Wednesday, August 31, 2016

Kompas Edisi Rabu 31 Agustus 2016

Kompas Edisi Rabu 31 Agustus 2016
Kompas Edisi Rabu 31 Agustus 2016

DPR Siap Ungkap SP3 di Riau

Polri Persilakan Menguji Lewat Praperadilan


JAKARTA, KOMPAS — Kepolisian Negara Republik Indonesia sejauh ini belum meninjau ulang terbitnya surat perintah penghentian penyidikan kasus kebakaran hutan 15 korporasi di Riau. Guna mendalami kasus itu, Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat resmi membentuk panitia kerja.

DPR membentuk panitia kerja di bawah Komisi III, secara umum, untuk mendalami kasus kebakaran hutan dan lahan. Namun, secara khusus, untuk mendalami pemberian SP3 tersebut.

"Ada motif apa di balik penghentian perkara itu," kata anggota Panja Kebakaran Hutan dan Lahan (Panja Karhutla) dari Fraksi PDI-P, Masinton Pasaribu, Selasa (30/8).


Pengampunan Pajak

Pemerintah Menyasar Wajib Pajak Besar


TANGERANG, KOMPAS — Presiden Joko Widodo mengatakan, pemerintah menjalankan program pengampunan pajak yang menyasar pembayar pajak besar yang masih menyimpan uang di luar negeri. Namun, masyarakat yang ingin menggunakan haknya mendapatkan pengampunan pajak juga dapat berpartisipasi.

Presiden berharap sejumlah isu miring terhadap program pengampunan pajak tidak semakin meluas. Menurut Presiden, pemerintah tengah berupaya meningkatkan pendapatan negara untuk mengatasi ketertinggalan pembangunan infrastruktur dasar, fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta meningkatkan akses konektivitas masyarakat di seluruh Indonesia.

"Tax amnesty ini sasarannya adalah pembayar-pembayar pajak besar, terutama yang menaruh uang di luar negeri. Pembayar pajak yang kecil juga bisa ikut. Ini adalah hak, bukan kewajiban," ujar Presiden Jokowi didampingi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Muliaman D Hadad seusai berbicara di Indonesia Fintech Festival and Conference 2016 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) Bumi Serpong Damai, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (30/8).


LINGKUNGAN

Kisah Para Jawara Penjaga Kali


Ketika hutan di Indonesia terus menyusut, mendapati oase kawasan hijau di perkotaan merupakan sebuah anugerah tak ternilai. Apalagi kalau kawasan hijau itu berada di Jakarta, yang warganya saban hari menghadapi kepadatan kota dan kemacetan lalu lintas.

 Karena itu, tak perlu terus menyalahkan pemerintahan masa lalu yang kini membuat kita kurang beruntung dalam mempertahankan keseimbangan alam. Mari menemui orang-orang yang dengan kesadarannya sendiri merawat lingkungan sekitar dan berharap virus kebaikan pun menular.

Ditemui di rumah panggungnya yang terbuat dari kayu dan bambu di tengah Hutan Kota Pesanggrahan di Karang Tengah, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, akhir Juli lalu, Chaerudin (59) sudah sekitar 30 tahun berjuang menghijaukan sempadan kali. Ia nyaris sendirian, merampas jengkal demi jengkal lahan di bantar Kali Pesanggrahan di sana. Merampas lahan yang menjadi timbunan sampah guna dihutankan kembali.