Showing posts with label harian kompas. Show all posts
Showing posts with label harian kompas. Show all posts

Saturday, January 9, 2016

Kompas Edisi Sabtu 9 Januari 2016

Kompas Edisi Sabtu 9 Januari 2016

Pemerintah Perkuat Stok Beras

Penanaman di Pantura Lambat


JAKARTA, KOMPAS — Impor beras kembali menjadi jalan keluar pemerintah untuk memperkuat stok Perum Bulog. Setelah Vietnam dan Thailand, pemerintah berencana mengimpor beras dari Pakistan. Pemerintah Pakistan setuju menyediakan 1 juta ton beras bagi Indonesia.

Pemerintah mengimpor beras dari Pakistan untuk memperkuat stok Perum Bulog guna mengantisipasi dampak El Nino.

Seperti diberitakan Pakistan Today, Jumat (8/1), Menteri Perdagangan Pakistan Khurram Dastgir Khan mengatakan, Pemerintah Pakistan telah sepakat dengan Indonesia untuk mengekspor 1 juta ton beras senilai 400 juta dollar AS selama empat tahun ke depan, 2016-2019. Penandatanganan ekspor telah dilakukan antara Trading Corporation of Pakistan (TCP) dan Perum Bulog.


MALAPRAKTIK "CHIROPRACTIC"

Polisi Kejar Dokter ke Amerika


JAKARTA, KOMPAS — Kepolisian Daerah Metro Jaya berkoordinasi dengan penyidik Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) untuk mengusut kasus dugaan malapraktik yang menewaskan Allya Siska Nadya (32). Karyawati perusahaan swasta itu meninggal pada 7 Agustus 2015, sehari setelah menjalani pengobatan chiropractic di sebuah klinik di Mal Pondok Indah, Jakarta Selatan.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti mengatakan, koordinasi dilakukan karena dokter yang diduga melakukan malapraktik sudah pergi ke Amerika Serikat.

"Kami sudah koordinasi dengan atase Polri di Washington DC, kemudian ada koordinasi dengan FBI. Kami juga sudah bertemu agen FBI di Jakarta," kata Krishna, Jumat (8/1), di Jakarta.


FIFA BALLON D'OR 2015

Tahun 2015, Masa Kegemilangan Lionel Messi


Lionel Messi berlari sangat cepat begitu mendapat bola. Kakinya bagai menari tango saat menggiring bola sambil berlari. Tiga bek yang mengurungnya dilewati dengan meloloskan bola di antara kaki mereka. Satu bek lain menghadang, tetapi Messi menendang bola dari sudut sempit. Bola tendangan Messi itu berbuah gol.

Gol itu turut mengantar Barcelona menjadi juara turnamen Piala Raja. Dalam laga final pada 30 Mei 2015 itu, Barcelona mengalahkan Athletic Bilbao, 3-1. Gelar juara itu menjadi gelar kedua yang direbut Messi untuk Barcelona pada 2015.

Sepekan sebelumnya, Messi mempersembahkan gelar juara Liga Spanyol bagi "Blaugrana", julukan Barca. Setelah itu, Messi kembali menjadi motor utama klubnya merebut gelar juara Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub. Total, lima gelar dipersembahkan Messi bagi Barca di 2015.

Tuesday, December 22, 2015

Kompas Edisi Selasa 22 Desember 2015

Kompas Edisi Selasa 22 Desember 2015

Ibu, Pahlawan Para Remaja

Perempuan Masih Tertinggal dalam Pembangunan


JAKARTA, KOMPAS — Di mata para remaja, sosok pahlawan adalah ibu mereka. Namun, dalam pembangunan, kualitas perempuan yang memengaruhi generasi muda itu masih tertinggal. Hari Ibu, pada 22 Desember ini, dapat menjadi momentum meningkatkan kualitas perempuan.

Sosok ibu sebagai pahlawan itu tecermin dalam survei Litbang Kompas dengan responden 1.640 pelajar sekolah menengah atas di 12 kota besar di Indonesia. Ketika ditanyakan siapa sosok pahlawan dalam kehidupan mereka, jawaban terbesar ialah ibu. Lebih lanjut, secara umum, di dalam bayangan mereka, sosok pahlawan merupakan orang yang melindungi saat diperlukan, suka menolong orang lain, dan pemberantas kejahatan.

Ibu pula yang menjadi tempat berkomunikasi paling utama dari para remaja. Di antara kehadiran sahabat sebaya, informasi dari dunia maya, dan ragam media sosial, ibu masih menjadi tempat untuk mencurahkan pendapat. Selain itu, remaja berkomunikasi intens dengan sahabat mereka, ayah, saudara, hingga pacar. Secara umum, orangtua masih selalu menjadi tempat untuk membantu membuat keputusan penting terkait pendidikan, keuangan, dan nasihat terkait persoalan sehari-hari.


ANTISIPASI CUACA

Potensi Hujan Meningkat, Masyarakat Harus Waspada


JAKARTA, KOMPAS — Hujan lebat dengan intensitas 50-100 milimeter per hari berpotensi terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia tujuh hari ke depan. Hal ini patut diwaspadai masyarakat yang hendak memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, merayakan Natal, berlibur, dan merayakan pergantian tahun.

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), daerah yang berpotensi mengalami hujan deras adalah Sumatera bagian utara, sebagian kecil Sumatera bagian selatan, sebagian kecil Kalimatan Selatan, sebagian kecil Jawa Tengah, sebagian besar Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku bagian tenggara, dan Papua bagian utara dan timur.

Kepala Bidang Peringatan Dini Cuaca BMKG Kukuh Ribudiyanto menjelaskan, peningkatan intensitas itu menandai awal musim hujan pada Desember ini. "Puncak musim hujan Indonesia akan terjadi pada akhir Januari dan awal Februari. Namun, peningkatan intensitas harus tetap diwaspadai," ujar Kukuh di Jakarta, Senin (21/12).


JELANG NATAL

Berbagi dan Mereguk Kasih Natal lewat Seni...


Di panggung kecil sebuah gereja sederhana di Klaten, Jawa Tengah, Didik Nini Thowok tak mampu membendung air mata. Suaranya bergetar, isaknya menghentikan lagu pujian yang tengah ia nyanyikan. Panggung yang jauh dari mewah itu menampilkan sisi lain sang penari kawakan yang biasanya begitu jenaka dan menghibur.



”Maaf, ya, saya ini memang cengeng sekali. Sampai isin (malu) aku,” kata Didik (61) yang bernama asli Didik Hadiprayitno itu sembari mengusap lelehan air mata dari pipi dan hidung saat tampil di perayaan Natal di Gereja Bethani, Klaten, Rabu (16/12) malam.

”Di luar gereja, gerimis turun sejak sore hari. Suasana menjadi haru sejak Didik mulai menyanyikan lagu pujian berjudul ”Hati yang Menyembah”. Ia terlihat tersentuh oleh syair lagu yang mengakui kekecilan manusia di hadapan Ilahi. Padahal, beberapa menit sebelumnya, Didik baru saja mengisi gereja kecil itu dengan gelak tawa sekitar 100 umat yang hadir dengan tingkahnya yang jenaka.

Wednesday, December 16, 2015

Kompas Edisi Rabu 16 Desember 2015

Kompas Edisi Rabu 16 Desember 2015

Dengarkan Suara Rakyat

Perkara Setya Novanto Pertaruhkan Kredibilitas DPR


JAKARTA, KOMPAS — Masyarakat mengetuk nurani Mahkamah Kehormatan Dewan yang pada Rabu (16/12) ini akan memutus perkara dugaan pelanggaran etika yang dilakukan Ketua DPR Setya Novanto. Rakyat masih berharap para anggota MKD berpikir jernih dan menjunjung tinggi akal sehat.

Keputusan terkait perkara Novanto akan diambil dalam sidang pleno MKD yang menurut rencana berlangsung tertutup. Jika akhirnya dia dinyatakan melanggar, 17 anggota MKD akan menentukan sanksi untuk Novanto.

Menyambut keputusan itu, beredar sejumlah skenario, seperti MKD akan memutuskan tak ada pelanggaran etika oleh Novanto atau sebaliknya,

Terkait hal ini, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siroj mengingatkan, dari rekaman pembicaraan antara Novanto, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, dan pengusaha Muhammad Riza Chalid, masyarakat sudah dapat memahami yang terjadi dalam perkara itu.


PENYEBARAN HEPATITIS A

Mempersoalkan Kembali Kesadaran Kebersihan


Menjelang pukul 13.00, Senin (14/12), di kantin belakang Agrimart di Kampus Dramaga Institut Pertanian Bogor. Berbagai macam masakan yang disajikan di meja prasmanan begitu menggoda dan membuat perut lapar bergejolak.

Para mahasiswa terlihat lahap menyantap makan siang sebelum mengikuti mata kuliah selanjutnya. Ada yang asyik dengan menu nasi, ayam goreng, dan es teh manis. Ada yang melahap gado-gado, karedok, lontong sayur, sate, dan mi. Ada pula yang membawa nasi sendiri sehingga hanya membeli oseng kangkung serta tahu dan tempe bacem.

Tak tampak kesan cemas di wajah mereka. Mereka makan dengan lahap diselingi canda dan obrolan. Maraknya berita virus hepatitis A yang menulari lebih dari 30 mahasiswa IPB seperti tak merisaukan mereka.



CATATAN BIDANG EKONOMI

Optimisme di Tengah Sejumlah Masalah Berat


Pada akhir tahun ini, Masyarakat Ekonomi ASEAN segera dibuka. Tantangan dan peluang baru pasti muncul. Menjelang tahun baru, kita bisa melihat perkembangan pembangunan infrastruktur yang menunjukkan perbaikan di berbagai tempat dan upaya perbaikan iklim investasi. Meski demikian, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, mulai dari pertumbuhan ekonomi yang menurun, nilai tukar yang melemah, hingga ketimpangan ekonomi yang masih lebar.

Warna-warni itulah yang akan ditemui ketika kita memasuki 2016. Ada optimisme menyongsong tahun baru, tetapi ada juga beban yang masih harus dipikul. Semangat optimisme sudah ditiupkan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu. Presiden mengajak bangsa Indonesia untuk berani berkompetisi ketika pasar dibuka, salah satunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pernyataan ini disambut karena pada kenyataannya sejumlah korporasi Indonesia sudah siap bersaing. Anak-anak muda yang menguasai teknologi digital juga tak kalah bersemangat menyambut ajakan Presiden.

Ajakan itu juga memperjelas keyakinan berbagai kalangan tentang sikap Indonesia memasuki MEA. Keraguan dan ketakutan terhadap pembukaan pasar bukan lagi sesuatu yang perlu muncul. Meski demikian, Jokowi mengingatkan semua pihak untuk cerdik dan memantau kemungkinan pihak-pihak yang terdampak dengan pembukaan pasar.

Monday, October 12, 2015

Kompas, Edisi, Senin, 12 Oktober 2015

Kompas, Edisi, Senin, 12 Oktober 2015

Polisi agar Telusuri Aliran Dana

Diduga Sarat Pelanggaran HAM dan Korupsi


LUMAJANG, KOMPAS — Penambangan pasir besi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, sarat dengan dugaan pelanggaran hak asasi manusia dan korupsi. Pembunuhan Salim alias Kancil merupakan fenomena gunung es dari pembiaran konflik pertambangan oleh aparatur negara.

Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Nur Kholis mendesak Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menelusuri aliran uang dalam kasus pertambangan pasir besi ilegal di Lumajang. Penelusuran itu menjadi kunci untuk menemukan keterlibatan aparat negara dalam pembiaran konflik yang berujung pada kematian Salim.

Temuan Komnas HAM menyimpulkan, kekerasan di Desa Selok Awar-Awar hanya satu di antara puluhan konflik sumber daya alam yang dipicu tambang pasir besi di pesisir selatan Lumajang.


TRANSPORTASI UDARA

Helikopter yang Angkut Lima Orang Hilang


MEDAN, KOMPAS — Tim SAR bersama kepolisian hingga Minggu (11/10), pukul 20.00, masih mencari helikopter jenis Aerospatiale 350B4 (Eurocopter 130B4) dengan nomor registrasi EC 130 PK-BKA milik PT Penerbangan Angkasa Semesta yang hilang kontak dalam perjalanan Samosir-Kualanamu, Sumatera Utara. Tim kesulitan menemukan lokasi helikopter karena sinyal emergency locator transmitter yang dimiliki helikopter tidak tertangkap Basarnas. Ini disebabkan baterai ELT telah kedaluwarsa pada Mei 2015.

Informasi dari Kantor Pelayanan Navigasi Penerbangan (KPNP) AirNav Medan, helikopter tidak pernah kontak dengan Pelayanan Lalu Lintas Udara Unit Medan. AirNav mendapat informasi helikopter hilang kontak justru dari perusahaan.

Kepala Seksi Operasional Basarnas Medan GT Syaiful mengatakan, pencarian difokuskan ke kawasan Onanrunggu, Samosir, berdasarkan laporan nelayan yang melihat ada helikopter terbang rendah di kawasan Onanrunggu. Meski demikian, pencarian juga dilakukan di kawasan Simahadiang, Simanindo, Samosir, yang diduga titik koordinat terakhir helikopter. Daerah ini merupakan perbukitan yang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar lima jam.


PERTAMBANGAN PASIR

Ketika Menikmati Lumajang Tanpa Tambang Pasir


Hampir dua minggu, tak ada aktivitas pertambangan pasir dan pasir besi di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Daerah di kaki Gunung Semeru itu, Kamis (8/10), terlihat lebih tenang dengan suhu udara yang nyaman. Sejauh mata memandang, tidak tampak truk tronton dan dumptruck bermuatan pasir yang berseliweran, baik di jalan kabupaten maupun di jalan provinsi Lumajang-Malang.

Di sebuah gubuk bambu di tengah rawa di Pantai Watu Pecak, Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Sapari (65) duduk mengelus kaki. Matanya menerawang memandang jalan menuju pesisir pantai yang biasanya penuh truk lalu lalang, tetapi kini lengang.

Tak lama kemudian, pandangan itu beralih ke hamparan sawah di sisi kanan dan kiri jalan yang berubah menjadi genangan seperti kolam ikan akibat penambangan pasir besi. Sebagian sawah itu milik Sapari.

Saturday, October 10, 2015

Kompas, Edisi, Sabtu, 10 Oktober 2015

Kompas, Edisi, Sabtu, 10 Oktober 2015

Rakyat Bergerak Tolak Revisi

KPK Usulkan Tiga Poin Penguatan Lembaga


JAKARTA, KOMPAS — Masyarakat di sejumlah daerah, Jumat (9/10), mulai bergerak menolak rencana revisi Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi yang diusulkan sejumlah anggota DPR. Revisi itu dinilai dapat melemahkan, bahkan mematikan KPK.

Upaya itu terlihat jelas karena dalam draf revisi UU KPK yang dibagikan dalam rapat pleno Badan Legislasi DPR, Selasa lalu, antara lain disebutkan, KPK akan dibubarkan dalam 12 tahun setelah draf RUU itu diundangkan dan KPK hanya boleh menangani kasus dengan kerugian negara di atas Rp 50 miliar.

Secara terpisah, KPK juga telah menyusun draf revisi UU KPK. Berbeda dengan draf revisi yang beredar di DPR, KPK memastikan revisi yang mereka buat akan memperkuat lembaga itu.

Revisi UU KPK ini diusulkan 45 anggota DPR dari enam fraksi, yaitu Fraksi PDI-P, Fraksi Partai Golkar, Fraksi Partai Nasdem, Fraksi Partai Persatuan Pembangunan, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, dan Fraksi Partai Hanura.


BENCANA ASAP

Presiden: Bantuan Asing Akan Dioptimalkan


RIAU, KOMPAS — Pemerintah akan memprioritaskan bantuan asing untuk memaksimalkan penanganan asap akibat kebakaran lahan di Sumatera Selatan. Wilayah Sumatera Selatan menjadi prioritas karena saat ini menjadi wilayah dengan titik api paling banyak, yakni lebih dari 400 titik.

Presiden Joko Widodo mengatakan hal itu saat melakukan kunjungan kerja ke Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, Jumat (9/10). Rimbo Panjang merupakan salah satu lokasi kebakaran lahan di Riau dengan luas sekitar 280 hektar dan saat ini sudah berhasil dipadamkan.

Dalam kunjungan itu, Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya; Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, dan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Hadir juga Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachmad.


BIANGLALA OLAHRAGA

Menggadaikan Kaki di Arena Tarkam


Setelah liga sepak bola Indonesia dihentikan, ribuan pesepak bola yang biasa bermain di liga resmi pun beramai-ramai terjun ke arena tarikan kampung atau tarkam. Panggung mereka pun turun kelas dari tingkat nasional ke tingkat kampung.

Supandi (26) menatap awal kompetisi Divisi Utama 2015-2016 dengan sikap optimistis, April lalu. Buat dia, banyak alasan untuk bersikap seperti itu. Anak Betawi yang sempat kesal lantaran gajinya dikemplang selama lima bulan, sekitar Rp 60 juta, oleh sebuah klub profesional di Jawa Timur itu kini berlabuh di klub yang lebih baik, Cilegon United.

Ketika merekrut Supandi dari PSM Makassar, Cilegon langsung membayar uang muka kontrak dan gaji. Supandi pun tenang dan fokus mempersiapkan diri bersama timnya untuk menjamu lawan pertama, Persita Tangerang, di liga Divisi Utama. Saat laga perdana tiba, bukan lawan berat yang mereka hadapi, melainkan kabar buruk, yakni laga dibatalkan karena polisi tidak mengeluarkan izin keramaian sebagai buntut pembekuan PSSI oleh Menpora, Mei lalu.

Sunday, September 13, 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 13 September 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 13 September 2015

Robohnya ”Crane” Diselidiki

Suasana Masjidil Haram Kembali Normal


JEDDAH, KOMPAS — Pemerintah Arab Saudi, Sabtu (12/9), memerintahkan penyelidikan atas robohnya mesin derek atau crane yang menewaskan 107 orang dan melukai 238 orang di Masjidil Haram, Mekkah, Jumat. Sehari setelah insiden itu, suasana Masjidil Haram kembali normal.

Di antara korban meninggal itu terdapat dua anggota jemaah haji asal Indonesia, yakni Iti Rasti Darmini asal embarkasi Jakarta-Bekasi dan Masnauli Sijuadil Hasibuan dari embarkasi Medan, Sumatera Utara.

”Kami terus melakukan pemantauan. Tim dari Amirulhaj dan Konsulat Jenderal RI bekerja keras di lapangan,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi di Istana Raja Faisal, seperti dilaporkan wartawan Kompas, Andy Riza Hidayat, dari Jeddah.


KEHIDUPAN

Cerita dari Negeri Dongeng


Cita-cita Walt Disney untuk mendekatkan keluarga dengan kisah dongeng tercapai tahun 1955. Ia mendirikan Disneyland di Anaheim, Los Angeles, Amerika Serikat. Itu cikal bakal kehidupan nyata tokoh dongeng di tengah manusia modern.

Mickey si tikus yang lucu dan Alice dalam Alice in Wonderland bisa diajak bermain sebagai teman sehari-hari.

Walter Elias Disney, yang lahir tahun 1901 dan meninggal tahun 1966, membangun kerajaan dongeng lewat tokoh komik atau menciptakan karakter asli dan lucu seperti Mickey. Kerajaan tersebut terus membesar seiring dengan meledaknya industri hiburan di AS dan dunia. Sejak merilis seri cerita komik lewat film (bisu) Alice in Wonderland dan film animasi pertama bersuara Mickey Mouse tahun 1923, kehidupan AS berubah drastis. Kisah penuh persahabatan dan keajaiban, ketika manusia bercakap-cakap dengan hewan dalam nuansa modern, melahirkan apa yang disebut fantasia Amerika.


KABUT ASAP

Titik Api Baru Terus Bermunculan


PALEMBANG, KOMPAS — Kebakaran lahan di Sumatera Selatan dan daerah lain terus meluas. Titik api baru pun terus bermunculan kendati berbagai upaya pemadaman telah dilakukan. Titik kebakaran baru, misalnya, muncul di Taman Nasional Sembilang, Sumatera Selatan.

Kepulan asap, Sabtu (12/9), dari pagi hingga siang masih terlihat pekat di Jambi, Medan (Sumatera Utara), Palembang (Sumatera Selatan), Palangkaraya (Kalimantan Tengah), dan kota lain. Jarak pandang rata-rata di bawah 1.000 meter.

Sabtu, titik panas di seluruh Sumatera yang terpantau Satelit Aqua/Terra Modis berjumlah 1.036 titik. Sehari sebelumnya berjumlah 774 titik. Jumlah terbanyak masih terdapat di Sumsel, yaitu 750 titik. Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumsel, memiliki titik panas terbanyak, yakni 302 titik, dan Musi Banyuasin 223 titik. Lima titik api terdapat di Taman Nasional Sembilang.

Wednesday, August 19, 2015

Kompas, Edisi, Rabu, 19 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Rabu, 19 Agustus 2015

Dua WNI Jadi Korban Bom

11 dari 20 Korban Meninggal Warga Negara Asing


BANGKOK, KOMPAS — Pemerintah RI mengonfirmasi dua WNI korban ledakan bom di pusat kota Bangkok, Thailand, Senin (17/8) malam, adalah pasangan suami istri Hermawan Indradjaja (61) dan Lioe Lie Tjing (61). Mereka berasal dari Jakarta dan sedang berwisata di Thailand.

Menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha C Nasir, Selasa, keduanya berada di lokasi ledakan saat peristiwa itu terjadi. "Sang istri (Lioe Lie Tjing) tewas. Jenazahnya dibawa ke rumah sakit. Adapun sang suami (Hermawan Indradjaja) terluka di kepala dan tengah dirawat di Rumah Sakit Hua Chiew Bangkok," paparnya.

Wartawan Kompas, Subur Tjahjono, dari Bangkok, melaporkan, Kedutaan Besar RI di Bangkok mengetahui keberadaan dan kondisi Hermawan Indradjaja dan Lioe Lie Tjing pada Selasa pagi. Berdasarkan penjelasan Koordinator Fungsi Sosial dan Budaya KBRI di Bangkok Subandrio, kedutaan meminta warga Indonesia yang berwisata dan tinggal di Bangkok kini sebaiknya menghindari keramaian.


HUT ke-70 RI

Parpol Menjadi Bagian dari Persoalan Bangsa


JAKARTA, KOMPAS — Hingga 70 tahun usia kemerdekaan Indonesia, partai politik belum bisa berperan optimal dalam mengupayakan terwujudnya cita-cita bangsa. Parpol justru menjadi bagian dari persoalan, bukan solusi bagi bangsa.

Pada saat yang sama, menurut Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Selasa (18/8), politik juga menjadi sangat transaksional dan garang. Ini menunjukkan politik mulai kehilangan bingkai keadaban dan spiritualitas.

Pengajar STF Driyarkara, Jakarta, Franz Magnis-Suseno, menilai, kini parpol malah jadi beban bagi kehidupan demokrasi.

"Parpol seperti hanya terdiri atas orang-orang yang mencari kesempatan berpolitik, bahkan kadang untuk memperkaya diri. Jadi, dari demokrasi kita, unsur yang paling lemah justru parpol dan kalau itu tidak bisa diperbaiki, kita akan mengalami masalah dengan demokrasi kita," tuturnya.


Kecelakaan Trigana Air

"Pesawat Bapak Hilang Kontak Bu..."


Sebuah foto pesawat dengan bingkai berukuran 60 cm x 80 cm terpajang di ruang tamu kediaman Hasanuddin, pilot pesawat Trigana Air yang jatuh di Papua. Selasa (18/8) malam, puluhan kerabat dan tetangga menyampaikan dukacita ke rumah Hasanuddin di Desa Kadu Jaya, Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Banten.

Dua bendera kuning terpancang di pagar rumah dua lantai tersebut. Malam itu, keluarga mengadakan pengajian atas kepergian Hasanuddin, pilot pesawat ATR 42-400 bernomor registrasi PK-YRN milik maskapai Trigana Air dengan nomor penerbangan IL-267.

Susana duka menyelimuti kediaman Hasanuddin. Kerabat yang datang pun tak kuasa menahan tangis.

"Ibu (Siti Zaenab, istri Hasanuddin) sudah beberapa kali pingsan," ujar Ridwan Iskandar (36), keponakan Hasanuddin.

Baru sekitar lima tahun Hasanuddin dan keluarga mendiami rumah tersebut. Sebelumnya, keluarga Hasanuddin bermukim di Karawaci, Tangerang.

Tuesday, August 18, 2015

Kompas, Edisi, Selasa, 18 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Selasa, 18 Agustus 2015

Siswa Impikan RI Bebas Korupsi

HUT Ke-70 RI Meriah


JAKARTA, KOMPAS — Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8), berlangsung berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Selain mengundang masyarakat umum, acara itu juga diisi oleh dua pelajar yang membacakan impiannya tentang Indonesia.

 Impian yang dibacakan dua siswa dalam acara itu antara lain Indonesia bebas dari korupsi dalam 10 tahun ke depan. Impian ini disambut tepuk tangan hadirin dalam acara itu, mulai dari elite negeri ini, wakil negara sahabat, hingga sekitar 2.000 warga biasa. Impian siswa itu selanjutnya akan dimasukkan ke dalam kapsul mimpi dan dibuka 70 tahun lagi.

Upacara di Kompleks Istana Kepresidenan ini merupakan bagian dari rangkaian Peringatan HUT Ke-70 RI. Sebelumnya digelar renungan suci di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada Senin pukul 00.00 dan resepsi kenegaraan pada malam harinya.

KECELAKAAN TRIGANA AIR

Pesawat Hancur di Pegunungan Bintang


JAKARTA, KOMPAS — Manajer Keamanan Penerbangan PT Trigana Air Service Alfred A Purnomo memastikan pesawat Trigana Air nomor registrasi PK-YRN jenis ATR 42 yang membawa 49 penumpang dan 5 awak dari Bandara Sentani, Jayapura, menuju Oksibil, Senin (17/8), jatuh pada ketinggian sekitar 2.500 meter di Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua.

Alfred memastikan tim evakuasi telah tiba di lokasi kecelakaan dan menemukan pesawat dalam keadaan hancur. Akan tetapi, evakuasi korban dihentikan sementara pada pukul 16.00 WIT karena cuaca tidak mendukung. Lokasi kejadian juga curam dengan kemiringan 45 derajat sehingga helikopter sulit mendarat. Proses evakuasi akan dilanjutkan Selasa pukul 06.00 WIT.

Sampai pukul 22.00, pihak Trigana Air masih menyusun rencana keberangkatan keluarga korban dan kru pesawat menuju Sentani. Mereka dijadwalkan sudah tiba pada Selasa.


NASIONALISME

Cara Kami Mencintai


Memerdekakan diri, menjadi Indonesia, dan terus merawatnya karena rasa cinta. Tidak mudah. Setiap generasi punya tantangan dan cara sendiri. Tidak adil jika dibanding-bandingkan dengan acuan yang kerap tidak relevan. Seperti cinta yang banyak definisinya, begitu juga ungkapannya.

Kelompok musik pop Efek Rumah Kaca (ERK) memperdengarkan karya baru mereka selama tiga pekan terakhir. Tembang "Biru" berdurasi sembilan menit itu dengan musik cenderung rumit. Lagu anyar lain konon akan lebih panjang dari itu. Di tengah tidak bersahabatnya industri musik dan radio komersial pada lagu berdurasi panjang dan rumit, mereka tetap jalan terus.

Mereka memerdekakan diri dari kekhawatiran lagunya tidak akan diputar di radio. Trio Cholil Mahmud (vokal, gitar), Akbar Bagus Sudibyo (drum), dan Adrian Yunan Faisal (bas)-belakangan diisi Poppy Airil-membuat siasat. Lagu itu dipecah jadi dua, "Pasar Bisa Diciptakan" dan "Cipta Bisa Dipasarkan".

"Tidak ada substansi lagu yang hilang dari situ (pemecahan lagu)," kata Cholil. Strategi diambil ketika lagu sudah jadi sehingga strategi pemasaran tidak memengaruhi estetika yang mereka buat secara merdeka.

Sunday, August 16, 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 16 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 16 Agustus 2015

Wapres Ingatkan MK soal Sengketa

"Hilangnya" Rekomendasi PAN Goyahkan Pilkada


JAKARTA, KOMPAS — Pemilihan kepala daerah secara serentak pada 9 Desember 2015 diperkirakan dapat mengundang ketidakpuasan peserta pilkada yang berujung pada sengketa di Mahkamah Konstitusi. Untuk itu, Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengingatkan MK untuk mengantisipasi sengketa hasil pilkada yang akan diterima.

"MK harus mempersiapkan hakim, staf, dan sarananya. (Sengketa yang muncul) Ini pasti bersamaan dan harus (selesai) 45 hari. Jadi, betul-betul ini namanya harus kerja nasional, harus lembur terus-menerus," kata Kalla di Istana Wapres, Jakarta, Sabtu (15/8), di sela-sela pembukaan simposium internasional yang digelar MK.

Simposium yang diikuti 17 negara itu juga dihadiri Ketua MK Arief Hidayat, Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali, Ketua MPR Zulkifli Hasan, serta Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan/Kepala Staf Kepresidenan Luhut Binsar Pandjaitan.

Sejauh ini, pilkada serentak akan diikuti oleh 265 provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia. Pelaksanaan pilkada di empat daerah terpaksa ditunda menjadi Februari 2017 karena baru ada sepasang calon kepala daerah yang resmi mendaftarkan diri meski masa pendaftaran calon sudah diperpanjang tiga kali.


Bulu tangkis

Hendra/Ahsan Emban Asa ”Merah Putih”


JAKARTA, KOMPAS — Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan menjadi satu-satunya wakil Indonesia pada final Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis 2015. Mereka mengemban asa ”Merah Putih” untuk juara setelah menaklukkan ganda putra nomor satu dunia asal Korea Selatan, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong, 21-17, 21-19, di semifinal, Sabtu (15/8).

 Pada laga puncak yang akan digelar di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu, Hendra/Ahsan akan menghadapi tandem Tiongkok, Liu Xiaolong/Qiu Zihan, yang menyingkirkan Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang) 21-16, 21-23, 22-20.

Hendra/Ahsan sudah empat kali berhadapan dengan Liu/Qiu. Ganda putra terbaik di Tanah Air itu menang dalam dua pertemuan terakhir, yaitu di Hongkong Terbuka 2014 dan Kejuaraan Asia tahun ini.


EKOSISTEM LAUT

1 Juta Terumbu Karang Ditanam


SABANG, KOMPAS — Pemerintah melalui Korps Marinir TNI Angkatan Laut bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan menanam 1 juta terumbu karang bertema "Save Our Littoral Life" secara serentak di Indonesia, termasuk di Pulau Weh, Sabang, Aceh, Sabtu (15/8). Kegiatan itu menjadi satu upaya menyelamatkan ekosistem laut, terutama terumbu karang, yang kini kritis. Adapun menjaga kelestarian laut menjadi kunci pembangunan ekonomi.

Penanaman dilakukan serentak di lahan seluas 100 hektar di 51 lokasi di seluruh Indonesia. Selain di Pulau Weh, ratusan penyelam dari warga, anggota TNI Angkatan Laut (AL), dan pejabat menanam terumbu karang di perairan Malalayang, Manado, Sulawesi Utara; Pantai Tiga, Ambon, Maluku; dan perairan Brondong, Lamongan, Jawa Timur.

Di Pulau Weh, sekitar 10.200 terumbu karang ditanam di kedalaman 5 meter-10 meter di kawasan Pantai Gapang. Acara itu ditandai dengan konferensi video dengan Presiden Joko Widodo. Presiden menegaskan, Gerakan Nasional Penyelamatan Terumbu Karang itu adalah bagian dari menyambut Hari Ulang Tahun Ke-70 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Saturday, August 15, 2015

Kompas, Edisi, Sabtu, 15 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Sabtu, 15 Agustus 2015

Pendulum Anggaran Mulai ke Daerah

Dana Desa Rp 47 Triliun


JAKARTA, KOMPAS — Pendulum anggaran negara mulai bergeser ke daerah. Mulai 2016, anggaran negara akan lebih berorientasi ke daerah, tidak saja berupa peningkatan alokasi dana transfer, tetapi strukturnya juga diubah. Hal itu ditujukan agar lebih mendorong pembangunan desa dan daerah.

Pada masa Orde Baru, kewenangan dan keuangan tersentralisasi di tangan pemerintah pusat. Desentralisasi pemerintahan, sebagai amanat reformasi 1998, mewajibkan pemerintah pusat melimpahkan sebagian besar kewenangannya kepada pemerintah daerah. Pelimpahan kewenangan sudah dilakukan, tetapi pelimpahan dalam anggaran dana belum pernah terjadi.

Ada 34 urusan pemerintahan, yang terdiri dari 26 urusan wajib dan 8 urusan pilihan. Pemerintah pusat telah melimpahkan sekitar 70 persen urusan tersebut ke daerah.

PIDATO KENEGARAAN

Persatuan Kunci Atasi Persoalan


JAKARTA, KOMPAS — Melambannya perekonomian global yang berdampak pada perekonomian nasional bukan satu-satunya masalah bangsa ini. Ada hal lain yang juga membahayakan kelangsungan bangsa, yakni menipisnya kesantunan dan tata krama.

Namun, sebagai bangsa yang besar, menurut Presiden Joko Widodo, kita harus percaya diri menghadapi segala persoalan. "Kunci untuk mengatasi persoalan tersebut adalah persatuan," kata Presiden dalam pidato kenegaraan memperingati 70 Tahun Proklamasi Kemerdekaan di depan Sidang Bersama DPD dan DPR, Jumat (14/8), di Kompleks Parlemen, Jakarta.

Sidang yang dipimpin Ketua DPD Irman Gusman itu dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla, semua pemimpin lembaga negara, menteri Kabinet Kerja, anggota DPR dan DPD, serta perwakilan negara sahabat. Sidang juga dihadiri presiden ke-3 BJ Habibie, presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri, serta mantan Wakil Presiden Try Sutrisno, Hamzah Haz, dan Boediono. Hadir pula para pemimpin partai politik.

WAWANCARA KHUSUS

Jadikan Krisis sebagai Momentum Melompat


Di tengah perekonomian yang sedang lesu akibat tekanan dari dalam dan luar negeri, sektor riil harus bangkit sebagai pilar kekuatan ekonomi. Sektor maritim dan sumber daya merupakan sektor riil yang harus dikelola untuk menyerap tenaga kerja dan memberi nilai tambah bagi negara. Penggabungan kekuatan sektor maritim dan sumber daya itu menjadi target Rizal Ramli, Menteri Koordinator Kemaritiman, yang dipilih Presiden Joko Widodo untuk menggantikan Indroyono Soesilo.

Bagi Rizal, pengalamannya sebagai Menteri Koordinator Perekonomian (2000-2001) menjadi modal untuk membenahi persoalan koordinasi lintas kementerian. Konsolidasi menjadi kata kunci. Para menteri boleh saja berdebat dalam rapat pengambilan kebijakan. Namun, saat kebijakan sudah diputuskan, semua menteri harus satu suara.

Menangani bidang maritim dan sumber daya adalah hal baru bagi pria berlatar belakang ekonomi finansial ini. Bahkan, ia sempat ragu menerima tawaran itu. Namun, ia berjanji melakukan terobosan terbaik. Berikut ini petikan wawancara Kompas dengan Rizal di kediamannya di Jakarta, Kamis (13/8).

Friday, August 14, 2015

Kompas, Edisi, Jumat, 14 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Jumat, 14 Agustus 2015

Strategi Besar Perlu Disiapkan Pemerintah

Pengusaha agar Bahu-membahu


JAKARTA, KOMPAS — Sehari setelah perombakan kabinet, Indeks Harga Saham Gabungan naik dari penurunan sebelumnya (rebound). Namun, pemerintah harus menyiapkan rencana dan strategi besar, terutama dalam mengantisipasi tantangan ekonomi ke depan.

Kemarin, Kamis (13/8), IHSG ditutup 104,76 poin (2,34 persen) ke level 4.584,25. Namun, kenaikan indeks ini belum cukup menutup penurunan pada Rabu (12/8), yang terjun 3,1 persen.

Investor asing juga masih melepas saham-saham mereka. Penjualan bersih Rp 1,17 triliun sepanjang hari kemarin. Dengan demikian, investor asing tinggal menyisakan pembelian bersih Rp 337 miliar sejak awal tahun ini.

Pada Rabu, Presiden Joko Widodo mengangkat Darmin Nasution, mantan Gubernur Bank Indonesia yang juga Komisaris Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, menjadi Menteri Koordinator Perekonomian, menggantikan Sofyan Djalil. Rizal Ramli, Komisaris Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, menjadi Menteri Koordinator Kemaritiman menggantikan Dwisuryo Indroyono Soesilo.


Anugerah Kota Cerdas Indonesia

Surabaya Raih Penilaian Tertinggi


JAKARTA, KOMPAS — Kota Surabaya meraih penilaian tertinggi dalam Indeks Kota Cerdas Indonesia 2015 yang digelar harian Kompas bersama Institut Teknologi Bandung dan Perusahaan Gas Negara. Selain di bidang lingkungan, ibu kota Provinsi Jawa Timur itu juga menduduki peringkat pertama kota cerdas untuk kategori kota dengan penduduk lebih dari 1 juta jiwa.

Wakil Presiden M Jusuf Kalla menyerahkan piala kepada Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini pada acara Penganugerahan Kota Cerdas Indonesia 2015 di Hotel Shangri-La, Jakarta, Kamis (13/8) malam. Hadir antara lain Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Wakil Pemimpin Umum Harian Kompas Lilik Oetama dan Rikard Bagun, serta sejumlah wali kota dari seluruh Indonesia.

Pada kategori kota dengan penduduk 200.000 jiwa atau kurang, Magelang menempati peringkat pertama, disusul Madiun, Bontang, Mojokerto, dan Salatiga. Penghargaan kota cerdas dengan penduduk 200.000 jiwa hingga 1 juta jiwa berturut-turut diraih Yogyakarta, Balikpapan, Surakarta, Pontianak, dan Malang.


Mendorong Inklusi Tanpa Henti


Terminologi inklusi keuangan identik dengan sektor keuangan. Di Indonesia, tanggung jawab soal inklusi keuangan seolah tereduksi, hanya melekat pada otoritas lembaga keuangan. Namun, hal ini tidak berlaku bagi Darmin Nasution.

Cita-cita inklusi keuangan merasuki Darmin saat menjabat Gubernur Bank Indonesia (BI) periode 2010-2013. Setelah tak lagi menjabat Gubernur BI, impian itu terbenam dalam pemikiran Darmin di tengah aktivitasnya di sejumlah lembaga, seperti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia.

Saat dilantik sebagai Menteri Koordinator Perekonomian, Rabu (12/8), cita-cita itu seolah bersemi kembali. Darmin ingin memberikan sumbangsihnya untuk mewujudkan inklusi keuangan yang masih jauh dari harapan.

Sehari setelah dilantik, Kamis, Kompas mendapat kesempatan mewawancara Darmin. Selama 59 menit, Darmin menuturkan pemikiran, kegelisahan, dan cita-citanya. Berikut petikannya.

Lima besar untuk kategori kota berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa adalah Surabaya, Tangerang, Bandung, Depok, dan Semarang. Penyelenggara juga memberikan penghargaan untuk kota cerdas kategori ekonomi kepada Kota Magelang, kategori sosial kepada Kota Madiun, dan kategori lingkungan kepada Kota Surabaya.

Thursday, August 13, 2015

Kompas, Edisi, Kamis, 13 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Kamis, 13 Agustus 2015

Ekonomi Menjadi Ujian

Perombakan Kabinet Tidak Mengganggu Stabilitas Politik


JAKARTA, KOMPAS — Pemulihan ekonomi menjadi tantangan utama Kabinet Kerja pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, khususnya lima menteri dan satu pejabat setingkat menteri yang dilantik, Rabu (12/8). Sinergi dan kerja yang optimal menjadi kunci untuk menjawab tantangan itu.

Hadir dalam acara pelantikan itu antara lain Wakil Presiden Jusuf Kalla, pemimpin lembaga negara, menteri Kabinet Kerja, dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Hadir pula sejumlah pemimpin partai yang ada di pemerintahan Jokowi-Kalla, yaitu Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum Partai Nasdem Surya Paloh, Ketua Umum Partai Hanura Wiranto, dan Ketua Umum PPP hasil Muktamar Surabaya Romahurmuziy.

Sementara itu, dari enam orang yang diganti, hanya Sofyan Djalil yang hadir saat pelantikan. Kemarin, ia dilantik menjadi Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.

Surya Paloh memahami keputusan Presiden merombak kabinet untuk meningkatkan kinerja pemerintah meski kader partainya, Tedjo Edhy Purdijatno, dilepas dari jabatannya sebagai Menko Polhukam.


Kongres Diaspora

Perantau Tetap Bisa Mengabdi pada Bangsa


JAKARTA, KOMPAS — Dalam konteks dunia global, nasionalisme tidak lagi hanya bergantung pada selembar kertas penanda status kewarganegaraan. Mereka yang pergi merantau ke luar negeri, baik tinggal menetap maupun sementara, tetap bisa menyumbangkan manfaat bagi Tanah Air.

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan hal itu saat membuka Kongres Diaspora Indonesia III bertema "Diaspora Bakti Bangsa", di Jakarta, Rabu (12/8). "Kalau dulu, orang yang memilih kewarganegaraan lain nasionalismenya dinilai turun. Kini, memilih kewarganegaraan lain bukan berarti nasionalismenya turun. Mereka yang memiliki paspor Indonesia tidak berarti lebih baik (nasionalismenya) dibandingkan dengan mereka yang tidak punya," tuturnya.

Wapres mengatakan, warga negara Indonesia (WNI) ataupun keturunan Indonesia yang berdiaspora (menyebar) ke luar negeri tetap bisa mengabdi kepada bangsa Indonesia. Dukungan itu bisa diberikan mereka dalam bentuk pengalaman, jaringan, modal, dan akses ke pasar luar negeri.


Perombakan Kabinet

Memanfaatkan Momentum "Reshuffle"


Pergantian menteri adalah momentum. Awalnya, peristiwa penting ini diharapkan menjadi counter-cycle yang mampu membalikkan arah perekonomian menjadi lebih baik. Namun, masuknya 4 orang baru ini justru terjadi dalam situasi regional dan global begitu buruk, setelah Tiongkok mengubah nilai referensi mata uangnya.

Momentum pergantian menteri seakan tenggelam oleh momentum yang lebih besar. Bahkan, menteri baru harus menghadapi perkembangan baru yang lebih rumit. Ada gejala semakin meningkatnya perang nilai tukar antarnegara besar di dunia.

Menko Perekonomian Darmin Nasution sudah harus berhadapan dengan kemerosotan nilai tukar dan pelemahan pasar. Pada hari pelantikan, Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia meluncur ke level 4.400-an, sementara nilai tukar terus melemah ke kisaran Rp 13.800. Namun, patut dipahami, keduanya tak berhubungan satu sama lain dalam jangka pendek. Pasar keuangan (regional) tengah bergolak sejak kemarin, menyusul kebijakan Tiongkok memperlemah mata uangnya.

Wednesday, August 12, 2015

Kompas, Edisi, Rabu, 12 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Rabu, 12 Agustus 2015

Sumber Masalah di Parpol


KPU Tunda Pelaksanaan Pilkada di Empat Daerah


JAKARTA, KOMPAS — Komisi Pemilihan Umum menunda pilkada di empat daerah dari rencana pada 9 Desember 2015 menjadi tahun 2017. Ini karena hanya ada satu pasang bakal calon yang mendaftar di empat daerah itu. Partai politik menjadi pihak yang paling bertanggung jawab dengan kondisi ini.

Empat daerah yang pelaksanaan pilkadanya ditunda adalah Kota Mataram (NTB), Kabupaten Timor Tengah Utara (NTT), Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat), dan Kabupaten Blitar (Jawa Timur).

"KPU di empat daerah itu akan membuat keputusan untuk penundaan pilkada sampai 2017," kata Ketua KPU Husni Kamil Manik, Selasa (11/8). Dengan demikian, dari rencana awal digelar di 269 daerah, Pilkada 2015 maksimal digelar di 265 daerah. Jumlah itu masih bisa berkurang karena ada pasangan bakal calon yang mungkin tak lolos verifikasi oleh KPU.

Hingga akhir pekan lalu, ada tujuh daerah yang mempunyai pasangan bakal calon kurang dari dua. Namun, saat perpanjangan pendaftaran pilkada tahap kedua, 9-11 Agustus, ada tambahan pasangan bakal calon di Kota Surabaya dan Kabupaten Pacitan (Jawa Timur) serta Kota Samarinda (Kalimantan Timur).


Pemerintahan


Presiden Rencanakan Rombak Kabinet


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo, Rabu (12/8) siang ini, dikabarkan akan merombak kabinet dan langsung melantik mereka di Istana Negara, Jakarta. Sejumlah menteri yang akan diganti meliputi menteri koordinator, menteri, dan seorang pejabat setingkat menteri.

Di Istana Kepresidenan, Selasa malam, Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla bertemu empat mata. Pertemuan berlangsung sejak pukul 18.30 hingga 20.20. Hingga pukul 21.00 belum ada keterangan resmi terkait pergantian menteri itu.

Menteri Sekretaris Negara Pratikno yang ditunggu pers di halaman belakang Istana Negara tak kunjung keluar. Ketika ditelepon dan dikirimi layanan pesan singkat, Pratikno juga tak mengangkat dan menjawab.

Wapres Kalla yang dikonfirmasi membenarkan adanya pertemuan empat mata bersama Presiden Jokowi di Istana Merdeka. "Reshuffle kabinet? Ha-ha-ha... tunggulah besok," ujar Kalla tanpa merinci keterangannya terkait pergantian kabinet yang isunya sudah merebak sejak tiga bulan lalu.


TRANSPORTASI


Kereta Cepat Butuh Pertimbangan Matang


JAKARTA, KOMPAS — Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang ditawarkan Tiongkok dan Jepang membutuhkan pertimbangan matang. Banyak analisis yang belum dimasukkan dalam penentuan pihak yang akan mengerjakan proyek tersebut.

Dalam beberapa dokumen dan memo dari sejumlah kementerian mengenai kereta cepat yang didapat Kompas, Selasa (11/8), disebutkan, masih banyak analisis yang perlu dilakukan, seperti analisis pasar, analisis kepentingan nasional, analisis pembiayaan, analisis keekonomian, analisis pasca implementasi, dan beberapa analisis lain.

Dalam salah satu memo juga disebutkan, perbaikan jalur ganda Jakarta-Bandung sebenarnya bisa menekan waktu tempuh dari 180 menit saat ini menjadi sekitar 70 menit. Angka ini hanya berbeda 40 menit dibandingkan dengan proposal kereta cepat itu. Untuk perbedaan waktu tempuh sebesar itu, menurut memo itu, investasi kereta cepat dinilai lebih mahal.

Tuesday, August 11, 2015

Kompas, Edisi, Selasa, 11 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Selasa, 11 Agustus 2015

Pemerintah Tangani Kelangkaan Daging Sapi

Mendag Ancam Penimbun


JAKARTA, KOMPAS — Untuk mengatasi kelangkaan daging sapi, pemerintah segera mengimpor 50.000 sapi siap potong dari Australia. Sementara untuk memenuhi kebutuhan pasar sekarang ini, Perum Bulog terus melakukan operasi pasar.

Selanjutnya, untuk jangka menengah dan panjang, pemerintah perlu mengoreksi pola distribusi pemberian sapi potong kepada peternak yang pada periode pemerintah sebelumnya sudah dilakukan, tetapi belum efektif dan memberikan hasil optimal untuk ketersediaan daging sapi.

Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil dalam keterangan pers seusai memimpin rapat koordinasi ekonomi di Kantor Presiden, Kompleks Istana, Jakarta, Senin (10/8) malam, mengatakan, keputusan rapat koordinasi akan disampaikan kepada Presiden Joko Widodo.

"Selasa, menurut rencana, dibahas dalam sidang kabinet sehingga ada keputusan yang didukung melalui sidang kabinet," kata Sofyan.

Rapat koordinasi ekonomi dihadiri sejumlah menteri terkait. Namun, ketika memberikan keterangan pers, Sofyan hanya didampingi Menteri Perdagangan (Mendag) Rachmat Gobel dan Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti. Semula akan digelar rapat terbatas khusus membahas kelangkaan daging sapi. Namun, karena Presiden Jokowi harus menghadiri acara lain, rapat terbatas pun diubah menjadi rapat koordinasi.


Infrastruktur


Kereta Mampu Atasi Persoalan Transportasi Kota


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah kota kini makin bergantung pada transportasi massal. Mereka tengah membangun jaringan kereta. Meski angkutan massal di sejumlah kota tengah diperbaiki dan dibangun, kereta komuter di Jakarta telah mampu mengatasi persoalan transportasi antara kota besar dan kota pendukung di sekitarnya. Kereta telah ikut menyelesaikan masalah perkotaan.

Laporan dari sejumlah kota yang dikumpulkan Kompas, Senin (10/8), menunjukkan perkembangan pembangunan dan perencanaan sistem perkeretaapian di dalam kota.

Sementara itu, beberapa kota telah terhubung dengan daerah pendukung melalui kereta komuter, seperti kereta rel listrik (KRL) dan kereta lokal. Kereta komuter Jabodetabek ini mengangkut 800.000 penumpang per hari dan ditargetkan mencapai 1,2 juta penumpang sebelum tahun 2019.

Kereta lokal sudah menghubungkan Kota Semarang, Jawa Tengah, dengan kota sekitarnya, seperti Blora, Pekalongan, dan Tegal, serta dalam waktu dekat Semarang-Ambarawa. Peminat kereta api jarak dekat di wilayah utara Jawa Tengah pun terus meningkat.


Pendidikan 


Emas, Perak, dan Perunggu untuk Negeri


Sebanyak 570 medali emas, perak, dan perunggu dipersembahkan pelajar bagi negeri. Tunggu dulu... ratusan medali itu hanya perolehan dalam 5 tahun. Lebih dari 20 tahun Indonesia mengikuti olimpiade keilmuan. Sebuah ilustrasi, betapa negeri ini kaya talenta.

Dalam kurun tahun 2010 hingga 2014, para pelajar sekolah dasar, sekolah menengah pertama, serta sekolah menengah atas dan yang sederajat mengumpulkan medali-medali itu dari berbagai olimpiade kelas dunia, seperti matematika, ilmu pengetahuan alam, astronomi, kimia, biologi, fisika, dan kebumian. Tepatnya, ada 92 emas, 221 perak, dan 257 perunggu yang diraih. Itu baru menurut catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pencapaian itu belum berhenti. Di Magelang, Jawa Tengah, Joandy Leonata Pratama (17) menambah tumpukan medali. Dia menyumbang emas lewat Olimpiade Astronomi dan Astrofisika Internasional pada 26 Juli hingga 4 Agustus lalu. Dengan nilai tertinggi, melampaui 10 peraih medali emas lainnya, gelar Absolute Winner dan penghargaan Best Observation pun disabet Joandy.

Saturday, August 8, 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 8 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 8 Agustus 2015

Perpres Percepatan Akan Terbit

Serapan Anggaran Pemerintah Terus Dipantau


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo segera menerbitkan peraturan presiden dan instruksi presiden untuk mempercepat pembangunan infrastruktur strategis dan realisasi penyerapan anggaran. Kedua peraturan itu akan dikeluarkan sebelum Hari Kemerdekaan Indonesia.

 Sebelumnya, Badan Pusat Statistik mengumumkan, pertumbuhan ekonomi triwulan II-2015 sebesar 4,67 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi triwulan I-2015 sebesar 4,71 persen.

”Penyusunan perpres dan inpres terkait percepatan pembangunan infrastruktur strategis kini sudah memasuki tahap akhir. Diharapkan, bisa terbit sebelum tanggal 17 Agustus,” kata Menteri Koordinator Kemaritiman Indroyono Soesilo, di Jakarta, Jumat (7/8). Kedua produk hukum itu memungkinkan kepala daerah, baik gubernur, bupati, maupun wali kota, lebih percaya diri dalam mempercepat penyerapan anggaran.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan, per akhir Juli 2015, realisasi belanja negara mencapai Rp 913,5 triliun atau 46 persen dari pagu belanja dalam APBN-P 2015 sebesar Rp 1.984 triliun. Pemerintah juga menemukan anggaran belanja pemerintah yang ditransfer ke daerah mengendap di perbankan dan belum dimanfaatkan sebesar Rp 273 triliun sampai Juli 2015.

Pilkada Serentak

Presiden: Telah Ada Komitmen Partai


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo menuturkan, telah ada komitmen di antara partai politik untuk mendorong munculnya pasangan calon baru di tujuh daerah yang saat ini masih memiliki satu pasangan calon. Dengan dasar ini, diyakini akan ada perkembangan positif saat Komisi Pemilihan Umum membuka kembali pendaftaran di tujuh daerah yang masih punya satu pasangan calon pada 9-11 Agustus 2015.

 ”Mereka sudah berkomitmen untuk mendorong pasangan calon kepala daerah lebih dari satu,” kata Presiden, di Jakarta, Jumat (7/8).

Tujuh daerah yang saat ini masih memiliki satu pasangan bakal calon adalah Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat), Kota Samarinda (Kalimantan Timur), Kabupaten Timor Tengah Utara (Nusa Tenggara Timur), Kota Mataram (Nusa Tenggara Barat), serta Kabupaten Blitar, Kabupaten Pacitan, dan Kota Surabaya di Jawa Timur.

Terkait dengan komitmen untuk memunculkan pasangan baru di tujuh daerah itu, sejumlah partai terus menjalin komunikasi. Ketua Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrat Jawa Timur Soekarwo mengatakan, komunikasi untuk memunculkan calon baru di tiga daerah di Jawa Timur yang kini masih memiliki satu pasang bakal calon tidak hanya dilakukan ke parpol, tetapi juga ke keluarga dan bakal calon yang bersangkutan.

Pusaka Bahari

Besi Luwu, yang Tersisa dari Kehebatan Metalurgi Nusantara


Lima abad silam, masyarakat di Danau Matano, pedalaman Luwu, Sulawesi Selatan, telah mahir menempa batu menjadi perkakas besi. Kini, Luwu masih produsen logam, tetapi dalam bentuk mentah dan seluruhnya diekspor.

Kepandaian menempa logam, menurut sejarawan Anthony Reid (2014), merupakan penciptaan kekuasaan. Sebab, logam terutama dipakai mencipta senjata, baru setelahnya untuk alat pertanian.

Maka, mereka yang memiliki kepandaian mengolah logam, dalam bahasa Jawa disebut pande (pandai), dan bahasa Bugis panre, memiliki posisi penting. Bahkan, bisa menjadi penguasa. Sebagai contoh, raja kedua Bone memakai gelar Petta Panre Besi atau "Tuan Kita Pandai Besi". Adapun dalam tradisi rakyat Jawa Barat dikenal Ciung Wanara, pandai besi yang kemudian merebut takhta Galuh.

Pada masa lalu, kejayaan Kerajaan Majapahit sebagai kerajaan maritim tak lepas dari dukungan industri senjata logam.

"Majapahit butuh banyak persenjataan kuat, ringan, dan mudah ditempa. Karakter besi Luwu yang kaya nikel mampu memenuhi kriteria itu," kata Iwan Sumantri, arkeolog Universitas Hasanuddin, Makassar.

Friday, August 7, 2015

Kompas, Edisi, Jumat, 7 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Jumat, 7 Agustus 2015

Gerak Pemerintah Masih Lamban

Percepatan Akan Dorong Daya Beli Masyarakat


JAKARTA, KOMPAS — Gerak pemerintah masih lamban sehingga harus mengambil keputusan cepat di semester II-2015 agar pertumbuhan ekonomi Indonesia membaik. Di sisi lain, pelaku usaha harus tetap inovatif, kreatif, dan optimistis di tengah lesunya perekonomian.

Semula, belanja pemerintah, khususnya dalam bidang infrastruktur, diharapkan bisa menjadi penopang pertumbuhan ekonomi tahun ini. Namun, hingga semester I-2015, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang. Dari pertumbuhan ekonomi triwulan II-2015, sebesar 2,66 persen di antaranya disumbang konsumsi rumah tangga. Adapun belanja pemerintah menyumbang 0,18 persen.

Sejumlah pemimpin perusahaan yang dihubungi Kompas, Kamis (6/8), tidak berani menyebut pemerintah lamban, tetapi memilih untuk mengatakan pemerintah harus bergerak lebih cepat.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, langkah ekonomi pemerintah dan Bank Indonesia saat ini sudah tepat dengan mengeluarkan kebijakan yang bersifat antisipatif berupa stimulus pajak dan moneter.

ORMAS KEAGAMAAN

Politik Kebangsaan Menjadi Amanat


MAKASSAR, KOMPAS — Setelah melalui proses panjang dan berjenjang, Kamis (6/8), Haidar Nasir ditetapkan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2015-2020. Sementara itu, istri Haidar, yaitu Siti Noordjannah Djohantini, menjadi Ketua Umum PP Aisyiyah.

Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya Zainuddin Maliki mengatakan, banyak tantangan yang harus dihadapi Muhammadiyah ke depan. ”Tapi yang saya ingin tekankan adalah melaksanakan amanat muktamar untuk tetap mengembangkan politik kebangsaan,” katanya, semalam.

Haidar ditetapkan sebagai ketua umum dalam Sidang Pleno VIII Muktamar Ke-47 Muhammadiyah semalam di Auditorium Universitas Muhammadiyah Makassar, Sulawesi Selatan. Penetapan dilakukan setelah 13 anggota PP Muhammadiyah bermusyawarah selama lebih kurang 10 menit.

Ribuan peserta muktamar yang memadati ruangan kompak memberikan persetujuan saat Ketua Panitia Pemilihan Ahmad Dahlan Rais menyampaikan hasil musyawarah tersebut. Dalam pemilihan 13 anggota PP Muhammadiyah, Rabu lalu, Haidar memperoleh suara terbanyak, yakni 1.947 suara.

DIPLOMASI BUDAYA

Jejak Indonesia di Timor Leste


Meski 15 tahun lebih Jakarta tidak lagi menaungi bumi ”Timor Loro Sae”, jejak Indonesia masih terlihat jelas dan rasa kenusantaraan masih tertanam. Bahkan, di beberapa tempat, ”monumen” fisik peninggalan Orde Baru masih (dibiarkan) berdiri.

engoklah di sudut Jalan Bispo de Mederios di jantung kota Dili, ibu kota Timor Leste. Ada baliho besar, tetapi ”unik”. Papan besar itu berhias gambar sepasang remaja berseragam putih-biru melambaikan tangan. Tengok sederetan kata di atasnya. Kalimat berbau slogan khas Orde Baru yang mulai mengabur masih terbaca: ”Sukseskan Pendidikan Dasar 9 Tahun di Timor Timur”.

Kalau saja tak ada iklan media luar ruang lain dalam bahasa Tetum dan Portugal di sampingnya, niscaya kita merasa seperti berada di negeri sendiri: Indonesia! Apalagi pemilik toko di sekitarnya masih fasih dan senang hati diajak berbincang dalam bahasa Indonesia.

”Papan bergambar itu sudah lama berdiri di sana. Sudah ada sejak tahun 1990-an,” kata Ximenes de Araujo (47), warga Timor Leste yang duduk santai di sisi timur Jalan Bispo de Mederios pada Minggu pagi.

Wednesday, August 5, 2015

Kompas, Edisi, Rabu, 5 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Rabu, 5 Agustus 2015

Berikan Sanksi bagi Parpol

Penundaan Pilkada Merugikan Rakyat dan Calon yang Mendaftar


JAKARTA, KOMPAS — Partai politik yang tidak mengusung bakal calon di Pemilihan Kepala Daerah 2015 mendatang layak mendapat sanksi. Pasalnya, penundaan pilkada karena pasangan calon yang mendaftar kurang dari dua akan merugikan rakyat daerah tersebut.

”Sanksi ini perlu bagi parpol yang sengaja tidak mengusung bakal calon di pilkada,” kata John Tuba, pengajar di Universitas Nusa Cendana, Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (4/8).

Sanksi yang dilontarkan sejumlah pihak antara lain parpol yang tidak mengusung pasangan calon di pilkada suatu daerah tidak boleh mengikuti pilkada berikutnya di daerah itu. Dukungan yang dimiliki pasangan calon juga perlu dibatasi, misalnya maksimal 50 persen kursi DPRD. Hal ini akan membuat parpol berinisiatif mencari pasangan calon lain serta tidak ada pasangan calon yang memborong seluruh parpol.

Dari 269 daerah yang direncanakan menggelar pemilihan umum kepala daerah (pilkada) serentak pada 9 Desember 2015, masih ada tujuh daerah yang hanya memiliki satu pasang bakal calon. Daerah itu adalah Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat), Kota Samarinda (Kalimantan Timur), Kabupaten Timor Tengah Utara (Nusa Tenggara Timur), Kota Mataram (Nusa Tenggara Barat), serta tiga daerah di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Blitar, Kabupaten Pacitan, dan Kota Surabaya.

BAHAN POKOK

Harga Daging Ayam, Sapi, dan Cabai Naik


JAKARTA, KOMPAS — Sejak sepekan setelah Lebaran, harga berbagai bahan pokok, khususnya daging sapi, ayam, cabai, dan beras, di sejumlah wilayah di Indonesia stabil tinggi. Kenaikan harga itu diduga karena pedagang menahan ternak sapi untuk kebutuhan hari raya Idul Adha.

Dari Tegal, Jawa Tengah, dilaporkan, harga cabai sejak sepekan setelah Lebaran naik. Harga cabai rawit merah Rp 60.000 per kilogram (kg), cabai besar merah Rp 26.000 per kg, dan cabai hijau Rp 15.000 per kg.

Fitriana (49), pedagang cabai di Pasar Pagi Kota Tegal, mengatakan, kenaikan harga baru berlangsung satu hari. Sebelumnya, harga cabai rawit merah Rp 45.000-Rp 50.000 per kg, harga cabai besar merah Rp 22.000 per kg, dan harga cabai hijau Rp 10.000 per kg.

Harga daging ayam mencapai Rp 40.000 per kg dalam 10 hari terakhir. Sarilah (35), pedagang ayam, mengatakan, harga daging naik karena pasokan ayam hidup sedikit. ”Banyak peternak yang masih kosong,” ujarnya.

Kenaikan harga daging sapi, ayam, dan cabai juga terjadi di Kota Surabaya, Jawa Timur. Berdasarkan pemantauan di Pasar Wonokromo, Selasa (4/8), harga daging sapi Rp 120.000 per kg, harga ayam potong Rp 34.000 per kg, dan harga cabai rawit Rp 80.000 per kg. Harga cabai merah keriting Rp 40.000 per kg.

WADUK JATIGEDE

Suara Harapan dari Lembah Cimanuk


Dari lembah Sungai Cimanuk di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, ribuan warga berharap sembari menghitung hari. Suara itu terdengar sarat pesan kemanusiaan bagi masa depan warga.

Dentuman lagu pop Sunda dan dangdut ”menyalak” bergantian lewat pengeras suara di rumah Casmita (40), warga Kampung Sadang, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang, Minggu (2/8). Lagu-lagu yang terdengar seharian itu seperti berkabar ada acara di rumah Casmita. Falah (5), anak bungsu Casmita, baru saja disunat.

Undangan itu berhasil mengajak warga Cipaku berdatangan. Mereka dengan cekatan bergerak cepat saling membantu dengan peran masing-masing. Saat para tamu datang mengucapkan selamat kepada Falah, Casmita memandang nanar keakraban itu. Keajaiban yang tidak ia lihat di Jakarta, tempatnya mencari nafkah sebagai penjual makanan ringan beberapa tahun terakhir.

”Meski tanpa undangan, mereka datang dengan setumpuk sajian. Kerelaan dan keakraban seperti ini mungkin tidak akan saya rasakan lagi esok. Tempat ini akan digenangi air setinggi 20 meter,” katanya.

Tuesday, August 4, 2015

Kompas, Edisi, Selasa, 4 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Selasa, 4 Agustus 2015

Muhammadiyah Jadi Penggerak

Pembukaan Muktamar Berlangsung Meriah


MAKASSAR, KOMPAS — Persyarikatan Muhammadiyah diharapkan terus menjadi motor penggerak kemajuan bangsa melalui aktivitas di bidang pendidikan dan kesehatan. Lewat peran tersebut, selama ini Muhammadiyah membawa misi Islam berkemajuan.

”Sejak didirikan di Yogyakarta tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan, Muhammadiyah telah berperan aktif mencerdaskan umat dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Persyarikatan telah membawa semangat pembaruan yang membara agar Islam selalu relevan dengan zaman, agar Islam menjadi jawaban terhadap masalah umat dan bangsa,” kata Presiden Joko Widodo saat membuka Muktamar Ke-47 Muhammadiyah dan Muktamar Satu Abad Aisyiyah yang dihadiri sedikitnya 50.000 orang di Lapangan Karebosi, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (3/8).

Pembukaan muktamar yang bertema ”Dakwah Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan” itu juga dihadiri sejumlah pejabat negara. Mereka antara lain Ketua MPR Zulkifli Hasan, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, Ketua DPD Irman Gusman, Wakil Ketua DPD Farouk Muhammad, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Perindustrian Saleh Husin, dan Menteri PAN-RB Yuddy Chrisnandi.

DANA BANTUAN SOSIAL

Gatot dan Evy Minta Diusut oleh KPK


JAKARTA, KOMPAS — Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho dan istrinya, Evy Susanti, minta kasus dana bantuan sosial Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang saat ini ditangani kejaksaan diusut oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Namun, kejaksaan menyatakan tetap akan mengusut kasus dana bansos tersebut.

Seusai Gatot dan Evy dibawa KPK untuk ditahan, Senin (3/8), Razman Arif Nasution yang merupakan kuasa hukum keduanya mengatakan, kliennya minta kasus dana bansos dan yang lain diproses hukum oleh KPK untuk mempermudah penyidikan sampai persidangan.

KPK menahan Gatot dan Evy terkait kasus penyuapan hakim Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Medan. Pada 28 Juli, KPK menetapkan keduanya sebagai tersangka pemberi suap dalam kasus tersebut.

Kasus yang menjadikan Gatot dan Evy sebagai tersangka ini bermula dari operasi tangkap tangan KPK di gedung PTUN Medan, 9 Juli. Dalam operasi itu, KPK menangkap M Yagari Bhastara alias Gerry, pengacara pada Kantor Hukum OC Kaligis dan Partner. Gerry diduga menyuap tiga hakim PTUN Medan, Tripeni Irianto Putro, Amir Fauzi, dan Dermawan Ginting, serta seorang panitera, Syamsir Yusfan.

TEMBANG ANAK-ANAK

Si Gundul yang Kehilangan Pacul


”Gundul-gundul pacul, cul, gelelengan. Nyunggi-nyunggi wakul kul gelelengan. Wakul ngglimpang segane dadi sak latar...”. Tembang dolanan berbahasa Jawa karya C Hardja Soebrata (1905-1986) itu berisi ajaran budi pekerti yang mengingatkan anak untuk tidak bersikap sombong.

Banyak spekulasi tentang penggubah lagu. Banyak pula tafsir atas makna lagu tersebut. Penulis lirik ”Gundul Pacul”, Hardja Soebrata, dalam buku Ajo pada Nembang terbitan Noordhoff-Kolff NV, Jakarta (1955), menyebut tembang tersebut sebagai karya piridan atau tembang yang disusun berdasarkan karya yang sudah ada. ”...ladjeng kula damelaken tetembungan ingkang gampil dipun ngertosi ing lare... (lalu saya buatkan kata-kata yang mudah dimengerti anak-anak).”

Mudah dimengerti dan lucu, serta mengandung ajaran budi pekerti. Gelelengan dalam bahasa Jawa artinya berjalan dengan sombong, sembrono. Si Gundul nyunggi atau meletakkan bakul di atas kepala. Bakul pun tergelimpang jatuh dan sega atau nasi berantakan memenuhi halaman.

”Bapak mengajarkan agar anak-anak tidak sombong,” kata Maria A Rahartati, putra Hardja Soebrata, yang hadir dalam diskusi budaya yang membahas karya Hardja Soebrata di Bentara Budaya Jakarta, Senin (3/8).

Monday, August 3, 2015

Kompas, Edisi, Senin, 3 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Senin, 3 Agustus 2015

Muktamar NU Bisa Molor

Perbedaan Pendapat Terjadi dalam Mekanisme Pemilihan


JOMBANG, KOMPAS — Muktamar Ke-33 Nahdlatul Ulama terancam molor. Setelah registrasi peserta sempat ricuh, rapat pleno tata tertib yang seharusnya jadi agenda pertama setelah muktamar dibuka Presiden Joko Widodo, Sabtu (1/8) malam, baru dapat dimulai Minggu sekitar pukul 15.00.

Semalam sekitar pukul 23.30, rapat pleno untuk membahas tata tertib ini akhirnya diputuskan diskors untuk kemudian dilanjutkan pada Senin hari ini.

Hal itu terjadi karena adanya perbedaan tajam di antara muktamirin soal mekanisme pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Muktamirin terbelah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mendukung pemilihan dilakukan secara musyawarah mufakat melalui sistem perwakilan ahlul halli wal aqdi (AHWA). Kelompok kedua menolak sistem itu dan menginginkan peserta langsung yang memilih rais aam dan ketua umum.


PILKADA SERENTAK

Hari Ini Batas Akhir Pendaftaran


JAKARTA, KOMPAS — Senin (3/8) menjadi batas akhir perpanjangan pendaftaran pasangan calon kepala daerah di sejumlah daerah dengan jumlah pasangan calon yang mendaftar kurang dari dua. Dari 269 daerah yang dijadwalkan menggelar pemilihan kepala daerah pada Desember 2015, hingga kemarin, masih ada 10 daerah dengan jumlah pasangan calon yang mendaftar kurang dari dua.

Jika hingga hari ini pukul 16.00 waktu setempat pasangan calon yang mendaftar di suatu daerah tetap kurang dari dua, menurut komisioner Komisi Pemilihan Umum, Ferry Kurnia Rizkiyansyah, pilkada di daerah itu akan ditunda hingga 2017.

Saat pendaftaran pilkada 26-28 Juli, ada 13 daerah yang memiliki pasangan calon kurang dari dua. Setelah diperpanjang, Sabtu (1/8), ada pasangan calon yang mendaftar untuk mengikuti pilkada di Kabupaten Serang, Banten, dan di Kabupaten Pegunungan Arfak, Papua Barat. Kemarin, pasangan Salman-Jana Hamdiana mendaftar mengikuti pilkada di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian, di Serang, Pegunungan Arfak, dan Mataram sudah ada dua pasangan calon yang mendaftar.

KEKERINGAN

Berharap dari Tetes Air Batang Pisang


Markus Antonius Nurak (24), setiap pagi dan sore, meletakkan jeriken isi 5 liter di samping batang pisang yang dilubangi di bagian pangkalnya di ladang. Di lubang itu dipasang belahan bambu untuk mengalirkan tetes demi tetes air ke jeriken.

Satu jeriken air ini diperoleh selama hampir 15 jam. Kalau jeriken diletakkan pukul 18.00 Wita, esok pagi sekitar pukul 09.00 Wita jeriken sudah penuh air, tetapi itu pun tergantung dari besar kecilnya batang pisang. Jika batang pisang kerdil, tidak sampai satu jeriken,” kata Markus, warga Desa Iligay, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, minggu lalu.

Markus sering kali harus meninggalkan pekerjaannya sebagai pengojek untuk menunggui tetesan air dari batang pisang memenuhi jerikennya, dari pagi sampai siang. Dia harus mengontrol posisi jeriken agar tidak miring atau roboh. Dia juga harus menjaga air yang tertampung di jeriken agar tidak diambil orang lain. Setelah jeriken penuh air, barulah anak pasangan Agustinus Nikolaus dan Angelina Mercy itu pulang.

Saat Markus mencari penumpang, adik bungsunya, Maria Florensa (10), yang menggantikannya. Maria pun harus bolos sekolah untuk menunggui tetesan air dari batang pisang memenuhi jeriken.

Sunday, August 2, 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 2 Agustus 2015

Kompas, Edisi, Minggu, 2 Agustus 2015

NU Jadi Jembatan Peradaban


Muktamar Teguhkan Islam Nusantara sebagai Jawaban Krisis


JOMBANG, KOMPAS — Presiden Joko Widodo berharap Nahdlatul Ulama berperan menjadi jembatan peradaban di Tanah Air dan dunia. Sebagai salah satu organisasi Islam terbesar, hal itu memungkinkan karena NU sejak awal kelahirannya mengedepankan nilai-nilai Islam yang moderat.

Ketika membuka Muktamar Ke-33 NU di Alun-alun Jombang, Jawa Timur, Sabtu (1/8) malam, Presiden Jokowi mengatakan, peran yang diharapkan dari NU, khususnya terkait upaya pengentasan warga dari kemiskinan, keterbelakangan, dan ketimpangan sosial. ”Persoalan itulah yang bisa menjadi akar dari gerakan radikalisme,” ujarnya.

Pembukaan muktamar antara lain dihadiri Rais Aam Pengurus Besar (PB) NU KH Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, mantan Presiden Megawati Soekarnoputri, Gubernur Jatim Soekarwo, serta pimpinan partai politik dan lembaga negara.

Presiden meminta NU meningkatkan kerja sama dengan berbagai kalangan guna menciptakan tatanan dunia yang berkeadilan. ”NU berperan penting menampilkan wajah Islam yang moderat. Kita perlu menyampaikan terima kasih kepada hadratusyaikh Hasyim As’yari (pendiri NU) yang menanamkan benih unggul sikap moderat bagi warga nahdliyin,” ujar Presiden.


KEKERINGAN


Petani Bersiasat Mengairi Lahan


MAGELANG, KOMPAS — Petani di sejumlah daerah bersiasat agar lahan tetap produktif di tengah kekeringan. Sebagian petani di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, misalnya, mengairi lahan pertanian dengan air limbah sisa industri tahu.

Adapun di Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Sampang, Jawa Timur, petani menyedot air permukaan dan air tanah dengan pompa pinjaman dari pemerintah.

Menurut pantauan Kompas,Sabtu (1/8), beragam upaya dilakukan karena tidak lagi tersedia air dari sumber lain. Namun, petani tetap bersemangat menggarap lahan di tengah keterbatasan itu.

Suramin (60), petani di Desa Tuksongo, Kecamatan Borobudur, Magelang, mengatakan, air limbah terpaksa dipakai karena hanya air itu yang tersisa di selokan dan sungai kecil di sekitar rumahnya. ”Agar dapat digunakan untuk mengairi lahan, air limbah itu biasanya harus kami bendung terlebih dahulu selama tiga hingga empat hari,” ujarnya.


PENYANDANG TUNANETRA


Gunung Pun Kami Daki…


Mereka berjuang untuk mematahkan persepsi yang menganggap penyandang tunanetra manusia lemah. Mereka mendaki Gunung Papandayan guna mengatakan bahwa mereka penuh semangat hidup dan dapat mandiri.

Mendung menggantung di atas Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat. Kabut bercampur aroma belerang memenuhi udara, mengurangi keleluasaan bernapas. Sekelompok pendaki gunung tampak terus berjalan pelan tapak demi tapak.

Santi Puspita Dewi (24), penyandang tunanetra, mahasiswa Jurusan Komunikasi Universitas Nasional, Jakarta, susah payah melangkahkan kaki. Erida Donna Simaremare (27), sang pemandu, berulang kali menawarkan diri membawakan ransel yang membebani pundak Santi, tetapi selalu ditolak.

Santi meyakinkan Erida bahwa dia bisa mengangkut ransel berbobot hampir 20 kilogram itu sampai ke puncak gunung. Santi tidak ingin merepotkan atau menambah beban orang awas. Dipandu menapaki jalan menuju puncak Papandayan yang berketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut itu saja Santi sudah sangat berterima kasih.