Tuesday, April 19, 2016

Kompas Edisi Rabu 19 April 2016

Kompas Edisi Rabu 19 April 2016

Barang Sitaan Rawan Digelapkan

Penyelewengan oleh Aparat Sering Ditemukan


JAKARTA, KOMPAS — Penyelewengan dan penggelapan barang sitaan rawan terjadi di instansi yang memiliki kewenangan mengelola. Data yang tidak terinventarisasi dan tersinkronisasi dengan baik dari daerah ke pusat menjadi penyebab utama sulitnya mengawasi pengelolaan barang sitaan.

 Sejumlah kasus dugaan penggelapan barang sitaan oleh penegak hukum beberapa kali terjadi. Kejaksaan Agung, saat ini, tengah memeriksa mantan Ketua Satuan Tugas Khusus Penyelesaian Barang Rampasan dan Barang Sita Eksekusi Chuck Suryosumpeno karena diduga terjadi pelanggaran prosedur pelelangan aset milik terpidana perkara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) Hendra Rahardja.

Sebelumnya, seorang jaksa senior di Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Timur Djami Rotu Lede ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menjual barang sitaan dari terdakwa pembobolan Bank BNI, Adrian Waworuntu.


GEMPA EKUADOR

Minim Peralatan, Bantuan Berdatangan


MANTA, SENIN — Jumlah korban gempa dengan magnitudo 7,8 di Ekuador melonjak menjadi sedikitnya 272 orang tewas dan sekitar 2.068 terluka, Senin (18/4). Jumlah korban dikhawatirkan akan bertambah lagi karena masih banyak korban terperangkap atau tertimbun reruntuhan bangunan dan rumah.

Proses penyelamatan dirasakan korban berjalan lambat. Selain karena jumlah petugas penyelamatan kurang, peralatannya pun minim sehingga banyak warga dan petugas yang memakai tangan kosong.

”Masih ada tanda-tanda kehidupan di reruntuhan bangunan atau rumah. Itu prioritas proses penyelamatan kami,” kata Presiden Ekuador Rafael Correa, yang mempersingkat kunjungan kenegaraannya ke Italia setelah gempa mengguncang, Sabtu lalu.


DIPLOMASI PANGAN

Jejak Indonesia di Ladang Afrika


Meski lahan tidak terlalu subur, tanaman sowel itu tumbuh baik di ladang pertanian di Kampung Jenoi, wilayah Lower River, tiga jam perjalanan darat dari Banjul, ibu kota Gambia. Sowel atau di Indonesia dikenal dengan nama okra adalah tanaman sayuran yang paling digemari para petani di bagian barat Afrika itu.

Selain bisa dimasak dengan cara ditumis, sowel bisa untuk bahan salad, dan juga baik untuk jus. Tanaman ini diyakini bisa menjaga daya tahan tubuh dan menyembuhkan berbagai penyakit.

"Di sini sowel gampang dibudidayakan," ujar Babung Manjang, perempuan petani warga Jenoi.

Cara menanamnya mudah. Setelah tanah diolah dan diberi pupuk kandang, benih langsung ditebar. Dengan penyiraman yang teratur pagi dan sore, sayuran itu akan tumbuh baik sekalipun matahari membakar sepanjang hari.