Showing posts with label olimpiade 2016. Show all posts
Showing posts with label olimpiade 2016. Show all posts

Thursday, August 25, 2016

Kompas Edisi Kamis 25 Agustus 2016

Kompas Edisi Kamis 25 Agustus 2016
Kompas Edisi Kamis 25 Agustus 2016

Momentum untuk Evaluasi

Pembangunan Olahraga Tak Bisa Setengah Hati


Jakarta, KompasKeberhasilan meraih satu medali emas dan dua perak dari Olimpiade Rio de Janeiro menjadi momentum kuat mengevaluasi kebangkitan olahraga Indonesia. Pemerintah harus serius dan tak bisa setengah hati jika ingin sejajar dengan bangsa-bangsa juara di bidang olahraga.

"Inilah momentum yang tepat untuk evaluasi. Kalau mau jujur, pembinaan prestasi kita tidak pernah beranjak. Ini karena sistem pembinaan atlet kita belum sistematis," kata pengamat olahraga Fritz Simanjuntak di Jakarta, Rabu (24/8).

Ia mengatakan, visi dan perhatian pemerintah terhadap olahraga masih sangat minim. Hal ini bisa dilihat dengan tidak adanya pusat pelatihan modern dan kompetisi olahraga yang berlevel tinggi di Indonesia.


Sumber Daya Alam

Korupsi Perizinan Ada di Beberapa Daerah


JAKARTA, KOMPAS — Korupsi perizinan diduga tidak hanya dilakukan Gubernur Sulawesi Tenggara Nur Alam, yang kini ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Korupsi serupa ditengarai juga dilakukan sejumlah kepala daerah lain.

Dugaan tersebut muncul karena Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) sejak 2013 menemukan transaksi mencurigakan di rekening sejumlah kepala daerah.

"Pada tahun 2013, kami mengirimkan data transaksi mencurigakan atas nama sejumlah kepala daerah, bupati, dan wali kota kepada kejaksaan," kata Kepala PPATK M Yusuf seusai bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (24/8).


Tenaga Kerja Indonesia

Semangat "Sonagi" untuk Kemajuan Ekonomi Desa


Sonagi, kini, menjadi falsafah warga Desa Wotan, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Sonagi, dalam bahasa Korea, berarti hujan deras yang turun tiba-tiba di musim panas. Bekerja ke Korea Selatan, memperoleh gaji besar, lalu pulang membangun desa.

"Bekerja di Korea sekitar 5 tahun, terus pulang ke kampung. Menjadi pekerja di Korea ibarat memperoleh hujan rezeki di tengah kesulitan mencari kerja di kampung halaman," ujar Syahidul Wildan (38), mantan pekerja Korea yang juga Ketua Paguyuban TKI Purna Bejo Group di Dusun Jongso, Wotan, Rabu (3/8).

Sambil menjaga toko kecilnya di gedung berlantai dua senilai Rp 700 juta, Wildan memaparkan, Bejo merupakan singkatan dari bangun ekonomi Jongso. Hingga Juli lalu, anggota paguyuban ini mencapai 350 orang usia 20-30 tahun. Sebagian besar merupakan mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Korea Selatan, sebagian kecil lainnya masih bekerja di Korea Selatan.

Wednesday, August 24, 2016

Kompas Edisi Rabu 24 Agustus 2016

Kompas Edisi Rabu 24 Agustus 2016
Kompas Edisi Rabu 24 Agustus 2016

Program Kurang Ramah UMKM

Perlu Solusi dan Bimbingan Pajak


JAKARTA, KOMPAS — Program pengampunan pajak menjadi momentum yang tepat untuk mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah tumbuh subur. Namun, realisasi urusan administrasi dan prosedurnya justru dinilai kurang ramah terhadap kelompok usaha ini.

Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akan merasa difasilitasi jika prosedur administrasi yang ditempuh dalam program pengampunan pajak mudah dan ringkas.

Namun, sebagaimana dikemukakan Gunadi, Guru Besar Perpajakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta, kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.


Olimpiade 2016

Owi/Butet Ingin Jadi Inspirator


JAKARTA, KOMPAS — Gerbang 5 Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta yang baru diresmikan mendadak riuh saat peraih medali emas ganda campuran Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, tiba di lokasi, Selasa (23/8). Barikade polisi dan petugas satpam mencegah para penggila bulu tangkis, calon penumpang, dan warga di sekitar lokasi mendekati Owi dan Butet, demikian kedua atlet itu biasa dipanggil.

Walau baru menempuh penerbangan hampir 24 jam, tidak tampak wajah lelah pada keduanya. Wajah mereka tetap semringah dan terus tersenyum ketika para juru foto dan juru kamera, serta warga mengambil gambar mereka.

Ibu Liliyana, Olly Maramis (59), terharu dengan sambutan itu bagi anaknya. Dia menunggu kepulangan Liliyana bersama sang suami, Benno Natsir (60). Sejak pukul 14.00, keduanya ingin bertemu dan memeluk putri tomboinya itu.


Jelajah Sepeda

Menembus Pelangi dari Atas Roda Sepeda


Tak pernah terbayangkan "sadisnya" perjalanan mengayuh pedal sepeda menembus Copa de Flores. Jalanan mulus di hampir semua etape itu tak mampu menaklukkan curamnya tanjakan, tajamnya kelokan, dan ancaman tergelincir di setiap turunan.

Akhirnya, tantangan itu pula yang melengkapi kesempurnaan pesona alam Flores. "Perjalanan ini seperti menyaksikan pelangi. Tantangan sekaligus keindahan hadir penuh warna di setiap penjelajahan," ujar Basri Kamba, pengusaha asal Jakarta, salah satu peserta Jelajah Sepeda Flores-Timor (JSFT).

Sebanyak 76 pesepeda JSFT berkumpul dari sejumlah profesi, mulai dari pengusaha, karyawan swasta, jurnalis, dosen, hingga polisi. Masing-masing memegang harapan besar mendapatkan pengalaman tak terlupakan menjelajahi Pulau Flores dan Timor dengan bersepeda yang diselenggarakan harian Kompas didukung Bank Mandiri.

Tuesday, August 23, 2016

Kompas Edisi Selasa 23 Januari 2016

Kompas Edisi Selasa 23 Januari 2016
Kompas Edisi Selasa 23 Januari 2016

Berikan Solusi Konkret

Selesaikan Persoalan Perpajakan demi Prinsip Keadilan


JAKARTA, KOMPAS — Masih banyak persoalan perpajakan kelas menengah yang belum terakomodasi dalam program pengampunan pajak. Kondisi ini muncul baik pada payung hukum maupun pelayanan pajak. Perlu solusi mengatasi permasalahan ini demi memenuhi prinsip keadilan.

Pada umumnya, kelas menengah sudah membayar pajak dengan benar. Hal ini terutama dilakukan karyawan. Sebab, Pajak Penghasilan (PPh) langsung dipotong oleh perusahaan tempat mereka bekerja.

Namun, tidak sedikit harta kelompok kelas menengah ini yang belum dilaporkan dalam surat pemberitahuan tahunan (SPT) pajak. Hal ini, antara lain, disebabkan kelalaian wajib pajak atau kerumitan dalam mengurus persoalan administrasi.


Pesta di Rio Usai, AS Juara Umum


RIO DE JANEIRO, KOMPAS Di tengah beragam kendala, Olimpiade Rio de Janeiro 2016 terselenggara dengan baik pada 5-21 Agustus. Pahlawan olahraga dari 207 delegasi kembali ke negara masing-masing untuk berjumpa kembali di Tokyo, Jepang, empat tahun mendatang.

Amerika Serikat tampil sebagai juara umum dengan meraih 46 medali emas, 37 perak, dan 38 perunggu. Mereka dominan di cabang renang dengan 16 emas dan atletik (13 emas).

Pergeseran kekuatan terjadi antara Tiongkok dan Inggris Raya. Tiongkok, yang menempati peringkat kedua di London 2012 dengan 38 emas, kali ini turun ke posisi ketiga. Mereka kehilangan 12 emas, yaitu 3 dari bulu tangkis, 4 dari renang, dan 5 dari senam. Hanya atlet loncat indah yang mempertahankan dominasinya dengan 7 medali emas dari delapan nomor.


Infrastruktur Papua

Berjibaku Membangun Jalan Penghubung


Dum! Dentuman membahana, mengoyak sepi pagi di Mbua. Karang pun hancur berantakan, terpencar. Serpihannya melesat di kiri-kanan tubuh meski berjarak 200 meter lebih. Layar monitor kamera yang terhantam serpihan pun pecah. Krak....

Ledakan itu memberi tambahan trase jalan selebar 2 meter. Namun, tim demolasi dari Detasemen Zeni Tempur XII/Nabire dan Denzipur XIII/Sorong masih harus melakukan peledakan ulang untuk menambah lebar trase menjadi total 7 meter. Tak ada cara lain, dinding batu itu memang harus dihancurkan untuk memperlebar ruas jalan penghubung Distrik Mbua dan Distrik Dal, Kabupaten Nduga.

Keputusan itu diambil setelah tim gabungan dari Denzipur XII Nabire dan Denzipur XIII Sorong menilai trase tersebut termasuk titik rawan. Dinding karang yang berdiri tegak lurus itu berada tepat di sebuah tikungan sekaligus tanjakan curam dengan lebar badan jalan hanya 4 meter.

Thursday, August 18, 2016

Kompas Edisi Kamis 18 Agustus 2016

Kompas Edisi Kamis 18 Agustus 2016
Kompas Edisi Kamis 18 Agustus 2016

Emas Kado Kemerdekaan

Tontowi/Liliyana Tampil Gemilang Tundukkan Chan/Goh di Final


RIO DE JANEIRO, KOMPAS Atlet, pelatih, ofisial, dan suporter RI lantang menyanyikan "Indonesia Raya" pada hari terakhir penampilan atlet-atlet Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir mewujudkan momen itu di HUT Ke-71 RI.

Ganda campuran Tontowi/Liliyana menyumbangkan satu-satunya medali emas Indonesia setelah memenangi final ganda campuran atas ganda Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying, dengan skor 21-14, 21-12 di Paviliun 4 Riocentro, Rabu (17/8) siang waktu setempat. Inilah puncak perjuangan 28 atlet Indonesia dalam persaingan 10.000-an atlet dari 207 delegasi sejak Olimpiade Rio dibuka pada 5 Agustus.

Rasa bangga, bahagia, dan haru menyatu dalam tangis Tontowi, Liliyana, pelatih ganda campuran Richard Mainaky, dan semua pendukung Indonesia di Riocentro. Suporter Indonesia, yang jumlahnya lebih banyak daripada pendukung tim lawan, tak henti memberi semangat kepada Tontowi/Liliyana.


RAPBN 2017

Faktor Domestik Jadi Penentu Pertumbuhan


JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah berkomitmen memelihara momentum pertumbuhan ekonomi pada 2017. Di tengah situasi perekonomian global yang masih lemah, sumber pertumbuhan di dalam negeri menjadi penentu daya tumbuh. Salah satu kuncinya adalah ekspansi dunia usaha.

Dunia usaha menjadi faktor penting. Hal ini menilik kondisi perekonomian Indonesia saat ini yang diwarnai dengan keterbatasan kapasitas fiskal.

Demikian pesan yang dipetik dari pidato Presiden Joko Widodo terkait substansi Rancangan APBN 2017 dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2017. Presiden menyampaikan pidato pengantar RAPBN 2017 dan nota keuangan pada Rapat Paripurna DPR di Jakarta, Selasa (16/8).


Kembar Siam

Yuliana-Yuliani Setelah 29 Tahun Pisah


Dua puluh sembilan tahun silam, Yuliana dan Yuliani adalah kisah kembar siam yang mendebarkan. Kini, mereka tak kenal lelah menggapai mimpi. Yuliana ialah mahasiswa program doktoral, sementara Yuliani menjadi dokter.

Kisah mereka bermula tahun 1987, saat kembar siam Yuliana-Yuliani, anak pasangan Tularji dan Hartini dari Tanjung Pinang, terlahir kembar siam dempet di kepala secara vertikal (kraniopagus). Pada usia 2 bulan 21 hari, kembar siam itu menjalani operasi di Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Adalah Padmosantjojo, ahli bedah saraf RSCM saat ini, berperan banyak pada operasi pemisahan si kembar. Dengan ketelitiannya, pria kelahiran Kediri, 26 Februari 1937, itu memisahkan selaput otak (duramater) yang berlekatan dengan pisau bedah biasa dan mata telanjang. Operasi pada 21 Oktober 1987 itu jadi tonggak sejarah bidang kedokteran di Indonesia, khususnya bedah saraf.

Tuesday, August 16, 2016

Kompas Edisi Selasa 16 Agustus 2016

Kompas Edisi Selasa 16 Agustus 2016
Kompas Edisi Selasa 16 Agustus 2016

Kasus Arcandra Jadi Pelajaran

Keputusan Presiden Joko Widodo Diapresiasi


JAKARTA, KOMPAS — Keputusan Presiden untuk memberhentikan dengan hormat Arcandra Tahar, dari jabatannya sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, patut dihargai. Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi staf Presiden untuk cermat dalam menjalankan administrasi negara.

 Selain itu, posisi Menteri ESDM perlu segera diisi karena ada sejumlah pekerjaan yang harus diselesaikan. Hal itu antara lain terkait pengelolaan Blok Masela dan perpanjangan kontrak karya PT Freeport di Papua.

Kepastian pengisian jabatan Menteri ESDM penting karena dalam penjelasan yang disampaikan Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Senin (15/8) pukul 21.00 di Kantor Presiden, Jakarta, tidak disebutkan sampai kapan Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menjabat Pelaksana Tugas Menteri ESDM.


Peluang Emas Kembali Berkurang


Rio de Janeiro, Kompas Kekalahan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda mengurangi peluang medali emas bagi Indonesia di Olimpiade Rio de Janeiro. Cabang bulu tangkis, yang paling diandalkan menyumbangkan emas, hingga Senin (15/8) siang di Rio atau Senin tengah malam WIB, menyisakan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Tommy Sugiarto.

Greysia/Nitya terhenti di perempat final setelah dikalahkan ganda Tiongkok, Yu Yang/Tang Yuanting, 11-21, 14-21. Dalam pertandingan yang berlangsung di Paviliun 4 Riocentro, ganda putri nomor satu Indonesia itu hanya bisa unggul hingga poin kedelapan di gim pertama. Setelah itu, mereka tak kuasa menahan ganda Tiongkok yang memiliki karakter permainan menyerang dalam tempo cepat.

"Tentu kami sangat kecewa dengan kekalahan ini karena kami menargetkan medali, tidak hanya tampil hingga perempat final. Ini terjadi karena kami sulit keluar dari tekanan ketika lawan sudah mengontrol permainan," kata Greysia dengan suara menahan tangis.


Kiprah Kaum Muda

Ledakan Energi Generasi Milenial


CEO alias chief executive officer perusahaan start up yang berusia 30-an tahun bertebaran di beberapa ajang pertemuan kreatif. Mereka membangun perusahaan sendiri yang menembus pasar internasional. Generasi milenial ini cerdik mengawinkan kekuatan lokal dan visi global.

Popcon Asia 2016 di Jakarta Convention Center, Jakarta, 12-14 Agustus lalu, memperlihatkan banyak kaum muda penggerak industri kreatif. Sebagian dari mereka merintis perusahaan sendiri. Pada kartu nama, mereka mencantumkan jabatan sebagai CEO (chief executive officer), owner (pemilik),atau founder (pendiri).

Win Rico (31), desainer kaus yang membuka stand di Popcon Asia 2016, contohnya. Dia mendirikan FopiFopi sejak masih kuliah di Universitas Yayasan Administrasi Indonesia (YAI), Jakarta. Lewat promosi di komunitas desainer kaus emptees.com, dia meraih pesanan dari vokalis band Bring Me the Horizon, Oliver Sykes.

Sunday, August 14, 2016

Kompas Edisi Minggu 14 Agustus 2016

Kompas Edisi Minggu 14 Agustus 2016
Kompas Edisi Minggu 14 Agustus 2016

Reputasi Presiden Jadi Taruhan

Status WNI Arcandra Disoal


JAKARTA, KOMPAS — Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla harus menjelaskan status kewarganegaraan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar terkait tuduhan bahwa yang bersangkutan sudah menjadi warga negara Amerika Serikat sejak Maret 2012.

 Pakar hukum tata negara Refly Harun saat dihubungi, Sabtu (13/8), menuturkan, pemerintah perlu segera mengumumkan secara jelas terkait status kewarganegaraan Arcandra agar tidak membuat kekisruhan di ruang publik.

Ia menambahkan, hukum di Indonesia hanya memperbolehkan individu memiliki satu kewarganegaraan. ”Kalau info tersebut benar, Arcandra harus memilih kewarganegaraannya,” ujarnya.


Bulu Tangkis

Perjalanan Singkat Hendra/Ahsan di Rio de Janeiro


RIO DE JANEIRO, KOMPAS Pukulan telak didapat kontingen Indonesia. Ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan, salah satu andalan untuk meraih medali emas, harus mengakhiri perjalanan di Olimpiade Rio de Janeiro dengan cepat. Mereka tersingkir di babak penyisihan grup dalam momen yang kemungkinan menjadi Olimpiade terakhir bagi Hendra.

 Dua kekalahan dari tiga pertandingan di Grup D memastikan tersingkirnya Hendra/Ahsan. Salah satunya kekalahan dari ganda Tiongkok, Chai Biao/Hong Wei, 15-21, 17-21, yang terjadi di Pavilion 4, Riocentro, Sabtu (13/8).

Berkebalikan dengan Hendra/Ahsan, kemenangan itu meloloskan Chai/Hong ke perempat final dengan status peringkat kedua Grup D, di bawah Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa (Jepang). Berstatus ”kuda hitam”, Endo/Hayakawa justru memastikan lolos lebih dulu setelah menang atas Hendra/Ahsan dan Chai/Hong.


Kapitalisme

Kopi Toraja, Kopi Para Dewa


Pesta kematian rambu solo’ lengkap dengan tradisi potong kerbau (mantunu) yang bersimbah darah itu memang khas Toraja. Juga upacara rambu tuka’ sebagai bentuk sujud syukur kepada Puang Matua, sang pemberi hidup. Dua ritus besar ini ikut membuat Toraja dikenal luas hingga ke mancanegara. Hanya itukah?

 Di panggung dunia, sejatinya nama Toraja lebih identik dengan kopi. Pengalaman Insmerda Lebang (67) ketika melawat ke Eropa, terutama saat mengunjungi beberapa negara di kawasan Nordik-Skandinavia, membuat kebanggaannya sebagai orang Toraja membuncah. Ia menemukan kenyataan bahwa ternyata kopi berlabel nama toraja (toraja arabica coffee) mendapat tempat istimewa: dipajang sangat mencolok di kafe-kafe bergengsi di sana.

”Waktu itu kami sedang berlibur. Di Eslandia, sekali waktu kami mesti berteduh karena turun hujan. Saya masuk ke satu kafe. Begitu mau cari tempat duduk, saya lihat ada kopi toraja dan termasuk yang direkomendasikan oleh pihak pengelola kafe kepada para tamunya,” kata Insmerda saat ditemui di Makale, Tana Toraja, akhir Juli lalu.

Thursday, August 11, 2016

Kompas Edisi Kamis 11 Agustus 2016

Kompas Edisi Kamis 11 Agustus 2016
Kompas Edisi Kamis 11 Agustus 2016

Polri Tunda Pengusutan Kasus Haris

Inisiatif Presiden Ditunggu


JAKARTA, KOMPAS — Kepolisian Negara Republik Indonesia menunda menyelidiki dugaan pencemaran nama baik Polri, Tentara Nasional Indonesia, dan Badan Narkotika Nasional yang dilakukan Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan Haris Azhar.

Langkah ini diambil karena Polri memprioritaskan menyelesaikan investigasi terkait dugaan keterlibatan oknum Polri dalam penanganan kasus narkoba dengan terpidana mati Freddy Budiman. Investigasi itu dilakukan tim independen Polri yang diketuai Inspektur Pengawasan Umum Komisaris Jenderal Dwi Priyatno.

"Kami fokus pada investigasi tim independen sehingga penanganan laporan (terhadap Haris) ditunda sementara. Tim independen akan menyelidiki substansi terkait tuduhan adanya oknum Polri yang menerima uang sekitar Rp 90 miliar dari Freddy. Ini yang kami cari, apakah ada perkara yang berkaitan dengan gratifikasi atau penyuapan?" kata Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, Rabu (10/8), di Jakarta.


KEKERASAN DI SEKOLAH

Sistem Pendidikan Saatnya Dibenahi


MAKASSAR, KOMPAS — Di tengah gencarnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyerukan pembangunan karakter pada peserta didik, kasus kekerasan yang melibatkan pendidik malah terus terjadi.

Terakhir, Rabu (10/8), seorang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 2 Makassar, Sulawesi Selatan, dianiaya oleh orangtua siswa. Diduga, kasus ini berawal ketika guru tersebut menegur MA, siswa yang tidak mengikuti pelajaran menggambar.

Pakar pendidikan dan pelatih guru Itje Chodidjah mengungkapkan, rentetan kasus tersebut menunjukkan ada kekeliruan mendasar dalam sistem pendidikan, termasuk sistem pendidikan guru dan penghargaan orangtua terhadap guru atau sekolah.


Peraih Medali Olimpiade 2016

Harum Indonesia oleh Yuni dan Eko Yuli


Dari pinggiran Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sri Wahyuni Agustiani (22) mengharumkan Indonesia lewat medali perak angkat besi putri Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Persembahan serupa dilakukan lifter putra Eko Yuli Irawan yang berasal dari Metro, Lampung. Perjuangan kedua lifter didukung doa keluarga bersahaja.

"Yuni mohon doa agar lewat angkat besi bisa membuat bangga Indonesia," tutur Rosita (41), ibunda Yuni, panggilan Sri Wahyuni, di rumah 56 meter persegi, dalam labirin Gang Masjid, Desa Banjaran Wetan, Banjaran, Kabupaten Bandung, Rabu (10/8). Ia mengulang permintaan anaknya yang diucapkan saat keduanya bertemu di Bekasi, Juli 2016.

Dengan biaya Rp 100.000, Rosita datang menggunakan bus umum untuk melepas Yuni berlaga di Rio 2016. "Sembari menangis haru, saya bilang selain makanan kesukaannya, ikan peda dan tutut, saya hanya membawa doa," kata Rosita, pegawai negeri sipil di salah satu dinas di Kabupaten Bandung.

Wednesday, August 10, 2016

Kompas Edisi Rabu 10 Agustus 2016

Kompas Edisi Rabu 10 Agustus 2016
Kompas Edisi Rabu 10 Agustus 2016

Hasil Kerja Tim Ditunggu

Beberapa Lembaga Menelusuri Informasi Haris Azhar


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah lembaga membentuk tim untuk menindaklanjuti informasi Haris Azhar dari Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan terkait Freddy Budiman. Hasil kerja tim ini akan menunjukkan keseriusan lembaga terkait dalam memberantas narkoba.

Pembentukan tim ini antara lain dilakukan Kepolisian Negara Republik Indonesia. Anggota tim independen yang dipimpin Inspektur Pengawasan Umum Polri Komisaris Jenderal Dwi Priyatno ini berasal dari internal Polri ataupun dari luar Polri, yaitu Hendardi dari Setara Institute, komisioner Komisi Kepolisian Nasional Poengky Indarti, dan pemerhati komunikasi Effendi Gazali,

Sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN), Tentara Nasional Indonesia (TNI), serta Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia juga telah membentuk tim untuk mengusut kebenaran isi tulisan Haris.


Salah Strategi, Eko Gagal Raih Emas


Rio de Janeiro, Kompas. Kesalahan strategi menggagalkan lifter Indonesia, Eko Yuli Irawan, meraih medali emas kelas 62 kilogram cabang angkat besi Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Eko meraih perak dengan angkatan total 312 kilogram dalam lomba di Paviliun 2 Riocentro, Rio de Janeiro, Brasil, Senin (8/8) malam waktu setempat. Dia kalah dari lifter Kolombia, Oscar Albeiro Figueroa Mosquera, dengan total angkatan 318 kilogram. Adapun perunggu didapat oleh lifter Kazakhstan, Farkhad Kharki (305 kilogram).

Selasa (9/8) dini hari WIB, kans emas pertama untuk Indonesia di Rio 2016 sebenarnya terbuka saat lifter asal Tiongkok, Chen Lijun, pesaing terberat Eko, mundur sebelum menuntaskan angkatan snatch karena cedera hamstring. Lijun merupakan pemegang rekor dunia untuk jenis clean and jerk dan total. Absennya juara bertahan Kim Un-guk (Korea Utara), karena skors terkait doping, juga membuka peluang ini.

Di atas panggung, Lijun "menggertak" dengan mematok angkatan snatch (barbel langsung ke atas kepala) terberat, yakni 145 kilogram (kg), tetapi gagal pada dua kesempatan pertama. Ia bahkan tak mampu mengangkat barbel setinggi lututnya. Pendukung Lijun terdiam saat melihat idolanya tak berdaya.


PARIWISATA

Mengubah Nasib Kawasan Terpencil


Pariwisata menjadi nadi ekonomi baru di Banyuwangi, Jawa Timur. Denyutnya menghidupkan perekonomian lokal di pelosok desa. Dari sektor itu, sebagian jalan menuju kesejahteraan warga ditemukan.

Bonjour! Je m'appelle Robixs. J'habite à Banyuwangi. Enchanté. (Halo! Nama saya Robixs. Saya tinggal di Banyuwangi. Senang bertemu dengan Anda)," sapa Robixs alias Muhammad Rofik (40), menyambut rombongan turis Perancis.

Robixs kala itu hanya bercelana pendek. Tangannya masih kotor dengan debu belerang yang ia bawa dari puncak. Peluh pun membasahi seluruh badannya. Namun, sang turis tak merasa terganggu. Ia malah semringah bertemu dengan Robixs. Saat menemukan ada petambang yang bisa bahasa mereka, tanpa berpikir dua kali, Robixs diajak jalan menemani mereka.

Tuesday, August 9, 2016

Kompas Edisi Selasa 9 Agustus 2016

Kompas Edisi Selasa 9 Agustus 2016
Kompas Edisi Selasa 9 Agustus 2016

Kesehatan Bangsa Tak Terlindungi

Bisnis Obat Menggiurkan, tapi Lemah Pengawasan


JAKARTA, KOMPAS — Tidak terkendalinya peredaran obat di Indonesia membuka peluang masuknya obat palsu, kedaluwarsa, dan obat yang diproduksi tak benar di masyarakat. Akibatnya, kesehatan bangsa tergadaikan dan kelanjutan program Jaminan Kesehatan Nasional terancam. Namun, koordinasi dan penegakan aturan yang ada sangat lemah.

 Obat adalah komoditas khusus sehingga pengaturannya tak bisa disamakan dengan barang konsumsi lain. Dengan pengaturan produksi dan distribusi yang ketat, masuknya obat ilegal, termasuk di dalamnya obat palsu, di masyarakat bisa dicegah.

”Obat ilegal berpotensi tidak aman, juga palsu, karena tak ada penilaian obyektif dan ilmiah dari ahli atau lembaga kompeten. Kemanjuran dan keamanannya pun tak terjamin,” kata Guru Besar Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinis Universitas Gadjah Mada Zullies Ikawati yang dihubungi dari Jakarta, Senin (8/8).


Riau Ega Taklukkan Juara Dunia


RIO DE JANEIRO, KOMPAS Atlet putra Indonesia, Riau Ega Agatha Salsabila, menyita perhatian penonton dan kontingen lain di Sambodrome, arena panahan Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, Senin (8/8). Ega menaklukkan juara dunia, Kim Woo-jin (Korea Selatan), di babak kedua, dengan skor 6-2.


 Kim adalah juara dunia panahan 2011 dan 2015. Tiga hari sebelumnya, Kim, yang peringkat pertama dunia, memecahkan rekor dunia perolehan poin individu ketika baru memasuki babak penentuan peringkat.

Dalam perlombaan itu, Ega berhasil mengatasi rasa gugupnya dan menaklukkan Kim dalam tiga dari empat set perlombaan. Setiap set yang dimenangi memberi Ega dua poin.


PRODUK FARMASI

Ancaman Kesehatan Sedekat Ujung Jari


Teknologi gawai pintar kian memudahkan aktivitas manusia. Dengan sentuhan jari saja, kita bisa membeli barang yang kita inginkan. Namun, dalam membeli produk farmasi, kemudahan pembelian secara daring tanpa pemahaman risikonya justru bisa menjadi ancaman bagi kesehatan diri sendiri.

"Nanya dijawab, malah enggak percaya. Itu sudah teruji sesuai petunjuk pemakaian," ujar seseorang dengan nama akun Ferry Mustagfirin, dalam percakapan via layanan Blackberry Messenger (BBM), Sabtu (6/8) lalu. Ia menjawab pertanyaan Kompas seputar obat bermerek Cialis yang dijualnya secara daring, termasuk ada atau tidaknya efek samping obat.

Cialis merupakan obat keras berisi zat aktif tadalafil, yang dipakai untuk terapi pria dengan disfungsi ereksi. Para penjual dengan izin tak jelas mempromosikannya sebagai obat kuat bagi pria. "Artis banyak lho yang beli, ha-ha-ha..... Tapi (nama-nama artis itu) rahasia," kata Ferry, berupaya meyakinkan.

Monday, August 8, 2016

Kompas Edisi Senin 8 Agustus 2016

Kompas Edisi Senin 8 Agustus 2016
Kompas Edisi Senin 8 Agustus 2016

Peredaran Obat Tak Terkendali

Lebih dari 80 Persen Sarana Kefarmasian Menyalahi Aturan


JAKARTA, KOMPAS — Terkuaknya peredaran vaksin palsu sejatinya merupakan bagian dari masalah lebih besar, yakni tak terkendalinya distribusi obat. Banyak obat, termasuk obat keras, diperjualbelikan bebas oleh orang ataupun badan usaha yang tak berhak atau menyalahi aturan. Meski berlangsung puluhan tahun, upaya serius pemerintah menegakkan aturan distribusi obat belum nyata.

Penelusuran Kompas hingga Minggu (7/8) di sejumlah pasar, warung, minimarket, pedagang kaki lima, toko obat, toko daring, dan apotek di Jakarta, Bogor, dan Tangerang Selatan menunjukkan mudahnya memperoleh obat. Kemudahan itu membuka peluang besar peredaran obat palsu, obat kedaluwarsa, obat tanpa izin edar, hingga obat-obatan yang mengandung bahan berbahaya.

Salah satu jenis obat yang mudah diperoleh ialah penggugur kandungan. Obat itu dijual pedagang minuman di Pasar Pramuka, Jakarta Timur. Meski dijual agak tersembunyi, banyak pedagang makanan dan minuman menawarkan jasa untuk mendapatkan obat itu.


Medali Penyemangat dari Sri Wahyuni


RIO DE JANEIRO, KOMPAS Tak gentar terhadap lawan, juga ketepatan strategi, mengantar lifter putri Sri Wahyuni berdiri di podium dengan kalungan medali perak Olimpiade Rio de Janeiro 2016, di cabang angkat besi kelas 48 kilogram. Prestasi Yuni dalam debutnya di Olimpiade ini bisa menjadi penyemangat bagi atlet Indonesia lainnya untuk menampilkan aksi terbaik.


Yuni merebut medali perak pada hari pertama cabang angkat besi. Di panggung Paviliun 2 Riocentro, Rio de Janeiro, Brasil, Sabtu (6/8) malam waktu setempat, Yuni menunjukkan ketangguhannya meski lalu kalah dari lifter Thailand, Sopita Tanasan.

"Medali ini saya persembahkan bagi Indonesia. Saat akan mengangkat beban, saya selalu ingat ini untuk Indonesia," ujar Yuni sambil memperlihatkan medali peraknya. Medali itu akan disimpan di lemari kaca di rumahnya bersama medali lain, termasuk saat juara dunia yunior pada 2014.


PERLINDUNGAN WARGA NEGARA

Penyanderaan WNI Makin Merajalela


JAKARTA, KOMPAS — Di tengah upaya pemerintah membebaskan 10 warga negara Indonesia yang disandera kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan, kini seorang WNI, Herman Bin Manggak (38), kembali disandera. Penyanderaan warga asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang jadi kapten kapal penangkap udang berbendera Malaysia ini merupakan peristiwa kelima dalam enam bulan terakhir.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu Lalu M Iqbal, Minggu (7/8), menuturkan, Kemlu sudah mengetahui penyanderaan itu sejak 5 Agustus. "Kapal itu berbendera Malaysia dan berpangkalan di kota Sandakan, Malaysia. Peristiwa terjadi di wilayah Malaysia, korban diperkirakan dilarikan ke Filipina," papar Iqbal.

Kantor berita Malaysia, Bernama, Sabtu (6/8), memberitakan, sebuah perahu nelayan khas Filipina yang berisi tiga pria berseragam loreng lusuh dengan senapan M-16 dan seorang pria tidak bersenjata menghadang kapal nelayan SN 6599/4/F yang berpangkalan di Sandakan. Peristiwa ini terjadi di perairan antara Sabah, Malaysia, dan Filipina selatan, Rabu (3/8) petang.

Sunday, August 7, 2016

Kompas Edisi Minggu 7 Agustus 2016

Kompas Edisi Minggu 7 Agustus 2016
Kompas Edisi Minggu 7 Agustus 2016

Pesan Lestari dari Olimpiade Rio

Warga Brasil Kurang Antusias, Temer Dicemooh


RIO de JANEIRO, KOMPAS Dengan anggaran terbatas, pembukaan Olimpiade Rio de Janeiro 2016 tak bisa dibandingkan dengan kecanggihan dan kemegahan Olimpiade London 2012 dan Beijing 2008. Namun, pembukaan Olimpiade Rio membawa pesan membumi tentang alam dan kemanusiaan.

Harian Kompas dari Rio de Janeiro, Brasil, melaporkan, pembukaan Olimpiade Rio berlangsung di stadion kebanggaan Brasil, Maracana, Jumat (5/8) malam waktu setempat atau Sabtu pagi di Indonesia. Sejak awal, mereka yang terlibat dalam tim upacara pembukaan menjanjikan membuat acara yang meninggalkan kesan di hati meski dengan anggaran terbatas.

Media internasional memberitakan, anggaran untuk upacara pembukaan Rio itu 10 kali lebih kecil daripada anggaran upacara pembukaan Olimpiade London 2012 yang mencapai 41,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 546 miliar.


KEAMANAN REGIONAL

Terorisme Ancaman Besar ASEAN


JAKARTA, KOMPAS — Terbongkarnya rencana serangan kelompok teroris Katibah Gonggong Rebus ke Singapura semakin menguatkan dugaan bahwa terorisme merupakan ancaman besar bagi negara-negara yang tergabung dalam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Oleh karena itu, negara anggota ASEAN akan terus meningkatkan koordinasi dalam pencegahan terorisme, antara lain di bidang intelijen.

Wakil Presiden M Jusuf Kalla mengemukakan hal itu seusai membuka Muktamar Nasional Rabithah Alawiyah di Jakarta, Sabtu (6/8). ”Selain itu, tiap-tiap negara juga mempunyai tugas memperkuat masyarakat, terutama dalam bidang perekonomian dan pendidikan,” kata Kalla.

Seperti diberitakan, Tim Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri menangkap enam terduga teroris Katibah Gonggong Rebus (KGR) di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (5/8). Mereka adalah GRD (31), TS (46), ES (35), TAR (21), HGY (20), dan MTS (19). GRD merupakan bagian kelompok teror asal Solo, Jawa Tengah, yang memiliki hubungan baik dengan Bahrun Naim, salah seorang pemimpin sayap militer Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) asal Indonesia (Kompas, 6/8).


SELISIK BATIK

Api Kecil dari Ciamis


Batik dari tanah Priangan adalah simbol daya hidup dan keuletan. Pernah mengantarkan Priangan menuju kejayaan, tetapi nyaris lenyap digulung serbuan tekstil motif batik. Meski demikian, generasi penerusnya tetap keras kepala mempertahankan eksistensi batik dari gigitan kepunahan.

Hampir setengah abad setelah keruntuhan batik di Ciamis, daya hidup dan keuletan kini kembali muncul dari sebuah sudut tak terlihat di Ciamis, Jawa Barat. Di sebuah tempat pembuatan batik di kompleks Koperasi Rukun Batik di Jalan Raya Ciamis, pembatik berjibaku demi kebangkitan batik.

Di sana, ada Jojoh (49), warga Sindangsari, yang bersama tiga orang lainnya, khusyuk membatik ditemani dakwah ustazah lewat siaran radio lokal. Panas dan kepulan asap pembakaran malam membuat keringat menetes tanpa henti, tetapi tak pernah menghentikan semangat mereka.

Saturday, August 6, 2016

Kompas Edisi Sabtu 6 Agustus 2016

Kompas Edisi Sabtu 6 Agustus 2016
Kompas Edisi Sabtu 6 Agustus 2016

Persaingan Atlet Dunia Dimulai

Indonesia Berpeluang Meraih Medali


Rio de Janeiro, Kompas Persaingan duta olahraga dari 207 delegasi di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 akan dimulai dengan upacara pembukaan yang digelar Jumat (5/8) malam waktu setempat atau Sabtu pagi waktu Indonesia. Sebanyak 28 atlet Indonesia menjadi bagian dari sekitar 10.000 atlet yang akan berkompetisi hingga 21 Agustus.

Atlet panahan, rowing, dan angkat besi akan memulai penampilan pada Sabtu. Mereka, terutama trio pemanah putra, Riau Ega Agata Salsabila, Muhammad Hanif Wijaya, dan Hendra Purnama, serta lifter putri Sri Wahyuni mengemban asa bangsa Indonesia untuk meraih medali pertama bagi Merah Putih.

Riau, Hanif, dan Hendra akan tampil di nomor beregu putra. Nomor ini menyelenggarakan babak penyisihan hingga final dengan sistem gugur sepanjang hari Sabtu ini.


Pertumbuhan

Momentum Perbaikan Ekonomi Terus Dijaga


JAKARTA, KOMPAS — Pertumbuhan ekonomi menguat. Tren ini tampak pada capaian triwulan II-2016. Agenda berikutnya adalah menjaga momentum dan meningkatkan kepercayaan agar investasi bisa menaikkan pertumbuhan ekonomi.

”Yang paling penting sekarang adalah momentum ini harus terus dijaga,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjawab pertanyaan wartawan di Jakarta, Jumat (5/8), ketika ditanya pengumuman pertumbuhan ekonomi terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS).

Berdasarkan data BPS, semua kegiatan ekonomi nasional pada triwulan II-2016 menghasilkan produk domestik bruto (PDB) senilai Rp 3.086,6 triliun. Dengan demikian, dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, terjadi pertumbuhan ekonomi 5,18 persen. Capaian ini lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2014 dan 2015, masing-masing 4,96 persen dan 4,66 persen. Pertumbuhan triwulan II di atas perkiraan beberapa kalangan. Mereka memperkirakan mendekati 5 persen.


Kreativitas Masyarakat

Pijar Peradaban di Kaki Perbukitan Menoreh


Sebagai pusar budaya, Candi Borobudur, mahakarya Dinasti Syailendra, tak hanya menghidupi, tetapi juga menghidupkan pijar peradaban warga sekitarnya. Destinasi baru dicipta lewat kreasi warga memanfaatkan elok alam perbukitan Menoreh. Repihan kue pariwisata global itu pun perlahan memeratakan sejahtera.

Dua pasang remaja tanggung seolah berlomba swafoto di tengah hening puncak Punthuk Setumbu, Kecamatan Borobudur, suatu pagi, di cerahnya bulan Juni. Di Punthuk Setumbu ini, Rangga dan Cinta menyongsong matahari terbit dalam satu adegan film Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2.

"Sudah lama dengar (Punthuk Setumbu), tetapi benar-benar pengin ke sini setelah nonton AADC 2. Katanya romantis. Walau harus naik bukit, enggak nyesel deh," ujar Keizia Nurmala (18), wisatawan asal Purwokerto, yang diamini Dendi Faizal (18), pasangannya.

Thursday, August 4, 2016

Kompas Edisi Kamis 4 Agustus 2016

Kompas Edisi Kamis 4 Agustus 2016
Kompas Edisi Kamis 4 Agustus 2016

Dana Repatriasi ke Sektor Riil

Pengusaha Tunggu Tata Cara Penggunaan Dana


JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah tengah mendorong masuknya dana repatriasi dari pengampunan pajak ke sektor riil, seperti industri manufaktur dan infrastruktur. Namun, pengusaha masih menunggu aturan tata cara penggunaan dana repatriasi ke sektor riil.

Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Syarif Hidayat di Jakarta, Rabu (3/8), mengatakan, pemerintah ingin mendorong masuknya dana repatriasi pengampunan pajak (tax amnesty) ke sektor industri prioritas.

”Kami terutama lebih menekankan pada hilirisasi, pengolahan sumber daya alam. Arah kami tetap ke hilirisasi,” kata Syarif.


Rio Siap Menggelar Persaingan Atlet Dunia


Rio de Janeiro, Kompas Barra Olympic Park, Rio de Janeiro, Brasil, sebagai pusat persaingan atlet peserta Olimpiade 2016, kian ramai jelang dimulainya kejuaraan multicabang terakbar itu pada Jumat (5/8). Upacara pembukaan Olimpiade di stadion bersejarah Maracana dijanjikan meriah meski dengan anggaran yang hanya sepersepuluh dari upacara pembukaan Olimpiade London 2012.

Hingga Selasa (2/8) sore waktu setempat, Bandar Udara Internasional Galeao di Rio de Janeiro sibuk menerima kedatangan atlet-atlet terbaik dari 206 negara peserta Olimpiade 2016. Beberapa anggota tim sejumlah negara, seperti Thailand, Brunei, Pakistan, dan Hongaria, tiba di Rio, Selasa. Para atlet yang akan berkompetisi hingga 21 Agustus mulai berdatangan dan menempati perkampungan atlet di Barra da Tijuca sejak Minggu (24/7).

Meski disibukkan oleh kedatangan sekitar 10.000 atlet, Bandara Galeao "sepi" dari pernak-pernik Olimpiade. Sebagian besar media promosi Olimpiade yang tertempel di dinding bandara merupakan iklan yang menjadi sponsor beberapa atlet bintang, seperti Michael Phelps dan Usain Bolt.


BantarGebang

Jalan Berliku Pengelolaan Sampah Ibu Kota


Imat (56) duduk termenung di lantai area pembuatan kompos Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang, Kota Bekasi, Minggu (31/7). Seusai memulung, dia melepas lelah di lokasi yang menjadi tempat kerjanya sehari-hari.

Selama 10 tahun terakhir, Imat biasa bekerja sebagai buruh harian lepas di area pembuatan kompos TPST Bantargebang dengan upah Rp 40.000 per hari. Sepulang dari kerja, ia mencari tambahan penghasilan dengan memulung sampah.

Namun, sejak TPST Bantargebang diambil alih Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada 19 Juli silam, belum tampak lagi aktivitas pengolahan kompos di areal tersebut. Alhasil, nasib Imat dan sejumlah pekerja harian lepas terkatung-katung tanpa kejelasan.

Wednesday, August 3, 2016

Kompas Edisi Rabu 3 Agustus 2016

Kompas Edisi 3 Agustus 2016
Kompas Edisi 3 Agustus 2016

Terorisme Dilawan Bersama

Kemiskinan, Kebodohan, dan Pengangguran Akar Radikalisme


JAKARTA, KOMPAS — Radikalisme yang berujung pada terorisme menjadi salah satu persoalan yang dihadapi oleh dunia Islam abad ini. Negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim sepakat melawan radikalisme dan terorisme dengan meningkatkan akses ekonomi pada generasi muda.

Kemiskinan, kebodohan, dan pengangguran menjadi akar masalah radikalisme sehingga pendidikan diharapkan menjadi solusi agar generasi muda tidak mudah terjebak gerakan radikal. Para pemimpin negara-negara Islam menyerukan hal ini saat berbicara dalam Forum Ekonomi Islam Dunia (World Islamic Economic Forum/WIEF) Ke-12 yang dibuka Presiden Joko Widodo di Jakarta, Selasa (2/8). Mereka menyatakan, terorisme juga menjadi persoalan yang harus dihadapi negara masing-masing.

Presiden Jokowi mengajak para pemimpin negara-negara Islam bekerja sama mengatasi kemiskinan; mengembangkan usaha mikro, kecil, dan menengah; serta melahirkan wirausaha-wirausaha muda inovatif berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut Presiden, masyarakat Muslim dunia, yang memiliki demografi generasi muda berusia rata-rata 20 tahun, harus menggunakan kekuatan fundamental untuk menggairahkan sektor riil dan mengatasi radikalisme.


Olimpiade 2016

Tim Bulu Tangkis Berlatih dengan Rileks


JAKARTA, KOMPAS — Persiapan tim bulu tangkis Indonesia yang akan tampil di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 berlangsung dalam suasana rileks. Pelatih dan pemain cukup menikmati periode pemusatan latihan di Sao Paulo sebelum bertolak ke Rio de Janeiro.

”Sampai hari ini (Selasa, 2/8) persiapan sangat bagus. Semua pemain dalam kondisi prima. Kami fokus menjaga kebugaran dan berupaya rileks dengan tidak terlalu memikirkan target yang harus dicapai,” kata pelatih ganda putra, Herry IP, saat dihubungi dari Jakarta, Selasa.

Cabang olahraga bulu tangkis merupakan tumpuan utama Indonesia mendulang medali, terutama dari sektor ganda putra dan ganda campuran. Di ganda putra, Indonesia mengandalkan pasangan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Sementara di ganda campuran, tampil dua pasangan terbaik, Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad dan Praveen Jordan/Debby Susanto.


Swadaya Masyarakat

Menyelamatkan Sejarah Dunia di Morotai


"Demi nanga ngopa denanga dano, Mitagi-tagi mimas didiki,

Mima idu mimas gogorena,

Sioko...ooo.ooo.dedengomi"

(Demi anak dan cucu kita,

Di saat kami berjalan, kami jadikan sebagai kontak,

Di saat kami tidur, kami jadikan sebagai pantai,

Kasihanlah.ooo...ooo...dengan kami)

Syair pengharapan agar diberi kemudahan perjalanan itu disenandungkan Muhlis Eso (36), penggiat sejarah di Pulau Morotai, Maluku Utara, saat mendaki Bukit 40, Minggu (17/7).

Meski badannya meriang, langkahnya mantap menyusuri tanjakan becek dan jalan setapak yang penuh ilalang. Semak rimbun berduri bukan halangan.

Hujan deras yang mengguyur dan koyo yang menempel di kedua pelipis tak menyurutkan langkahnya untuk terus berjalan sambil bercerita tentang sejarah Perang Dunia (PD) II di Morotai. Saat beberapa wisatawan yang dia dampingi mulai kelelahan, tenaga Muhlis justru seperti bertambah.

Tuesday, August 2, 2016

Kompas Edisi Selasa 2 Agustus 2016

Kompas Edisi Selasa 2 Agustus 2016
Kompas Edisi Selasa 2 Agustus 2016

Optimisme Ekonomi Makin Menguat

Kenaikan IHSG Capai 2,79 Persen


JAKARTA, KOMPAS — Indeks Harga Saham Gabungan menyentuh rekor tertinggi tahun ini pada penutupan perdagangan Senin (1/8), yakni pada level 5.361, naik 2,79 persen dibandingkan dengan akhir pekan lalu. Kenaikan ini merupakan indikator makin bergairahnya pasar keuangan.

 Pada 1 April 2015, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencapai posisi 5.524, lalu terus turun dan pada September 2015 mencapai titik terendah pada level 4.033.

Likuiditas yang terus masuk ke pasar domestik juga membuat kurs rupiah semakin menguat. Di pasar tunai, rupiah menguat 0,5 persen menjadi Rp 13.047 per dollar AS. Sementara, menurut kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) yang diterbitkan Bank Indonesia, rupiah menguat menjadi Rp 13.080 per dollar AS dari posisi pekan lalu Rp 13.094.


Olimpiade Rio de Janeiro 2016

RI Berpeluang Perbaiki Peringkat


JAKARTA, KOMPAS — Olimpiade menjadi puncak piramida prestasi atlet. Idealnya, atlet didukung pemusatan latihan modern dan kompetisi bermutu. Sayangnya, ini belum terwujud. Tak heran, Indonesia sangat sedikit mencetak atlet berprestasi dunia, seperti di Olimpiade.

Pengamat olahraga Fritz E Simandjuntak menilai, prestasi Indonesia ironis mengingat RI termasuk negara G-20. Faktanya, prestasi olahraga mayoritas negara G-20 cukup bagus di Olimpiade 2012, yakni di 15 besar klasemen. Indonesia berada di peringkat ke-63. Ini berarti, keunggulan RI di bidang ekonomi dengan masuk G-20 tak berdampak terhadap olahraga.

”Mengapa? Selain karena minimnya visi dan perhatian pemerintah terhadap olahraga, juga karena Indonesia belum menjadi negara industri. Hampir semua negara G-20 perekonomiannya tumbuh karena industrialisasi,” kata Fritz, akhir pekan lalu.


Peran Mahasiswa

Membangun Komunitas Antarbangsa dari Perdesaan


Sekitar 20 siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri Jembul, Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berkumpul membuat lingkaran untuk bermain dan bernyanyi bersama dalam suasana gembira.

Mahasiswa pascasarjana program studi pekerja sosial (social works) Inholland University, Leiden, Belanda, Gemma SUV (23), memimpin acara tersebut.

Acara yang penuh suasana akrab tersebut merupakan bagian dari aktivitasCommunity Outreach Program (COP). Semacam kuliah kerja nyata (KKN) di Indonesia, tetapi dilakukan bersama oleh komunitas mahasiswa internasional di desa yang berada di lereng barat Gunung Penanggungan, Jawa Timur.

Monday, August 1, 2016

Kompas Edisi Senin 1 Agustus 2016

Kompas Edisi Senin 1 Agustus 2016
Kompas Edisi Senin 1 Agustus 2016

Indonesia Menanti Aksi Terbaik

Persiapan Dimaksimalkan demi Tradisi Emas di Rio de Janeiro 2016


JAKARTA, KOMPAS — Sebanyak 28 atlet yang akan tampil di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 diminta berjuang maksimal, dan membuang rasa minder, demi berlanjutnya tradisi medali emas Indonesia. Para atlet itu juga diingatkan untuk memperhatikan hal krusial di tengah persiapan yang makin sempit, seperti pola makan dan istirahat.

 Demikian rangkuman pendapat yang dihimpun Kompas dari sejumlah Olimpian (atlet yang pernah tampil di Olimpiade), antara lain Susy Susanti (bulu tangkis), Purnomo (atletik), Lilies Handayani (panahan), dan Richard Sam Bera (renang), akhir pekan lalu.

Mereka diwawancarai terkait pelaksanaan Olimpiade Rio de Janeiro 2016 yang akan berlangsung mulai Jumat (5/8) mendatang, atau empat hari lagi. Kontingen Indonesia berjuang melanjutkan tradisi meraih medali emas, yang terhenti pada Olimpiade London 2012.


PASAR FINANSIAL

Manajer Investasi Naikkan Target IHSG


JAKARTA, KOMPAS — Perekonomian yang membaik, harapan keberhasilan program pengampunan pajak, dan arus dana investor asing membuat perusahaan sekuritas dan manajer investasi merevisi target pencapaian Indeks Harga Saham Gabungan menjadi lebih tinggi lagi. Suku bunga dan inflasi rendah juga menjadi salah satu pendorong saham.

Sejumlah kalangan yang dihubungi Kompas, pekan lalu dan Minggu (31/7), mengatakan, perbaikan itu mulai terlihat sehingga mereka merevisi target pencapaian Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada tahun ini.

Menurut Alvin Pattisahusiwa, Direktur Investasi Manulife Aset Manajemen Indonesia, secara bertahap terjadi perbaikan produk domestik bruto dan profitabilitas perusahaan. Selain itu, pengesahan Undang-Undang Pengampunan Pajak menghapuskan ketidakpastian di pasar. "Masih ada potensi kenaikan peringkat dari Standard and Poor's (S&P) yang akan berdampak positif atas persepsi dan imbal hasil obligasi Indonesia," katanya.


OLIMPIADE 2016

Kasih Ibu Antar Maria Londa ke Rio de Janeiro


Bawalah bekal ini untuk mengobati rasa rindumu pada Tanah Air." Itulah pesan sang ibu kepada atlet lompat jauh terbaik Indonesia, Maria Natalia Londa (26), sesaat sebelum terbang selama 32 jam perjalanan menuju Rio de Janeiro, Brasil, Rabu (27/7) malam. Dengan sekantong keripik tempe buatan bundanya, Maria meluncur ke "medan perang" untuk membela "Merah Putih" di ajang olahraga akbar sedunia, Olimpiade 2016.

Maria menjadi salah seorang dari 28 atlet Indonesia yang tampil di Rio 2016. Lulusan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP PGRI Bali itu adalah atlet pertama Indonesia yang meraih tiket Olimpiade Rio 2016 setelah mencapai Limit A kualifikasi dengan jarak lompatan 6,70 meter di SEA Games Singapura 2015.

Agar tampil optimal di Rio, Maria berlatih keras, menjaga pola istirahat, dan mengatur asupan nutrisi. Putri pertama dari tiga bersaudara itu sebenarnya pantang makan makanan pedas dan gorengan karena bisa memengaruhi pemulihan tubuh. Namun, ibunya, Anastasia Ariningsih, tetap memasak makanan kesukaan Maria.