Wednesday, April 27, 2016

Kompas Edisi Rabu 27 April 2016

Kompas Edisi Rabu 27 April 2016

Sejumlah Aturan Disinkronkan

Presiden Kumpulkan Penegak Hukum Bahas Pengampunan Pajak


JAKARTA, KOMPAS — Presiden Joko Widodo mengumpulkan pimpinan lembaga penegak hukum terkait pembahasan Rancangan Undang-Undang Pengampunan Pajak. Presiden menginginkan agar mereka memiliki persepsi sama sebelum RUU disetujui dan kelak diberlakukan.

Langkah ini dilakukan agar pembahasan ketentuan berjalan lancar dan segera dapat disahkan Dewan Perwakilan Rakyat. Langkah lain yang disiapkan adalah menyinkronkan sejumlah aturan apabila RUU Pengampunan Pajak disetujui dan disahkan DPR.

Presiden menekankan adanya penyamaan persepsi itu saat bertemu Jaksa Agung M Prasetyo, Kepala Polri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti, dan tiga pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (26/4). Staf Khusus Presiden Bidang Komunikasi Johan Budi SP mengatakan, penyamaan persepsi itu penting artinya pada saat RUU masih dalam pembahasan.


TEROR WARGA

Motif Penembakan dan Penyayatan Gelap


MAGELANG, KOMPAS — Teror penembakan misterius di Kota Magelang, Jawa Tengah, sudah berlangsung lebih dari tiga minggu. Namun, hingga Selasa (26/4), pihak kepolisian belum berhasil mengungkap pelaku dan apa motif penembakan itu sehingga membuat warga Kota Magelang resah.

Kepala Polres Magelang Kota Ajun Komisaris Besar Edi Purwanto, di Magelang, mengatakan, polisi berupaya memperdalam penyelidikan. "Beberapa hal masih membingungkan dan terus kami selidiki, antara lain menyangkut motifnya. Kenapa pelaku melakukan aksi di jalan satu arah? Kenapa yang menjadi sasaran adalah korban perempuan?" ujar Edi, Selasa kemarin.

Hingga Selasa, jumlah korban penembakan terdata mencapai sembilan orang. Satu di antaranya merupakan korban laki-laki, yang sementara ini diduga hanya merupakan korban salah tembak. Selain di Jalan Pemuda di kawasan Pecinan, aksi penembakan juga terjadi di Jalan Ikhlas, Magelang. Wilayah itu merupakan kawasan sentra perdagangan dan jalan satu arah.


DAMPAK LINGKUNGAN

"Ngarung Aek" dalam Rumah


Banjir kali ini tidak seperti biasanya. Air sudah bertahan sebulan lebih, termasuk di dalam pondokan Rahman (41). Namun, belum ada tanda-tanda banjir akan surut. Padahal, tahun- tahun sebelumnya, banjir datang dan pergi dengan cepat mengikuti situasi pasang surut air laut.

Sejumlah warga mengungsi ke tempat kerabat masing- masing yang berumah panggung. Hanya Rahman yang tetap bertahan di rumahnya bersama istri dan seorang anaknya. Luapan air telah menggenangi lantai rumah hingga setinggi sekitar 50 sentimeter. "Setiap hari, kami terpaksa ngarung aek (mengarungi air) dalam rumah," ujar Rahman, petani Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi, Sabtu (23/4).

Dalam rumahnya yang sempit, udara terasa pengap dan panas. Pupuk kimia bercampur bau tanaman yang telah membusuk akibat banjir berkepanjangan.