Sunday, August 28, 2016

Kompas Edisi Minggu 28 Agustus 2016

Kompas Edisi Minggu 28 Agustus 2016
Kompas Edisi Minggu 28 Agustus 2016

Birokrasi Kurang Profesional

Periksa Kelebihan Pagu Rp 23,4 T


JAKARTA, KOMPAS — Kelebihan pagu anggaran tunjangan profesional guru senilai Rp 23,4 triliun mencerminkan kurang profesionalnya pejabat di kementerian terkait menyusun program. Di tengah seretnya pemasukan untuk kas negara, pengajuan anggaran publik justru tidak realistis.

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Abdul Waidl menilai hal ini bukan semata karena kelalaian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melainkan juga Kementerian Keuangan serta Badan Pemeriksa Keuangan. Instansi-instansi tersebut mestinya dari awal saling berkoordinasi agar tidak ada temuan kelebihan pagu.

”Di tengah hangatnya isu pengampunan pajak, dibutuhkan sense of crisis (kepekaan) bersama dalam menyusun anggaran publik,” ujar Waidl, di Jakarta, Sabtu (27/8).


BENCANA GEMPA

Italia Berkabung Nasional


ASCOLI PICENO, SABTU — Italia menjalani hari berkabung nasional atas tewasnya 290 orang dalam gempa bumi di wilayah tengah negeri itu, Sabtu (27/8), sekaligus upacara pemakaman 35 korban. Sementara pemakaman berlangsung, evakuasi terus berlanjut di kota Amatrice yang paling hebat diguncang gempa.

Di kota itu, sembilan jenazah diangkat dari reruntuhan puing- puing bangunan runtuh, Jumat malam, termasuk tiga jenazah yang ditemukan di reruntuhan Hotel Roma. Korban tewas di Amatrice saja, kini, mencapai 230 warga setempat dan turis.

Pada hari berkabung itu, bendera Italia dipasang setengah tiang. Sabtu kemarin, Presiden Italia Sergio Mattarella memantau kerusakan akibat gempat dengan helikopter. Ia kemudian pergi ke kota terdekat, Ascoli Piceno, untuk menghadiri upacara pemakaman di sebuah gedung pusat olahraga. Perdana Menteri Matteo Renzi juga hadir dalam upacara itu.


SENI RUPA

Kolektor Seni, Kian Jeli dan Bertaji


Jose Dima Satria (35) tersenyum menenteng sekantong tas plastik. ”Akhirnya, karya Darbotz dan Angki Purbandono ini dicetak di atas sapu tangan. Juga poster ini cetakan dari tulisan karya Ronald Apriyan, Eddie Harra, Darbotz, juga Angki. Sayang, sapu tangan dengan cetakan karya Ronald Apriyan keburu habis,” kata Jose di depan anjungan Art Bar, satu dari puluhan anjungan yang ada di pasar jual-beli karya seni rupa Bazaar Art Jakarta di The Ritz-Carlton, Jakarta.

 Persis tiga tahun silam, Jose ”kecebur” dalam hobi mengoleksi karya seni rupa gara-gara mendatangi perhelatan Bazaar Art Jakarta (BAJ) 2013. Notaris muda itu jatuh cinta dengan dunia seni rupa dan membeli koleksi pertamanya di sana. Sejak itu, ia rajin keluar-masuk berbagai pasar seni di Indonesia dan Singapura memburu karya.

Awal Agustus lalu, ia juga berburu karya seni rupa dalam perhelatan pasar jual-beli karya seni rupa Art Stage Jakarta dan berhasil menambah koleksinya. Lalu, sepanjang hari pertama BAJ pada Kamis (25/8), Jose berkeliling lagi di lorong-lorong anjungan sejumlah galeri ternama dari Indonesia dan mancanegara. Anjungan yang menawarkan segala macam karya seni, mulai dari yang ”manis” sampai ”pedas”, karya perupa Indonesia, Asia, bahkan Eropa.