Saturday, August 13, 2016

Kompas Edisi Sabtu 13 Agustus 2016

Kompas Edisi Sabtu 13 Agustus 2016
Kompas Edisi Sabtu 13 Agustus 2016

Transaksi Jaringan Freddy Amat Besar

Tim Independen Mulai Bekerja


JAKARTA, KOMPAS — Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan menemukan transaksi mencurigakan dalam jumlah amat besar dan memakai berbagai cara, yang diduga terkait dengan jaringan narkoba Freddy Budiman. PPATK telah melaporkan hal itu ke Badan Narkotika Nasional.

Wakil Kepala PPATK Agus Santoso menuturkan, PPATK telah mengirimkan laporan hasil analisis (LHA) terkait kasus Freddy kepada BNN secara bertahap sejak tahun 2012. Laporan terbaru dikirimkan pada April lalu dengan total aliran dana Rp 3,6 triliun.

"Freddy Budiman setiap tahun terindikasi terlibat kasus (narkoba). Transaksinya sangat besar, rumit, dan melibatkan multimodus kejahatan," ujar Agus saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (12/8).


Hukum Lingkungan

Memenangkan Perkara Bukan Tujuan Akhir


JAKARTA, KOMPAS — Putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Kamis (11/8), yang memenangkan gugatan perdata Rp 1,07 triliun atas kasus kebakaran lahan di konsesi PT National Sago Prima bukan tujuan akhir penggugat, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Putusan itu diharapkan menjadi acuan pengadilan dalam menangani kasus sejenis.

Direktur Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Jasmin Ragil Utomo mengatakan, meski menang, pihaknya tetap menyiapkan strategi jika sewaktu-waktu PT National Sago Prima (NSP) mengajukan banding.

"Jika NSP ajukan banding, kami akan lakukan kontra memori banding untuk menegaskan dan memperkuat putusan PN Jakarta Selatan," kata Jasmin.


Jelajah Sepeda

Mengayuh Pedal, Temukan Kehidupan


Pengantar Redaksi

Untuk kesembilan kali dalam sembilan tahun terakhir, "Kompas" menggelar jelajah sepeda. Kali ini menyusuri Pulau Flores dan Timor di Nusa Tenggara Timur. Perjalanan bersepeda bernama Jelajah Sepeda Flores-Timor ini menempuh jarak 1.200 kilometer, mulai dari Labuan Bajo hingga Atambua. Laporan kegiatan ini dapat dibaca setiap hari mulai Sabtu (13/8) hingga Rabu (24/8).

Bersepeda tidak sebatas berolahraga. Mengayuh pedal jarak jauh telah menjelma sebagai upaya menghayati hidup. Pesepeda mengorbankan waktu dan biaya untuk menyusuri alam, mencari hakikat hidup. Bersepeda jarak jauh kian diminati.

"Semakin jauh kita bersepeda, sebetulnya semakin dalam kita memahami hakikat hidup. Setiap kali kita menghadapi jalan tanjakan, maka setelah itu pasti ada turunan dan tanjakan lagi. Begitu pula dengan siklus kehidupan. Maka, di sini kita dilatih untuk selalu lapang dada, bersabar, rendah hati, dan selalu becermin diri," kata Djoko Edi Santoso (60), peserta asal Jakarta, yang pernah bersepeda dari Sabang ke Jakarta tahun 2015 dan Surabaya-Jakarta tahun 2014.