Monday, December 14, 2015

Kompas Edisi Senin 14 Desember 2015

Kompas Edisi Senin 14 Desember 2015

Pemahaman tentang MEA Minim

Semangat Berkompetisi Kuat


JAKARTA, KOMPAS — Dalam hitungan hari, Masyarakat Ekonomi ASEAN segera dibuka. Namun, pemahaman masyarakat mengenai pembukaan pasar masih rendah. Masalah ini menjadi halangan internal. Pemerintah masih perlu menyosialisasikan soal Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Anak muda Indonesia mengaku siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Namun, mereka gemas lantaran informasi mengenai peta jalan dan tujuan bersama yang ditetapkan pemerintah terkait peluang ekonomi ini tidak cukup jelas.

Sejumlah pihak yang ditemui dan dihubungi sejak pekan lalu hingga Minggu (13/12) menyiratkan pemahaman yang minim tentang MEA. Meski demikian, mereka juga optimistis terhadap pembukaan MEA karena Indonesia bisa mencari peluang.



KONFERENSI PERUBAHAN IKLIM

Meski Tak Sempurna, Hasil Paris Modal Penyelamatan Bumi


PARIS, SABTU — Konferensi Perubahan Iklim Ke-21 di Paris, Perancis, yang berlangsung dua pekan terakhir menghasilkan beberapa kesepakatan yang mengikat 195 negara peserta. Salah satunya, setiap negara wajib berupaya menahan laju kenaikan suhu Bumi 2 derajat celsius atau diupayakan tak mencapai 1,5 derajat celsius.

"Saya melihat reaksi positif, tak ada keberatan. Karena itu, Kesepakatan Paris diterima," kata Presiden Konferensi Para Pihak Ke-21 (COP 21) Kerangka Kerja Konvensi PBB untuk Perubahan Iklim Laurent Fabius, disambut tepuk tangan meriah peserta konferensi, Sabtu (12/12) malam, pada penutupan COP 21 UNFCCC, di Paris.

Kesepakatan para pihak itu dicapai cukup alot hingga mundur sehari dari jadwal penutupan sidang. Salah satu isu krusial ialah penghentian penggunaan bahan bakar fosil.


PEMIMPIN DAERAH

Terkenal Saja Tidak Cukup


Penilaian sebagai sosok pekerja keras pada diri Tri Rismaharini, yang pada pilkada 9 Desember lalu berpasangan dengan Wisnu Sakti Buana, menjadi penentu kemenangannya. Berdasarkan hasil penghitungan sementara, pasangan ini memperoleh 83 persen suara, dan hanya kalah di kawasan eks lokalisasi Dolly.

"Hasilnya kerjanya jelas, hampir semua saluran air dilebarkan dan bebas sampah. Jalan alternatif ditambah sehingga tak lagi merasa tinggal di pinggiran, ke mana-mana banyak jalur pilihan. Ya, dilanjut saja," kata Erna Dukut (56), ibu rumah tangga yang tinggal di Gunung Anyar, Kota Surabaya.

Bahkan ketika Risma, begitu Tri Rismaharini biasa disapa, kembali ikut pilkada, dan muncul beberapa "penghadang" seperti dijadikan tersangka kasus Pasar Turi, Kebun Binatang Surabaya, dan gedung Siola, serta dituding tidak pro pengusaha, bahkan sempat tak punya pesaing, banyak warga yang cemas Risma tak bisa maju lagi.