Monday, August 22, 2016

Kompas Edisi Senin 22 Agustus 2016

Kompas Edisi Senin 22 Agustus 2016
Kompas Edisi Senin 22 Agustus 2016

Indonesia Bergerak Maju

Waspadai Sejumlah Faktor yang Menjadikan Negara Rentan 


JAKARTA, KOMPAS — Pembangunan Indonesia selama 71 tahun terakhir menunjukkan adanya perbaikan dari segi ekonomi, sosial, dan politik. Semangat kebangsaan dan sistem politik berbiaya murah perlu terus dibangun agar Indonesia terlepas dari perangkap negara ”kelas” menengah.


Indeks Negara Rentan selama satu dekade terakhir menunjukkan Indonesia perlahan-lahan makin mampu menghadapi tekanan yang bisa membuatnya ambruk. Sementara berdasarkan Indeks Demokrasi tahun 2015, di kawasan ASEAN, Indonesia hanya kalah dari Timor-Leste.

Skor Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang pada 2015 adalah 36 poin masih di bawah rata-rata IPK negara-negara Asia Tenggara, yakni 40 poin. Indonesia masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand.


Pengampunan Pajak

Jangan Takut-takuti Wajib Pajak


JAKARTA, KOMPAS — Sosialisasi program pengampunan pajak sebaiknya menggunakan pendekatan yang lebih persuasif dibandingkan dengan cara menakut-nakuti wajib pajak. Pendekatan persuasif diyakini akan memberikan hasil yang optimal.

Demikian diungkapkan oleh pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, dan ekonom senior Kenta Institute, Eric Alexander Sugandi, yang dihubungi secara terpisah di Jakarta, Minggu (21/8). Pemerintah gencar menyosialisasikan program pengampunan pajak. Belakangan, muncul laporan bahwa ada banyak wajib pajak yang ditakut-takuti agar mengikuti program pengampunan pajak tanpa mendapatkan penjelasan yang lebih detail.

Lana menuturkan, pendekatan yang keliru, yakni dengan menakut-nakuti wajib pajak, dikhawatirkan justru bersifat kontraproduktif terhadap upaya pemerintah dalam program pengampunan pajak. Program pengampunan pajak bertujuan merepatriasi harta warga negara Indonesia di luar negeri, mendeklarasikan harta dan aset WNI di dalam dan di luar negeri, serta mendapatkan uang tebusan dari repatriasi dan deklarasi.



Infrastruktur Papua

92 Kilometer yang Membuka Isolasi


Sebuah ruas jalan baru sepanjang 92 kilometer melintasi hamparan tundra di ketinggian 3.200 meter di atas permukaan laut, menyusuri hutan Taman Nasional Lorentz dan Danau Habbema, Papua, yang elok dan menanjak di antara celah tebing di pinggang Puncak Trikora yang beku.

 Selepas Wamena hingga Kilometer 35, ruas jalan itu licin beraspal. Namun, memasuki pinggiran Taman Nasional Lorentz hingga di atas Danau Habbema, jalan itu masih berupa pengerasan. Sejak Habbema ke arah Puncak Trikora, tanjakan terjal hingga 50 derajat, turunan curam, dan tikungan tajam ditemui. Jalan menanjak dari 3.000 di atas permukaan laut (dpl) menuju 3.700 dpl.

Suhu udara pun menggigit hingga 10 derajat celsius. Angin yang menyelusup dari jendela mobil membuat wajah dan tangan terasa beku.

Ruas jalan makin terjal sejak melewati kawasan Puncak Trikora, yang tanahnya basah berbatu bulat. Dinding tebing di kiri atau kanan jalan pun rawan longsor. Di sejumlah lokasi, bongkahan batu besar melintang di pinggir jalan. Hanya kendaraan berpenggerak empat roda yang mampu melaluinya.