Thursday, November 12, 2015

Kompas, Edisi, Kamis, 12 November 2015

Kompas Edisi Kamis 12 November 2015

Lumbung Ikan RI Terancam

Merkuri Cemari Teluk Kayeli Tempat Ikan Bertelur


NAMLEA, KOMPAS — Tercemarnya Teluk Kayeli akibat penggunaan merkuri dan sianida untuk pemisahan emas hasil tambang liar di Gunung Botak, Pulau Buru, Maluku, mengancam perikanan nasional.

Di teluk itu ada lebih dari 1.000 hektar mangrove, tempat bertelurnya ikan, yang hasilnya akan bergerak ke tengah laut dan menyebar ke sejumlah perairan Nusantara.

Masudin Sangaji, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Pattimura (Unpatti), Ambon, Rabu (11/11), mengatakan, pencemaran lingkungan akibat penggunaan zat berbahaya itu tak hanya mengancam keamanan pangan di Pulau Buru yang telah ditetapkan sebagai salah satu sentra padi. Merkuri juga membahayakan biota laut di Maluku yang kini menjadi lumbung ikan nasional.


PRAKIRAAN MUSIM

Saatnya Antisipasi Banjir dan Longsor


JAKARTA, KOMPAS — Berbagai indikasi menunjukkan, saat ini sebagian besar wilayah Indonesia dalam masa transisi musim atau pancaroba. Saatnya mengantisipasi bencana terkait cuaca dan iklim sebelum hujan melanda seluruh wilayah Indonesia pada Desember mendatang.

Saat ini, sebagian kecil wilayah sudah mengalami musim hujan, yakni Aceh, sebagian besar Sumatera Utara, Riau, dan Jayapura (Papua). Di Jawa, curah hujan di Bandung diprediksi mulai tinggi minggu ini.

”Saat ini, hujan belum teratur,” kata Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Andi Eka Sakya kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/11).

Masa pancaroba ditandai dengan hujan lokal dan sporadis, angin kencang beberapa saat, hawa gerah/panas, dan perubahan signifikan cuaca pada pagi dan sore.



TAMBANG EMAS LIAR

Kini Racun yang Kami Dapatkan


 Tubuh bukit itu tidak lagi mulus setelah ditikam dari segala penjuru. Isinya diambil, lalu dibawa pergi. Sisi jalan menuju puncak yang dulu semerbak wangi daun kayu putih nan mendamaikan hati kini telah berubah menjadi keangkeran yang menakutkan jiwa. Kilauan emas yang dikandungnya telah membutakan mata hati para pemburu.

Kawasan itu oleh masyarakat umum dinamakan Gunung Botak. Letaknya di Desa Wamsait, Kecamatan Waelata, Kabupaten Buru, Maluku. Namun, warga adat setempat menyebutnya Lea Bumi, yang berarti pijakan pertama para leluhur mereka.

Nama Gunung Botak disematkan oleh Tarno, transmigran asal Banyuwangi, Jawa Timur, yang sudah lama menetap di sana. Ia sehari-hari menyuling minyak kayu putih di Desa Wamsait. Tarno pergi ke bukit itu untuk mengambil daun kayu putih. Minyak kayu putih merupakan ikon Pulau Buru. Saat musim kemarau, banyak pohon kayu putih mati, membuat bukit pun gundul. Tarno menyebutnya Gunung Botak dan diikuti warga setempat.