Tuesday, January 12, 2016

Kompas Edisi Selasa 12 Januari 2016

Kompas Edisi Selasa 12 Januari 2016

Daerah Inginkan Perubahan

Wajah Baru Pemenang Pilkada Butuh Dukungan


JAKARTA, KOMPAS — Meski jumlahnya tidak banyak jika dibandingkan dengan total calon, kandidat berusia muda atau berjenis kelamin perempuan ternyata memiliki potensi kemenangan yang lebih besar dalam pilkada serentak 9 Desember 2015. Ini jadi indikator awal bahwa masyarakat menginginkan kehadiran pemimpin alternatif dan yang membawa perubahan.

 Pemimpin muda yang memenangi pilkada itu antara lain pasangan Emil Elestianto Dardak (32)-Muhammad Nur Arifin (26). Mereka memenangi Pilkada Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, dengan memperoleh 76 persen suara.

Di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Mirna Annisa, perempuan dokter berusia 34 tahun, juga berhasil memenangi pilkada dengan memperoleh 62,23 persen suara.


PEMBERLAKUAN GBHN

Amandemen UUD 1945 Bukan Satu-satunya Jalan


JAKARTA, KOMPAS — Gagasan pemberlakuan kembali Garis-garis Besar Haluan Negara sebagai panduan pembangunan nasional berjangka panjang perlu dipikirkan mendalam. Gagasan itu dapat diwujudkan dengan memperkuat Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.

Langkah itu diyakini akan memberi risiko kebangsaan yang lebih kecil dan tak akan menguras energi bangsa dibandingkan jika melalui amandemen terhadap Undang-Undang Dasar 1945 guna memberi kewenangan Majelis Permusyawaratan Rakyat menetapkan GBHN.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Senin (11/1), di Jakarta, mengatakan, Indonesia membutuhkan GBHN untuk memandu pembangunan. Dokumen itu tidak hanya mengikat pemerintah pusat, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia guna memastikan pembangunan yang merata di seluruh Tanah Air.


PERTANIAN

Krisis Air Disiasati, Waduk Jatigede Dibuka


CIREBON, KOMPAS — Pemerintah dan petani berusaha menyiasati krisis air yang terjadi di sentra-sentra padi di sejumlah wilayah di Tanah Air. Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung, Cirebon, menggelontorkan air dari Waduk Jatigede, Sumedang, Jawa Barat. Adapun petani berusaha mempercepat tanam dengan benih varietas unggul serta pompanisasi dari sungai dan sumur pantek.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung Trisasongko Widianto kepada Kompas, Senin (11/1), mengatakan, saat ini Waduk Jatigede belum memasuki tahapan operasional. Menurut ketentuan, Waduk Jatigede bisa dialirkan untuk irigasi, kelistrikan, dan suplai air baku jika ketinggiannya mencapai 260 meter di atas permukaan laut dan telah melalui sertifikasi pengoperasian dari pemerintah pusat.

Akan tetapi, Selasa ini, BBWS Cimanuk-Cisanggarung mulai menguji coba saluran irigasi dari Waduk Jatigede. Uji coba saluran irigasi itu dilakukan secara buka-tutup setiap hari.