Monday, May 9, 2016

Kompas Edisi Senin 9 Mei 2016

Kompas Edisi Senin 9 Mei 2016

Fakultas Kedokteran Diumbar

45 Persen Berakreditasi C


JAKARTA, KOMPAS — Menjelang tahun ajaran baru, pemerintah membuka delapan fakultas kedokteran baru. Dengan demikian, kini ada 83 fakultas kedokteran, dan 45 persennya berakreditasi C. Kondisi itu mengancam mutu lulusan. Padahal, mereka bertanggung jawab atas nyawa dan kesehatan warga.

Penelusuran Kompas selama sepekan hingga Sabtu (7/5) menunjukkan banyak masalah yang dihadapi fakultas kedokteran (FK) negeri dan swasta akreditasi C di sejumlah daerah. Kendala terbesar ialah keterbatasan jumlah dosen dan sulitnya memiliki rumah sakit pendidikan tempat sarjana kedokteran menjalani pendidikan profesi dokter.

Sebagai contoh, FK Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Papua, hanya mempunyai 17 dosen tetap, sedangkan 20 dosen lainnya menempuh pendidikan lanjutan. Padahal, fakultas itu mempunyai 1.557 mahasiswa.


UANG PENGGANTI

Samadikun Harus Bayar Sesuai Kurs


JAKARTA, KOMPAS — Kejaksaan Agung masih bernegosiasi dengan keluarga terpidana korupsi dana Bantuan Likuiditas Bank Indonesia, Samadikun Hartono, terkait pembayaran uang pengganti kerugian negara. Selaku eksekutor putusan pengadilan dan pengacara negara, Kejaksaan Agung berhak menggugat pengembalian bunga dari uang yang dikorupsi Samadikun.

Selain mengganti uang negara Rp 169 miliar sesuai putusan Mahkamah Agung, Samadikun seharusnya membayar kerugian negara sesuai dengan kurs mata uang terakhir sejak ia membawa lari uang negara 13 tahun silam.

"Dalam pembicaraan terakhir ada permintaan dari Samadikun dan keluarganya untuk membayar uang pengganti itu dengan cara dicicil atau diangsur. Namun, semua masih dibicarakan dengan Samadikun dan keluarganya," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Arminsyah di Jakarta, Minggu (8/5).


PENDIDIKAN TINGGI

Pencetak Dokter yang Sarat Masalah


Sebanyak 260 mahasiswa memadati satu ruang kelas di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, Selasa (3/5). Suasana itu lebih mirip seminar daripada perkuliahan. Ini dampak berlebihnya jumlah mahasiswa baru yang diterima Fakultas Kedokteran Uncen beberapa tahun belakangan.

Mahasiswa tak bisa menyembunyikan rasa gerah selama kuliah. Penyejuk ruangan yang terpasang tidak mampu membuat udara dalam kelas jadi nyaman untuk belajar. Sebagian mahasiswa mengibas-ngibaskan kertas, buku, ataupun barang lain untuk mengusir panas. Namun, mereka tetap tenang dan memperhatikan penjelasan dokter Astrina, sang dosen.

Beruntung, ruang kuliah dilengkapi pelantang suara nirkabel sehingga Astrina tidak perlu berteriak agar suaranya terdengar hingga mahasiswa di pojok belakang, 15 meter jauhnya. Selain itu, ada tiga proyektor agar materi kuliah Histologi 2 yang ditampilkan bisa dilihat mahasiswa dengan jelas. Hari itu, Astrina memberi kuliah Histologi 2 bagi 400-an mahasiswa.