Sunday, January 24, 2016

Kompas Edisi Minggu 24 Januari 2016

Kompas Edisi Minggu 24 Januari 2016

Dualisme Pengurus Saatnya Diakhiri

Aburizal Terima Kenyataan Pahit


JAKARTA, KOMPAS — Partai Golkar harus lebih mengutamakan kepentingan bangsa di atas golongan. Setelah tercapai suatu titik temu, kini saatnya masalah dualisme kepengurusan diakhiri dengan musyawarah nasional luar biasa yang demokratis dan adil bagi semua kader Partai Golkar.

Dorongan untuk menyelenggarakan musyawarah nasional luar biasa (munaslub) sebagai solusi konflik internal partai yang berulang kali digaungkan berbagai elemen Golkar, akhirnya bersambut. Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar di Jakarta, Sabtu (23/1) malam, dibuka Presiden ke-3 Republik Indonesia BJ Habibie, yang juga tokoh senior Partai Golkar, dengan pemukulan gong.

Habibie didampingi Ketua Umum Partai Golkar hasil Munas Bali Aburizal Bakrie, Ketua Panitia Pelaksana Rapimnas Nurdin Halid, Wakil Ketua Panitia Penyelenggara Rapimnas Yorrys Raweyai, dan Sekretaris Jenderal Partai Golkar Munas Bali Idrus Marham.


Badai Salju

9 Orang Tewas di Amerika Serikat


WASHINGTON DC, SABTU — Badai salju yang mematikan menerjang sebagian besar kawasan pantai timur Amerika Serikat, Sabtu (23/1). Badai salju parah itu telah menyebabkan sedikitnya sembilan orang tewas.

 Badai salju raksasa berdampak pada kawasan yang sangat luas, bahkan mulai dari Arkansas di selatan hingga Massachusetts di timur laut AS. Sistem pelayanan transportasi publik lumpuh, sementara banyak rumah yang tidak mendapatkan pasokan aliran listrik.

Dengan kondisi seperti itu, Pemerintah AS mengumumkan status Darurat di setidaknya 10 negara bagian. Petugas juga meminta jutaan warga yang tinggal di jalur badai mengungsi sementara waktu.


Kuliner

Diplomasi Kerupuk!


"'No' kerupuk, 'no glory'...." Begitu kata Retno LP Marsudi, Menteri Luar Negeri, yang menggemari kerupuk. Namun, setiap kali ia menikmati kerupuk, suaminya akan mengingatkan, "300 kalori, 300 kalori...."

Di Sabtu pagi yang masih sejuk, di kediaman resmi Menteri Luar Negeri, pekan lalu, Retno Marsudi memperlihatkan sarapan paginya yang terlihat minimalis. Di meja makan hanya tersedia sayuran hijau rebus, saus kacang di mangkuk terpisah, telur ceplok dengan bagian putih yang agak kecoklatan, jus buah, dan satu boks plastik kerupuk kampung.

Retno dan suaminya, Agus Marsudi, sebenarnya terbilang cukup berhati-hati dalam menjaga pola makan. Namun, untuk urusan kerupuk, Retno belum sanggup berpaling seperti suaminya yang bisa berhenti makan kerupuk. Oleh karena itu, sang suami pun kini beralih menjadi "polisi kerupuk", yang kerap mengingatkan tingginya kalori dalam sekeping kerupuk.