Tuesday, December 15, 2015

Kompas Edisi Selasa 15 Desember 2015

Kompas Edisi Selasa 15 Desember 2015

Riza Chalid Tidak Tersentuh

Luhut: Beliau Punya Pengaruh


JAKARTA, KOMPAS — Pengusaha Muhammad Riza Chalid, Senin (14/12), untuk kedua kalinya tidak memenuhi panggilan Mahkamah Kehormatan Dewan untuk memberikan keterangan terkait dugaan pelanggaran etika yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto. Dia tidak hadir tanpa memberi alasan.

Sebelumnya, MKD telah memanggil Riza Chalid pada 3 Desember lalu.

Setelah dua kali gagal menghadirkan Riza Chalid, sidang pleno MKD semalam memutuskan tidak lagi memanggilnya. Fakta yang diperoleh dalam empat persidangan MKD dinilai sudah cukup untuk membuat kesimpulan dalam perkara ini.

Empat persidangan yang dimaksud adalah yang menghadirkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (FI) Maroef Sjamsoeddin, Novanto, serta Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan.


MASYARAKAT EKONOMI ASEAN

Baru Tenaga Wisata yang Memenuhi Standar ASEAN


JAKARTA, KOMPAS — Menjelang pembukaan Masyarakat Ekonomi ASEAN, baru tenaga pariwisata serta tenaga komunikasi dan informatika yang sudah mempunyai standar kompetensi kerja nasional Indonesia lengkap. Dari dua profesi itu, baru profesi bidang pariwisata yang memiliki standar pengakuan tingkat ASEAN.

Kondisi ini terjadi beberapa hari menjelang pembukaan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), 31 Desember 2015. Kompas menemui dan menghubungi beberapa pihak sejak pekan lalu hingga Senin (14/12) untuk menanyakan kesiapan terkait MEA.

Hasil survei Litbang Kompas pada awal November dengan 582 responden di 12 kota besar menunjukkan, tiga profesi yang menurut publik bisa bersaing di pasar MEA adalah insinyur, arsitek, dan tenaga pariwisata.


REGENERASI PENELITI

Generasi Muda Cerahkan Masa Depan


Peneliti muda Indonesia mulai unjuk gigi. Bersama para seniornya, karya mereka ditunggu mencerahkan masa depan teknologi republik ini.

Saat tubuh besar pesawat N219 keluar dari salah satu hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Kamis (10/12), haru menyelimuti diri Ismawan Agustiman (30). Air matanya menetes saat lagu ”Gebyar-gebyar” milik Gombloh dinyanyikan mengiringi langkah N219. Kendati pernah terlibat dalam beberapa proyek pembuatan komponen pesawat terbang, N219 adalah pesawat karya pertamanya sebagai karyawan PT DI.

N219 diproyeksikan PT DI sebagai awal masa depan industri penerbangan nasional. Ada 350 peneliti yang terlibat mendandani pesawat 19 penumpang ini. Sebanyak 150 orang di antaranya peneliti muda berusia tak lebih dari 30 tahun. ”Kehormatan besar ikut mewujudkan pesawat nasional pertama Indonesia ini mengudara,” kata Ismawan, yang juga peneliti PT DI.