell 206 PK-UAF di lokasi pertambangan emas tradisional di Kali Degeuwo, Distrik Dogobaida, Kabupaten Paniai, Papua, Sabtu (4/6), diduga akibat empasan angin kencang sebelum mendarat. Pilot helikopter tewas dan tiga penumpang luka-luka.

 Pilot Komisaris Besar (Purn) Karmana (57) tewas akibat cedera berat di kepala. Adapun tiga korban luka adalah Asmar, Ajo, dan Darwis, petambang emas di Kali Degeuwo. Selain mengangkut tiga penumpang, helikopter tersebut juga mengangkut barang-barang milik petambang seberat 314 kilogram.

Karmana dan Asmar dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah Nabire. Asmar mengalami luka berat karena dadanya terkena benturan sangat keras. "Dua korban lainnya tidak dievakuasi ke Nabire karena hanya mengalami luka ringan," kata Kepala Kepolisian Resor Paniai Ajun Komisaris Besar Leonardus Nabu ketika dihubungi dari Jayapura.


TINJU

Muhammad Ali, Petarung di Ring dan Jagat Kemanusiaan


PHOENIX, SABTU — Awan mendung menyelimuti dunia tinju, bahkan dunia olahraga secara keseluruhan. Petinju legendaris Amerika Serikat, Muhammad Ali, meninggal di usia 74 tahun, Jumat (3/6). Semasa hidup, Ali yang mengklaim diri sebagai "Yang Terbaik" atau "The Greatest" dikenal sebagai petarung sejati yang berjuang demi prestasi di atas ring dan keadilan di atas panggung rasisme yang menimpa warga kulit hitam AS, terutama pada era 1960-1980-an.

Ali dilaporkan meninggal di rumah sakit di Phoenix, Arizona, AS, Jumat. Ia mengembuskan napas terakhir karena komplikasi pernapasan. "Setelah berjuang melawan sejumlah penyakit, terutama parkinson, Ali meninggal di usia 74 tahun, malam ini (Jumat, 3/6)," ujar juru bicara keluarga Ali, Bob Gunnell.

Petarung sejati

Ali dikenal sebagai petarung sejati. Selama bertinju, pemilik nama lahir Cassius Marcellus Clay Junior ini memenangi sejumlah laga bergengsi. Ia pernah meraih medali emas Olimpiade 1960 setelah menang atas petinju Polandia, Zbigniew Pietrzykowski, di Roma, Italia, 5 September 1960. Ia lalu terjun di tinju profesional dan meraih tiga gelar juara dunia tinju kelas berat.


Festival

Noktah Kecil Film Indonesia di Cannes


Kemenangan film "Prenjak (In the Year of Monkey)" besutan sutradara muda Wregas Bhanuteja jadi babak baru kehadiran Indonesia di Festival de Cannes. Isu lokal tentang "permainan" korek api, jika dikemas dalam bingkai sosial, bisa menggetarkan dunia. Kuncinya, kesadaran pada nilai-nilai universal yang membelit sistem kemanusiaan kita sejak dulu sampai kini, mungkin nanti.

Ajang Semaine de la Critique memang bukan ajang utama Festival Film Cannes. Namun, kategori ini dibangun oleh asosiasi kritikus film Perancis, yang gerah oleh eksklusivitas Cannes. Dalam perjalanannya, Semaine de la Critique akhirnya disatukan dengan pelaksanaan Festival Film Cannes. Ia tetap menjadi ajang bergengsi, yang mencuatkan nama Indonesia dalam bursa perfilman dunia.

Nama Indonesia baru tercatat di Festival Film Cannes ketika film Tjoet Nja' Dhien arahan sutradara Eros Djarot lolos mengikuti kompetisi film panjang dalam kategori Semaine de la Critique atau Critic's Week tahun 1989. Film ini juga pernah diajukan pemerintah dalam festival Academy Awards ke-62 untuk Film Berbahasa Asing Terbaik. Sayangnya tidak lolos dalam babak nominasi.

Saturday, June 4, 2016

Kompas Edisi Sabtu 4 Juni 2016

Kompas Edisi Sabtu 4 Juni 2016
Kompas Edisi Sabtu 4 Juni 2016

UU Pilkada Baru Ganjal Calon Perseorangan

Niat DPR Cegah Dukungan Fiktif


JAKARTA, KOMPAS — Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah yang telah disetujui DPR untuk diundangkan bisa mengganjal calon perseorangan. UU baru itu mempersempit ruang klarifikasi pendukung calon perseorangan dalam tahap verifikasi faktual.

Pasal 48 RUU Pilkada mengatur, jika pendukung calon perseorangan tidak bisa ditemui Panitia Pemungutan Suara (PPS) dalam verifikasi faktual ke alamatnya, pasangan calon diberikan kesempatan menghadirkan mereka ke kantor PPS dalam waktu 3 hari. Apabila tenggat itu dilampaui, dokumen dukungan yang diajukan terhadap calon perseorangan dinyatakan tak memenuhi syarat.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi Titi Anggraini, di Jakarta, Jumat (3/6), menilai, mekanisme verifikasi dukungan calon perseorangan RUU Pilkada sebagian besar mengadopsi Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 9 Tahun 2015 tentang Pencalonan Pilkada. Namun, keharusan verifikasi administrasi berdasarkan daftar pemilih tetap (DPT) dan daftar penduduk pemilih potensial pemilihan (DP4) dari Kementerian Dalam Negeri justru akan membatasi dukungan untuk calon perseorangan.


INFRASTRUKTUR

Pembangunan Dua Ruas Tol Terhambat


JAKARTA, KOMPAS — Pinjaman dari Bank Exim Tiongkok untuk pembangunan empat ruas jalan tol masih terkendala persoalan teknis dan administrasi. Dari empat ruas itu, baru dua ruas tol yang telah cair. Padahal, menurut rencana, pinjaman senilai sekitar Rp 10 triliun itu sudah cair akhir tahun lalu. Akibatnya, pembangunan ruas tol tersebut terhambat.

Empat ruas jalan tol yang sebagian pembangunannya dibiayai pinjaman dari Bank Exim Tiongkok adalah Balikpapan-Samarinda sepanjang 99,02 kilometer (km), Solo-Ngawi-Kertosono (177,12 km), Cileunyi-Sumedang-Dawuan atau Cisumdawu (58,5 km), dan Manado-Bitung (39 km). Tahun lalu, ditargetkan pinjaman senilai sekitar Rp 10 triliun itu dapat segera dicairkan karena keempat ruas itu telah siap dokumennya. Meski demikian, hingga saat ini baru dua ruas jalan tol yang sudah dicairkan pinjamannya.

"Posisi terakhir ada dua ruas tol yang belum ditandatangani perjanjian pinjamannya, yakni ruas tol Cisumdawu dan Manado-Bitung," kata Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Taufik Widjoyono, Jumat (3/6), di Jakarta.


GERAKAN LITERASI

Kala Perahu dan Noken Bertemu Buku


"Kam-bing me-ru-pa-kan bi-na-tang yang som-bong dan ra-kus. Me-re-ka ti-dak per-nah mau ber-ba-gi ma-ka-nan de-ngan te-man-te-man-nya".

Suara agak terpenggal- penggal, tetapi cukup lantang dari seorang bocah perempuan itu meramaikan tepi pantai yang sunyi di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.

Hari itu, Kamis (19/5), Lesta (10), bocah itu, bersama sejumlah teman sebaya di kampungnya mendapat kunjungan istimewa. Mereka, yang sebelumnya sedang duduk-duduk "menganggur" di pasir pantai halaman depan kampung, didatangi Perahu Pustaka Pattingalloang.

Friday, June 3, 2016

Kompas Edisi Jumat 3 Juni 2016

Kompas Edisi Jumat 3 Juni 2016
Kompas Edisi Jumat 3 Juni 2016

Infrastruktur Menjadi Solusi

Pemerintah Fokus di Dua Program untuk Atasi Kesenjangan


JAKARTA, KOMPAS — Berbagai kalangan menilai persoalan kesenjangan yang masih lebar di Tanah Air bisa dikurangi dengan pembangunan infrastruktur yang terkait dengan logistik dan konektivitas. Kesenjangan juga perlu diatasi dengan perbaikan sektor pendidikan dan kesehatan.

Guru Besar (Emeritus) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) Emil Salim dalam acara penganugerahan penghargaan Wirakarya Adhitama di FEB UI, Depok, Kamis (2/6), mengatakan, pembangunan infrastruktur ekonomi, pendidikan, dan kesehatan akan mengurangi kesenjangan.

Sebelumnya diberitakan, persoalan kesenjangan masih menjadi tantangan besar dalam mewujudkan dan membumikan nilai-nilai Pancasila. Perdebatan ini muncul terkait hari lahir Pancasila yang ditetapkan pemerintah pada 1 Juni 1945.


RUU PILKADA

Pencegahan Politik Uang Setengah Hati


JAKARTA, KOMPAS — Dewan Perwakilan Rakyat dan pemerintah masih setengah hati untuk memperketat pencegahan praktik politik uang dalam pemilihan kepala daerah.

Di satu sisi, Rancangan Undang-Undang tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota yang disetujui menjadi UU, Kamis (2/6), mengatur sanksi berat bagi pelaku politik uang. Di sisi lain, didapati aturan yang melegalkan pemberian uang dan hadiah untuk peserta kampanye terbatas.

Sanksi berat hingga pembatalan calon kepala daerah-wakil kepala daerah diatur dalam Pasal 73 Ayat (2) UU Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota. Prosedur penjatuhan sanksi bagi pelaku politik uang juga dipermudah.


KAMPUNG PANCASILA

Menggapai Kesetaraan di Kampung Lengkong


Kesenjangan sosial nyata terlihat dengan semakin terdesaknya warga kampung oleh permukiman-permukiman mewah bertembok tinggi dan eksklusif. Namun, dengan akses pendidikan yang memadai, pendampingan, dan edukasi, warga di Kampung Lengkong, Kelurahan Lengkong Wetan, Kecamatan Serpong, Tangerang Selatan, kini berjuang untuk menjadi setara.

 Muhammad Lailatul Qodar (23), seorang pemuda setempat yang baru saja lulus dari Politeknik Geologi dan Pertambangan Bandung, Kamis (2/6), bercerita, sejak pembangunan permukiman marak di sekitar kawasan itu, warga tidak lagi punya banyak pilihan.

Warga yang sebelumnya bertani kini menjadi anggota satuan pengamanan (satpam), petugas kebersihan, pelayan restoran, dan paling bagus, petugas pelayanan pelanggan (customer service) di kawasan bisnis dan permukiman yang mendadak muncul mengepung mereka.

Thursday, June 2, 2016

Kompas Edisi Kamis 2 Juni 2016

Kompas Edisi Kamis 2 Juni 2016
Kompas Edisi Kamis 2 Juni 2016

Kesenjangan Jadi Tantangan Besar

Perwujudan Sila V Pancasila Amat Ditunggu


JAKARTA, KOMPAS — Megawati Soekarnoputri, mewakili keluarga Soekarno, mengucapkan terima kasih atas langkah Presiden Joko Widodo menetapkan 1 Juni 1945 sebagai hari lahir Pancasila. Masih banyak pekerjaan rumah untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila di masyarakat.

 Kesenjangan sosial dan ekonomi menjadi tantangan terbesar dalam membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

”Kita harus optimistis bahwa kita bisa mengatasi semua persoalan yang ada untuk memenangi kompetisi global,” kata Presiden dalam pidatonya pada Peringatan Pidato Bung Karno (presiden pertama RI), Rabu (1/6), di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat.


PERANCIS

AS Ingatkan Teror Ancam Piala Eropa


WASHINGTON, RABU — Amerika Serikat mengeluarkan peringatan kepada warganya yang ingin bepergian ke Eropa, khususnya di saat penyelenggaraan Piala Eropa 2016 di Perancis. Turnamen sepak bola ini dinilai ”potensial” menjadi sasaran serangan teroris.

Imbauan Pemerintah AS ini semakin mempersulit posisi Pemerintah Perancis yang saat ini menghadapi pemogokan besar- besaran di bidang transportasi dan industri. Direncanakan, Piala Eropa dimulai 10 Juni dan akan berlangsung selama sebulan, serta dilaksanakan di beberapa kota di Perancis.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, John Kirby, menekankan, peringatan itu bukan untuk menghalangi warga AS bepergian ke Eropa, melainkan untuk mengingatkan mereka agar selalu waspada. ”Peringatan ini, seperti biasanya, dibuat berdasarkan akumulasi informasi dan apa yang menjadi interes kelompok-kelompok teroris dalam menyerang sasaran-sasaran Barat, khususnya warga Amerika,” kata Kirby, Selasa (31/5).


JAKARTA KOTA SUNGAI

Nyanyi Sunyi Para Pembersih Kali


Saung kecil berangka besi dan berdinding tripleks itu berdiri di bantaran Kali Grogol yang rindang, bersih, dan asri di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Di depannya ada sejumlah bangku dari batang-batang bambu dan meja-meja kecil warna merah yang ditaruh di atas tumpukan ban bekas.

 Dari kejauhan, saung, bangku, dan meja-meja itu ditata seperti restoran atau kafe yang memanfaatkan keasrian bantaran kali untuk menarik pengunjung. Permukaan air sungai yang bersih, rumput hijau di seberang kali, dan rindang rumpun bambu di tempat itu membuat orang betah berlama-lama di sana.

Namun, baru beberapa menit Kompas berada di tempat itu, Selasa (31/5) sore, tiba-tiba berdatangan satu demi satu orang berkaus seragam oranye. ”Kami mau absen sore. Setiap hari kami ke sini,” ujar Andi (28), satu dari mereka.

Wednesday, June 1, 2016

Kompas Edisi Rabu 1 Juni 2016

Kompas Edisi Rabu 1 Juni 2016
Kompas Edisi Rabu 1 Juni 2016

Kearifan Lokal Jaga Indonesia

Hari Lahir Pancasila Ditetapkan 1 Juni


JAKARTA, KOMPAS — Nilai-nilai Pancasila terlihat jelas dalam sejumlah kearifan lokal di sejumlah daerah di Indonesia. Ini membuktikan jika Pancasila digali dan sesuai dengan budaya Indonesia. Kini, yang dibutuhkan adalah menjaga kearifan lokal itu untuk Indonesia yang lebih baik.

 Kearifan lokal ini menjadi makin penting karena kalangan elite sering kali gagal memberi teladan pengamalan Pancasila. Bahkan, mereka sering kali justru ikut merusak nilai-nilai Pancasila dengan melakukan korupsi atau kekerasan serta pelanggaran hak asasi manusia dengan mengatasnamakan negara.

Perusakan nilai-nilai Pancasila, kata sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Arie Sudjito, juga muncul dengan mudahnya sejumlah elite menuding pihak lain tidak pancasilais. ”Ketika elite menuduh masyarakat tidak pancasilais, sering kali justru elite itu yang tidak pancasilais,” kata Arie, Selasa (31/5).


KORUPSI DANA HIBAH

La Nyalla Ditangkap dan Langsung Ditahan


JAKARTA, KOMPAS — Tersangka kasus dugaan korupsi dana hibah Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur La Nyalla Mattalitti akhirnya ditahan Kejaksaan Agung, Selasa (31/5) malam, setelah ditangkap dan dideportasi Pemerintah Singapura karena melampaui izin tinggal. Meski dua kali memenangi pra- peradilan atas penetapannya sebagai tersangka dan melarikan diri selama 64 hari, La Nyalla kini harus menjalani proses hukum.

 Asisten Atase Imigrasi Kedutaan Besar RI di Singapura, Sandy Andaryadi, menjelaskan, pihaknya menerima informasi dari otoritas Singapura, Senin pukul 10.30, bahwa La Nyalla sudah ditangkap karena melanggar aturan keimigrasian berupa melebihi izin tinggal.

La Nyalla langsung dibawa ke Indonesia dengan pesawat Garuda dari Singapura pukul 17.35 dan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pukul 18.30. Dia langsung dibawa ke Kejaksaan Agung dan tiba pukul 19.30.


SASTRA

Sajian Karya di Jamuan Cerpen ”Kompas”


Ahmad Tohari (68), penulis asal Banyumas, Jawa Tengah, yang dikenal lewat karya trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jentera Bianglala (1986) meraih penghargaan Cerpen Terbaik ”Kompas” 2015 lewat karya cerpen ”Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta?” Penghargaan diserahkan pada Malam Jamuan Cerpen Pilihan ”Kompas” 2015 dalam rangkaian perayaan 51 tahun harian Kompas.

 Trofi berupa patung karya maestro Nyoman Nuarta diserahkan Pemimpin Redaksi Kompas Budiman Tanuredjo, Selasa (31/5) malam, di Bentara Budaya Jakarta. Selain dihadiri 21 dari 23 Cerpenis Pilihan Kompas 2015, acara juga dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, pemusik Ananda Sukarlan, serta dramawan Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno.

Selain nama baru, seperti Miranda Seftiana atau Anggun Prameswari, Jamuan Cerpen Pilihan Kompas 2015 juga dimeriahkan oleh kehadiran cerpenis senior yang setia berkarya, seperti Putu Wijaya, Martin Aleida, dan Joko Pinurbo.

Tuesday, May 31, 2016

Kompas Edisi Selasa 31 Mei 2016

Kompas Edisi Selasa 31 Mei 2016
Kompas Edisi Selasa 31 Mei 2016

Pancasila merupakan Solusi Bangsa

Anak Muda Butuh Perwujudan Nilai dalam Bentuk Kekinian


JAKARTA, KOMPAS — Kaum muda meyakini Pancasila merupakan solusi terbaik untuk mengatasi berbagai persoalan yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Kini, yang dibutuhkan adalah semakin membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia yang beragam.

 Pembumian kembali nilai-nilai Pancasila ini menjadi penting karena, berdasarkan jajak pendapat Litbang Kompas, ada kecenderungan perbedaan cara pandang terhadap Pancasila dan kondisi bangsa antara generasi tua dan muda (Kompas, 30/5).

Generasi tua didefinisikan berusia 35 tahun ke atas, sedangkan kelompok muda berusia mulai 17 tahun hingga 35 tahun. Dasar pengelompokan ini bertolak saat gerakan reformasi pada tahun 1998-1999, di mana mereka yang kini masuk usia tua saat itu sudah berumur 17 tahun.


RUU PILKADA

Presiden: Jaga Kualitas Demokrasi


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo meminta pelaksanaan revisi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pilkada memikirkan tujuan jangka panjang, yaitu menjaga kualitas proses demokrasi di Indonesia. Presiden juga berharap undang-undang yang akan disepakati jangan berubah lagi karena dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.

"Kita tidak bisa lagi terjebak pada kepentingan politik jangka pendek, tetapi harus betul-betul memikirkan tujuan yang lebih besar, berorientasi jangka panjang," kata Presiden saat rapat terbatas di Kantor Presiden, Senin (30/5), di Jakarta.

Terkait hal itu, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menegaskan, ada dua hal yang menjadi sikap pemerintah dalam revisi UU Pilkada.


Tim Dayung Indonesia

Asa di Pundak Dua Atlet Muda


Dua belas tahun lalu, pedayung asal Papua, Pere Karoba, mengukir sejarah sebagai atlet dayung Indonesia pertama yang tampil di nomor rowing Olimpiade Athena 2004. Setelah itu, tim dayung Tanah Air seolah mati suri. Sekian lama tiada lagi pedayung yang lolos kualifikasi untuk berlomba di ajang akbar, Olimpiade.

Kini, peluang tim dayung mengharumkan "Merah-Putih" di Olimpiade terlahir lagi setelah atlet DKI Jakarta, Dewi Yuliawati (19), dan atlet Maluku, La Memo (20), sukses menembus kualifikasi Olimpiade, melalui Kejuaraan Dayung Asia di Chungju, Korea Selatan, akhir April. Dengan hasil itu, Dewi dan La Memo berhak tampil di Olimpiade Rio de Janeiro, 5-21 Agustus. Asa dayung pun terpatri di pundak keduanya.

Matahari pagi bersinar pada Kamis (26/5) pagi itu di Situ Cileunca, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat, yang rindang dan asri, menghadirkan cuaca cerah dan hawa sejuk.

Monday, May 30, 2016

Kompas Edisi Senin 30 Mei 2016

Kompas Edisi Senin 30 Mei 2016
Kompas Edisi Senin 30 Mei 2016

Pelatnas Olimpiade 2016 Terkendala

Atlet Rogoh Uang Pribadi untuk Latihan


JAKARTA, KOMPAS — Dengan Olimpiade Rio de Janeiro 2016 tinggal 67 hari lagi, persiapan kontingen Indonesia jauh dari ideal. Di beberapa pelatnas, atlet harus bersabar menunggu pencairan dana pelatnas. Tak heran, atlet kerap merogoh kocek sendiri untuk mencukupi kebutuhan latihan.

 Berdasarkan data yang dihimpun Kompas hingga Minggu (29/5) di pelatnas panahan, renang, bulu tangkis, angkat besi, dan sepeda BMX, kekurangan itu membuat persiapan atlet tidak maksimal. Hal ini bisa membuat Indonesia gagal melanjutkan tradisi medali emas yang terhenti di Olimpiade London 2012.

Di pelatnas panahan di Yogyakarta, dua atlet, yakni Ika Yuliana Rochmawati dan Riau Ega Agatha, kadang harus membeli peralatan dengan uang pribadi, baik busur, anak panah, maupun perlengkapan lain. ”Sampai sekarang peralatan masih harus beli sendiri. Mungkin di cabang lain juga sama,” kata Ika.


PEMBERANTASAN KORUPSI

KPK Sasar Aparat Penegak Hukum


JAKARTA, KOMPAS — Operasi tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi pada semester pertama tahun 2016 menyasar banyak penegak hukum. Jika langkah KPK ini diikuti pembenahan di kalangan internal penegak hukum, hal itu akan meningkatkan rasa keadilan di masyarakat, sekaligus mengakselerasi upaya Indonesia memperbaiki Indeks Persepsi Korupsi.

Selama Januari hingga akhir Mei 2016, KPK berhasil melakukan tujuh operasi tangkap tangan. Dari tujuh operasi tangkap tangan itu, lima operasi terkait dengan aparat di lembaga penegakan hukum, baik jaksa, hakim, maupun pejabat di lingkungan peradilan, seperti panitera. Terakhir, pekan lalu, KPK menangkap dua hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Bengkulu karena diduga menerima suap untuk memengaruhi putusan sidang kasus korupsi RSUD M Yunus, Bengkulu.

"Salah satu fokus KPK memang menangani tindak pidana korupsi oleh aparat penegak hukum. Pertama, karena Undang- Undang KPK mengatur itu. Kedua, ini menyangkut kepentingan masyarakat yang sangat besar, dalam hal ini untuk memperoleh keadilan," kata Pelaksana Harian Kepala Biro Hubungan Masyarakat KPK Yuyuk Andriati, Minggu (29/5).


MITIGASI BENCANA

Peta Direvisi, Sumber Baru Gempa Ditemukan


JAKARTA, KOMPAS — Riset terbaru menemukan data dan sumber gempa baru di sejumlah wilayah Indonesia dengan potensi kekuatan lebih besar daripada perhitungan sebelumnya. Sebagian sumber gempa itu berpotensi menimbulkan dampak pada kota-kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta dan Surabaya.

 Temuan ini mengubah peta gempa Indonesia, sekaligus menuntut perubahan standar bangunan dan tata ruang, serta manajemen mitigasi bencana.

”Banyak gempa besar di Indonesia di luar ekspektasi para ahli. Misalnya gempa Aceh 2004, Yogyakarta 2006, Padang 2009, dan gempa Samudra Hindia 2012. Dari riset terbaru, kami menemukan sejumlah sumber gempa baru belum masuk peta gempa,” kata Irwan Meilano, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung, di Jakarta, Minggu (29/5).

Sunday, May 29, 2016

Kompas Edisi Minggu 29 Mei 2016

Kompas Edisi Minggu 29 Mei 2016
Kompas Edisi Minggu 29 Mei 2016

Selisik Batik Madura

Lipatan "Ombak Rindu" Batik


Batik madura identik dengan batik tanjungbumi di Bangkalan. Berbeda dengan batik dari kabupaten lain di Pulau Madura, batik tanjungbumi bisa dikenali dari keunikan motif. Warnanya pun khas batik pesisir: merah, hijau, dan biru mencolok dengan mempertahankan teknik kuno yang dikerjakan tidak terburu-buru, tetapi sangat kosmopolitan.

Menunggu suaminya, Hasip (55), melaut, Raudah (50) mengisi waktu dengan membatik. Biasanya, Hasip melaut selama beberapa pekan mengangkut sapi dari Pelabuhan Tanjung Biru ke beberapa pulau, seperti Kalimantan. Ketika perdagangan antarpulau mencapai puncak kejayaannya, Hasip bisa berbulan-bulan berlayar membawa kayu. "Sambil menunggu suami melaut, enakan membatik, dapat uang. Juga jadi pengobat rindu," kata Raudah.

Selama menanti suami melaut itu, perempuan Tanjungbumi berkreasi dengan canting di tangan. Semua pembatik di Tanjungbumi adalah perempuan yang umumnya memang istri pelaut. Dari kerinduan mereka kepada suami, tertoreh motif-motif klasik batik. Salah satu motif paling populer adalah tase' malajhe. Tase' berarti laut sehingga tase' malajhe bisa diterjemahkan melaut. Pada motif tase' malajhe, pembatik Tanjungbumi melukis kelok-kelok seumpama ombak kecil di laut tenang.


CUACA BURUK

SAR Ingatkan Gelombang Tinggi


YOGYAKARTA, KOMPAS — Cuaca buruk yang mengakibatkan ombak tinggi melanda perairan sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta. Wisatawan yang berkunjung ke pantai diminta mewaspadai adanya ombak yang menguat karena tingginya gelombang di tengah laut.

Gelombang tinggi air laut itu antara lain tampak di sekitar pantai di Kabupaten Gunung Kidul, DIY. ”Dua hari terakhir ini, tinggi gelombang bisa mencapai 12 feet (3,6 meter),” kata Koordinator Search and Rescue (SAR) Satuan Perlindungan Masyarakat Wilayah II Pantai Baron, Gunung Kidul, Marjono, Sabtu (28/5), saat dihubungi dari Yogyakarta.

Seperti diberitakan, cuaca buruk di perairan DIY terjadi sejak awal pekan ini. Selain menyebabkan nelayan di DIY tak bisa melaut, ombak tinggi juga mengakibatkan rusaknya sejumlah kapal nelayan yang tengah sandar di pantai. Pada Selasa (24/5), sedikitnya 16 perahu nelayan rusak dan 60 jaring hilang akibat empasan gelombang pasang air laut (Kompas, 26/5/2016).


PELUNCURAN BUKU

Indonesia Butuh Teladan Widjojo


JAKARTA, KOMPAS — Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan teladan dan inspirasi dari sosok ekonom berpengaruh sekelas Widjojo Nitisastro. Indonesia adalah negara dengan potensi besar, tetapi bermasalah dalam hal kebijakan-kebijakan, khususnya di sektor ekonomi.

Demikian dikatakan Jusuf Kalla saat memberikan sambutan dalam peluncuran buku berjudul Widjojo Nitisastro: Panditaning Para Raja, Sabtu (28/5), di Jakarta. Peluncuran buku yang ditulis putri almarhum Widjojo, yakni Widjajalaksmi Kusumaningsih, tersebut dihadiri sejumlah pejabat dan ekonom, seperti mantan Wakil Presiden Boediono, Menteri Keuangan Bambang PS Brodjonegoro, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Sofyan A Djalil, dan sejumlah sahabat Widjojo, yakni Emil Salim (Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup 1983-1993) dan Subroto (Menteri Pertambangan dan Energi 1978-1988).

Kalla mengenang kembali tatkala hendak menyusun kabinet untuk bidang ekonomi di era pemerintah sekarang. Saat berbicara dengan Joko Widodo, presiden terpilih saat itu, ia diminta pendapatnya untuk mencarikan ekonom berpengaruh sekelas Widjojo Nitisastro.

Saturday, May 28, 2016

Kompas Edisi Sabtu 28 Mei 2016

Kompas Edisi Sabtu 28 Mei 2016
Kompas Edisi Sabtu 28 Mei 2016

RI Siap Jadi Pelopor di Asia

Pertumbuhan Ekonomi Global Jadi Prioritas Mendesak Kelompok G-7


ISE-SHIMA, JUMATPresiden Joko Widodo mengatakan, tatanan dunia kini sudah berubah dengan munculnya negara-negara berkembang, seperti Indonesia. Keberadaan Indonesia dilihat oleh negara-negara maju sebagai motor penggerak untuk stabilitas dan kesejahteraan ekonomi kawasan Asia.

 Saat menjawab pertanyaan pers, seusai diundang untuk berbicara dalam Konferensi Tingkat Tinggi G-7 di Ise-Shima, Jepang, Jumat (27/5), Presiden Jokowi mengatakan, sebagai penggerak stabilitas dan kesejahteraan ekonomi, Indonesia memiliki kesempatan membangun kepercayaan untuk mendorong masuknya investasi ke Tanah Air sebanyak-banyaknya dalam bidang infrastruktur dan perdagangan.

”Oleh karena itu, kedatangan kita di G-7 adalah untuk membangun sebuah kepercayaan. Kita dilihat serta diuji oleh negara-negara yang lain, terutama untuk pembangunan infrastruktur yang berkualitas, selain harus dapat mengarahkan pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Presiden.


FINAL LIGA CHAMPIONS

Hantu "El Pupas" di Derbi Madrid


MILAN, JUMAT — Final Liga Champions antara Real Madrid dan Atletico Madrid, Minggu (29/5), pukul 01.45 WIB, akan menjadi panggung kesenjangan status kedua tim sekota itu. Jika Real dijuluki "Raja Eropa" dengan koleksi 10 trofi Liga Champions, Atletico justru identik dengan status tim "terkutuk" di Benua Biru. Atletico bertekad mematahkan kutukan "El Pupas" itu di Stadion San Siro, Milan, Italia.

Sebelum memasuki dekade ini, Atletico kerap menjadi sasaran olok-olok suporter El Real. Pendukung fanatik "Los Blancos", bahkan pernah memasang poster sarkastik "Kami mendamba rival seimbang untuk derbi yang lebih laik" di derbi Madrid 2012.

Sebelum itu, Atletico memang tim yang inferior ketimbang Real. Los Blancos selalu menang dalam sembilan derbi Madrid sebelum kehadiran Diego Simeone di Vicente Calderon pada paruh musim 2011/2012.


SELISIK BATIK HARIAN "KOMPAS"

Kisah Jaya Lembaran Batik


Lembaran batik menyimpan kisah tentang manusia, lingkungan, tradisi, juga sejarah sebuah komoditas yang pernah berjaya ratusan tahun lalu. Ibarat proses lorod yang meluruhkan malam perintang warna dan mengungkap motif di baliknya, Selisik Batik Kompas ingin pula menyingkap cerita di balik batik.

i Pasar Pamekasan, Madura, Jawa Timur, kain batik beragam warna bertumpuk tinggi. Sebagian dibiarkan bergantungan menghias pasar yang sesak. Ratusan perajin menghuni 52 kios dan lebih dari 270 los lesehan. Sesekali terdengar suara, "Mencari batik seperti apa?" dari penjual.

Ya, ingin mencari batik seperti apa? Di pasar itu saja batik menggunung dengan beragam warna dan ragam hias, apalagi berbicara batik di Indonesia. Variasi batik (teknik membuat ragam hias dengan menera malam untuk merintang warna) tak lepas dari perjalanan panjang batik.