Friday, April 29, 2016

Kompas Edisi Jumat 29 April 2016

Kompas Edisi Jumat 29 April 2016

Presiden: Perbaiki Layanan Publik

Sistem Daring Jadi Solusi


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo meminta layanan yang bersentuhan dengan rakyat kecil menggunakan sistem dalam jaringan agar lebih transparan dengan biaya dan harga jelas. Koneksi internet dan kepemilikan KTP elektronik menjadi tantangan awal untuk mewujudkan hal itu.

Layanan publik berbasis dalam jaringan (daring) diharapkan bisa dilakukan, antara lain, dalam pengurusan paspor, layanan bandara, pengurusan kartu tanda penduduk (KTP), surat izin mengemudi, surat tanda nomor kendaraan, buku pemilik kendaraan bermotor, akta kelahiran, akta nikah, dan sertifikat tanah. Presiden menilai, layanan publik di atas belum efektif, efisien, dan mudah.

”Saya tak ingin mendengar ada keluhan rakyat terkait layanan publik yang tidak jelas biaya dan waktu layanan, dioper sana-sini. Semua itu harus hilang. Praktik percaloan tidak boleh ada lagi,” kata Presiden saat memimpin rapat terbatas di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (28/4).


KERETA CEPAT

PT KCIC Akui Ada Kesalahan di Halim


JAKARTA, KOMPAS — Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China Hanggoro Budi Wiryawan, Kamis (28/4), di Jakarta, menyampaikan permintaan maaf kepada TNI Angkatan Udara terkait insiden masuknya lima pekerja asal Tiongkok di area Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma tanpa izin. Hanggoro juga mengakui, kelima pekerja itu tengah melakukan pekerjaan pengeboran untuk mengambil sampel tanah terkait pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Hal itu dikatakan Hanggoro seusai bertemu Komandan Pangkalan Udara (Lanud) Halim Perdanakusuma di lanud itu, Kamis. ”Danlanud menyatakan ini pelanggaran, dan kami berjanji tak lagi membuat kesalahan seperti ini. Untuk selanjutnya, kami akan berkoordinasi dengan TNI AU,” ujarnya.

Lima warga negara Tiongkok dan dua warga negara Indonesia (WNI) ditangkap Satuan Keamanan Pertahanan Lanud Halim Perdanakusuma saat melakukan pengeboran di area itu, Selasa lalu. Kedua WNI itu kemudian dibebaskan karena hanya berperan sebagai pengemudi dan penerjemah.


PENEMBAKAN MISTERIUS

Trauma Tidak Hanya Sebatas Luka


Santi Rahayuninsih (20), perempuan warga Kota Magelang, Jawa Tengah, korban penembakan misterius, hanya mengalami luka ringan di bagian paha. Namun, kejadian itu tetap saja sulit untuk dilupakan.

Tepat seminggu kemudian, Senin (25/4), sekitar 40 kilometer arah selatan kota tersebut, seorang anak sekolah dasar berinisial NER (12) juga menjadi korban kejahatan misterius di Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lengan anak perempuan itu disayat senjata tajam sejenis cutter. Di rumah sakit, lengannya ditangani dengan 25 jahitan.

"Kejadian itu terlalu menyeramkan untuk dilupakan. Pelaku menembak ke arah kios hingga tiga kali, dan akhirnya baru benar-benar berhenti setelah satu tembakan terakhir mengenai saya," ujar Santi, Kamis (28/4).