Monday, December 28, 2015

Kompas Edisi Senin 28 Desember 2015

Kompas Edisi Senin 28 Desember 2015

Belanja dan Wisata Gairahkan Ekonomi

Penarikan Tunai Rp 80 Triliun


JAKARTA, KOMPAS — Antusiasme masyarakat dalam berbelanja dan berwisata pada libur akhir tahun ini menggairahkan perekonomian nasional. Masyarakat sudah makin yakin terhadap kondisi ekonomi sehingga tidak lagi terlalu menahan pengeluaran untuk berbelanja.

Peningkatan belanja masyarakat itu antara lain tecermin dari indikator kebutuhan uang untuk penarikan tunai sepanjang Desember ini yang diperkirakan mencapai Rp 80 triliun. Menurut data Bank Indonesia, jumlah ini naik dua kali lipat dari rata-rata penarikan uang tunai pada bulan biasa yang berkisar Rp 40 triliun.

Data Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) juga menunjukkan adanya kenaikan konsumsi sektor makanan dan minuman pada Desember ini, berkisar 20-30 persen dibandingkan dengan Oktober dan November.


KEMACETAN

Antrean Tol Picu Kemacetan


JAKARTA, KOMPAS — Gelombang pertama arus balik ke Jakarta pada liburan akhir tahun ini berlangsung pada Minggu (27/12), mulai pukul 15.00 hingga malam hari. Kepadatan arus kendaraan kali ini merupakan kombinasi dari antrean keluar gerbang tol dan pertemuan dua arus kendaraan dari Tol Cikopo-Palimanan dan Tol Cipularang di ruas simpang Dawuan.

Kepadatan arus kendaraan terjadi di Tol Cikampek arah Jakarta, mulai dari ruas Gerbang Tol Cikarang Utama di Kilometer 29, dan mengular sepanjang hampir 40 kilometer hingga persimpangan Dawuan di Kilometer 67 yang menjadi pertemuan arus kendaraan dari Tol Cikopo-Palimanan serta Tol Cipularang.

Dari persimpangan Dawuan, kemacetan pun masih mengular hingga di ruas Tol Cikopo-Palimanan dan Tol Cipularang, masing-masing sepanjang lebih dari 5 kilometer.


MUSEUM DESA

Merawat Peradaban dari Sudut Kampung


Saat ruang museum di kota-kota besar mulai ditinggalkan, berdebu, dan usang, mereka justru membangunnya di pelosok kampung. Semua bermula dari ikhtiar sederhana merawat jejak peradaban desa agar generasi muda tidak lupa dengan akarnya.

Satu menit berlalu, pandangan mata Irene Cahya (11) belum juga lepas dari wujud setrika besi dengan lambang ayam jago di atasnya. Siswi kelas VI SD itu terheran-heran oleh rupa setrika nirkabel warna hitam pekat itu. Walau tinggal di desa, dia belum pernah sekali pun melihat benda tersebut.

"Kalau enggak pakai kabel, listriknya masuk lewat mana, ya? Atau seperti HP (telepon seluler), kan di-charge dulu baru bisa dipakai?" kata Irene penasaran kepada teman-teman kelasnya yang lain.