Wednesday, December 16, 2015

Kompas Edisi Rabu 16 Desember 2015

Kompas Edisi Rabu 16 Desember 2015

Dengarkan Suara Rakyat

Perkara Setya Novanto Pertaruhkan Kredibilitas DPR


JAKARTA, KOMPAS — Masyarakat mengetuk nurani Mahkamah Kehormatan Dewan yang pada Rabu (16/12) ini akan memutus perkara dugaan pelanggaran etika yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto. Rakyat masih berharap para anggota MKD berpikir jernih dan menjunjung tinggi akal sehat.

Keputusan terkait perkara Novanto akan diambil dalam sidang pleno MKD yang menurut rencana berlangsung tertutup. Jika akhirnya dia dinyatakan melanggar, 17 anggota MKD akan menentukan sanksi untuk Novanto.

Menyambut keputusan itu, beredar sejumlah skenario, seperti MKD akan memutuskan tak ada pelanggaran etika oleh Novanto atau sebaliknya,

Terkait hal ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj mengingatkan, dari rekaman pembicaraan antara Novanto, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, dan pengusaha Muhammad Riza Chalid, masyarakat sudah dapat memahami yang terjadi dalam perkara itu.


PENYEBARAN HEPATITIS A

Mempersoalkan Kembali Kesadaran Kebersihan


Menjelang pukul 13.00, Senin (14/12), di kantin belakang Agrimart di Kampus Dramaga Institut Pertanian Bogor. Berbagai macam masakan yang disajikan di meja prasmanan begitu menggoda dan membuat perut lapar bergejolak.

Para mahasiswa terlihat lahap menyantap makan siang sebelum mengikuti mata kuliah selanjutnya. Ada yang asyik dengan menu nasi, ayam goreng, dan es teh manis. Ada yang melahap gado-gado, karedok, lontong sayur, sate, dan mi. Ada pula yang membawa nasi sendiri sehingga hanya membeli oseng kangkung serta tahu dan tempe bacem.

Tak tampak kesan cemas di wajah mereka. Mereka makan dengan lahap diselingi canda dan obrolan. Maraknya berita virus hepatitis A yang menulari lebih dari 30 mahasiswa IPB seperti tak merisaukan mereka.



CATATAN BIDANG EKONOMI

Optimisme di Tengah Sejumlah Masalah Berat


Pada akhir tahun ini, Masyarakat Ekonomi ASEAN segera dibuka. Tantangan dan peluang baru pasti muncul. Menjelang tahun baru, kita bisa melihat perkembangan pembangunan infrastruktur yang menunjukkan perbaikan di berbagai tempat dan upaya perbaikan iklim investasi. Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang menurun, nilai tukar yang melemah, hingga ketimpangan ekonomi yang masih lebar.

Warna-warni itulah yang akan ditemui ketika kita memasuki 2016. Ada optimisme menyongsong tahun baru, tetapi ada juga beban yang masih harus dipikul. Semangat optimisme sudah ditiupkan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Presiden mengajak bangsa Indonesia untuk berani berkompetisi ketika pasar dibuka, salah satunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pernyataan ini disambut karena pada kenyataannya sejumlah korporasi Indonesia sudah siap bersaing. Anak-anak muda yang menguasai teknologi digital juga tak kalah bersemangat menyambut ajakan Presiden.

Ajakan itu juga memperjelas keyakinan berbagai kalangan tentang sikap Indonesia memasuki MEA. Keraguan dan ketakutan terhadap pembukaan pasar bukan lagi sesuatu yang perlu muncul. Meski demikian, Jokowi mengingatkan semua pihak untuk cerdik dan memantau kemungkinan pihak-pihak yang terdampak dengan pembukaan pasar.