Sunday, December 13, 2015

Kompas Edisi Minggu 13 Desember 2015

Harkat MKD Tercoreng

Tiga Anggota Ditengarai Langgar Etika


JAKARTA, KOMPAS —Mahkamah Kehormatan Dewan adalah alatkelengkapan DPR yang berfungsi menjaga dan menegakkan kehormatan dan keluhuran martabat DPR. Namun, dalam menangani pengaduan kasus pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden, anggota MKD belum menunjukkan hal itu. Pada Senin (14/12), MKD menjadwalkan sidang lanjutan untuk meminta keterangan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan sebagai saksi dalam kasus ini dengan teradu Ketua DPR Setya Novanto.

Namun, Jumat lalu, tiga anggota MKD dari Fraksi PartaiGolkar justru menghadiri jumpa pers Luhut. MKD akan meminta klarifikasi karena ketiganya diduga telah melanggar etika. Mereka adalah Wakil Ketua MKD Kahar Muzakir serta anggota MKD, Ridwan Bae dan Adies Kadir.

Anggota MKD dari Fraksi Partai Hati Nurani Rakyat, Sarifudin Sudding, Sabtu, mengingatkan, Pasal 11 Peraturan DPR Nomor 1 Tahun 2015 tentang Kode Etik DPR menyatakan, dalam melaksanakan fungsi, tugas, dan wewenang, anggota MKD harus bersikap independen dan bebas dari pengaruh fraksinya atau pihak lain.



KONFERENSI PERUBAHAN IKLIM

Dunia Belum Bersatu Menyikapi Ancaman


PARIS, SABTU — Konferensi Perubahan Iklim 2015 telah mundur sehari dari jadwal penutupan setelah dua pekan sidang di Paris, Perancis. Namun, utusan 196 negara peserta masih bertahan pada sikap masing-masing terkait tanggung jawab menurunkan emisi global penyebab pemanasan global.

Para tokoh sidang dari negara-negara kunci, seperti Perancis dan Amerika Serikat, sepakat bahwa Pertemuan Para Pihak Ke-21 (COP 21) kali ini merupakan "momen bersejarah" dan "titik balik" bagi dunia-diwakili para utusan negara. Meski demikian, hingga Sabtu malam waktu Indonesia barat, draf Kesepakatan Paris masih menjadi bahasan alot konferensi.

"Kesepakatan yang menentukan bagi planet ini adalah di sini dan sekarang," kata Presiden Perancis Francois Hollande dalam pertemuan tingkat menteri di Le Bourget, Paris, kemarin. Ia mengajak para menteri dari sejumlah negara mengambil langkah "menentukan" dalam peristiwa yang ia sebut "bersejarah" tersebut.


KESENIAN

Daya Hidup Rakyat di Ketoprak Dor



Menonton pentas ketoprak dor di Medan, Sumatera Utara, kita menyaksikan daya hidup rakyat. Kehidupan yang keras disikapi dengan kesenian. Keberagaman budaya di tanah Deli diakomodasikan dalam seni pertunjukan. Melayu, Tionghoa, India, dan Jawa melebur dalam ketoprak dor.

Sekitar 500 warga berkumpul di perempatan Jalan Kawat V, Kelurahan Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli, Medan, Sabtu malam, awal November lalu. Sebelum maghrib, warga telah berkumpul meskipun pergelaran ketoprak dor baru dimulai selepas isya atau sekitar pukul 20.00. Anak-anak hingga orang tua usia 60-an tahun tumpah ruah.

"Sudah lama saya tidak menonton ketoprak dor. Jadi, malam ini harus menonton," kata Ramli (52) yang mengajak dua cucunya.

Malam itu, 36 pemain ketoprak manggung selama hampir tujuh jam dengan lakon Joko Purnomo Kembar. Lakon bercerita tentang perjuangan dan kesetiaan. Pertunjukan berlangsung sederhana. Meskipun tidak semua pemain hafal dialog, penonton tidak mempermasalahkan hal itu. "Terus aku ngomongopo, yo. Aku lupa. Aku sebagai apa, sih? Ya, maklum, wong gak ikut latihan," kata seorang pemain yang disambut tertawa penonton.