Monday, January 18, 2016

Kompas Edisi Senin 18 Januari 2016

Kompas Edisi Senin 18 Januari 2016

Napi Terorisme Makin Radikal

Tokoh Lintas Agama Berkomitmen Membendung Terorisme


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah terpidana terorisme justru semakin radikal setelah menjalani masa pidana di lembaga pemasyarakatan. Karena itu, narapidana kasus terorisme mesti ditangani secara lebih serius agar mereka tidak mempertahankan atau malah memperkuat paham radikal yang mereka anut.

Manajemen lembaga pemasyarakatan yang tidak tepat diduga menjadi salah satu penyebab kondisi ini.

Sejumlah aksi teror di Tanah Air belakangan ini didugadilakukan bekas narapidana (napi) kasus terorisme.

”Banyak contoh betapa lembaga pemasyarakatan bisa membuat orang semakin radikal,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Saud Usman Nasution di Jakarta, Sabtu (16/1).


PEMBANGUNAN

Warga Sulit Keluar dari Kemiskinan


JAKARTA, KOMPAS — Angka kemiskinan mengalami penurunan sejak 2012. Akan tetapi, sejumlah warga di beberapa tempat menunjukkan mereka masih sulit keluar dari keadaan miskin. Berbagai masalah masih menyelimuti mereka.

Untuk mengetahui kesulitan warga terbebas dari kemiskinan, Kompas tinggal bersama warga desa di Sumatera Utara, Lampung, Banten, dan Nusa Tenggara Barat akhir pekan lalu. Tolok ukur kemiskinan yang digunakan adalah Indeks Kemiskinan Multidimensi yang dibuat Ford Foundation, lembaga pemikir Prakarsa, dan Litbang Kompas. Di dalam pengukurannya ada 11 indikator yang terkait dengan kesehatan, pendidikan, dan standar hidup.

Kampung Unte Mungkur, Desa Satahi Nauli, Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, berjarak sekitar 12 jam dari Medan. Untuk mencapai desa itu bisa dengan kendaraan dan disambung dengan naik sampan dari Kolang selama satu jam.


KETIMPANGAN

Kemiskinan Sepanjang Hayat Keluarga Erni


Baginya, program pengentasan rakyat miskin tak lebih dari sekadar proyek. Kemiskinan dirasakan sebagai kegelapan abadi. Kemiskinan seperti darah yang mengalir dalam tubuh keluarga itu, dari janin sampai entah mungkin kelak hingga mati.

Erni (6) dan keluarganya tinggal di Kampung Camara, Desa Banyuasih, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten. Mereka tinggal di gubuk reyot di atas tanah milik masjid setempat.

Malam itu, Erni tak nyenyak tidur. Berulang kali ia terbangun. Demikian juga adiknya, Rizal Kamil (4). Iroh (25), ibunya, mencoba menenangkan dan menyelimuti kembali anak-anaknya.