Friday, November 20, 2015

Kompas Edisi Jumat 20 November 2015

Kompas Edisi Jumat 20 November 2015

Publik Geram Ingin Dituntaskan

Berbahaya, Mendiamkan Kasus Pencatutan Nama


JAKARTA, KOMPAS — Berbagai petisi dan ungkapan kekesalan bermunculan di dunia maya. Isinya menggambarkan kegeraman publik dan keinginan agar kasus politisi yang diduga mencatut nama Presiden dan Wapres untuk minta saham dari PT Freeport Indonesia segera dituntaskan.

Namun, hingga saat ini, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) belum menentukan kapan akan menyelesaikan kasus ini. MKD baru menargetkan sebelum masa sidang II-2015-2016 berakhir pada 19 Desember sudah memanggil pengadu, teradu, dan pihak terkait lain.

Padahal, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said sudah menyerahkan rekaman dan transkrip pembicaraan pertemuan pada 8 Juni 2015. Pertemuan itu antara Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (FI) Maroef Sjamsoeddin, Ketua DPR Setya Novanto, dan pengusaha minyak Muhammad Riza Chalid.



PERANCIS

Abaaoud Terduga Dalang Teror Tewas


PARIS, KAMIS — Kantor Kejaksaan Perancis, Kamis (19/11), memastikan, pria yang ditembak mati polisi dalam penggerebekan di Saint-Denis, pinggiran Paris, Perancis, sehari sebelumnya, adalah Abdelhamid Abaaoud. Ia merupakan terduga dalang serangan teror di Paris, Jumat lalu, yang menyebabkan sedikitnya 129 orang tewas dan 349 orang terluka.

”Abaaoud telah diidentifikasi secara resmi,” ungkap kantor Kejaksaan Perancis.

Perdana Menteri Perancis Manuel Valls memuji polisi yang berhasil menewaskan Abaaoud. ”Kita mengetahui bahwa Abaaoud, dalang dari serangan itu—atau satu dari banyak dalang karena kita harus hati-hati dan kita mengetahui ada banyak ancaman—termasuk di antara yang tewas,” kata Valls.

Proses identifikasi jasad Abaaoud dilakukan segera setelah penembakan pada Rabu siang. Kepastian itu berdasarkan data sidik jari dan DNA.

Abaaoud adalah satu dari dua orang yang tewas dalam operasi penggerebekan yang dilakukan di apartemen dekat Stadion Stade de France, Paris, Rabu.



KOMODITAS

Kopi Liberika, Khas Aroma Gambut


Kopi bubuk, gelas kecil, dan termos air panas kini selalu tersaji di meja ruang tamu Supardi (63). Saat tamu berkunjung untuk melihat pengolahan kopi di belakang rumahnya, petani kopi itu terlebih dulu mempersilakan mereka duduk, menyeduh minuman sesuai selera.

”Bedakan rasanya. Ini mungkin satu-satunya di dunia. Kopi dari rawa gambut,” ujarnya tersenyum, Jumat (13/11).

Para tamu ikut tertawa. Namun, tangan mereka cekatan membuka stoples berisi bubuk kopi yang baru selesai dimasak dan digiling. Mereka lalu bergantian menyeduhnya dengan air panas, seolah ingin segera menjawab rasa penasaran akan rasa dan aroma kopi itu.

”Mmm... terasa agak kelat dan ada aroma gambutnya,” komentar Ipet (38) seusai menyeruput minuman.