Tuesday, January 26, 2016

Kompas Edisi Selasa 26 Januari 2016

Kompas Edisi Selasa 26 Januari 2016

Pembangunan Rakus Energi Fosil

Pemanfaatan Energi Baru Terbarukan Masih Kecil


JAKARTA, KOMPAS — Pembangunan yang rakus energi fosil menjadi kendala dalam mengembangkan energi baru terbarukan. Ketergantungan pada minyak bumi dan batubara beberapa dekade terakhir ini membuat Indonesia hanya memiliki bauran 5 persen energi baru terbarukan dari konsumsi energi nasional.

Di sisi lain, Indonesia telah mengajukan kontribusi niat penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) 29-41 persen sebelum 2030. Pada Konferensi Perubahan Iklim Ke-21 di Paris, Desember 2015, Presiden Joko Widodo berjanji meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) 23 persen dari konsumsi energi nasional 2025.

Oleh karena itu, terobosan harus diambil agar potensi EBT yang melimpah di Indonesia bisa dimanfaatkan. Tanpa konsistensi, pertumbuhan ekonomi Indonesia terus ditopang energi fosil yang kotor.


PARTAI GOLKAR

Penyelesaian Konflik Temui Titik Terang


 JAKARTA, KOMPAS — Penyelesaian konflik internal Partai Golkar menemui titik terang. Dengan restu pemerintah dan Tim Transisi Penyelesaian Konflik Internal Partai Golkar yang diketuai Jusuf Kalla, Rapat Pimpinan Nasional Partai Golkar yang digelar kepengurusan hasil Munas Bali memutuskan untuk menggelar musyawarah nasional luar biasa pada tahun ini.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Bali Aburizal Bakrie dalam pidato penutupan rapimnas, Senin (25/1), di Jakarta. Di forum itu juga dikukuhkan dukungan terhadap pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Menanggapi hal ini, dalam pidatonya, Kalla mengapresiasi penyelenggaraan rapimnas yang diharapkan dapat menyatukan Golkar. Dia juga mengatakan, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H Laoly akan membuatkan payung hukum sehingga Golkar bisa menggelar musyawarah nasional luar biasa (munaslub).


ENERGI TERBARUKAN

Menanti Kabar Baik dari Boalemo


Api menyala dari kompor berukuran 40 cm x 50 cm, di mes staf Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi Unit V Boalemo, Gorontalo. Kurang dari 5 menit, panci berisi air itu pun mendidih

"Silakan kopinya," kata Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Unit V Boalemo Djimlan, tidak lama setelah menuangkan air mendidih, Rabu (20/1).

Rasa kopinya biasa saja. Namun, sumber apinya dari bioetanol dengan kandungan etanol di atas 60 persen. Bukan dari gas atau minyak tanah. Bioetanol dialirkan dari botol melalui selang khusus yang biasa dipakai di botol infus.