Sunday, March 20, 2016

Kompas Edisi Minggu 20 Maret 2016

Kompas Edisi Minggu 20 Maret 2016

Pesawat Flydubai Jatuh di Rusia

62 Penumpang dan Awak Tewas, Tak Ada WNI


ROSTOV-ON-DON, SABTU — Pesawat jet Flydubai jatuh di Rusia selatan, Sabtu (19/3) dini hari, menewaskan 62 penumpang dan awak pesawat seluruhnya. Pesawat saat itu mencoba mendarat dalam cuaca buruk di kota Rostov-on-Don.

 Pesawat Boeing 737, yang terbang dari Dubai, Uni Emirat Arab, menuju kota di Rusia selatan, itu dilaporkan sedang melakukan percobaan kedua untuk mendarat pada pukul 03.40 waktu setempat (pukul 07.40 WIB). Kegagalan pendaratan menyebabkan pesawat itu meledak dan bola api besar membubung saat menghantam landasan, meninggalkan puing-puing yang berceceran di sebuah area luas.

”Pesawat itu menghantam daratan dan terpecah-pecah,” kata Komite Penyidik Rusia dalam pernyataan di lamannya. ”Ada 55 penumpang dan 7 awak di dalamnya. Mereka semua tewas.” Kedua kotak hitam pesawat itu telah ditemukan tanpa kerusakan, menurut komite itu dalam pernyataannya.


FORMULA 1 GP AUSTRALIA

Tim Manor Harus Banyak Berbenah


MELBOURNE, KOMPAS — Hasil sesi latihan dan kualifikasi balapan Formula 1 pada Grand Prix Australia, Sabtu (19/3), menunjukkan, tim Manor yang menjadi tempat bergabungnya pebalap Indonesia, Rio Haryanto, harus banyak berbenah. Apalagi, dari hasil kualifikasi itu, dua pebalap Manor harus membalap dari posisi baris paling belakang.

 Insiden yang terjadi antara Rio dan pebalap tim Haas, Romain Grosjean, pada sesi latihan terakhir memperlihatkan koordinasi yang kurang baik di tim Manor. Rio mendapatkan perintah keluar pit justru saat mobil Grosjean akan melintas.

Akibat insiden itu, Rio mendapat hukuman mundur tiga grid dan mendapat dua poin penalti. Pebalap Indonesia itu akan berlomba dari posisi ke-22 meski di babak kualifikasi menempati posisi 21, atau lebih cepat dari Pascal Wehrlein, rekan setimnya.


Kehidupan

Mengistirahatkan Bumi, Mendaur Ulang Energi


Bumi bekerja tanpa henti. Sebagai organisme yang hidup, ia membutuhkan saat-saat istirahat untuk memulihkan energi kehidupan. Bahkan kemudian mengalirkan energi itu untuk ”menyalakan” kehidupan segenap makhluk yang bermukim di dalamnya. Kapan Bumi istirahat?

Secara ritualistik, masyarakat penganut Hindu di Indonesia menerjemahkannya dengan melangsungkan Nyepi, yang senantiasa jatuh pada saat perayaan tahun baru Caka. Nyepi selalu dirayakan pada bulan mati kesembilan dalam perhitungan kalender Caka atau sekitar bulan Maret dalam tahun Masehi. Nyepi adalah saat-saat melakukan bratha (ibadah), yang secara garis besar berkaitan dengan pengendalian diri. ”Sebenarnya ini juga seperti mulat sarira, segala sesuatu dimulai dari diri sendiri, yakni pengendalian,” ujar peneliti kebudayaan Bali asal Perancis, Jean Couteau, Kamis (17/3), di Bandung, Jawa Barat.

Pada 10 Maret 2016, Nyepi bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari total (GMT) yang bisa disaksikan di sebagian wilayah Indonesia. GMT, kata Jean, bisa juga menandai betapa cahaya pun membutuhkan istirahat. Minimalisasi cahaya juga dilaksanakan secara ritualistik dengan mematikan lampu. ”Itu simbol dari pelaksanaan pengendalian api dalam diri,” ujar Jean lagi.