Monday, August 15, 2016

Kompas Edisi Senin 15 Agustus 2016

Kompas Edisi Senin 15 Agustus 2016
Kompas Edisi Senin 15 Agustus 2016

Kaum Muda Merdeka Berkarya


JAKARTA, KOMPAS — Indonesia semakin ditantang untuk berkiprah di dunia yang kini nyaris tanpa batas berkat teknologi informasi. Perlahan tetapi pasti, sejumlah anak muda dari berbagai penjuru Nusantara menjadi warga dunia yang mampu menyambar peluang dan pekerjaan di industri kreatif. Energi mereka berpotensi mendorong kemajuan bagi bangsa yang sudah 71 tahun merdeka ini.

Arfi’an Afandi (30) tinggal di Canden, Kota Salatiga, Jawa Tengah. Namun, anak muda yang menggeluti desain rekayasa itu merambah pasar dunia sejak 2009. Ia mendesain pesawat ringan untuk perusahaan di Amerika Serikat.

Pasar global kian dekat ketika ia bersama adiknya, M Arie Kurniawan (25), dan tim memenangi kompetisi desain tiga dimensi oleh General Electric dan GrabCAD pada 2014. Desain jet engine bracket—salah satu komponen pengangkat mesin pesawat—menjadi juara dengan menyisihkan 700 desain dari 53 negara. Sebagian kompetitor mereka bertitel doktor atau lulusan universitas dunia. Padahal, Arfi’an dan Arie ”hanya” lulusan SMK.


KEWARGANEGARAAN ARCANDRA

Administrasi Negara Ceroboh


JAKARTA, KOMPAS — Polemik status kewarganegaraan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar mencerminkan kecerobohan administrasi negara. Kepercayaan publik bisa terganggu jika pemerintahan Presiden Joko Widodo tidak bisa menjelaskan status kewarganegaraan Arcandra, yang diduga telah menjadi warga negara Amerika Serikat sejak 2012.

Syamsuddin Haris, peneliti senior Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Jakarta, Minggu (14/8), berpendapat, polemik kewarganegaraan Arcandra menunjukkan kecerobohan administrasi negara. Kecerobohan ini bukan sebatas soal pemeriksaan latar belakang calon menteri, melainkan juga ketidakmampuan Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Kementerian Luar Negeri memonitor WNI berpaspor ganda.

"Tidak ada sinergi Kementerian Sekretariat Negara, Kementerian Luar Negeri, dan Imigrasi (Kemenkumham) dalam soal yang sama," kata Syamsuddin. Syamsuddin mendorong pemerintah berbenah agar kejadian serupa tidak terulang.


FENOMENA SOSIAL

Kisah Hamba dan Tuan dari Sumba


Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan 71 tahun lalu. Namun, sebagian penduduknya masih jauh untuk dikatakan "merdeka". Di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur, tak sedikit orang menjadi hamba secara turun-temurun: melayani tuannya hingga ajal.

Malam baru saja menjelang ketika kami bertemu dua perempuan tua di salah satu rumah warga Desa Padira Tana, Kecamatan Umbu Ratu Nggay, Sumba Tengah. Pertemuan itu melalui proses berliku. Seorang tokoh masyarakat akhirnya bersedia mempertemukan kami dengan beberapa hamba dengan beberapa syarat, salah satunya identitas dirahasiakan.

"Saya tidak tahu lagi umur berapa. Sejak lahir sudah jadi ata karena orangtua juga ata," ujar seorang di antaranya, sekitar 60 tahun. "Kami buta huruf, tak pernah sekolah," ujarnya lagi. Suara terbata. "Kami hanya ingin nasib anak cucu kami lebih baik nantinya."