Thursday, December 17, 2015

Kompas Edisi Kamis 17 Desember 2015

Kompas Edisi Kamis 16 Desember 2015

Kemenangan Suara Rakyat

Novanto Mundur sebagai Ketua DPR, Sidang MKD Ditutup


JAKARTA, KOMPAS — Keputusan Setya Novanto untuk mundur dari jabatannya sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat merupakan kemenangan dari rakyat yang menghendaki DPR bermoral dan berintegritas. Peristiwa ini juga menjadi peringatan bagi seluruh wakil rakyat untuk jangan pernah mempermainkan mandat rakyat yang mereka wakili.

Surat pengunduran diri Novanto sebagai Ketua DPR dibacakan oleh Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) Sufmi Dasco Ahmad, Rabu (16/12) malam. Dasco menyebutkan menerima surat itu langsung dari Novanto.

Pengunduran diri Novanto itu langsung menjadi perbincangan publik. Pada pukul 21.15, kata kunci "Setya Novanto" menjadi topik terhangat Twitter di Indonesia. Kata kunci itu menggantikan beberapa kata kunci dan tagar yang sempat masuk dalam 10 besar topik terhangat Twitter di Indonesia.


PRODUK MODE

Memahami Gaya dan Kebutuhan Warga Kota


Baju batik sudah jamak digunakan orang di mana pun. Namun, saat batik diterjemahkan menjadi pakaian yang modern dan modis, hasilnya akan menjadi unik dan menarik. Tafsir ulang atas pakaian ini pun mengikuti dinamika masyarakat urban atau perkotaan.

Redefinisi batik ini dilakukan Purana RTW, merek lokal yang menggunakan batik sebagai ciri khas motifnya. Nonita Respati, pemilik dan desainer Purana RTW, mengatakan, teknik membatik yang digoreskan pada pakaian ini merupakan teknik lawas. Begitu pula dengan teknik jumputan.

Meskipun memakai teknik lawas, motif batik pada busana ini merupakan versi baru yang didesain langsung oleh tim Purana RTW. Begitu pula model pakaian yang modern.


CATATAN BIDANG PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Revolusi Mental Baru Sekadar Mantra


Revolusi mental merupakan salah satu "mantra" kepemimpinan Presiden Joko Widodo. Dengan memperbaiki mental buruk, ada harapan bangsa Indonesia bakal lebih baik dan maju dalam berbagai bidang kehidupan. Namun, sepanjang 2015, revolusi itu belum terasa nyata.

"Proposal" revolusi mental Joko Widodo berangkat dari pemikiran kritis melihat situasi bangsa. Menengok ke belakang, pada harian Kompas, Sabtu, 10 Mei 2014, Jokowi menulis artikel berjudul "Revolusi Mental". Reformasi tahun 1998 dinilai baru sebatas merombak institusi. Mental yang subur dalam masa represif Orde Baru, seperti korupsi, intoleransi terhadap perbedaan, kerakusan, ingin menang sendiri, kecenderungan kekerasan dalam memecahkan masalah, pelecehan hukum, dan sifat oportunis, masih berlangsung.

Wujud revolusi mental dikemas dalam tiga nilai. Pertama, integritas dengan turunannya, yaitu jujur, dipercaya, berkarakter, dan tanggung jawab. Kedua, etos kerja, yakni berdaya saing, optimistis, inovatif, dan produktif. Ketiga, gotong royong, yaitu kerja sama, solidaritas, komunal, dan berorientasi kemaslahatan. Intinya, gerakan hidup baru yang merupakan perubahan cara pandang, pikir, dan kerja. Di tengah rimba indikator pertumbuhan ekonomi dan fisik, gerakan revolusi mental menghadirkan wajah manusia dalam pembangunan.