Monday, April 11, 2016

Kompas Edisi Senin 11 April 2016

Kompas Edisi Senin 11 April 2016

Rel Ganda Ubah Kota di Jawa

Interaksi Warga Bertambah dan Memunculkan Kelompok Baru


JAKARTA, KOMPAS — Jalur ganda rel kereta api yang selesai dua tahun lalu mulai mengubah kehidupan warga kota-kota di Pulau Jawa. Angka-angka ekonomi memang belum memperlihatkan lonjakan, tetapi perubahan-perubahan mulai terjadi.

Wahyu Setiawan, pemilik usaha wisata di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, tidak pernah membayangkan bahwa kini ia bisa sibuk menangani wisatawan ke kota itu.

Semula, jumlah wisatawan yang mengunjungi kota itu bisa dihitung dengan jari. Kini, wisatawan melirik kota itu setelah rel ganda selesai dan ada proyek migas, batik bojonegoro, serta sejumlah obyek wisata baru. Ia makin sering mengantar wisatawan ke kota itu. Sekarang, dalam sepekan, selalu ada wisatawan yang mampir di kota itu. Semula, kota ini tidak memiliki hotel berbintang, kini sudah ada satu hotel bintang tiga dan ada lagi tiga hotel yang tengah dibangun.


KONTAK SENJATA

18 Anggota Militer Filipina Tewas


ZAMBOANGA, MINGGU — Sebanyak 18 tentara anggota militer Filipina tewas dalam baku tembak dengan kelompok teroris Abu Sayyaf di Pulau Basila, Provinsi Basila, Filipina, Sabtu (9/4). Baku tembak hingga hampir 10 jam itu juga menewaskan sedikitnya lima anggota kelompok pemberontak itu.

Juru bicara regional militer Filipina, Mayor Filemon Tan, mengatakan, jumlah anggota kelompok Abu Sayyaf dalam bentrokan itu mencapai 100 orang. Baku tembak itu sendiri menjadi kekerasan paling buruk di Filipina, yang melibatkan militer dan kelompok teroris Abu Sayyaf sepanjang tahun ini. Dari 18 tentara yang tewas, empat orang ditemukan terpenggal. Sebanyak 53 anggota militer Filipina dan 20 anggota teroris mengalami luka-luka.

"Militer kami tengah berduka," kata Kepala Militer Filipina Jenderal Hernando Iriberri.


LAYANAN KESEHATAN

Mereka Terpaksa Berobat ke Timor-Leste


Di tengah gelombang tinggi dan angin kencang, Hamis Dolimotong (65) diangkut dengan perahu motor menuju Pulau Atauro, Timor- Leste. Penyakit kanker anus yang dideritanya tak bisa ditolong di puskesmas di Pulau Lirang, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku. Lambat ditangani, Hamis akhirnya meninggal.

Kala itu, Hamis didampingi istrinya, Djadia Masura (64), serta anaknya, Irianti Dolimotong (27). Cuaca buruk membuat waktu perjalanan yang biasanya 30 menit menjadi hampir 1 jam. Padahal, jarak di antara dua pulau itu hanya 4,6 mil laut atau sekitar 7,4 kilometer.

Setelah tiba di Pulau Atauro, Hamis dibawa ke rumah sakit setempat. Namun, karena minimnya fasilitas, tim dokter memutuskan merujuk Hamis ke Dili, ibu kota Timor-Leste yang berada di Pulau Timor. Tak lama, sebuah helikopter milik Pemerintah Timor-Leste datang dari Dili ke Atauro khusus menjemput Hamis.