Sunday, January 10, 2016

Kompas Edisi Minggu 10 Januari 2016

Kompas Edisi Mingu 10 Januari 2016

Krisis Air, Petani Pakai Pompa

Percepatan Tanam Padi Terancam Gagal


CIREBON, KOMPAS — Produksi padi nasional terancam cuaca tak menentu saat ini. Akibat masih kurangnya air di persawahan, sebagian besar lahan di daerah sentra beras, seperti Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terlambat ditanami padi. Krisis air terjadi pula di Bali.

Di Kabupaten Cirebon, krisis air menyebabkan upaya mempercepat masa tanam musim rendeng (pertama) di sejumlah lahan persawahan terancam gagal. Meskipun ketersediaan pupuk dan benih padi mencukupi, lahan persawahan masih krisis air. Panen raya padi yang diprediksi berlangsung pada Maret 2016 diperkirakan mundur hingga Mei.

Di kawasan Arjawinangun hingga Gegesik, Sabtu (9/1), baru sebagian kecil petak yang ditanami benih padi. Lahan itu dikelilingi plastik untuk mengantisipasi serangan hama tikus. Bahkan, kebanyakan sawah masih dalam proses pengairan untuk menyemai benih.


PENANGKAPAN GEMBONG NARKOBA

Akhir Pelarian ”Si Pendek” Guzman


MEXICO CITY, SABTU — Gembong kartel narkoba Meksiko, Joaquin ”El Chapo” Guzman, Sabtu (9/1), kembali meringkuk di penjara berpengamanan maksimum, yang enam bulan lalu berhasil dia bobol untuk melarikan diri.

Guzman, yang populer dengan julukan El Chapo atau Si Pendek karena bangun tubuh yang gempal, digelandang dengan pengawalan ketat sejumlah personel marinir Meksiko bersenjata lengkap. Ia dikawal menuju helikopter militer yang akan membawanya ke Penjara Altiplano di Meksiko tengah.

Pada Juli 2015, Guzman berhasil kabur lewat terowongan canggih bersaluran udara yang digali dan dibangun sepanjang 1,5 kilometer menuju bagian bawah toilet di dalam ruang selnya.


WIRAUSAHA

Para Perempuan Menanam Harapan


Taman Festival Walk di Kowloon Tong, Hongkong, menjadi saksi perjuangan para pahlawan devisa ini merintis kehidupan yang lebih bermartabat dan sejahtera. Julukan mereka memang pahlawan devisa, tetapi masa depan belum tentu mereka yang punya.

Dibalut jaket tebal, lebih dari 100 perempuan sudah duduk-duduk berkumpul di taman yang berlokasi dua menit jalan kaki dari Stasiun Mass Transit Railway Kowloon Tong. Cuaca yang mendung membuat suhu udara yang pagi itu mencapai 16 derajat celsius semakin terasa menggigit.

Sebagian kecil dari mereka tampak mengenakan celemek dan topi koki. Sebagian kecil lainnya mulai membuka perlengkapan rias. Sisanya, yang tengah duduk di atas rumput, masuk dalam kelompok yang akan belajar tentang teori kewirausahaan. Mereka, para perempuan buruh migran Indonesia (BMI), rela menghabiskan hari Minggu yang menjadi satu-satunya hari libur dalam sepekan untuk mengikuti Sekolah Kehidupan Buruh Migran Cerdas (BMC), semacam pelatihan kewirausahaan. Bahkan, tidak sedikit yang mendapat libur hanya sehari dalam dua minggu atau sebulan kerja.