Friday, August 26, 2016

Kompas Edisi Jumat 26 Agustus 2016

Kompas Edisi Jumat 26 Agustus 2016
Kompas Edisi Jumat 26 Agustus 2016

Upaya SAR Hadapi Kendala

Wilayah Italia Tengah Kembali Dihantam Gempa Susulan


AMATRICE, KAMIS — Ratusan gempa susulan menghantam wilayah pusat gempa di Italia tengah, Kamis (25/8), menyebabkan upaya pencarian korban selamat menemui hambatan besar. Otoritas Italia berpacu dengan waktu untuk mencari penyintas akibat gempa pada Rabu lalu.

 Jumlah korban tewas akibat gempa bermagnitudo 6,2 yang mengguncang Italia tengah terus bertambah. Hingga Kamis, korban tewas mencapai 250 orang, sementara korban luka-luka tercatat 365 orang. Dari jumlah itu, 200 korban tewas berasal dari kota Amatrice yang mengalami kerusakan terparah.

Gempa mengguncang Italia tengah dekat kota Norcia terjadi pada Rabu (24/8) pukul 03.36 waktu setempat dengan kedalaman 10 kilometer. Saat gempa, 200 guncangan terjadi dalam 120 detik. Kemudian terjadi gempa susulan pada pukul 04.33 waktu setempat bermagnitudo 5,4 dengan 70 guncangan. Lebih dari 2.000 orang kehilangan tempat tinggal.


Sumber Daya Alam

Korupsi di Tambang Menjadi Fokus KPK


JAKARTA, KOMPAS — Korupsi di seputar usaha pertambangan menjadi fokus perhatian Komisi Pemberantasan Korupsi. Terkait hal ini, KPK tidak akan berhenti hanya pada kasus dugaan korupsi izin pertambangan yang melibatkan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif, Kamis (25/8), di Jakarta, menuturkan, KPK menilai pertambangan sebagai sektor yang perlu mendapat perhatian lebih. ”Isu-isu tambang tetap menjadi fokus KPK,” kata Laode, saat ditanya apakah juga akan mendalami dugaan suap perizinan tambang oleh kepala daerah lain.

KPK menetapkan Nur Alam sebagai tersangka korupsi perizinan tambang nikel ke PT Anugrah Harisma Barakah tahun 2009- 2014. Ia diduga menerima komisi dari pemberian izin itu. ”Yang kini dikerjakan KPK dulu ditangani kejaksaan. KPK tinggal melanjutkan,” ujar Laode.


Daerah Tertinggal

Ironi Kehidupan di Simpang Jernih


Sembilan perahu kayu bermesin tempel 25 daya kuda yang melaju di Sungai Simpang Jernih, Aceh Timur, Rabu (17/8) pagi, terengah-engah melawan arus. Arus tidak terlalu deras, tetapi karena perahu bergerak ke hulu, perjalanan menjadi tidak mudah.

Perjalanan dimulai dari Desa Batu Sumbang, desa terakhir yang bisa dilalui jalan darat. Perahu itu akan berlabuh di Desa Tampur Paloh, desa paling terpencil di Kecamatan Simpang Jernih. Butuh waktu dua jam untuk sampai ke Tampur Paloh.

Simpang Jernih memiliki delapan desa, yaitu Batu Sumbang, Pante Kera, Rantau Panjang, HTI Ranto Naro, Melidi, Tampur Paloh, Tampur Bor, dan Simpang Jernih, yang menjadi ibu kota kecamatan.