Wednesday, December 23, 2015

Kompas Edisi Rabu 23 Desember 2015

Kompas Edisi Rabu 23 Desember 2015

Saatnya Rayakan Pluralisme

Tak Hanya Wacana, Masyarakat Mempraktikkan Toleransi


JAKARTA, KOMPAS — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1437 Hijriah dan perayaan Natal 2015 yang hampir bersamaan menjadi momentum meneguhkan kembali semangat persaudaraan. Inilah saatnya merayakan keberagaman yang menjadi pengikat sosial kebangsaan Indonesia.

Ikatan sosial dari keberagaman suku, agama, ras, dan golongan harus tetap dipertahankan untuk menjaga kelangsungan Indonesia. Demikian benang merah pendapat Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Ignatius Suharyo, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) Pendeta Henriette TH Lebang, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Umum Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Kiai Haji Said Aqil Siroj, Ketua Bidang Kerukunan Umat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Yusnar Yusuf, dan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia Suhadi Sendjaja yang ditemui dan dihubungi terpisah pada Selasa (22/12).

Said mengatakan, pada hakikatnya perbedaan merupakan hal lumrah di Indonesia. Justru karena perbedaan itulah Indonesia lahir dan terus bertahan hingga saat ini. "Untuk itu, tidak ada alasan kita mempermasalahkan perbedaan itu," ujarnya.


RENUNGAN NATAL

Natal, Kekuasaan, dan Teror


Tujuh puluh tahun lalu (1945), Perang Dunia II berakhir. Auschwitz, kota kecil nan permai di wilayah Jerman saat itu (sekarang: Osswiec?im, di Polandia), mendadak memicu kengerian dan kegeraman. Pasalnya, di Auschwitz, terdapat kamp konsentrasi besar, tempat terjadinya pemusnahan sekitar 1,5 juta orang Yahudi dan musuh ideologi Nazisme.

Kebrutalan dan kekejian yang berlangsung di sana menjadikan Auschwitz simbol untuk teror superlatif dan pabrik kematian ciptaan masyarakat modern. Hasilnya adalah ”barbarisme baru”, demikian sebutan Adorno dan Horkheimer, dua pemikir kondang dari mazhab Frankfurt pada 1950-an, untuk sebuah anti kultur rancangan kaum Nazis.

Hilangnya banyak nyawa akibat perendahan orang hingga setaraf barang membuat Auschwitz menjadi kenangan akan nihilisme tanpa tara. Dikonfrontasikan dengan pengalaman negatif ini, pada 1970-an ada tanda tanya besar, masih mungkinkah kita bicara tentang Tuhan yang Maharahim, dan kodrat metafisik manusia yang konon bersifat baik, setelah tragedi itu (Theology After Auschwitz)?


LAPORAN BIDANG INTERNASIONAL

Radikalisme dan Ancaman Teror Meluas


Mantra lama Fluctuat nec mergitur tiba-tiba kembali melayang di atas Paris, kota yang diasosiasikan sebagai cinta, cahaya, dan makanan itu, pasca serangan brutal teroris pada 13 November. Paris diguncang teror, tetapi tak bisa ditenggelamkan dalam ketakutan, apalagi kekalahan melawan terorisme, setelah rangkaian serangan orang-orang bersenjata yang mengakibatkan sedikitnya 130 orang tewas itu.

Dunia terenyak, bukan semata karena jumlah korban yang terbilang besar, melainkan juga karena terorisme terjadi di salah satu pusat peradaban Eropa dengan fokus serangan pada lambang-lambang kedamaian. Serangan yang diklaim dilakukan oleh milisi Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) itu kemudian meledakkan respons yang luas di seluruh dunia.

Gema serangan Paris yang membahana melirihkan bunyi dentuman bom yang sehari sebelumnya menggetarkan Beirut akibat serangan kelompok NIIS, yang mengakibatkan 40 orang tewas. Beberapa waktu sebelumnya, pesawat komersial Rusia yang terbang dari Sharm el-Sheikh di Mesir menuju St Petersburg, Rusia, jatuh di Gurun Sinai, Mesir, dengan korban 224 orang. Pesawat ini juga diklaim disabotase oleh milisi NIIS.