Thursday, November 26, 2015

Kompas Edisi Kamis 26 November 2015

Kompas Edisi Kamis 26 November 2015

Data Pangan Tidak Akurat

Ada Dugaan Dipermainkan untuk Justifikasi Keberhasilan Program


JAKARTA, KOMPAS — Badan Pusat Statistik meragukan kualitas data luas panen pangan sebagai basis penghitungan produksi pangan yang dikumpulkan Kementerian Pertanian dan dinas pertanian di daerah. Konflik kepentingan muncul karena data yang dikumpulkan menjadi justifikasi keberhasilan program oleh institusi pengumpul data.

Hal itu terungkap dalam lokakarya wartawan dalam rangka peningkatan pemahaman data pangan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), Rabu (25/11), di Jakarta. Lokakarya itu bertema ”Data Pangan sebagai Pijakan Pengambilan Kebijakan”.

Keraguan itu sudah diungkapkan sejak lama oleh beberapa kalangan. Dua bulan lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mempertanyakan hasil angka ramalan I produksi beras yang mencapai 75,55 juta ton gabah kering giling. Angka ini dinilai terlalu tinggi. Dalam catatan Kompas, setidaknya sejak lima tahun lalu, DPR, pengusaha, dan pengamat meragukan data produksi pangan nasional.


Penembakan Jet Tempur

Turki-Rusia Tidak Ingin Eskalasi Militer


MOSKWA, RABU — Rusia dan Turki, Rabu (25/11), menyatakan sama-sama tidak ingin terjadi eskalasi militer akibat penembakan jet tempur SU-24 Rusia oleh jet tempur F-16 Turki, Selasa lalu. Eskalasi militer hanya akan memperumit upaya internasional memerangi Negara Islam di Irak dan Suriah.

Namun, perang klaim dan kata-kata antara Moskwa dan Ankara masih panas. Rusia menegaskan bakal melancarkan pembalasan ekonomi lewat perdagangan dan pariwisata.

"Kami tidak merencanakan perang terhadap Turki, sikap kami kepada masyarakat Turki tidak berubah," kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov kepada wartawan.


Pengungsi Korban Gempa

Mereka Masih Butuh Logistik


Rasa takut selalu menghantui setiap waktu kala melewati malam di Desa Bobanehena, Kecamatan Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara, satu pekan terakhir. "Teror" gempa yang sudah berlangsung 10 hari itu masih terus mengancam.

Perasaan batin itu selalu menghantui siapa pun yang tinggal di jalur gempa. Selasa (24/11) pukul 23.19 WIT, beberapa pemuda yang duduk di teras rumah posko penanganan bencana Desa Bobanehena serentak berdiri dari kursi. Ada yang mengambil ancang-ancang lari. Tak sampai dua detik, guncangan gempa dengan kekuatan 4,0 skala Richter (SR) pun berhenti.

Kejadian gempa beruntun dengan skala lebih kecil masih terus terjadi. Khawatir terjadi gempa lebih besar, beberapa relawan memilih duduk di jalan raya depan posko.