Thursday, January 28, 2016

Kompas Edisi Kamis 28 Januari 2016

Kompas Edisi Kamis 28 Januari 2016

Pemodal Kuasai Lahan Desa

Masyarakat Semakin Terpinggirkan


JAKARTA, KOMPAS — Ribuan hektar lahan desa kini dikuasai para pemodal. Terbuai iming-iming uang, banyak warga desa menjual tanahnya. Pemerintah sebagai otoritas pengendali penguasaan lahan juga belum dirasakan kehadirannya. Alih-alih memberikan nilai tambah ekonomi, ekspansi ini justru secara struktural memarjinalkan masyarakat desa.

 Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Serang Raya Abdul Malik, Rabu (27/1), mengingatkan, penguasaan lahan desa demi kepentingan investasi cenderung lebih memarjinalkan daripada memberdayakan masyarakat setempat.

Pemerintah daerah bermaksud mendorong investasi dengan orientasi utama untuk pendapatan asli daerah. Namun, yang terjadi, pembelian lahan desa menyebabkan pemiskinan secara struktural dan kultural. Warga miskin tidak mempunyai kemampuan meningkatkan taraf hidup. Kemiskinan menjadi lingkaran setan yang turun-temurun dalam keluarga.



Infrastruktur

Kaji Risiko Gempa Sebelum Konstruksi KA Cepat


JAKARTA, KOMPAS — Dikepung empat sumber gempa bumi, pembangunan kereta api cepat Jakarta-Bandung wajib memperhitungkan risiko bencana. Kajian risiko itu seharusnya dilakukan sebelum konstruksi fisik dan menjadi bagian dari perencanaan proyek itu.

”Dua aspek penting harus disiapkan pada pembangunan kereta api cepat terkait potensi gempa,” kata Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Masturyono di Jakarta, Rabu (27/1).

Aspek pertama ialah keselamatan operasionalisasi KA cepat dengan menerapkan peringatan dini gempa. Dengan sistem itu, KA bisa dihentikan darurat sebelum tiba gelombang gempa yang merusak.


PENGUASAAN LAHAN

Salam dari Desa


 Pantai Desa Banyuasih di Kabupaten Pandeglang, Banten, sunyi dan tenang. Dalam beberapa tahun ke depan, nilai ekonomi kawasan itu bakal kian menjulang. Namun, kawasan sepanjang 9 kilometer itu telah dikuasai pemodal dari luar desa, luar daerah, sepenuhnya.

Pagi itu, Nur (28), warga Desa Banyuasih, turun ke pantai bersama sejumlah perempuan dari desanya. Mereka menyambut nelayan yang membawa pulang hasil tangkapan semalam.

Nur membeli ikan kecil-kecil seberat 5,5 kilogram. Setiap enam ekor ikan ia ikat dengan serat bambu menjadi satu. Hari itu, Nur menenteng 20 ikat ikan. Ikan-ikan itu dimasukkan ke ember plastik untuk dijual keliling desa.

Sehari-hari, Nur berjalan kaki keliling desa membawa dagangan ikan, mulai pukul 13.00 sampai dengan pukul 18.00. Kalau dagangannya laku, Nur mengantongi pendapatan bersih Rp 10.000-Rp 30.000 per hari. Kalau sisa banyak, ia rugi.