Thursday, March 3, 2016

Kompas Edisi Kamis 3 Maret 2016

Kompas Edisi Kamis 3 Maret 2016

Presiden Segera Panggil Menteri

Kabinet Harus Satu Visi


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo mengingatkan, semua menteri harus satu visi dengan Presiden. Terkait hal itu, meski silang pendapat di antara menteri dinilai merupakan bagian dari dinamika, Presiden akan minta penjelasan dari para menteri yang terlibat polemik di ruang publik.

 ”Yang penting, semua harus satu visi dengan Presiden,” ujar Presiden sambil mengacungkan jari telunjuknya ke depan, di Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (2/3).

Hal ini disampaikan Presiden terkait silang pendapat sejumlah menteri yang muncul di ruang publik. Silang pendapat ini terutama terjadi untuk sejumlah isu atau proyek strategis, seperti pengolahan gas Blok Masela di Maluku, kebijakan impor beras, pencapaian target pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt, serta proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Dalam silang pendapat ini, bahkan ada menteri yang saat menyindir menteri lain sampai menyisipkan meme menteri yang disindirnya di jejaring media sosial Twitter.


SAMPAH MISTERIUS

Indikasi Sabotase Belum Ditemukan


JAKARTA, KOMPAS — Sejak Rabu pekan lalu hingga Rabu (2/3) kemarin, petugas Suku Dinas Tata Air Jakarta Pusat masih menemukan material yang diduga pelapis kabel menyumbat gorong-gorong di Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

 Pada Rabu petang, benda tersebut sudah terkumpul sedikitnya 17 truk dengan volume sekitar 60 meter kubik. Namun, keberadaan benda itu belum ada tanda-tanda habis dan belum diketahui muasalnya.

Rabu sore, sebuah truk Suku Dinas Tata Air Jakpus masih terparkir di dekat lokasi. Di dalamnya terdapat gundukan bungkus kabel berwarna hitam. Bungkus tersebut berbentuk seperti pita yang berbentuk spiral dengan lebar 2-5 sentimeter.


MITIGASI BENCANA

Berharap Citarum Tak Lagi Bawa Banjir


Riuh-rendah pengeras suara seperti memanggil, membuat langkah kaki Ny Ata (41) semakin cepat menuju lapangan voli di Kampung Kondang, Desa Majalaya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Di lapangan voli di pinggir Sungai Citarum yang berjarak sekitar 100 meter dari rumah kontrakannya itu sudah banyak warga yang datang.

Hari itu sangat istimewa bagi mereka. Kesabaran warga menghadapi banjir kurang lebih sekitar 25 tahun semakin dihargai banyak pihak. Disuguhi pemutaran video, pementasan seni tradisional Sunda, dan testimoni warga korban banjir, Ata dan juga warga lainnya tidak beranjak sampai acara puncak tiba.

Diawali gunting pita sederhana, Kelompok Keahlian Sains Atmosfer Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Teknologi Bandung dan PT Reasuransi Maipark resmi menghibahkan alat observasi meteorologi dan pemantauan banjir untuk warga.