Friday, January 8, 2016

Kompas Edisi Jumat 8 Januari 2016

Kompas Edisi Jumat 8 Januari 2016

Proyeksi Lapangan Kerja Positif

Kementerian PUPR Rancang Proyek agar Menyerap Banyak Pekerja


JAKARTA, KOMPAS — Sejumlah proyek infrastruktur yang telah dikerjakan tahun lalu dan akan dilanjutkan pada tahun ini memberikan proyeksi positif bagi pembukaan lapangan kerja di beberapa daerah. Setiap proyek diperkirakan menyerap ribuan tenaga kerja.

"Sehari-hari saya hanya tukang batu. Jika tidak ada proyek, ya, tinggal di desa. Namun, adanya proyek jembatan ini, saya senang karena mendapat upah di atas Rp 50.000 per hari," ujar Kasmadi, pekerja asal Mranggen, Kabupaten Demak, ketika ditemui di sebuah proyek di Kota Semarang. Ia dan beberapa pekerja lain telah bekerja di tempat itu sejak September lalu dan kini tengah menyelesaikan akhir badan jembatan.

Sejumlah kalangan di daerah ketika ditemui Kompas, Kamis (7/1), mengatakan, mereka optimistis proyek-proyek infrastruktur menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Kondisi ini sejalan dengan survei indeks keyakinan konsumen Bank Indonesia, pekan ini, yang menyebutkan, kondisi perekonomian pada enam bulan mendatang akan baik karena terjadi perbaikan pada lapangan pekerjaan dan pendapatan.


Janji Budaya Seorang Adipati


Dari dalam Kereta Kyai Manik Kumala yang berusia sekitar 200 tahun, Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Paku Alam X melambaikan tangan ke arah kerumunan warga. Pemimpin baru Kadipaten Pakualaman itu juga banyak tersenyum, kedua tangannya mengatup di depan dada dan kepalanya sedikit ditundukkan.

Terpancar rasa syukur dan hormat kepada siapa saja. Di depan kereta yang ditumpanginya, tujuh ekor gajah berjalan pelan, disusul puluhan prajurit yang membawa tombak.

Di Jalan Cendana, Yogyakarta, Kamis (7/1) sore, ribuan warga menyambut iring-iringan rombongan Paku Alam X itu. Sebagian warga, termasuk sejumlah nenek, telah menunggu berjam-jam untuk menyaksikan rombongan tersebut lewat. Para petugas yang menjaga kirab itu pun harus berkali-kali mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati rombongan.


AIR TANAH JAKARTA

Perluas Layanan, Awasi Penyedotan


JAKARTA, KOMPAS — Pemerintah tersandera lemahnya penyediaan air bersih perpipaan dan masifnya penyedotan air tanah di Ibu Kota. Akibatnya, aturan tak bisa ditegakkan dan mutu lingkungan makin buruk.

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Hak atas Air Muhammad Reza Sahib, Kamis (7/1), mengingatkan, problem buruk mutu air tanah bukan hal baru bagi DKI Jakarta. Situasi itu akumulasi kekacauan tata ruang, pengelolaan sumber daya air, serta pembiaran pelanggaran lingkungan bertahun-tahun.

Akibat pemerintah gagal menyediakan air bersih, warga dan pelaku usaha menyedot air tanah untuk memenuhi kebutuhan. Layanan air bersih perpipaan di DKI Jakarta diperkirakan baru menjangkau 62 persen wilayah dengan sekitar 820.000 sambungan.