Friday, December 4, 2015

Kompas Edisi Jumat 4 Desember 2015

Kompas Edisi Jumat 4 Desember 2015

Wapres: Ini Puncak Gunung Es

Pertanyaan Sejumlah Anggota MKD Mengada-ada dan Keluar Konteks


JAKARTA, KOMPAS — Isi rekaman pembicaraan yang diperdengarkan di Mahkamah Kehormatan Dewan hanya bagian dari puncak gunung es persoalan. Masih banyak hal yang belum diketahui dalam percakapan yang membicarakan perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia.

Percakapan dalam rekaman itu, menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, juga menggambarkan bahwa korupsi masih menjadi persoalan pelik di Indonesia.

”Presiden dan saya, setelah mendengarkan semua itu, bertekad membersihkan korupsi apa pun yang terjadi. Kita tidak akan jalan mundur untuk memperbaiki negara ini,” kata Kalla, Kamis (3/12), di Jakarta.


KECELAKAAN

Tol Cipali Telan Korban Lagi, 11 Orang Tewas


CIREBON, KOMPAS — Atap minibus Isuzu Elf bernomor polisi B 8378 OU tersingkap separuh dan ringsek di bagian samping kiri. Jok minibus penuh noda darah, ceceran makanan, dan tumpukan barang penumpang setelah kecelakaan di Jalan Tol Cikopo-Palimanan, Jawa Barat.

Kecelakaan yang terjadi pada Kamis (3/12) sekitar pukul 04.30 itu merenggut nyawa 11 pedagang kecil asal Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, penumpang minibus. Minibus itu diduga menabrak, dari belakang, kendaraan yang belum diketahui jenis dan nomor polisinya di Kilometer 136,900, wilayah Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu. Dari 19 penumpang minibus, 11 orang tewas, 5 orang luka berat, dan 3 orang luka ringan.

Menurut Kepala Desa Cibentang Nassim, 11 korban tewas adalah Sanumar (74), warga Desa Banjarsari; Dasyati, Bais (5), Asep Sulton (28), Agung (20), Rosikin (40), Wasiroh (38), Torikin (35), Paul (8), Waryati (36), dan Rojak (36) semuanya warga Desa Cibentang.


LEMBAGA KHATULISTIWA BERBAGI

Mereka Menyemai Asa Anak-anak Jalanan


Mahasiswa berprestasi akademik tinggi banyak ditemui, tetapi mungkin tidak banyak yang punya kepedulian sosial tinggi. Sekelompok remaja Pontianak, Kalimantan Barat, ini berbeda. Berprestasi secara akademik tak membuat mereka berpuas diri.

Melalui lembaga Khatulistiwa Berbagi, harapan 200 anak jalanan untuk mengenyam pendidikan yang nyaris sirna kini tumbuh kembali.

Salah satunya Endang Andriani (15). Siswa kelas VI lembaga Khatulistiwa Berbagi ini, suatu sore, berjalan tertatih-tatih dari halaman Khatulistiwa Berbagi sambil membawa tas. Dengan terengah-engah, ia menuju ruang kelas. Raut wajahnya mengisyaratkan lelah, keringat bercucuran. Kakinya masih banyak noda hitam berbalut sandal jepit lusuh.