Thursday, August 25, 2016

Kompas Edisi Kamis 25 Agustus 2016

Kompas Edisi Kamis 25 Agustus 2016
Kompas Edisi Kamis 25 Agustus 2016

Momentum untuk Evaluasi

Pembangunan Olahraga Tak Bisa Setengah Hati


Jakarta, KompasKeberhasilan meraih satu medali emas dan dua perak dari Olimpiade Rio de Janeiro menjadi momentum kuat mengevaluasi kebangkitan olahraga Indonesia. Pemerintah harus serius dan tak bisa setengah hati jika ingin sejajar dengan bangsa-bangsa juara di bidang olahraga.

"Inilah momentum yang tepat untuk evaluasi. Kalau mau jujur, pembinaan prestasi kita tidak pernah beranjak. Ini karena sistem pembinaan atlet kita belum sistematis," kata pengamat olahraga Fritz Simanjuntak di Jakarta, Rabu (24/8).

Ia mengatakan, visi dan perhatian pemerintah terhadap olahraga masih sangat minim. Hal ini bisa dilihat dengan tidak adanya pusat pelatihan modern dan kompetisi olahraga yang berlevel tinggi di Indonesia.


Sumber Daya Alam

Korupsi Perizinan Ada di Beberapa Daerah


JAKARTA, KOMPAS — Korupsi perizinan diduga tidak hanya dilakukan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam, yang kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Korupsi serupa ditengarai juga dilakukan sejumlah kepala daerah lain.

Dugaan tersebut muncul karena Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sejak 2013 menemukan transaksi mencurigakan di rekening sejumlah kepala daerah.

"Pada tahun 2013, kami mengirimkan data transaksi mencurigakan atas nama sejumlah kepala daerah, bupati, dan wali kota kepada kejaksaan," kata Kepala PPATK M Yusuf seusai bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (24/8).


Tenaga Kerja Indonesia

Semangat "Sonagi" untuk Kemajuan Ekonomi Desa


Sonagi, kini, menjadi falsafah warga Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sonagi, dalam bahasa Korea, berarti hujan deras yang turun tiba-tiba di musim panas. Bekerja ke Korea Selatan, memperoleh gaji besar, lalu pulang membangun desa.

"Bekerja di Korea sekitar 5 tahun, terus pulang ke kampung. Menjadi pekerja di Korea ibarat memperoleh hujan rezeki di tengah kesulitan mencari kerja di kampung halaman," ujar Syahidul Wildan (38), mantan pekerja Korea yang juga Ketua Paguyuban TKI Purna Bejo Group di Dusun Jongso, Wotan, Rabu (3/8).

Sambil menjaga toko kecilnya di gedung berlantai dua senilai Rp 700 juta, Wildan memaparkan, Bejo merupakan singkatan dari bangun ekonomi Jongso. Hingga Juli lalu, anggota paguyuban ini mencapai 350 orang usia 20-30 tahun. Sebagian besar merupakan mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Korea Selatan, sebagian kecil lainnya masih bekerja di Korea Selatan.