Friday, March 11, 2016

Kompas Edisi Jumat 11 Maret 2016

Kompas Edisi Jumat 11 Maret 2016

Lahan di Riau Terbakar Lagi

Titik Panas di Kalimantan Meningkat Tajam


JAKARTA, KOMPAS — Kebakaran hutan dan lahan kembali terjadi di Riau. Kebakaran ini sudah diprediksi karena anomali cuaca tahunan yang melanda daerah itu. Namun, titik api yang terjadi kali ini berkurang dibandingkan dengan titik api periode yang sama pada 2015.

 "Kalau dilihat datanya, titik api sekarang ini sudah jauh lebih kecil. Kalau mau dinolkan sama sekali sulit," kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, Kamis (10/3), di Jakarta.

Ia menunjukkan data Satelit NOAA18, yakni terdapat 56 titik panas selama 1-10 Maret 2016. Jumlah ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2015 yang mencapai 369 titik panas. Sementara pantauan Satelit Terra/Aqua (berkepercayaan lebih dari 80 persen) menunjukkan, terdapat 153 titik panas pada 1-10 Maret 2016, sedangkan pada 1-8 Maret 2015 terdapat 259 titik panas.


HARGA MINYAK

Tambal Defisit, Arab Saudi Cari Utang

Arab Saudi Cari Utang


DUBAI, RABU — Arab Saudi tengah mencari pinjaman luar negeri senilai 6 miliar-8 miliar dollar AS guna menambal defisit anggarannya akibat anjloknya harga minyak mentah di pasar global. Pinjaman itu bakal menjadi pinjaman pertama Arab Saudi yang jumlahnya signifikan dalam satu dasawarsa terakhir.

Pemerintah Arab Saudi, Rabu (9/3), dikabarkan sedang dalam proses meminta proposal dari calon pihak yang siap memberikan pinjaman dalam bentuk mata uang dollar AS. Pinjaman itu dalam jangka waktu lima tahun dengan opsi menambah jumlahnya.

Sumber menyatakan, lembaga penasihat yang berbasis di London, Inggris, Verus Partners, yang didirikan mantan bankir Citigroup—Mark Aplin dan Andrew Elliot—menjadi penasihat Pemerintah Arab Saudi dalam proses pencarian pinjaman itu. Juru bicara Verus Partners yang coba dikonfirmasi menolak berkomentar untuk persoalan itu.

TANAH LONGSOR

Baru Sekejap Perayaan Ulang Tahun Pernikahan Itu...


"Jalan Tuhan belum tentu yang tercepat, bukan juga yang termudah, tetapi sudah pasti yang terbaik...."

Ini menjadi semacam pesan terakhir yang paling berkesan dari Budi Tanuadi Supena (52), yang diterima oleh keluarga, kerabat, teman, ataupun jemaat di lingkungan gereja. Pesan itu tertulis dalam status yang dipasangnya di profil Blackberry Messenger Budi.

Mata Andi Setiawan (54) berkaca-kaca sambil menunjukkan telepon pintarnya, terkait pesan Budi itu, kepada sejumlah wartawan sambil terus mengikuti proses evakuasi, Kamis (10/3).