Saturday, March 26, 2016

Kompas Edisi Sabtu 26 Maret 2016

Kompas Edisi Sabtu 26 Maret 2016

Minggu, Puncak Arus Balik

Lebih dari 98.000 Kendaraan Tinggalkan Jakarta Kamis-Jumat Ini


JAKARTA, KOMPAS — Arus balik kendaraan dari luar kota ke Jakarta diperkirakan terjadi Minggu (27/3) sore hingga Senin pagi. Rekayasa lalu lintas disiapkan petugas untuk menghadapi lonjakan kendaraan. Masyarakat juga diminta mengatur jadwal perjalanan agar tidak terjebak kemacetan.

Menurut Kepala Subdirektorat Pendidikan dan Rekayasa Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Ipung Purnomo, Jumat (25/3), di Jakarta, lokasi rawan macet pada Minggu malam adalah ruas Tol Cipali (Cikopo-Palimanan) dan Tol Cipularang (Cikampek-Purwakarta-Padalarang).

"Masyarakat menginginkan lewat jalan tol, tetapi disarankan tidak pulang berbarengan pada Minggu malam karena akan terjadi penumpukan di tol dari arah Cipali maupun Cipularang," kata Ipung.


PERAYAAN PASKAH

Paus Mengajak Dunia Bangun Persaudaraan


ROMA, JUMAT — Di tengah dunia yang tercabik-cabik oleh kekerasan, kapitalisme, intoleransi, dan ketidakadilan, Paus Fransiskus dalam perayaan Kamis Putih, Kamis (24/3), mengajak semua warga dunia untuk mencintai kembali persaudaraan dan keakraban sejati sebagai sesama manusia. Jika biasanya dalam tradisi pembasuhan kaki Paus membasuh kaki para imam terpilih, kali ini untuk menunjukkan pesannya, Paus Fransiskus membasuh dan mencium kaki 11 pengungsi, tiga di antaranya Muslim. Mereka berasal dari Mali, Pakistan, dan Suriah.

Cara Paus Fransiskus menunjukkan kepedulian dan keberpihakan kepada kaum lemah dan tertindas mewujud dalam cara pemimpin umat Katolik ini menghidupi imamatnya. Dalam perayaan Kamis Putih tahun sebelumnya, Paus Fransiskus membasuh kaki para narapidana dan orang-orang cacat.

Seorang pencari suaka yang saat dibasuh tengah menggendong bayinya menangis saat Paus Fransiskus berlutut di depannya, membasuh kakinya dengan air, dan mencium punggung kakinya. Tindakan itu seakan mengajak dunia untuk memperhatikan dan melindungi para pengungsi dan pencari suaka yang sebagian besar hidup dalam ketidakpastian.


Renungan Paskah

Bertemu Dia Yang Bangkit di Meja Emaus


 Darah yang mengalir itu masih segar di pelupuk mata para murid. Bagi mereka, hari itu adalah hari yang paling mengguncangkan. Sang Rabi telah pergi. Tancapan paku kekuasaan Romawi pada lengan dan kaki-Nya membuyarkan segala perjuangan yang dimulai dari Nazaret di Galilea.

Ironisnya, bukan Galilea, wilayah bangsa-bangsa ”lain” (goyim), melainkan Jerusalem, kota suci itu, yang menjadi saksi gugurnya keadilan. Konspirasi politik dan tekanan massa yang beringas atas nama kepentingan agama dan bangsa berhasil membungkam nurani pihak berwenang. Pemelintiran hukum demi keadilan yang sungsang ternyata adalah cerita usang yang kerap berulang. Misteri kubur seolah-olah saksi bisu yang menyimpan ingatan pahit akan korban tak bersalah.

Andaikata cerita Yesus dari Nazaret berakhir di situ, yang tersisa hanyalah sebuah tragedi tambahan dalam sejarah perjuangan zaman, seperti yang terjadi beberapa waktu kemudian kala Jerusalem dihancurkan. Yosefus, sejarawan Yahudi yang hidup sezaman, mencatat bahwa ribuan orang Yahudi disalibkan dan dipaku pada tembok-tembok kota itu. Tindakan brutal yang bahkan membuat Jenderal Titus merasa iba.