Thursday, May 26, 2016

Kompas Edisi Kamis 26 Mei 2016

Kompas Edisi Kamis 26 Mei 2016
Kompas Edisi Kamis 26 Mei 2016

Pemerkosa Dipidana Mati

Presiden Tanda Tangani Perppu Perlindungan Anak


JAKARTA, KOMPAS — Untuk mencegah terulangnya kekerasan seksual terhadap anak, pemerintah menerapkan hukuman terberat terhadap para pelaku. Hukuman itu berupa pidana mati ditambah pengumuman identitas pelaku, kebiri kimia, dan pemasangan alat pendeteksi elektronik.

 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang baru ditandatangani Presiden Joko Widodo, di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (25/5), merupakan upaya untuk mengatasi kegentingan akibat maraknya kekerasan seksual terhadap anak.

”Kejahatan ini mengancam dan membahayakan jiwa anak. Kejahatan ini juga merusak kehidupan pribadi dan pertumbuhan anak. Kejahatan seksual sudah mengganggu rasa kenyamanan, keamanan, dan ketertiban masyarakat,” kata Presiden Jokowi, di Istana Negara, Jakarta, Rabu sore.


ERUPSI GUNUNG SINABUNG

Warga Nekat Bertahan di Zona Merah


KABANJAHE, KOMPAS — Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, hingga Rabu (25/5), tetap tinggi. Meskipun hampir setiap hari terjadi erupsi, yang diikuti ancaman awan panas guguran, lava pijar, jatuhan material vulkanik berupa batuan kecil, dan abu pekat, masyarakat tetap nekat bertani di zona merah.

"Masyarakat harus ingat, status Gunung Sinabung masih Awas. Erupsi bisa terjadi kapan pun. Selain itu, ada juga ancaman sekunder dari lahar dingin yang bisa meluncur sewaktu-waktu saat hujan mengguyur. Masih ada sekitar 50 juta meter kubik material hasil erupsi di lereng gunung," kata Ketua Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung Armen Putra, Rabu, di Karo.

Pantauan dari pos pengamatan, pada Rabu hingga pukul 18.30, Gunung Sinabung lima kali erupsi, dua di antaranya disertai awan panas guguran yang terjadi pada pukul 10.09 dan 14.25 dengan jarak luncur masing-masing sejauh 700 meter dan 2.000 meter dari puncak gunung.


KEHIDUPAN NELAYAN

Memperbaiki Lingkungan, Memperbaiki Hidup


Setelah ikan semakin sulit dicari, nelayan di Pantai Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur, akhirnya menyadari kesalahan mereka selama ini. Dari semula abai lingkungan, kini mereka aktif menjaga kehidupan laut.

Ini semacam penebusan dosa. Kami dulu merusak laut dengan potas atau racun agar mudah menangkap ikan. Sekarang, kami bergiat di konservasi dan datang ke sekolah- sekolah untuk menjalankan pendidikan kebaharian," tutur Sukirno (41), seorang nelayan di Bangsring, Banyuwangi.

Menurut Sukirno, berpuluh-puluh tahun silam, saat dirinya masih kecil, nelayan sangat mudah menangkap ikan. Namun, lama-kelamaan, akibat penggunaan potas atau racun, terumbu karang rusak dan ikan menjadi sulit didapat.

No comments:

Post a Comment