Tuesday, November 24, 2015

Kompas Edisi Selasa 24 November 2015

Kompas Edisi Selasa 24 November 2015

MKD Jangan Main-main

Persoalan Substansial Disingkirkan Masalah Teknis


JAKARTA, KOMPAS —Mahkamah Kehormatan Dewan diharapkan tidak bermain-main dalam memproses dugaan pelanggaran kode etik yang diduga dilakukan Ketua DPR Setya Novanto. Dalam kasus ini, publik menaruh harapan besar kepada MKD.

Namun, rapat pleno MKD, Senin (23/11) di Jakarta, memunculkan sejumlah pertanyaan terkait keseriusan MKD dalam memproses dugaan pelanggaran kode etik yang diadukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said.

”Perkembangan di MKD sungguh menyedihkan. Sidang MKD berubah menjadi sangat absurd dan artifisial dengan kerancuan nalar karena MKD menampilkan hal-hal yang tidak substansial. MKD telah kehilangan orientasi moral untuk menyelesaikan masalah yang ada secara terhormat,” ujar Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin, Senin.


LAPORAN KEUANGAN

BPK Lengkapi Hasil Pemeriksaan


JAKARTA, KOMPAS — Tim investigasi Badan Pemeriksa Keuangan, Senin (23/11), memeriksa Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama terkait Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2014. Pemeriksaan selama hampir sembilan jam sejak pukul 09.30 itu ditempuh untuk melengkapi laporan hasil pemeriksaan sebelumnya yang memuat opini wajar dengan pengecualian.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Internasional Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Yudi Ramdan Budiman menolak memberi keterangan tentang isi pemeriksaan. Ada 12 anggota tim BPK melakukan audit investigasi atas permintaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). ”BPK diberi waktu 80 hari untuk audit investigasi yang akan berakhir pada 26 November ini,” ujarnya.

Permintaan KPK, kata Yudi, terkait dengan laporan hasil pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta Tahun 2014. Ada sejumlah temuan yang dinilai sebagai masalah karena tidak memenuhi empat kriteria dalam pemeriksaan, yaitu kesesuaian laporan keuangan dengan standar akuntansi pemerintah, kecukupan informasi laporan keuangan, efektivitas sistem pengendalian intern, dan kepatuhan pada perundang-undangan.


FESTIVAL FILM INDONESIA 2015

”Siti”, Merayakan Kebebasan Perempuan


Festival Film Indonesia 2015 mengumumkan pemenang kategori Film Terbaik, yaitu Siti. Keputusan ini agak mengejutkan lantaran karya itu tidak terlalu booming di pasaran. Namun, jika ditelisik, film ini memang jitu memotret perjuangan perempuan, juga kebebasan pilihannya.

Bertempat di Indonesia Convention Exhibition (ICE), Kabupaten Tangerang, Banten, Senin (23/11) malam, Festival Film Indonesia (FFI) 2015 memilih Siti dari lima unggulan lain. Empat film lain ialah A Copy of My Mind arahan sutradara Joko Anwar, Guru Bangsa Tjokroaminoto (Garin Nugroho), Mencari Hilal (Ismail Basbeth), dan Toba Dreams (Benni Setiawan). Selain memenangi kategori film terbaik, Siti juga mendapat penghargaan untuk Penata Musik Terbaik (Krisna Purna) dan Penulis Skenario Asli Terbaik (Eddie Cahyono).

Siti mengisahkan sosok ibu muda bernama Siti (diperankan Sekar Sari) yang berjuang di tengah kehidupan yang berat. Dia harus mengurus ibu mertua, anaknya yang bernama Bagas (Bintang Timur Widodo), juga suaminya, Bagus (Ibnu Widodo). Bagus lumpuh akibat kecelakaan saat melaut. Menanggung kehidupan mereka semua, Siti pun membanting tulang dengan berjualan peyek jingking pada siang hari di Pantai Parangtritis, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan pemandu karaoke pada malam hari.