Tuesday, December 1, 2015

Kompas Edisi Selasa 1 Desember 2015

Kompas Edisi Selasa 1 Desember 2015

Dunia Bicarakan Masa Depan Iklim

Indonesia Bawa 60 Negosiator


PARIS, KOMPAS — Delegasi dari 195 negara, termasuk Indonesia, menghadiri pertemuan tahunan Konferensi Perubahan Iklim, di Paris, Perancis, 30 November-11 Desember 2015. Dunia berjuang menjaga kenaikan suhu Bumi tak lebih dari 2 derajat celsius sejak Revolusi Industri, 1850.

Pertemuan Para Pihak (COP) Ke-21 Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC) kali ini amat menentukan. Di akhir konferensi yang dijaga ketat tentara dan polisi itu ditargetkan kesepakatan baru yang mengikat secara universal: penurunan emisi karbon dari 195 negara anggota UNFCCC.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, saat pidato pembukaan di Paris, Senin (30/11), menegaskan, ”Ini saatnya titik balik pembangunan rendah karbon, masa depan dunia yang tahan terhadap perubahan iklim.” Itu disampaikannya di hadapan 147 kepala negara dan pemerintahan yang diberi waktu pidato masing-masing 3 menit, termasuk Presiden Joko Widodo.


Daya Saing

Gas Mahal, Industri di Sumut Ambruk


MEDAN, KOMPAS — Komitmen Presiden Joko Widodo untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah industri nasional melalui strategi hilirisasi industri tidak didukung oleh pelaku di sektor hulu. Terbukti, sampai kini, 53 perusahaan manufaktur di sektor hilir di Sumatera Utara yang berbahan baku gas harus kehilangan daya saing karena mahalnya harga jual gas.

Harga gas hasil kesepakatan PT Perusahaan Gas Negara dan PT Pertamina Gas di Sumut masih 12,22 dollar AS per juta metrik british thermal unit (MMBTU). Harga jual semahal itu pun sudah diturunkan 1,64 dollar AS per MMBTU dari harga semula 13,86 dollar AS per MMBTU.

Kesepakatan harga itu diambil setelah kalangan industri melakukan protes dan baru akan berlaku pada 10 Desember 2015. Padahal, dari 53 industri itu, sedikitnya ada 100.000 pekerja yang terlibat di dalamnya.


REKLAMASI

Luka Mustaya yang Tak Kunjung Kering


Sejak peristiwa 2 September 2012, Mustaya (38) dan keluarga selalu curiga kepada setiap orang yang datang menanyakan kisahnya. Cerita tentang protes nelayan atas penambangan pasir laut itu berujung luka. Ada sisa nyeri akibat luka di paha kanan Mustaya. Tak hanya itu, dia pun trauma.

Di Desa Lontar, sekitar 20 kilometer utara pusat Kabupaten Serang, Banten, Kamis (19/11) siang, beberapa pria bercengkerama di dekat perahu nelayan yang tengah diperbaiki. Di sudut lain, warga menjahit jala.

Memasuki lorong kampung, Marini (35), istri Mustaya, berdiri di toko kelontong yang ia bangun di beranda rumah di RT 018, RW 004, Desa Lontar. Di sana, Marini menjual minuman kemasan, mi instan, juga gorengan. Toko ini menjadi sumber penghasilan utama keluarga setelah Mustaya jarang melaut.

”Melaut hanya sesekali ketika memang tidak ada kerjaan lain. Kakinya masih sering nyeri,” kata ibu dua anak ini.